Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 45. Kaluna Canggung, Ciara Kesal


__ADS_3

Kaluna bersiap kembai ke perkebunan. Awalanya Raffan melarang tapi banyak hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan perkebunan seperti semula. Tidak banyak barang yang dibawa karena beberapa baju milik Kaluna dan Tara sudah ada di sana. Paling hanya beberapa kanvas milik Tara dan lukisan yang masih setengah jadi itu.


" Sebenarnya Tara sedang buat lukisan apa sih nak?" tanya Yasa yang sungguh penasaran dengan lukisan yang dibuat sang putra. Pasalnya lukisan yang masih setengah jadi itu ditutup rapat oleh Tara dengan kain berwarna hitam.


" Aah ini lukisan yang akan Tara kirimkan kepada teman yah. Hanya lukisan pemandangan biasa," jawab Tara tenang. Tentu dia sudah biasa menghadapi pertanyaan sejenis yang sebelumnya pernah keluar dari bibir kakek, nenek, dan tentu bunda nya.


Yasa pun tidak bisa bertanya apa-apa lagi setelah Tara menjawab seperti itu. Meskipun dia tidak puas dengan jawaban Tara tapi dia harus cukup menerimanya.


Ketiganya langsung masuk ke


mobil. Raffan dan Vanka mengatakan untuk mereka agar hati-hati di jalan. Awalnya Raffan ingin ikut tapi oleh Kaluna dilarang. Kaluna ingin belajar menyelesaikan masalah perkebunan ini sendiri. Ia ingin sang papa beristirahat saja di rumah dan tidak perlu lagi banyak berpikir.


Sepanjang perjalanan Kaluna hanya diam atau lebih tepatnya ia merasa malu. Bagaimana tidak, saat bangun tidur tadi di mendapati dirinya memeluk erat Yasa. Yasa tentu hanya tersenyum saat membuka mata sang istri tengah melingkarkan tangannya di perutnya. Yasa bahkan membiarkan hal tersebut hingga Kaluna bangun sendirinya.


Dan menjadi seperti inilah sekarang. Kaluna diam tidak berkata apapun. Yasa sesekali tersenyum saat mengingat wajah Kaluna yang memerah karena malu.


" Bunda lagi sariawan ya kok dari tadi diem aja."


Rasanya Yasa ingin tertawa keras saat mendengar selorohan Tara. Tapi sebisa mungkin ia menahan hal itu. Ia tidak ingin Kaluna semakin malu.


" Haish, sudah punya anak satu tapi seperti belum tersentuh," batin Yasa.


Tapi memang Kaluna tidak pernah berpacaran selama ini. Jadi Yasa benar-benar pria pertama baginya. Saat masih sekolah ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Jika pun iya mereka hanya sebatas berteman saja. Beberapa pria ingin menjadikan Kaluna sebagai kekasih mereka tapi Kaluna tidak pernah mau karena memang dia tidak ingin berpacaran.


" Bunda tidak sedang sariawan boy. Bunda hanya sedang ingin diam. Mungkin bunda lagi bingung merangkai kata."


Tara menaikkan satu alisnya mendengar ucapan sang ayah. Ia tidak mengerti, untuk siapa sang bunda merangkai kata dan sebanyak apa kata yang akan bunda nya rangkai sehingga begitu lama terdiam. Tara akhirnya menaikkan kedua bahunya sebagai tanda ia tidak mengerti.


" Kal, kita itu sudah suami istri. Kamu tentu bebas memelukku kapanpun. Tenang saja aku nggak bakalan nolak."

__ADS_1


Blushhh


Wajah Kaluna bersemu merah layaknya tomat yang sudah masak. Apa yang dibisikkan Yasa pada dirinya saat mobil tengah berhenti karena berada di lampu merah itu membuat Kaluna salah tingkah. Wanita itu langsung memalingkan wajahnya agar pipinya yang merona tidK dilihat oleh Yasa. Padahal Yasa tetap bisa melihat dari pantulan kaca jendela di sebelah Kaluna.


Yasa tersenyum. Sepertinya ia memiliki hobi baru yakni menjahili sang istri. Sungguh rasanya begitu menyenangkan bagi Yasa dari pada mendapatkan gelar profesornya. ( ya iyalah lah gelar profesor harus pakai penelitian dan sebagainya. Sa ae lu jon.)


πŸ€πŸ€πŸ€


Di tempat lain Ciara sungguh kesal. Bagaimana tidak, golongan kiri itu selalu membuatnya kerepotan. Ada saja yang diinginkan pria itu. Seperti sekarang, Ciara dipanggil ke ruangan Abra. Di sana Abra sudah bersiap protes dengan cat dinding yang ada di belakang kursinya. Ia mau cat dinding itu berwana deep grey bukannya light grey.


" Kamu memangnya nggak bisa bedain warna ya. Apa kamu buta warna?"


Ciara mengepalkan tangannya dengan erat. Ingin sekali ia mengecat wajah pria yang saat ini jadi bos nya itu. Ciara sebenarnya ingin cepat-cepat menyelesaikan projek design di kantor baru tersebut. Tapi Abra benar-benar membuatnya kesulitan. Rasanya ia ingin menyerah. Tapi melihat kebaikan Akhza, Ciara harus lebih meluaskan rasa sabarnya.


" Baik pak saya akan meminta tukang mengubah cat nya sesegera mungkin. Jika sudah tidak ada lagi saya permisi."


Ciara membalikkan tubuhnya dan segera pergi dari ruangan Abra. Abra tersenyum simpul.


Rupanya Akhza juga ada di dalam dna bersembunyi di bawah meja sang saudara kembar. Akhza hanya menggelengkan kepalanya pelan saat melihat kelakuan Abra yang layaknya seperti abg sedang mendekati crush nya.


" Heleeh, Kak Akhza dulu cem mana sama Airin. Airin ngejar kak Akhza sampai dua tahun lho."


Akhza langsung terdiam mendengar ucapan Abra. Meskipun saudara kembar Akhza dan Abra sungguh berbeda. Akhza adalah tipe pendiam yang benar-benar cool sedangkan Abra tipe yang rame, konyol dan warm. Butuh banyak cara yang digunakan Airin, istri dari Akhza untuk mendapatkan cinta sang kulkas 4 pintu, julukan Akhza saat itu.


" Laah tapi kan kakak langsung sat set setelahnya. Nooh sekarang lagi mblendung lagi, weeek."


Gini giliran Abra yang kicep. Ia mencebikkan bibirnya. Jika sudah begitu ia kalah telak. Kedua saudara kembarnya sudah punya tambatan hati dan memiliki anak yang lucu-lucu. Hanya dia saja yang belum. Dengan dalih belum ada yang cocok Abra sampai sekarang masih betah menjomblo sehingga membuat Mommy Sita pusing dibuat nya. ( Abra bikin cerita sendiri seru kayaknya hahaha)


Disisi lain, Ciara yang kesal dengan kelakuan Abra memilih untuk keluar kantor JD Coal. Ia harus melampiaskan rasa kesalnya itu. Ciara mengemudikan mobilnya sambil lihat ke kanak kiri barang kali menemukan sesuatu yang ia cari. Tapi akhirnya ia tetap memilih menuju kedai seblak favoritnya.

__ADS_1


Kedai seblak yang berdiri lebih dari 25 tahun itu benar-benar menyajikan seblak yang keontentikan rasanya tidak pudar.


" Mang satu puedeees banget."


" Siap neng."


Ciara memilih stau tempat duduk di sana. Beruntung tempat itu belum terlalu rame hanya ada dua sampai 4 pengunjung dna tentunya berapa ojol yang merangkap sebagai kurir delivery order makanan.


" Ini neng seblak nya."


" Waaah makasih mang."


Mata Ciara berbinar, ludahnya sudah seperti akan menetes melihat semangkung seblak yang dihidangkan di depan mata. Gadis itu mulai menyuapkan se sendok seblak ke mulutnya. Ia benar-benar menikmati memakan seblak tersebut hingga tandas tak bersisa.


" Alhamdulillaah, haaah pedes tapi enak."


" Lhoo nak ciara di sini."


Ciara terkejut mendengar suara seseorang yang dia kenal. Rama, pria paruh baya itu datang bersama temannya yang Ciara tahu bernama Arjuna. Dnegan sedikit kikuk Ciara meraih tangan Rama dan Juna lalu mencium punggung tangan mereka bergantian. Sungguh Ciara merasa tidak enak saat ia tahu Rama adalah ayah dari Abra yang waktu itu pernah ia berbicara buruk tentangnya kepada Rama.


" Kenapa jam segini di sini?"


" Meluapkan kekesalan om. Eh maaf om saya harus segera ke kantor. Nanti naganya nyembur lagi eh maksud Ciara nanti dicariin heheh. Mari Om Rama Om Juna, Ciara pamit ya."


Rama terkekeh, ia tentu tahu siapa yang dimaksud oleh Ciara. Pria paruh baya itu benar-benar merasa tertarik dengan Ciara.


" Seneng banget lihat bocah itu," ucap Juna menyelidik ke arah sang teman.


" Kayaknya dia cocok sama Abra. Biar tuh bocah ada pawangnya. Hahaha."

__ADS_1


TBC


__ADS_2