
Dikediaman Yasa, Kaluna benar-benar terkejut melihat berita yang baru saja tayang di televisi. Ia yakin nama yang disebutkan reporter berita tersebut adalah nama yang ia kenal.
" Mas, ini apakah beneran Klara?" tanya Kaluna kepada sang suami. Yasa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.
Setelah sejenak terdiam akhirnya Kaluna bangkit dari duduknya. Sebuah ajakan ia sampaikan kepada Yasa untuk datang ke tempat Klara saat ini berada. Kaluna merasa simpati dengan musibah yang diterima wanita itu.
" Tara bagaimana, kita tidak mungkin membawa dia kan sayang?"
" Aku akan menelpon mama, minta tolong mama untuk menjaga Tara sebentar."
Yasa mengangguk, itu adalah ide bagus. Awalnya Kaluna mengatakan kepada Vanka akan mengantarkan Tara ke rumah kedua orang tuanya, tapi vanka mengatakan tidak perlu karena ialah yang akan datang saja ke rumah.
Sekitar 20 menit berlalu akhirnya Vanka datang bersama Raffan. Yasa dan Kaluna langsung pergi menuju rumah sakit dimana Klara dibawa.
***
Setelah makan siang, Tara mengatakan akan beristirahat. Vanka dan Raffan hanya mengangguk. Mereka memilih untuk berada di ruang keluarga.
Di dalam kamar, Tara langsung menyalakan tabletnya. Ia kembali mendengarkan alat penyadap yang beberapa waktu dikirimkan oleh Kang Kurir. Dengan dalih memberi sebuah hadiah lukisan kepada Carolina Van Leeuwen, ia berhasil menempelkan alat tersebut dan kini ia sedang mendengarkan setiap suara yang masuk.
Saat Tara sedang mendengarkan dengan serius ia merasa terkejut karena terdengar sebuah teriakan. bukan hanya itu, suara benda pecah belah juga nyaring terdengar. Seperti dijatuhkan, bukan tapi seperti di lempar. Mata Tara membulat sempurna saat mendengar suara wanita tua tang merintih kesakitan sambil mengucapkan tolong dalam bahasa lian.
" Hulp, ik smeek je me te helpen ( tolong, aku mohon tolong aku)."
Tara langsung saja berlari keluar mencari kedua kakek dan neneknya. Ia sedikit paham tentang arti dari kalimat yang terucap itu. Sedangkan Raffan, ia terkejut melihat cucunya yang seperti terburu-buru. Raffan menelisik raut wajah sang cucu. Sangat jelas terdapat kekhawatiran di sana.
" Kenapa sayang, Tara kenapa. Apa bermimpi buruk. Kenapa begitu ketakutan?"
" Bukan Kek, ayo kek cepet. Ikut Tara. Kita harus cepet." Tara terlihat begitu terburu-buru. Bocah itu menarik tangan Raffan dengan kuat. Kedua orang dewasa itu hanya saling pandang. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Tara. Namun, pada akhirnya Raffan dan Vanka mengikuti keinginan Tara.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut sesuai arah yabg ditujukan oleh Tara. Bocah itu juga menghubungi pamannya. Ia tahu kalau ayah dan bunda nya sedang ada urusan, maka dari itu dia memilih untuk menghubungi sang paman.
__ADS_1
" Paman Zi, aku minta tolong paman untuk datang ke alamat yang aku share ya."
" Oke Tara, but what's up?"
" Nanti Tara jelasin. Yang penting sekarang paman langsung ke TKP."
Zion pun menuruti keinginan Tara, padahal saat ini dia sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Pemuda itu pamit kepada daddy dan mommy nya. Ar tentu penasaran aoa yanga akan dilakukan sang putra. Zion terlihat terburu-buru.
" Tara minta Zi buat ke suatu tempat?"
Ar hanya mengangguk tanpa bertanya lagi. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
Zion kemudian mengambil mobilnya dan langsung menuju tempat tang Tara maksud. Kening Zion berkerut saat melihat GPS. Daerah yang akan mereka datangi itu berada sedikit lebih jauh dari kota. Tapi yang Zion pahami, di sana merupakan tempat berdirinya beberapa bangunan lama.
" Untukapa bocah itu ketempat seperti itu. Apa mungkin mau belajar sejarah? Heh bocah segitu mah biasanya masih mabil mobil-mobilan."
Zion menggelengkan kepalanya. Dari pada pusing memikirkan apa yang Tara lakukan lebih baik ia segera sampai ditempat itu. Barulah dia nanti akan bertanya.
Di sisi lain Tara terus meminta sang kakek untuk lebih cepat mengemudi. Dia mendengar beberapa suara dari alat penyadap yang berada dir umah Carolina. Wajah Tara begitu gusar, ia takut mengartikan sesuatu yang saat ini sedang terjadi.
" Sialan kau nenek tua, kalau bukan milikku lantas milik siapa hah! Apa kau akan membawanya sampai mati?"
Tara mengeram marah, suara pria itu begitu kasar. Padahal Carolina ada seorang wanita tua. Satu hal yang jadi pertanyaan Tara, siapa pria itu. Jika di dengar suaranya itu bukanlah pria tua tapi bukan pula pria muda.
" Bodoh, kenapa nggak aku kirim pengawal ke sana kemarin. Tapi siapa yang tahu akan ada kejadian seperti ini." Tara bergumam pelan. Apa yang dikatakan bocah itu ada benarnya juga. Mana dia tahu akan ada kejadian seperti ini. Lagi pula dia baru mengirimkan alat penyadapan nya kemarin.
" Kek, masih lama nggak?"
" Sabar sayang, jalanan lumayan padat. Tapi bentar lagi sampai kok."
Raffan mencoba untuk berjalan lebih cepat. Tapi apa mau dikata, jalanan memnag sedikit lebih padat sehingga tidka seperti yang dibayangkan akan sampai dengan cepat.
__ADS_1
" Tara sebenarnya ada apa nak?" Vanka yang sedari tadi diam saja akhirnya pun bersuara juga. Ia tidak mengerti mengapa sang cucu terlihat begitu khawatir.
" Tara tidak bisa menjelaskan sekarang nek. Tapi Tara bisa bilang bahwa mungkin keluarga nenek buyut masih ada."
" Apa? Maksud Tara bagaimana. Keluarga nenek buyut? Maksud Tara Keluarga ibunya nenek. Ya Allaah, nenek nggak ngerti nak."
Tara mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia tidak mungkin dengan frontal mengatakan bahwa ia menyadap rumah itu melalui alat yang ia tempelkan di lukisan. Bocah berusia 5 tahun itu sekarang kembali terdiam dan memikirkan jawaban apa yang tepat untuk neneknya.
" Tara mengetahuinya tanpa disengaja nek. Tapi untuk lebih jelasnya kita akan tahu setelah sampai di rumah itu."
Vanka hanya mengangguk ia tentu tidka memahami sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Tara. Wanita paruh baya itu memilih untuk mempercayai sang cucu, karena Vanka tahu bahwa Tara tidka bicara omong kosong. Raut wajah dna sorot matanya menampilkan keseriusan.
Jalanan mulai lancar, sekita 10 menit kemudian mobik Raffan berhasil masuk ke pekarangan rumah dengan aksen eropa tepatnya negeri kincir angin yang kental dan khas. Pas sekali Zion juga sampai.
" Tara ada apa?"
Belum juga Zion menyelesaikan ucapannya, tangan pemuda itu sudah ditarik oleh Tara dan dibawa berlari. Zion pasrah mengikuti Tara.
Tara terkejut, pasalnya rumah itu pintu depannya terbuka. Perasaan Tara semakin tidak enak saat masuk melihat rumah yang sedikit berantakan. Beberapa vas pecah, lukisan yang ia buat juga jatuh ke lantai. Tara memindai ke sekeliling, ruang tamu itu tapi tidka menemukan keberadaan Carolina.
" Kamar, paman coba cari di setiap kamar."
Meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya di cari oleh Tara, Zion tetap mengikuti instruksi keponakannya itu. Raffan dan Vanka pun ikut mencari. Tapi mata Vanka terkunci pada sebuah bingkai foto yang terjatuh di lantai dna kacanya sudah pecah.
" Astagfirullah, mas. Ini ibu mas." Vanka berucap lirih. Raffan pun mengambil foto otu dari tangan sang istri. Untuk ukuran ibu Vanka sepertinya terlalu tua jika dihitung dari kapan foto itu diambil.
" Masa ibu sih Van."
" Tapi ini memang mirip ibu mas."
Vanka kembali meneliti foto itu. Di dalam bingkai foto itu ada seorang wanita berwajah eropa tengah memangku dua bocah perempuan dengan pakaian yang sama. Atau bisa dikatakan kembar. Vanka masih mencoba untuk menelaah foto hitam putih itu. Namun, tetiakan Tara membuat semua Vanka, Raffan, dan juga Zion terkejut.
__ADS_1
" Tolong!! Paman Zi kemari cepat!"
TBC