Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 38. Mau Dibawa Kemana?


__ADS_3

Persiapan pernikahan dikerjakan dengan sangat singkat. Salah satu cita-cita Kaluna nampaknya terwujud, yakni menggunakan gaun rancangan Topan Arsyanendra.


Awalnya Kaluna tidak berpikir kesan hingga Yasa membawa temannya itu untuk bertemu Kaluna. Sungguh itu adalah sebuah kejutan yang luar biasa.


Namun, mungkin kini selera baju pengantin yang dinginkan oleh Kaluna tidak lagi seperti dulu. Jika dulu ia menginginkan sebuah gaun layaknya seorang putri, kini Kaluna hanya ingin baju pengantin yang sederhana. Bukan berwarna putih namun berwana nude. Kaluna juga tidak ingin bajunya model slimfit yang ngepres ke tubuh, ia ingin baju pengantinnya dipakai longgar dan tidak membentuk badan.


Topan tersenyum, ia paham betul apa keinginan Kaluna. " Aku akan membuatkannya sesuai dengan keinginanmu," ucap Topan sembari memperlihatkan gambarnya.


Ya, saat Kaluna mengatakan keinginannya terhadap baju yang ia inginkan Topan langsung membuat sketsa nya. Mata Kaluna berbinar, apa yang digambar Topan benar-benar seperti apa yang ia bayangkan.


" Terimakasih pak." Kaluna mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus.


Topan mengangguk, ia pun segera pamit untuk pulang karena harus segera menyelesaikan baju pengantin yang Kaluna inginkan.


" Lalu, apa yang kau inginkan untuk jadi maharmu?" Yasa bertanya sambil melihat wajah calon istrinya itu yang ia rasa semakin cantik.


" Terserah Mas Yasa saja. Berapapun yang mas berikan ke aku insyaaAllaah aku akan menerimanya."


Sebenarnya Yasa sudah menyiapkan mahar yang menurutnya pantas untuk wanita yang telah memberinya putra tersebut. Ia hanya ingin tahu apakah kira-kira Kaluna menginginkan sesuatu yang kusus, tapi rupanya tidak. Wanita itu sungguh tidak neko-neko.


hari sudah mulai senja, matahari mulai merangkak ke ujung barat bumi bersiap menyinari bagian bumi yang lain. Yasa pun bersiap untuk pulang. Sebenarnya Kaluna meminta Yasa untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Ia tahu bahwa Yasa pun juga baru pulang dari kampus. Tapi Yasa menolak, banyak koreksian milik mahasiwa nya yang harus dia selesaikan, ia juga harun menyusun soal untuk semester akhir bulan nanti. Yasa ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum acara pernikahannya sabtu depan.


" Baiklah mas hati-hati." Kaluna mengantarkan Yasa ke depan rumah.


" Sampaikan salam ku untuk papa dan mama. Ah iya kemana Tara?" Tanya Yasa, sedari tadi dia memnag tidka melihat keberadaan sang putra. Biasanya jika dia datang maka Tara akan langsung berlari menyambutnya tapi ini tidak.


" Dia jika sedang fokus melukis tidka bisa diganggu. Apalagi kalai udah buat warning ke semua orang maka pastilah dia sangat fokus dengan lukisnanya," jelas Kaluna kepada Yasa.


Sebenarnya Kaluna sendiri bingung mengenai tingkah sang putra. Dia pikir seusia Tara kaan membuat lukisan hewan, pelangi, gunung, atau gambar-gambar yang sederhana. Tapi ini tidak, ia pernah melihat lukisan Tara dna itu sungguh sangat rumit. Entah darah seni dari mana yang dimiliki putranya itu berasal.


Yasa mengerti ia pun membalikkan badannya dan bersiap memasuki mobil. Tapi tiba-tiba telinganya berdengung. Padahal sudah lama dia tidak mengalami ini. Yasa hampir jatuh tapi ia masih bisa menahan tubuhnya dengan tangan sebagai tumpuannya pada mobil.

__ADS_1


" Mas nggak apa-apa."


" Aku ~"


Bruk


Tubuh Yasa jatuh. Kaluna mencoba menahan tapi perbedaan tinggi mereka membuat Kaluna kerepotan. Kaluna seketika panik ia pun berteriak memanggil kedua orang tuanya.


" Papa! Mama! Tolong!"


Terdengar deru langkah kaki dari dalam rumah. Vanka dan Raffan sungguh terkejut melihat Yasa yang tergeletak tak sadarkan diri. Sebuah pertanyaan Raffan tujukan kepada Kaluna mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kaluna hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


" Kaluna nggak tahu pa. Tadi Mas Yasa nya masih baik-baik saja. Tiba-tiba pingsan pas mau naik mobil."


Dengan sekuat tenaga ketiga orang itu mengangkat tubuh Yasa untuk dibawa masuk kembali ke dalam rumah. Bentar lagi mau magrib, lebih baik mereka segera membangunkan Yasa. Raffan meminta istri dan anaknya meletakkan Yasa ke sofa ruang tamu. Vanka langsung berlari mencari minyak angin dan Kaluna memanggil dokter.


" Ini mas coba oleskan ke bawah hidungnya. Kal coba buka sepatu Yasa dna olesi minyak angin."


Tara yabg barus saja keluar kamar tentu terkejut melihat ayahnya yang sedna terbaring di sofa dan dikerubungi oleh bunda dna juga kakek neneknya. Bocah itu mendekat.


" Ayah kenapa bund?"


" Nggak tahu tiba-tiba pingsan pas mau pulang tadi."


Tara juga ikut cemas. Ia lalu mengambil ponselnya lalu menghubungi oma dan opa nya memberitahukan apa yang terjadi dengan sang ayah.


Ting tong


Bel rumah Kaluna berbunyi, Tara langsung berlari melihat siapa yang datang.


" Laah ku kira dokter Bri," ucap Kaluna saat ia mengikuti Tara membuka pintu.

__ADS_1


" Ada apa emangnya?" tanya Bri heran. Mengapa Kaluna menunggu dokter petang-petang begini. Brisia pun melongokkan kepalanya ke dalam rumah. Ia sedikit terkejut melihat Yasa terbaring di sana. " Pak mantan dosen kenapa kal," tanya Brisia lagi.


" Tiba-tiba pingsan."


Brisia lalu berjalan cepat menghampiri Yasa. Ia lalu meraih tangan Yas dan mengecek denyut nadi pergelangan tangan pria 30 tahun itu. Brisia juga memeriksa pupil mata Yasa. Terlihat Brisia menghela nafas. Ia lega, ini tidak seperti yang dia pikirkan.


" Apa kamu tahu sesuatu Bri?"


" Eh om, pak mantan dosen nggak apa-apa kok. Kalau Bri nggak salah kayaknya beliau kelelahan saja."


Suara bel pintu kembali berbunyi. Kali ini adalah seorang dokter yang datang. Dokter tersebut langsung diminta oleh Raffan untuk langsung memeriksa Yasa. Seperti yang dikatakan oleh Brisia bahwa Yasa tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Tidka lama pasti akan siuman.


" Syukurlah kalau begitu. Mari saya antar dokter."


" Om sini saja biar Bri yang mengantar dokternya ke luar."


Diluar Brisia kembali menanyakan kondisi Yasa. Ia ingin memastikan bahwa Yasa memang baik-baik saja. Dan Brisia bernafas lega. Dokter yang memeriksa Yasa mengatakan Yasa pingsan karena efek capek saja. Tapi entah mengapa ada yang mengganjal di hati gadis itu. Ia pun mengambil ponselnya di saku jaketnya adan menghubungi sang daddy setelah dokter tersebut pergi.


" Ada apa Bri?"


" Dad, pak mantan dosen yang waktu itu Bri pernah beri obat penghilang ingatan kan sudah bri beri penawarnya. Tapi sekarang tiba-tiba pingsan, tadi Bri cek sih nggak apa-apa ya. Tapi kok Bri ngerasa aada yang ganjel ya."


Terdengar hembusan nafas kasar di seberang sana. Sungguh jika boleh Jason ingin menarik telinga sang putri. Terkadang putrinya itu kalau melakukan sesuatu tidak dipikir lebih dulu.


" Sebaiknya bawa Yasa kemari. Daddy akan memeriksanya lebih lanjut. Semoga tidak ada apa-apa."


" Jadi harus bawa Pak Yasa ke rumah sakit daddy?"


" Mau dibawa kemana Yasa, Bri?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2