Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 58. Apakah Harus Keluar?


__ADS_3

Tara yang sedari tadi sibuk dengan tablet nya setelah semua orang di vila sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing tentu langsung syok melihat kabar yang beredar. Bagaimana tidak kata-kata di headline berita tersebut sungguh jahat ditujukan kepada ayah dan bunda nya. Terang saja Tara sangat marah. Ia ingin mengonfirmasi kepada ayahnya tapi urung. Tara yakin saat ini sang ayah sedang dipusingkan oleh hal itu.


" Apa yang harus ku lakukan. Mikir Tara, mikir."


Tara bergumam lirih sambil berjalan kesana-kemari memutari studio lukis milik nya itu. Saat ini bunda dan kakeknya tengah berada di perkebunan. Sang bunda tidak pernah membawa ponsel jika sedang berada di perkebunan. Sebenarnya ini merupakan sebuah hal yang baik karena bisa dipastikan bahwa berita itu untuk sementara tidak akan diketahui oleh sang bunda.


Akan tetapi mau sampai kapan, saat pulang nanti pasti bundanya langsung memeriksa ponsel. Apa lagi sekarang hubungan bunda dan ayah nya sedang berkembang. Sedangkan sang nenek, Tara jarang sekali melihat sang nenek bermain ponsel. Saat ini yang Tara tahu neneknya sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang.


" Wifi, apa wifi nya aku matikan aja ya? Aishhh itu nggak efektif. Pasti cepet ketahuannya. Kalau matiin ponsel juga sama aja. Arghhhh!!!"


Tara mengusap wajahnya kasar. Ia ingin mengacak rambutnya tapi rambutnya baru saja mulai tumbuh jadi Tara lebih memilih mengusap wajahnya untuk menyalurkan rasa kesalnya.


Di tengah kebingungan yang dia rasakan ia teringat akan Mr. Sun. Tapi setelah menimbang, tetap saja jatuhnya percuma. Meskipun Mr. Sun bisa meng take down semua berita yang sudah tersebar, tapi pasti awak media akan kembali menulisnya dan menjadikan highlight news kembali.


" Mungkin ini memang tidak bisa di hindari dan harus dihadapi."


" Pakeeeeet!!!"


Tara bergegas keluar saat mendengar suara sohib kurirnya itu. ya, Kang Kurir paket sudah menjadi partner terbaiknya sekarang. Kang Kurir tersenyum lebar sambil memberikan sebuah kotak. Lagi, tara meminta kurir itu menunggunya. Ia tentu tahu apa yang dikirimkan Kang Kurir itu adalah alat yang ia pesan dari Mr. Sun.


Tara langsung memasang alat itu dengan cepat di bagian yang sama sekali tidak terlihat dan tentu tidak akan mudah ditemukan oleh siapapun. Tara kemudian membungkus lukisan tersebut dengan cepat agar Kang Kurir tidak menunggunya terlalu lama dan tentunya sang nenek tidak curiga.

__ADS_1


10 menit berlalu, Tara kembali berjalan keluar dari studio menuju pintu vila dengan membawa lukisannya. Kang Kurir langsung gerak cepat untuk menyambut barang yang ada di tangan Tara.


" Ini aja bos kecil?"


" Yoi kang. Kirim sesuai alamat. Kali ini ke alamatnya langsung aja ya kang, nggak usah diampirin ke ekspedisi dulu. Tapi ingat jangan beritahu siapa pun tentana aku."


" Rebes bos, eh beres. Selama ini selalu aman kok."


Tara mengangkat kedua ibu jarinya sebagai tanda oke kepada kang Kurir. Tara yakin kang kurir tersebut sungguh bisa dipercaya. Tara tidak akan salah menilai orang.


Kang Kurir dengan paket dari Tara itu langsung meninggalkan Vila. Ia cukup paham jika sudah menerima barang dari bos kecilnya, begitulah Kang Kurir memanggil Tara maka ia harus segera pergi. Satu tatapan dilayangkan Raffan dan Kaluna kepada Kang Kurir. kang Kurir hanya menunduk sejenak lalu tersenyum. Ia sungguh tenang, walaupun sebenarnya ia agak deg-deg an juga.


Raffan dan Kaluna melenggang masuk ke rumah. Seperti dugaan Tara, sang bunda langsung mengambil ponselnya. Tara terus mengamati bunda nya yang sedang memegang ponsel.


Ekspresi awal masih biasa saja hingga beberapa saat berlalu kening Kaluna mengerut dan mata wanita itu mulai menyipit. Kaluna bahkan menaruh tangannya di mulutnya, tampaknya Kaluna sungguh terkejut melihat semuia berita yang ada. Air matanya tibatiba luruh. Tara tentu bisa melihat jelas. Bocah itu membuang nafasnya kasar.


" Sungguh kali ini memang tidak bisa dihindari ataupun ditahan semua berita tersebut. Semoga semuanya bisa dilalui dengan baik."


Tara memilih kembali masuk ke studio nya. Ia tahu setelah ini bundanya akan berbicara banyak dengan kakek dan nenek nya. Tara tentu tidak mau mengganggu. Mereka pasti juga tidak ingin Tara tahu akan hal ini.


Sekarang yang harus Tara lakukan adalah pura-pura tidak tahu degan apa yang terjadi. Itu adalah satu hal yang pasti membuat para orang dewasa tenang.

__ADS_1


Setelah Tara masuk ke studionya, Kaluna langsung berdiri dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang saat ini berada di dapur. Meja makan dan dapur di vila itu memang jadi satu jadi Kaluna bisa menemui Raffan dan Vanka sekaligus.


" Pa, ma, sudah lihat beritanya? Ini bagaimana Ya Allaah kasian Mas Yasa. Pasti sekarang dia bingung." Kaluna menunduk lesu, air mata nya semakin deras mengalir.


Raffan dan Vanka sama-sama menghela nafas mereka. Vanka sebenarnya sudah tahu dari tadi tapi dia memilih diam dan bersikap biasa saja karena takut Tara mengetahuinya.


" Sudah mencoba menghubungi suamimu? " tanya Raffan. Kaluna hanya menggeleng pelan. Ia belum menghubungi Yasa. Yasa saat ini pasti sedang bingung dan Kaluna tidak ingin mengganggunya. Ia akan membiarkan Yasa tenang terlebih dulu.


Judul-judul berita tersebut sungguh sangat menyakiti hati. Tuduhan buruk itu pasti membuat Yasa saat ini down.


" Apa yang harus aku lakukan saat ini Ya Allah." Kaluna bangkit dari duduknya meninggalkan Raffan dan Vanka menuju ke kamar. Ia langsung membuka hijab nya dan melenggang ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mencurahkan rasa hatinya kepada Sang Pencipta adalah pilihan terbaik saat ini.


Kaluna melaksanakan sunah 2 rakaat. Setelahnya ia bermunajat kepada Rabb nya, meminta petunjuk untuk maslaah pertama yang muncul di tengah rumah tangga mereka.


" Apa yang harus hamba lakukan Ya Rabb. Saat ini suami hamba pasti sangat kebingunga, semua orang pasti tengah menghujatnya. Kami baru saja akan memulai rumah tangga kami dan Engkau sudah memberikan ujian ini. Apakah ini adalah cara Mu untuk mengetahui seberapa kuat kami untuk menjalaninya?"


Kaluna terus mencurahkan apa yang ia rasakan kepada Rabb nya. Diiringi air mata yang terus membasahi pipi, Kaluna juga sambil berpikir. bagaimanapun ia harus membantu sang suami lepas dari apa yang saat ini menjerat suaminya itu.


" Apa aku harus keluar? Apa kah itu merupakan jalan keluar satu-satunya untuk membersihkan nama Mas Yasa dan mengembalikan karir Mas Yasa yang terancam runtuh."


TBC

__ADS_1


__ADS_2