
Malam hari semua tamu sudah bersih alias sudah kembali pulang. Hanya tinggal Hasna dan Yasa. Mereka bahkan sudah bergantian pakaian. Baru saja menjalankan kewajiban 4 rakaat dan kini mereka sudah duduk santai sambil meregangkan kaki yang lumayan pegal.
Kaluna membawa Tara ke kamarnya. Terlihat sang putra sungguh lelah hari ini. Bermain dengan sepupu-sepupunya membuat bocah itu sedikit tidak kontrol. Awalnya Kuna ingin melarang, tapi melihat Tara sungguh sangat bahagia bisa bermain membuat Kaluna memilih membiarkan sang putra namun tetap mengawasi.
" Apa Tara sudah tidur?"
" I-iya mas sudah. Dia langsung tidur. Sepertinya dia sangat kecapekan."
Kaluna yang kembali ke kamar sedikit terkejut melihat Yasa yang sudah ada di dalam. Wanita itu tidak pernah berada di ruangan hanya berdua saja dengan pria kecuali ya dengan Yasa 6 tahun silam.
" Apa mas mau mandi?"
" Aku sudah mandi tadi. Mandi lah, kamu yang belum mandi."
Kaluna setelah para tamu pulang memang sibuk beberes. Ia belum sempat membersihkan diri. Ia hanya sempat membersihkan make up nya saja.
Kaluna lalu masuk ke kamar mandi. Ia mengisi bath up nya dengan air hangat, satu per satu menanggalkan bajunya. Dilihatnya dirinya sejenak, kini dia telah bersuami. Satu hal yang sungguh tidak ia duga bahwa dirinya akan menikah.
Dulu dia berpikir tidak akan menikah dan hanya ingin membesarkan Tara. Tapi sekarang semuanya berubah. Pertemuannya dengan Yasa membuat semua rencana hidup Kaluna berubah.
Kaluna melakukan kilas baik dalam hidupnya. Sembari menikmati hangatnya air yang merendam tubuhnya, ia mengingat setiap apa yang sudah terjadi.
" Haaah, semua memang sudah dituliskan. Jika memang Mas Yasa adalah jodohku maka aku meminta untuk terus hidup bersamanya hingga maut memisahkan kami. Bahkan jika boleh egois, aku ingin tetap bersamanya hingga nanti kami berada di alam akhirat."
Kaluna sejenak menenggelamkan wajahnya ke air lalu menyudahi ritual berendamnya yang sudah lumayan lama itu. Suara ketukan pintu kamar mandi dan suara panggilan yang menyebut namanya terdenagr jelas.
" Ya, bentar mas."
Kaluna segera bergegas mengganti bajunya dan keluar. ia tidak mengenakan jilabnya karena ini memang di dalam kamar dan oia baru saja keras. Ia sendiri terkejut saat keluar kamar mandi wajah Yasa yang ada di depannya.
__ADS_1
" Astagfirullaah."
" Eh, napa Kal. Aku sekarang suami mu. Jadi sah-sah saja aku melihat rambut mu bukan?"
Kaluna mengangguk, ia tentu paham akan hal itu. Jangankan rambutnya, seluruh tubuhnya halal untuk Yasa lihat.
" Ada apa mas?"
" Ayah sama ibu mau pamit."
kaluna lalu menyambar kerudung instan yang ada di hanger tempat khusu jilbabnya digantung. Ia bersama Yasa turun untuk menemui Radi dan Hasna. Hasna memeluk Kaluna sejenak, kembali mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dan mengucapkan doa agar pernikahan putra dan menantunya itu bahagia dan penuh berkah.
" Ibu pamit pulang dulu ya, Besok sebelum kembali ke perkebunan, mampirlah ke rumah ibu."
" Baik bu, yah, terimakasih untuk semua doanya. Dan terimakasih sudah menerima Kaluna dan juga Tara menjadi bagian dari keluarga ayah dan ibu."
πππ
Yasa dan Kaluna kini berada di dalam kamar. Suasana canggung menghinggapi keduanya. Yasa kemudian naik lebih dulu ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Sungguh hari ini ia merasa sangat lelah. Padahal hanya sanak saudara serta sahabat terdekat saja yang datang. Tapi tetap rasanya seperti menghadapi ratusan tamu.
Sedangkan Kaluna, ia masih duduk di depan cermin. Sungguh ia bingung harus melakukan apa. Tubuhnya juga sangat lelah tapi untuk menuju tempat tidurnya, Kaluna merasa sedikit kikuk.
" Duuuh aku harus gimana?" batin Kaluna sambil mengoleskan skin care di wajahnya.
" Kal, kamu tidak akan duduk di depan meja rias mu semalaman kan. Kaca itu nanti bisa pecah jika kamu terus berada di depannya. Kemari lah dan ayo tidur. Kamu pasti juga capek."
" I-iya mas."
Kaluna mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia lalu memberanikan diri untuk berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Dilihatnya di sana Yasa sudah memejamkan matanya. Kaluna pun tersenyum kecil lalu dengan terburu-buru naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Doa sebelum tidur Kaluna lafalkan lalu wanita itu pun terpejam. Hanya hitungan menit Kaluna sudah terlelap dan mengarungi alam mimpi.
__ADS_1
Yasa yang memang masih belun tidur akhirnya membuka matanya. Ia memang sengaja pura-pura tidur agar Kaluna mau segera naik ke atas ranjang. Yasa tahu Kaluna masih sangat canggung untuk berada dekat dengannya.
" Pelan-pelan Kal. Kau akan mendapatkan hatimu pelan-pelan. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memenuhi kewajibanmu. Aku tahu pernikahan ini terkesan buru-buru. Mari kita saling mengenal terlebih dulu sebagai pasangan suami istri."
Yasa mencium kening sang istri sedikit lebih lama. Ia lalu membenarkan selimut Kaluna dan kembali merebahkan tubuhnya bersiap menyusul Kaluna ke alam mimpi.
**
**
Sekitar pukul 12 malam Tara terbangun. Ia memeriksa surel miliknya. Beberapa pesan tentang pesanan lukisan masuk. Setidaknya ada sekitar 5 orang yang meminta Tara membuat lukisan tentunya sesuai keinginan mereka namun tetap menggunakan gaya Tara yang khas dimana itu adalah ciri khas seorang Raka Pittero.
Namun mata Tara kembali memicing saat Hanson O' Connel kembali mengirimi dia pesan. Orang itu mengancam Tara kembali.
Sebenarnya hari ini ia ingin menghubungi Wild Eagle, akan tetapi seharian tadi ia asik bermain bersama para sepupunya dna berakhir dengan lupa.
" Haish gini nih kalau udah asik main jadi lupa hal yang penting. Tck tck tck, aku harus segera mengirim permintaan pada Wild Eagle."
Tara menuliskan apa yang dia inginkan. Sebelumnya ia mengatakan terlebih dulu bahwa keluarganya mendapatkan sebuah ancaman oleh orang asing yang ia tolak keinginannya. Maka dari itu Tara yang menggunakan nama Pittore menginginkan keluarganya mendapat penjagaan. Ia bahkan mengirimkan foto-foto seluruh keluarnya kepada Wild Eagle.
" Beres, semua sudah beres. Aku yakin orang itu tidak akan berani macam-macam."
Tara meletakkan kembali tabletnya di atas nakas. Awalnya ia ingin kembali tidur namun mengingat masih ada orderan yang harus ia selesaikan membuat bocah itu mengeluarkan lukisan yang baru setengah jadi tersebut. Sebuah lukisan rumah tempo dulu saat ibu kota masih bernama batavia. Dalam lukisan yang diminta terdapat beberapa orang pribumi dan wanita belanda.
Sejenak Tara sedikit merasa ada yang aneh dalam lukisan tengah ia buat tersebut. Lukisan yang diminta itu adalah refleksi dari sebuah foto hitam putih yang dikirim oleh sang pemesan melalui surel. Tapi si pemesan menginginkan lukisan dibuat berwarna.
" Aku merasa ada yang tersembunyi dalam lukisan ini. Tapi apa ya?"
TBC
__ADS_1