Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 85. Gagal Maning


__ADS_3

Tara, Kaluna dan Yasa kembali ke rumah sakit untuk menemui Carolina. Wanita tua itu meminta cucu dan cicitnya dari saudara kembarnya untuk berkumpul. Jelas mereka tidak tahu apa yang diinginkan oleh Carolina.


Mereka masuk ke dalam ruangan setelah dokter selesai memeriksa. Beruntung tidak ada yang fatal pada luka atas ulah kedua ART yang sekarang sedang berada di balik jeruji besi menunggu proses peradilan.


" Hay oma buyut," sapa Tara dengan senyum yang begitu menggemaskan. Carolina tentu tersenyum. Dia benar-benar bahagia. Di usianya yang mungkin sudah tidak akan lama, ia tidak kesepian lagi. Ia menemukan keluarga yang sudah puluhan tahun hilang. Meskipun itu bukanlah darah dagingnya tapi tidak ada bedanya baginya karena Vanka merupakan putri dari saudara kembarnya.


" Hay sayang, kamu ganteng sekali."


" Ehmm itu jelas no debat. Bahkan ayah aja kalah ganteng dari Tara."


Semua orang yang berada di ruang rawat itu terkekeh mendengar selorohan bocah itu. Tapi kini semuanya kembali ke mode serius saat Carolina mulai berbicara.


" Oma rasa umurku tidak akan lama. Ada beberapa hal yang oma akan sampaikan kepada kalian. Sungguh oma sangat bahagia bisa bertemu kalian, meskipun pertemuan kita sedikit diwarnai drama. Yang kedua, ini adalah sebuah kunci brankas disalah satu bank. Isinya adalah sertifikat tanah dan juga perkebunan. Ada beberapa logam mulia. Semua itu adalah milik almarhum papa yang diwariskan kepada kami. Sekarang itu akan menjadi milikmu Van. Mumpung aku masih hidup ayo kita ubah kepemilikannya."


Vanka terkejut mendengar setiap apa yang dikatakan oleh bibi nya itu. Sungguh bukan itu yang dia inginkan. Bertemu saudara kembar dari sang ibu lah yang ia syukuri.


" Bu, kami tidak membutuhkan itu semua. Mengetahui ada ibu sudah membuat kami bahagia," ucap Vanka.


" Ibu tahu, tapi setelah ibu menyusul ibumu dan kakekmu, siapa yang akan mengurus perkebunan jika bukan kalian."


Apa yang dikatakan Carolina benar adanya. Carina tidak memiliki anak. Pernikahannya dulu tidak dikaruniai anak yang akhirnya membuatnya hidup sendiri setelah kematian suaminya. Sempat berpikir mau dikemanakan harta peninggalannya. Awalnya kehadiran Kani dan Sarno mau dijadikan Carolina pewaris hartanya. tapi rupanya perilaku tamak Kani dan Sarno membuatnya urung. Malah hampir saja ia meregang nyawa karena ulah kedua ART nya tersebut.


" Jika begitu bu, bolehkan diatas namakan Tara saja. Biar dia yang memiliki semua yang buyutnya miliki."


carolina tersenyum, Tentu ia setuju usulan dari Vanka tersebut. Tara adalah cicit laki-laki yang mungkin bisa mengolah semuanya dengan baik. lagi pula yang dari mata Carolina, Tara adalah bocah yang cerdas.


Tara yang mendengar semua itu hanya terkejut. keinginannya hidup santai dengan menulis sepertinya tidak akan semulus yang ia bayangkan. Beberapa pekerjaan beat sudah terngiang di kepala bocah itu.

__ADS_1


" Ya Allaah semoga aku punya adik cowok yang banyak biar pekerjaan ini bisa dibagi-bagi,"batin Tara.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sisi lain, tampaknya Frans benar-benar mengikuti saran dari Yasa. Setelah mendapatkan alamat Brisia dari Kaluna, ia bergegas ke rumah Brisia. Tapi sebelum itu dia mampir dulu ke William Diamond. Frans mencari sebuah cincin untuk dia berikan kepada Brisia.


Dengan langkah pasti pria itu memutuskan untuk meminang Brisia. Seperti yang dikatakan Yasa, diterima atau di tolak itu urusan nanti.


Frans mulai memasuki kawasan rumah Brisia yang bersebelahan dengan gedung rumah sakit milik ayahnya Brisia. Saat memarkirkan mobilnya, satu buah mobil juga menyusul masuk ke sana.


Frans tentu tidak tahu siapa tamu tersebut sampai orang di dalam mobil tersebut keluar dari sana. Frans terkejut melihat orang tersebut. Seorang pria yang ia lihat beberapa kali bersama Brisia.


" Kau!"


" Mau apa kau di sini?"


Keduanya berbicara bersamaan. Dari dalam rumah Brisia sama terkejutnya dengan kedua pria tersebut. Di depan rumah miliknya, Frans yang ia tahu bahwa dia adalah teman Yasa dan Lio yang ia tahu adalah pemilik Soul Restoran berdiri saling berhadapan di sana. Brisia mengerutkan keningnya, mau apa dua pria itu datang ke rumahnya.


" Siang," jawab Brisia singkat.


Dari dalam suara Fetisia, ibu dari Brisia terdengar. Wanita paruh baya itu menanyakan siapa tamu yang datang. Sedikit terkejut, tapi Fetisia langsung menyuruh kedua tamunya itu datang. Dalam hati, wanita paruh baya itu bertanya mengapa ada dua pemuda datang ke rumahnya. Seumur-umur belum pernah ada yang berkunjung jika itu adalah teman Brisia. Hanya Kaluna yang pernah mengunjungi rumah mereka.


Frans dan Lio duduk dengan jarak sekitar 1 meter. Sudah seperti masa pandemi kemarin saja. Brisia yang tadi masuk ke dalam rumah sudah kembali keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan makanan ringan.


" Silahkan di minum."


" Terimakasih Brisia."

__ADS_1


Frans dan Lio kembali berucap bersamaan membuat Brisa hanya menggelengkan kepalanya. Fetisia yang melihat langsung paham, kedua pemuda itu menyukai putri bungsunya.


Tak berselang lama Jason kembali dari rumah sakit. Keningnya berkerut melihat dua orang asing duduk di ruang tamunya. " Ada perlu apa datang kemari?" Jason bertanya tanpa basa-basi.


Kedua pemuda itu menelan saliva nya dengan susah payah. Aura mendominasi dari pria paruh baya yang mereka yakini adalah ayah dari Brisia itu sungguh sangat kuat. Tapi baik Frans maupun Lio tidak mau pulang dengan tangan kosong. Seperti Frans, Lio juga ingin mengutarakan keseriusannya untuk meminang Brisa.


'' Saya," ucap frans dan Lio bersamaan. Jason yang paham pun langsung meminta untyuk mereka bergantian bicara.


" Saya Ardelio Pramana, datang ke mari untuk melamar putri om."


Frans tentu sedikit terkejut dengan apa yang Lio katakan. Tidak mau kalah, Frans pun juga langsung mengatakan maksud kedatangannya. " Sama hal nya dengannya om, saya Frans Alexander datang kemari untuk melamar Brisa. Saya serius dengan hati saya."


Brisia yang mendengar dua lamaran dari kedua pria yang baru ditemuinya itu tentu hanya bisa menganga. Bagaimana bisa dua orang yang masing-masing baru 2 kali ditemuinya itu langsung datang melamar.


Tatapan tajam Jason dan Fetisia diarahkan ke putri bungsu mereka. Terang saja Brisa bagaikan seorang tersangka yangs sedang menjalani pemeriksaan kepolisian.


" No mom, dad, ini tidak seperti yang mommy and daddy pikirkan. Bri sungguh tidak ada hubungan dengan kedua pria itu. lagian Bri baru ketemu dua kali."


Jason menepuk keningnya pelan, ia sungguh tidak menyangka. Sang putri yang jomblo lama itu tiba-tiba langsung dilamar oleh dua orang.


" Terus jawabanmu bagaiman Bri."


Brisia terdiam sejenak lalu menatap Lio dan Frans bergantian. Kedua pemuda itu sungguh berharap bahwa pinangan mereka akan diterima oleh Brisia. Brisia kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


" Maaf teman-teman. Aku benar-benar tidak bisa menerima kalian. Bukannya aku menolak jodoh yang diberikan Tuhan kepadaku di waktu yang cepat ini. Tapi aku sudah berjanji dengan diriku sendiri bahwa aku tidak akan menikah sebelum abangku menikah. Jadi aku sungguh minta maaf."


Lio dan Frans langsung lemas dengan jawaban Brisia. Cita-cita mereka untuk segera membina rumah tangga seketika kandas. Calon yang keduanya anggap sempurna rupanya menolak mereka.

__ADS_1


" Gagal maning, gagal maning," gumam Lio pelan.


TBC


__ADS_2