
Panggilan dari Radi membuat Arduino dan Tara menghentikan obrolan mereka. Radi tidak jadi membawa kopi Arduino ke dalam kamar Tara. Ia lebih baik memanggil Arduino agar kembali ke meja tamu. Tara pun dari belakang mengikuti Opa dan babanya keluar kamar. Di luar dia sudah disambut oleh nini dan Omanya.
Ciuman dan pelukan dilayangkan oleh Hasna dan Elisa kepada Tara. Bocah itu hanya bisa pasrah, mau menolak pun tidak bisa.
Serius, jika seperti ini aku benar-benar pengen cepat punya adik. Biar para nenek dan para Kakek ini gantian memeluk dan mencium adik-adikku nanti.
Tara hanya bisa bergumam dalam hati. Di sebelah dapur, Yasa hanya terkekeh geli melihat Tara yang dikerubungi oleh kedua wanita paruh baya itu. Yasa tahu sang putra pasti merasa sedikit tidak nyaman. Tapi Tara hebat, dia bisa mengendalikan rasa itu, mengingat Omanya pasti rindu kepadanya.
Tidak berselang lama Zion pun datang. Masih mengenakan celana jeans, kaos oblong, serta jaket. Pemuda itu mendapatkan tatapan tajam dari semua orang. Terlebih sang daddy.
" Astagfirullaah bocah ini, woi, ente kan mau lamaran. Napa belum siap hah!"
" Emang pagi ini juga dad?"
Arduino menepuk keningnya pelan. Bukannya mendapatkan simpati dari semua orang, Arduino malah ditertawakan. " Kayanya somplak nya suami mu nurun deh El ke Zion," ucap Hasna. Radi pun mengangguk setuju.
Beruntung Elisa sudah mempersiapkan baju batik untuk Zion kenakan. Ia tahu pasti bahwa putranya itu jelas tidak memiliki baju batik. Meskipun Zion adalah orang yang supel dia tidak suka mendatangi acara-acara penting. Maka dari itu wajahnya tidak diketahui publik sebagai putra Arduino Aaron Linford.
" Udah deh bang nggak usah ribut. Inget itu nurun dari kamu. Zi, ikut mommy. Udah mandi kan, nah sekarang ganti baju mu. Mommy udah bawain."
Arduino langsung kicep. Jika Elisa udah bicara daya kekuatannya tidak lagi tampak. Semua hanya terkekeh geli melihat Arduino yang diam seribu bahaya.
" Cie, suami takut istri," ledek Radi.
" Bukan takut bang, tapi sayang. Biar doi nggak lanjut nerocosnya jadi lebih baik diem."
Jawaban Arduino langsung diacungi jempol oleh Radi. Saat semua sedang asik berbicara, Tara memundurkan langkahnya untuk kembali ke kamar. Ia mengingat apa yang dikatakan oleh Arduino bahwa ia harus mematikan kedua gawainya tersebut. Tapi sungguh ia penasaran. Saat hendak menyalakan kembali tiba-tiba ada tangan besar yang memegang tangannya.
" Baba bilang jangan lakukan itu Tara. Dia sedang mengincar mu. Kamu tidak ingin kan ayah dan bunda mu dalam bahaya."
__ADS_1
Seperti dihipnotis, suara Arduino membuat Tara patuh. Ar tahu bocah itu sangat penasaran. Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Mr. Sun.
" Ya King, ooh itu. Semua sudah kembali aman. Sebaiknya memang untuk sementara tidak menggunakan internet dulu. Untuk berjaga saja. Tapi bukannya orang-orang Q dan orang mu sudah berjaga di sana?"
" Betul Sun, semua sudah ready. Tapi bocah ini tampaknya masih khawatir."
Terdengar suara tawa di ujung sana sebelum Arduino mematikan ponselnya. Ia kemudian menoleh ke arah Tara, bocah itu mengangguk tanda dia mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh dua orang dewasa itu melalui telepon.
" So, don't worry boy. Everything gona be ok?"
" Thanks Baba Ar."
πππ
Semua sudah siap, setelah mereka sarapan ringan yakni roti bakar buatan Kaluna kini mereka bersama-sama menuju ke rumah Zalfa. Terang saja Zion tidka membawa motor bebeknya atau mobil Avanza miliknya. Dia jelas ikut serta dalam mobil sang daddy.
Setiap orang yang dilewati memandang kagum dengan kedua mobil mewah yang melintas di depan mereka. Yasa pun tidak membawa mobil sendiri, dia beserta istri dan putranya lebih memilih naik mobil bersama ayah dan ibu nya. Agar tidak menambah kehebohan, begitulah kata Yasa.
" Bah, kok mobilnya mewah-mewah gitu bah."
" Iya umi, apa yang datang bukan Kang Mandor ya?"
Rupanya bukan hanya Umi dan Abahnya Zalfa saja yang terkejut, gadis itu juga ikut terkejut. Apalagi saat Zion keluar dari dalam mobil. Tampilan Zion sungguh berbeda, wajah tampan pria itu semakin tampan dengan balutan kemeja batik serasi dengan yang lainnya.
Rupaya Elisa dan Hasna sengaja membeli seragam sarimbit untuk dipakai saat ini. Arduino yang jarang sekali memakai batik mau tidak mau menyetujui permintaan sang istri.
Saru demi satu barang dikeluarkan dari dalma bagasi mobil. Bahkan Tara pun ikut membantu." Assalamualaikum," ucap Zion memberi salam kepada Zalfa dan kedua irang tuanya. Gadis itu terlihat gugup. Abah dan Umi langsung mempersilahkan semuanya untuk masuk.
Satu persatu barang seserahan yang dibawa oleh keluarga Zion diletakkan dan mereka semua duduk di bawah. Ya abah dan umi membuat acara ini lesehan agar semua bisa duduk dan terasa lebih akrab.
__ADS_1
Setelah basa-basi yang diucapkan oleh Radi sebagai perwakilan keluarga, ia pun meminta Arduino untuk mengatakan maksudnya.
" Bismillah, saya Arduino Aaron Linford, ayah dari Zion Aditya Linford datang kemari untuk meminang putri bapak menjadi menantu di keluarga kami."
Abah, umi, dan Zalfa mengerutkan alis mereka. Ketiganya saling pandang. Sebuah pertanyaan yang sama kini ada di kepala ketiganya, siapa itu Zion Aditya Linford.
" Maaf neng, abah, umi. Maaf jika semuanya bingung. Nama asli saya adalah Zion Aditya Linford. Surya adalah nama yang saya gunakan untuk melamar kerja kepada Pak Raffan. Tapi Surya itu adalah kata lain dari Aditya. Saya bekerja di sini memang tanpa sepengetahuan mommy dan daddy saya karena saya ingin hidup mandiri tanpa batang-bayang nama Linford. Tapi saya sungguh serius kepada Zalfa. Kalau Zalfa menerima pinangan saya, maka sebulan lagi mari langsung menikah. Saya sungguh mencari istri, maka dari itu saya melamar Zalfa secepat ini."
Zalfa dan kedua orang rupanya jelas terkejut dengan fakta itu. Sedetik kemudian Zalfa membuka ponselnya dan mencari tahu nama Linford, ia semakin terkejut saat mengetahui siapa orang-orang yang ada di depannya itu. Seketika Zalfa menciut, dia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan keluarga pria yang saat ini meminangnya.
Gadis itu terlihat ragu. Para wanita jelas tahu tentang hal itu. Kaluna bahkan bisa melihat jelas ketakutan dna keraguan dalam wajah cantik Zalfa.
" Zalfa, bisa teteh bicara sebentar."
Kaluna membuat kode kepada semua keluarganya, dan mereka paham dengan kode itu. Zalfa pun mengangguk patuh, ia mohon pamit dna berlalu ke dapur bersama dengan Kaluna.
" Apa jadi ragu hmmm? Apa tiba-tiba takut?"
Zalfa mengangguk merespon pertanyaan dari Kaluna. Kaluna pun tersenyum simpul. Iya kemudian menggenggam kedua tangan Zalfa.
" Zalfa dengerin teteh. Mereka bukan monster yang menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang baik. Bukan soal harta yang mereka punya, tapi pada dasarnya semua manusia sama. Minder, pasti. Teteh pun merasakan itu. Tapi percayalah, mereka adalah orang yang sederhana. Mereka hidup sederhana di kesehariannya, bahkan Zion sangat suka makan pisang goreng. Jika dibuatkan sambel dia hepi banget. Jadi jika Zalfa yakin ini adalah jodoh yang dikirimkan oleh Allaah maka terimalah."
Zalfa meresapi setiap kata demi kata yang disampaikan oleh Kaluna. Apa yang Kalun katakan memnag benar. Mereka pun kembali ke ruang tamu. Zalfa duduk di antara kedua orang tuanya dan Kaluna kembali duduk di sebelah sang suami.
" Jadi Neng apa jawabanmu untuk lamaranku?"
" Bismillah Saya menerima lamaran Kang Surya."
" Alhamdulillah."
__ADS_1
TBC