Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 89. Penjelasan Tara


__ADS_3

Yasa dan Kaluna mendengarkan dengan betul-betul. Terkadang ada rasa tidak percaya setiap apa yang putra mereka katakan. Raka Pittore, nama yang digunakan Tara Abyaz Dwilaga untuk menamai setiap lukisannya.


Kedua orang dewasa itu semakin menganga mulut mereka saat Tara memberitahu saldo uang miliknya di dompet digital. Nol yang tertera di sana agak sedikit membuat Kaluna kesusahan menelan saliva nya.


" Sejak kapan Tara melakukan ini semua?" tanya Kaluna penasaran


Bagaimana bisa dia tidak tahu aktivitas yang dilakukan sang putra. Agak aneh memang tapi inilah fakta yang terjadi.


" Setahunan ini lah bund," jawab Tara begitu enteng. Ia lalu meminta dua gawai nya itu dari tangan sang ayah. Bak dihipnotis, Yasa begitu saja memberikan dua benda itu kepada putranya.


" Berarti saat kita di kota S, Tara sudah punya uang-uang itu?"


" Iya sudah, tapi Tara nggak bilang bunda. Kalau Tara kasih tahu nanti kita nggak akan bisa kumpul begini. Bunda juga tidak mau pulang ke rumah. Makanya Tara diem-diem aja. Tapi kalau bunda inget, Tara nggak pernah minta uang untuk isi pulsa ataupun token listrik kontrakan kita berbunyi bukan?"


Kaluna terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Tara semuanya benar, ia mengingat-ingat hal itu. Tara tidak pernah minta dibelikan pulsa dan ia juga tidak pernah mengisi pulsa listrik karena tidak pernah berbunyi. Kaluna tidak pernah menyadari hal itu, kesibukannya bekerja membuat ia abai. Dia sendiri lupa, dan Tara juga selalu menjawab masih jika Kaluna bertanya kuota nya masih atau tidak. Jika tidak begitu, Tara akan menjawab bahwa bundanya itu telah membelikan kuota untuk Tara.


" Apakah tidak menyadari hal itu?" tanya Yasa kepada sang istri.


" Nggak mas, dulu aku sungguh sibuk bekerja. Jadi hal-hal kecil begitu aku tidak memperhatikan."


" Maaf."


Yasa memeluk Kaluna erat. Dalam hati ia berjanji tidak akan membiarkan istrinya kerepotan dan kesusahan mulai sekarang.

__ADS_1


Keduanya kembali melihat sang putra. Tara sudah kembali sibuk dengan gawainya. " Lalu sekarang apa yang Tara lakukan?"


" Bersiap mengirim lukisan pesanan Dhiaurrahman Zahid Hamizan, orang timur tengah. Tapi Tara bilang pending ngirimnya karena Tara lagi pergi. Dan dia bilang oke."


Yasa benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dilakukan sang putra. Meskipun masih setengah tidak percaya tapi ketika ia kembali membuka web milik Tara yang bernama Raka Pittore itu, semuanya memang real. Bahkan Tara memperlihatkan beberapa pesan yang masuk. Di sana tertulis mengenai semua pesanan yang diinginkan para pemesan.


" Meskipun ayah masih sangat bingung tapi ada sebuah hal yang harus perhatikan."


Tara yang semula sibuk membaca pesan di surel nya seketika berhenti. Bocah itu langsung memasang wajah seriusnya, meletakkan kedua gawainya dan bersiap mendengarkan apa yang akan ayahnya katakan. " Apa itu yah?"


" Pertama, jangan begadang. Ingat, ayah dan bunda sungguh tidak mau Tara pingsan seperti waktu kemarin. Jika Tara memang hanya sekedar hobi maka lakukan itu di waktu luang, bukannya memaksakan tubuh. Tara bukanlah seorang kepala rumah tangga yang wajib mencari uang. Kedua, Tara harus hati-hati terhadap orang asing. Bagaimanapun mereka tidak kita kenal. Dan identitas yang Tara pakai itu apakah orang dewasa?"


Deg, Tara sedikit teringat akan Hanson O' Connel saat sang ayah mengatakan bahwa ia harus hati-hati terhadap orang asing. Tara seketika menjadi gusar mengingat ancaman O' Connel waktu itu.


" Bagaimana ini. Apakah harus bilang ke ayah soal O' Connel. Tapi nanti malah jadi bikin khawatir. Sebaiknya aku diam dulu. Kau akan me-broadcast pesan darinya ke Mr.Sun."


" Sayang," panggil Kaluna lembut. Ia menghampiri sang putra dan membelai lembut kepala putranya itu.


" Eh iya bund," jawab Tara sedikit terkejut.


" Ada apa? Apa sudah mengerti yang dikatakan ayah?"


" Alhamdulillah sudah bund. Oh iya yah, Tara menggunakan identitas pria dewasa sesuai tanggal lahir bunda. Jadi orang di luar sana tahu nya Tara berusia 27 tahun."

__ADS_1


Yasa membuang nafasnya kasar. Ia tidak tahu, putranya benar-benar memperhitungkan semuanya. Bahkan dari identitas, dompet digital, alamat surel dan web. Semua sungguh terorganisir, satu hal yang pasti tidak dilakukan anak lain seusia Tara.


" Baiklah kalau begitu. Sekarang Tara istirahat. Eh, bentar lagi adzan. Kita berjamaah dulu."


Tara mengangguk, ia menghela nafasnya dengan penuh kelegaan. Mau tidak mau memang kedua orangtuanya harus tahu apa yang dia lakukan. Meskipun belum semuanya ia ungkapkan. Ada beberapa hal yang memang harus dia simpan sendiri.


πŸ€πŸ€πŸ€


Seorang pria berusia sekitar 35 tahun berwajah putih, berambut pirang dan bermata coklat itu sedang menikmati kopi hitam yang baru saja ia buat sendiri. Slruuup, terlihat sekali ia begitu menikmati minuman berwarna hitam yang ada di cangkirnya.


" I'm so sorry sir. Saya tidak bisa menemukan alamat rumah Raka Pittore."


" It's oke. Tidak perlu terburu-buru. Aku suka di negara ini. Jadi aku akan berada di sini sedikit lebih lama. Terus cari, sewa seorang hacker bila perlu. Aku harus membuatnya melukiskan apa yang aku inginkan. Pria bodoh, diberi kerjaan mudah dengan banyak uang malah menolak. Tapi aku tidak bisa berpaling dari gaya lukisannya itu, karena aku yakin hanya dia yang bisa meniru secara sempurna."


Hanson O'connell, pria berwarga negara asing itu rupanya benar-benar menepati janjinya untuk datang ke tanah air dan mencari Raka Pittore aka Tara. Rupanya O'Connell tidak menyerah untuk meminta Tara melakukan apa yang dia inginkan, menduplikasi karya pelukis-pelukis terkenal. Ia bertekad akan menggunakan berbagai cara untuk membuat Tara memenuhi keinginannya.


" Lihat saja apa yang akan ku lakukan Pittore, aku yakin akan menemukan dimana keberadaan mu. Aku yakin apa yang akan ku lakukan akan membuatmu melakukan semua keinginanku."


Hanson O' Connell tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Ia menarik satu sudut bibirnya, seringai itu jelas menakutkan. Ia memandangi sebuah lukisan dengan tatapan mata yang tajam. Lukisan seekor serigala yang berada di bawah langit malam dengan supermoon yang tampak begitu sempurna.


" Aku ingin kau melukis seperti yang ku lihat saat ini. Indah, detail, dan mampu bercerita, Pittore."


Rupanya lukisan yang dipandangi oleh O' Connell itu adalah lukisan milik Tara. Ia memesannya dengan nama yang berbeda. Melihat kesempurnaan lukisan Tara itulah yang membuatnya ingin menjadikan Tara sebagai pelukis duplikasi. Asli tapi palsu dimana ia sangat yakin akan menghasilkan banyak uang dari hal tersebut.

__ADS_1


" Aku tidak sabar, dengan hasil lukisan yang akan kau buat nanti. Kau harus bisa bekerja dibawah kendaliku Pittore."


TBC


__ADS_2