
Di apartemennya sambil scrolling media sosial, Klara tertawa puas saat melihat Kaluna diserang oleh orang-orang. Terlebih jika ada komentar buruk yang ditujukan kepada Kaluna. Ia akan tertawa terbahak.
Namun jika ada komentar yang memuji Kaluna, Kalara akan kesal. Ia tentu tidak suka jika ada yang pro kepada rivalnya itu.
Entah mau sampai kapan Klara menganggap Kaluna itu sebagai musuh. Padahal dulu, tidak sekalipun Kaluna menyinggung Klara. Mau Klara berbuat apa pun juga Kaluna tidak memedulikannya.
" Heh, wanita itu benar-benar besar kepala pasti sekarang. Meskipun dia mendapat banyak cibiran tapi ternyata banyak juga yang memujinya. Lihat saja, setelah ini kamu pasti ditinggalkan oleh keluarga dosen itu. Bagaimana tidak, mereka pasti tidak akan mau memiliki menantu yang problematic. Suasana hatiku sedang sangat bagus. Sepertinya aku harus mengunjungi Zion."
Keyakinan Klara sungguh sangat besar bahwa Kaluna akan ditinggalkan oleh suami dan keluarga sang suami. Wanita itu sangat yakin jika Kaluna sebentar lagi akan menangis dengan penuh penderitaan.
Klara tidak bisa berhenti tertawa saat membayangkan hal tersebut. Ia sangat menantikan saat itu terjadi.
Wanita itu mematut dirinya di depan cermin. Kali ini ia memakai dress selutut dengan model sabrina yang memperlihatkan bahu mulusnya. Tampilan ini yang ia akan gunakan untuk menemui Zion. Padahal Zion sungguh tidak suka saat Klara mengenakan pakaian terbuka seperti saat ini yang ia kenakan.
Klara keluar dari apartemennya dan menuju ke tempat parkir dengan bersenandung. Suasana hatinya sungguh sangat bagus sekarang. Merasa semua rencananya sudah berhasil tentunya. Tanpa Klara sadari di luar sana beberapa pihak sedang mencari tahu penyebab kegaduhan yang ia perbuat.
" Hay babe, mau keman sudah cantik begini?"
Lio semenjak mendeklarasikan sebagai teman Klara semakin sering mengunjungi wanita itu. Lio juga semakin aktif melakukan sentuhan terhadap Klara. Seperti saat ini, Lio sudah memeluk Klara dari belakang dan tanpa ragu mencium bahu Klara yang memang terekspos itu.
" Tck, jangan sembarangan memeluk dan menciumiku Li," hardik Klara dengan tatapan tajam.
" Sorry," balas Lio sembari tersenyum dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
Klara jelas terlihat tidak suka dengan ulah Lio yang seperti tadi tapi pria tersebut seakan tidak peduli. Dia selaku suka ekspresi kesal Klara, membuat dirinya semakin menggebu untuk mendapatkan wanita yang saat ini berdiri cantik di depannya.
" Aku akan mendapatkan mu bagaimanapun caranya. Setelah itu aku akan menempatkan dirimu untuk selalu di sampingku."
Obsesi kah Lio? Entahlah, tapi ia benar-benar menginginkan Klara untuk selalu berada di sisi nya. Saat ini ia akan membiarkan Klara berbuat sesuka hati terhadapnya tapi satu hal yang Lio harapkan, jika sudah berhasil ia mendapatkan Klara maka dia tidak akan pernah melepaskannya.
__ADS_1
" Apa mau menemui pria itu lagi? Baiklah hati-hati. Aku akan menunggumu pulang."
" Jangan menunggu ku. Memangnya kamu tidak punya pekerjaan?"
Klara mengatakan hal tersebut sambil masuk ke mobilnya. Sedangkan Lio, pria itu hanya tersenyum. Ia bahkan melambaikan tangannya saat Klara mengemudikan mobilnya pergi dari lokasi parkir apartemen itu.
πππ
Zion yang sedang bersiap menuju ke perkebunan tampak terpukau melihat seorang gadis dengan pakaian dan jilbab yang besar. Namun seketika dia langsung menundukkan kepalanya. Ia tahu gadis seperti itu tidak boleh ia pandang terlalu lama.
Entahlah, dia sering bersama Klara yang notabene nya selalu memakai pakaian terbuka namun sedikitpun ia tidak merasa tertarik. Tapi akhir-akhir ini melihat Zalfa, ada rasa bergetar dalam dada Zion.
" Assalamu'alaikum kang, mau ke kebun ya?"
" Waalaikumsalam neng. Iya. Neng Zalfa mau ke ... ?"
" Mau ngajar kang."
Ah elaah, basi banget nanya nya. Kan emang dia guru. Pagi-pagi gini dia udah rapi malah nanya mau kemana, ya jelas mau ngajar lah.
Zion berbicara dalam hati merutuki dirinya sendiri. Zalfa hanya tersenyum, gadis itu pun kemudian berlalu. Rumah Zion memanglah sering dilewati oleh Zalfa. Karena memang jalan depan rumah Zion merupakan jalan utama di desa itu. Jadi sebenarnya Zion sudah sangat sering melihat Zalfa sejak gadis itu masih berseragam putih abu-abu.
" Kali gue naksir bocil?"
Zion menggelengkan kepalanya pelan. Ia kemudian mengambil motornya dan mengendarainya menuju ke perkebunan. Hari ini tanah siap ditanami. Semua sudah di betulkan. Tinggal menunggu bibit siap untuk dipindahkan.
Zion tersenyum lebar saat melihat semuanya mulai tertata kembali. Ada rasa puas yang ia rasakan saat bisa mengembalikan kebun yang sudah hancur itu seperti semula.
" Kang mandor, apa bibitnya mau ditanam sekarang?"
__ADS_1
Salah seorang pekerja perkebunan menghampiri Zion yang berdiri melihat sekeliling kebun. Zion kemudian kembali melihat lebih dekat ke arah para benih disemai. Ia tentu harus memastikan bahwa bibit-bibit itu cukup umur untuk dipindahkan ke lahan.
" Sepertinya sekitar 2 sampai 3 hari lagi baru bisa dipindah. Sekarang benerin pot-pot yang buat nanam stroberi saja dulu," ucap Zion memberi instruksi.
" Siap kang."
Pekerja itu langung berlalu untuk melaksanakan perintah Zion. Sedangkan Zion ia memulai memutari kebun untuk melihat kesiapan lahan untuk ditanami.
Ckiiit
Sebuah mobil berhenti tepat di jalan depan perkebunan milik keluarga Kaluna. Seorang wanita keluar dari sana. Mata Zion membulat sempurna saat melihat siapa yang datang. Klara dengan bajunya yang bisa dikatakan minim untuk orang-orang di wilayah tempat Zion berada.
Zion pun langsung berlari sembari membuka jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Klara. " Sudah ku bilang jangan pakai baju begini jika mau kemari."
Tidak menjawab, Klara malah tersenyum ke arah Zion. Sedangkan Zion hanya bisa membuang nafasnya kasar. Dalam hati Zion bertanya mau apa Klara menemuinya, bukankah hubungan mereka sudah berakhir?
Zion menepis pertanyaan itu dan membawa Klara ke sebuah saung yang memang ada di Samping perkebunan.
" Ada apa lagi Ra kemari, oh iya kan sudah ku bilang kalau datang ke sini pakai baju yang benar. Jangan seperti ini. Kamu jadi dilihatin banyak orang."
" Haish, aku hanya ingin kelihatan cantik di mata aa."
Lagi-lagi Zion membuang nafasnya kasar. Setelah itu Zion pun mengatakan satu hal yang membuat Klara seakan tidak suka. " Ra, cantik itu nggak melulu buka-bukaan. Tertutup pun bisa cantik, malah kelihatan lebih cantik lagi. Tubuhmu itu biarkan hanya suami mu nanti yang melihat."
Klara hanya diam, bukan merenungi apa yang dikatakan Zion tapi dia sangat tidak suka dinasehati begitu.
Di kejauhan seseorang mengerutkan kedua alisnya saat melihat interaksi
Zion dan Klara. Sebuah pertanyaan timbul, ada hubungan apa Zion dengan wanita tersebut.
__ADS_1
TBC