
Tok tok tok
Tatang tersenyum lebar saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Pria paruh baya itu sangat yakin kalau Tarjo dan orang-orangnya pasti berhasil melakukan tugas mereka. Sungguh ia tidak sabar ingin menguasai perkebunan milik Raffan dan melihat Raffan menderita karena vila dan seisinya hancur.
" Hahaha, ini benar-benar sebuah berita yang sangat menyenangkan hatiku."
Dengan cerutu yang ada di tangan kanan dan gelas wine di tangan kiri, Tatang berjalan penuh percaya diri dan kepala yang mendongak. Ia sungguh tidak sabar akan membuat pesta 7 hari 7 malam yang ia pernah nazar kan.
" Tarjo, kau berhasil kan?"
Wajah Tatang sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Yang awalnya ia tersenyum lebar dengan ekspresi senang kini bibirnya tertutup rapat dan wajahnya berubah pias.
" Saudara Tatang Suparman Anda kami tangkap atas tuduhan pencemaran nama baik serta tindakan penyerangan terhadap kediaman saudari Kaluna. Kami harap Anda kooperatif."
" Tidak, bukan saya. Saya tidka melakukan itu. Ini pasti fitnah "
Salah satu petugas kepolisian itu memutar bola matanya jengah. Sering kali dia mendengar kalimat seperti itu dari para tersangka yang tertangkap.
" Halah kalimat klasik. Tangkap segera. Jangan buang waktu."
Tatang berusaha memberontak, tapi tentu saja tenaganya kalah kuar dengan para petugas. Tatang hanya bisa pasrah saat dirinya digelandang menuju hotel prodeo yang pasti akan sedikit lebih lama ia akan menginap di tempat itu.
Di dalam vila tepatnya di kamar Kaluna dan Yasa, keduanya saat ini tengah duduk di atas tempat tidur bersama. Suasananya tak lagi canggung seperti malam sebelumnya. Terlebih setelah kejadian tadi.
Tangan mereka menggenggam satu sama lain. Yasa tentu senang, ini merupakan kemajuan yang sungguh luar biasa. Yasa sebenarnya tahu, Kaluna adalah wanita yang ekspresif. Bahkan Yasa sedikit ingat kalau wanita yang duduk di sampingnya itu adalah primadona kampus saat itu.
__ADS_1
" Apa kamu tidak pernah menyesal dengan semua yang terjadi dalam hidupmu. Maksudku, pendidikanmu, cita-cita mu, dan lainnya." Yasa memulia percakapan. Malam sudah semakin larut tapi mereka berdua sepertinya belum ingin berangkat mengarungi alam mimpi.
" Tidak ada manusia yang sempurna mas. Terlebih aku. Dan jelas aku pernah merasakan itu. Tapi semenjak aku merasakan detak jantung Tara saat masih dalam perutku semua pikiran itu lenyap. Tara menjadi tujuan utama dalam hidupku, Tara menjadi sebuah satu cita-cita yang tidak ingin aku gantikan dengan apapun. Apalagi saat dia sakit, aku~"
Ucapan Kaluna tertahan. Air matanya luruh mengingat saat putranya itu sakit dan terbaring lemah tidak berdaya. Yasa pun langsung memeluk sang istri. Ia tahu bahwa peristiwa itu menjadi peristiwa paling menakutkan dalam hidup Kaluna.
" Sttt, sudah. Semuanya sudah dilewati. Jika tara tahu dia pasti akan berkata, " Jangan menangis Bunda, Tara tidak suka."
Kaluna terkekeh kecil saat Yasa mengatakan hal tersebut dengan menirukan aksen bicara Tara. Ia semakin mengeratkan pelukannya terhadap sang suami. Kini dada bidang Yasa menjadi salah satu tempat favorit Kaluna sebagai penghilang resah dan gelisah selain sujudnya kepada Sang Pencipta.
Yasa mengurai pelukan Kaluna. Ditatapnya lamat-lamat wajah sang istri. Cantik, itu lah kata yang Yasa ucapkan saat melihatnya. Warna mata coklat Kaluna ditambah tatapan teduh istrinya membuat Yasa sungguh bersyukur memiliki Kaluna.
" Apakah boleh?"
Yasa kemudian menarik dirinya saat dirasa Kaluna butuh meraup oksigen lebih banyak. Wajah Kaluna tertunduk. Rona merah terlihat jelas di pipi wanita satu anak itu. Yasa benar-benar gemas melihat tingkah malu-malu sang istri.
" Apakah boleh dilanjut?"
Pertanyaan kedua Yasa ditanggapi Kaluna dengan diam sejenak. Seperti yang Yasa ucapkan, ia tidak akan memaksa Kaluna untuk menjalankan kewajibannya. Namun tanpa Yasa duga sang istri mengangguk. Senyum lebar langsung terbit di bibir pria 30 tahun tersebut. Yasa melafalkan doa lalu mencium pucuk kepala Kaluna sebelum mereka melakukan ibadah halal bagi keduanya.
Yasa kembali mencium bibir Kaluna, tangan Yasa tenu kali ini sudah menjelajah kemanapun yang ia mau. Lampu hijau sudah di dapat jadi dia tentu harus berjalan terus bukan.
Bibir Yasa mulai merembet ke leher dan turun terus ke bawah. Baju bagian atas Kaluna sudah berhasil Yasa tanggalkan berikut penutup di dalamnya. Kaluna dalam keadaan toples sekarang.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan suaranya agar tidak keluar. Sedikit malu saat Yasa menatapnya dengan mata berbinar.
__ADS_1
" Jangan ditahan sayang, keluarkan saja."
Suara itu akhirnya keluar juga. Sungguh merdu bagi Yasa, membuat pria itu semakin bersemangat dalam menikmati indahnya surga dunia yang sudah halal bagi mereka.
Kini keduanya sudah sama-sama tak berbaju. Yasa menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Ia tentu tidak akan membiarkan ada yang melihat apa yang tengah mereka lakukan saat ini, meski itu adalah nyamuk sekalipun.
" Aku akan mulai. Jangan takut, kita tidak berdosa melakukan ini. Kita sudah halal, maka kita boleh melakukannya."
Kaluna mengangguk, bulir air mata nya keluar. Yasa paham, pasti Kaluna teringat kejadian 6 tahun silam. Yasa pun menciumi wajah Klauna kembali. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak perlu takut karena ia kini akan selalu bersamanya.
Dirasa sudah kembali rileks, Yasa kembali menarik tubuhnya dan turin kebawah. Menuju bagian penting dalam kegiatan ini. Lambat tapi pasti ia melakukannya dengan sedikit dorongan yang sesaat membuat sang istri berteriak. Sebuah cengkraman kuat Kaluna lakukan pada punggung Yasa dan Yasa kembali mencium bibir Kalun agar suara istrinya itu tidak terdengar dari luar.
Bagaimanapun kamar mereka bukanlah kamar kedap suara. Jadi suara keras sedikit pasti terdengar dari luar kamar.
Penyatuan keduanya terjadi dengan mulus tanpa gangguan. Malam itu mungkin merupakan malam kedua untuk mereka berdua. Tapi satu hal yang pasti, malam itu merupakan malam pertama bagi mereka yang menyandang status pasangan halal. Pasangan yang sedang mencari cinta bersama, pasangan yang sedang sama-sama belajar mencintai Rabb mereka agar cinta dalam rumah tangga mereka menjadi sakinah, mawadah, warohmah.
Bermula dari kesalahan, mereka ingin apa yang terjadi ke depannya bisa berakhir dengan kebahagiaan. Sebuah taubat sudah mereka lakukan. Permohonan mapun tidak pernah mereka lupa di setiap akhir dari sujud yang mereka jalankan.
" Terimakasih sayang, semoga rumah tangga yang kita jalani mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa. Mari kita bersama-sama mencari ridho -Nya."
" Terimakasih juga mas. Sudah mau menerima ku dan Tara."
Yasa kembali memeluk tubuh polos sang istri. Ia mencium pucuk kepala Kaluna dan kembali melafalkan sebaris doa untuk pernikahan mereka.
TBC
__ADS_1