
" Lalu kapan aku punya adik kalau ayah tidak di rumah."
Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
Kaluna dan Yasa seketika langsung menyemburkan makanan yang baru saja mendarat di mulut mereka masing-masing. Zion pun tertawa melihat kelakuan kakak sepupu dan kakak iparnya itu.
Sedangkan Tara dengan muka polosnya bertanya kepada sang paman apakah pertanyaannya salah, dan sang paman menjawab tidak ada yang salah dengan pertanyaannya.
" Kak, putra mu ingin segera punya adik. Gass lah."
" Diam!"
Lagi, Zion tertawa terbahak-bahak. Jika tidak salah, dugaannya pasti benar bahwa sang kakak sepupu masih belum bisa menjebol gawang. Yasa menampilkan senyum penuh dengan keterpaksaan. Sedangkan Kaluna, wajah wanita itu bersemu merah.
Suasana hangat pagi itu di villa keluarga Kaluna berbanding terbalik dengan sebuah apartemen yang begitu sangat sunyi. Apartemen milik seorang wanita yang beberapa hari ini sungguh begitu suram suasananya.
Rupanya keputusannya memutuskan hubungannya dengan Zion membuat Klara kalang kabut sendiri. Terlebih setelah kata putus diucapkan Zion sama sekali tidak menghubunginya juga tidak bisa dia hubungi kembali.
" Tidak, aku tidak bisa putus dengan Zion. Aku harus segera menemuinya dan meminta kembali."
Klara bangkit dari tempat tidurnya lalu bergegas ke kamar mandi. Wanita itu bertekad untuk mendatangi Zion hari ini juga. Klara benar-benar melakukan ritual mandinya dengan cepat. 10 menit ia sudah keluar dari tempat favoritnya itu. Biasanya Klara bisa menghabiskan 45 menit hingga satu jam untuk berada di kamar mandi.
Ia langsung mengambil pakaian. Kali ini ia mengenakan celana jeans panjang dipadukan dengan kemeja berwarna putih. Ia lalu memoles wajahnya. Merasa semuanya sudah sempurna, Klara langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan menuju tempat dimana Zion berada.
" Aku datang Zi atau aku tetap memanggilmu Surya saja. Aku tidak akan melepaskan mu sampai kapanpun. Bagaimana aku bisa melepaskan kehidupan menyenangkan ini. Baiklah jika kamu memang ingin kita menikah aku akan setuju untuk menikah denganmu. Aku yakin kedua orang tua dan keluargamu tidak akan membiarkan istrimu kesusahan."
Klara berucap yakin. Tampaknya strateginya benar-benar ia ubah sekarang. Jika kemarin dia benar-benar enggan untuk hidup susah dengan Zion kini ia akan mengikuti apa yang Zion mau.
Berada di tempat parkir saat ingin memasuki mobil seorang pria datang menghampiri Klara. Wanita itu mendesahkan nafasnya kesal melihat pria tersebut.
" Tck, mau apa lagi? Sudah berkali-kali aku katakan padamu aku sungguh tidak ada niat untuk menjalin hubungan denganmu Lio."
Ya, pria itu adalah Lio. Pria yang selama ini jadi partner Klara jika wanita itu merasa kesepian karena Zion tidak pernah mau diajak untuk bersenang-senang meski hanya sekedar jalam berdua.
__ADS_1
" Apa kau benar-benar hanya menganggap ku selinganmu? Apa kau hanya menganggap ku sebatas pelarianmu saja?"
" Oh ayolah, dari awal tidak pernah ada komitmen diantara kita. Dna kau tahu itu. Aku hanya mau Zion yang jadi pendampingku. Jadi stop untuk terus mengejar ku Lio."
Brak!!
Klara memasuki mobilnya dna membanting pintu mobil dengan begitu keras. Terang saja hal tersebut membuat Lio terkejut sekaligus kesal. Selama ini dia hanya benar dimanfaatkan saja oleh wanita itu.
" Lihat saja kau akan menyesal nanti. Kita tunggu hari itu datang. Dan aku akan menikmati hari kau memohon kepadaku."
Lio menyeringai, entah rencana apa yang ada di otak pria itu. Tapi yang jelas pria tersebut saat ini benar-benar kesal dengan Klara dna dia bersiap untuk membuat sebuah pelajaran.
πππ
Awalnya Yasa melarang Kaluna untuk pergi ke perkebunan. Yasa masih sedikit takut jika ada warga yang mengusik Kaluna. Tapi akhirnya Yasa pasrah karena banyak hal yang memang Kaluna kerjakan.
Dengan ditemani Yasa kini Kaluna sudah berada di perkebunan miliknya yang benar-benar rusak parah. Wanita itu menatap nanar, ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Yasa tersenyum melihat ulah Kaluna yang mengepalkan kedua tangannya sendiri sebagai tanda ia memang sedang bersemangat. Di depan mereka terlihat Zion dengan beberapa pekerja tengah berkutat pada apa yang mereka kerjakan yakni mencangkuli tanah dan merapikan kembali seperti semula.
Zion benar-benar turun langsung untuk mengerjakan hal tersebut. Terbesit kekaguman dalma diri Kaluna terhadap pemuda tersebut.
" Apa benar dia putra seorang Tuan Arduino. Sungguh diluar prediksi. Dia benar-benar mau melakukan hal tersebut dibalik nama besar ayahnya."
" Zion pada dasarnya bocah yang ekspresif dan berani mengambil resiko. Apa yang dilakukannya sekarang merupakan sebuah pembuktian bahwa dia mampu hidup sendiri tanpa embel-embel nama Uncle Ar."
Kaluna mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia paham dengan aoa yang dikatakan oleh Yasa. Kaluna lalu ikut terjun ke kebun untuk membantu. Pun dengan Yasa. Sepintas tidka ada orang yang tahu dua pria yang berasal dari keluarga terpandang itu saat ini sedang cosplay jadi petani.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Kaluna, Yasa, dan Zion menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara. Tampak seorang gadis cantik berhijab lebar tengah berdiri di sana.
__ADS_1
Zion kemudian tersenyum lalu menghampiri gadis tersebut. Sedangkan Kaluna dan Yasa hanya saling pandang. Apakah keduanya saling mengenal? Itu lah pertanyaan dari keduanya.
" Kang, umi minta Zalfa nganterin ini buat Kang Surya. Sekalian untuk Teh Kaluna juga. Umi ikut prihatin dengan apa yang menimpa teteh tadi pagi."
" Terimakasih Fa. Bentar ya aku panggilin Kak Kaluna bentar. Kak Kal, Kak Yas. Sini bentar."
Yasa dan Kaluna langsung berjalan menghampiri Zion. Kaluna tersenyum ke arah gadis cantik tersebut. Zion kemudian mengenalkan Kaluna dan Yasa kepada Zalfa.
" Zi, calon adik ipar?"
Bisikan Kaluna membuat Zion membulatkan matanya seketika dan langsung melihat ke arah istri dari kakak sepupunya itu. Zion tentu terkejut, yang ia tahu Kaluna adalah tipe pendiam. Tapi mengapa sekarang tiba-tiba bisa menggodanya begitu.
Sebenarnya Kaluna adalah pribadi yang menyenangkan dan ramah akan tetapi karena kehidupannya selama 6 tahun ini membuat wanita itu menjadi lebih tertutup.
" Woelaah, kakak ipar jangan aneh-aneh deh. Masih bocil itu. Baru 21 tahun kayaknya."
" Bocil udah bisa bikin bocil."
Zion lagi-lagi terkejut mendengar selorohan Kaluna. Dalam hati Zion kenapa kelakuan kakak iparnya itu jadi absurd macam daddy nya. Zion langsung menepuk keningnya sendiri agar kembali tersadar.
" Hallo teteh, semoga teteh betah ya tinggal di sini."
" Terimakasih neng. InsyaaAllaah. Main-main ke rumah ya. Teteh tunggu."
Obrolan santai pun terjadi diantara 4 orang tersebut sebenarnya lebih kedua wanita itu sih. Yasa dan Zion hanya menyimak dan sebagai pendengar saja.
Tampak sebuah mobi berhenti tidak jauh dari tempat keempat orang tersebut bercengkrama. Seseorang sungguh kesal melihat tawa dari wanita yang pernah menjadi rivalnya dulu di kampus.
" Sial, hidupnya sungguh menyenangkan sekali," gerutu wanita tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Klara. Hingga detik ini rasa bencinya terhadap Kaluna masih begitu besar. Klara melihat Kaluna dengan seksama dari dalam mobil. Matanya semakin membuka lebar saat melihat Yasa di sana.
" Sebenarnya ada hubungan apa antara Yasa dengan Kaluna. Aku harus cari tahu. Siapa tahu ini akan jadi good news. Apa jangan-jangan rencanaku 6 tahun yang lalu sebenarnya berhasil?"
TBC
__ADS_1