
Tara melihat setiap sisi wajah dan juga bagian tubuh ayahnya. Saat ini keduanya sudah kembali ke kediaman mereka. Beberapa luka di dapat Yasa. Bukan luka yang mengaga dan berdarah-sarah tapi jelas lebam di sana-sini begitu terlihat.
" Yakin mau langsung jemput bunda yah. Ini bukannya nanti kalau bunda lihat bisa syok ya."
" Kamu memang cerdas. Sepertinya kita biarkan saja bunda di rumah oma. Ayah akan meminta Om Nataya kemari."
Tara mengangguk paham, setelah mereka sampai rumah Yasa menceritakan mengenai Hanson O'Connell. Meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pria bule tersebut, tapi hal pasti yang bisa membuat mereka merasa lega adalah semua sudah berhasil dilalui dan dipastikan pria itu tidak akan menjadi ancaman. Bukan hanya untuk Tara tapi untuk seluruh seniman di dunia.
Bayangkan, sudah berapa banyak kerugian yang dialami para penggiat seni yang berbentuk karya rupa dan kerajinan tangan akibat ulah O'Connell. Pastilah banyak, bukan soal materi tapi ini soal sebuah ide kreatif. Lukisan bisa saja di duplikasi tapi nyawa dalam lukisan jelas akan berbeda.
Ide itu adalah benda yang mahal, sesuatu yang tercetus dari pikiran dan hati itu dan jika berhasil dituangkan dalam wujud sesuatu akan memiliki kepuasan tersendiri.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, om, silahkan masuk. Tuh ayah udah nunggu."
" Thanks boy."
Nataya masuk ke rumah, ia mengusap rambut Tara yang menyambutnya tadi. Dokter muda itu langsung menghampiri kakak sepupunya. Dengan sedikit tersenyum kecil, Nataya memulai aksinya mengobati Yas.
" Tawa mulu."
" Pasti dikerjain kan sama mama and Uncle Ar."
Yasa mengangguk lesu. Kedua orang tua itu memang sengaja membuatnya pontang-panting tadi. Bagaimana tidak, mereka sama sekali tidak membantu saat ia dikeroyok.
" Untung nggak dibiarin ketusuk sama ketembak aja."
Tawa Nataya lepas begitu saja. Ia tentu cukup tahu ulah iseng mereka. Soalnya Nataya pernah merasakannya sendiri bagaimana dia menghadapi beberapa orang dan hanya diperhatikan saja tanpa dibantu.
__ADS_1
" Dah, yang penting nggak ada luka serius. Semua aman, semoga setelah ini semuanya usai dan kalian bisa hidup dengan baik dan tenang."
" Aamiin."
Doa tulus disampaikan oleh adik sepupunya tersebut. Dimana Nataya tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga sang kakak sepupu. Bagaimana, perjuangan keponakannya dalam berjuang untuk melawan penyakitnya.
πππ
Pagi harinya, Yasa bersama dengan Tara menuju ke rumah Hasna dan Radi untuk menjemput Kaluna. Keduanya tersenyum cerah, semuanya sudah selesai. Baik itu soal O'Connell maupun publik mengenai kasus yang ramai kemarin.
Meskipun akhirnya meninggalkan sebuah bekas bagi keluarga Rudi.
Klara, syok saat mengetahui bahwa sebelah mata dan telinganya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ditambah kabar bahwa Zion meminang wanita, membuat Klara berteriak histeris. Satu hal dikatakan oleh dokter yang membuat Rudi serta sang istri tak kalah syok, Klara mengalami gangguan mental. Memang belum di taraf serius, tapi jika tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi hal yang fatal.
Sembari melakukan pemulihan fisik, Rudi menyetujui pemindahan Klara di rumah sakit yang khusus menangani masalah kejiwaan.
" Kita harus sabar ma, semua sudah jadi suratan takdir Klara. Mari kita memohon ampun dan terus mendampingi putri kita." Rudi berkata sangat bijak. Sedangkan sang istri hanya mengangguk disela-sela tangisnya. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya bahwa hal ini akan menimpa keluarganya.
Di kediaman Dwilaga, Kaluna sungguh syok melihat wajah suaminya yang penuh lebam. Bukan hanya di wajah di lengan dan bagian tubuh lain pun ada. Bahkan luka pun juga bertengger di sana.
" Mas, ini ada apa? Kenapa babak belur gini."
Hal serupa juga ditanyakan oleh Hasna dan Radi. Mereka jelas penasaran dengan apa yang terjadi.
" Itu bund, oma, opa, kemarin kan kita nyari sesuatu tuh di pasar. Nah ada beberapa preman yang malak. Ayah lawan para preman itu."
Yasa sedikit terkejut dengan alasan yang diutarakan oleh Tara. Sebenarnya tidak jauh dari alasan sebenarnya sih, Yasa memang menghadapi preman tapi preman skala internasional.
" Apa benar begitu Yas."
__ADS_1
" Iya bu, seperti apa yang dikatakan Tara."
Kaluna menyelidik, seperti ada yang tidak beres dengan suami dan putranya. Tapi apapun itu Kaluna tetap bersyukur karena keduanya tidak mengalami sesuatu yang serius.
" Jadi, kalau begitu mari kita pulang."
" Eeh tunggu mas. Tadi aku sama ibu udah bikin sarapan. Ayo kita sarapan sama-sama dulu."
Semua menuju ke ruang makan dan menikmati makan pagi yang sedikit terlambat itu dengan begitu hikmad. Tara menelisik satu per satu wajah orang-orang yang disayanginya. Sungguh ia begitu bersyukur, semua tampak bahagia. Bukan hanya itu, satu demi satu permasalahan sudah terselesaikan dan hal yang Tara paling suka adalah melihat senyuman sang bunda. Kini Tara tidak lagi mengatakan, " Jangan menangis bunda." Karena semenjak kehadiran sang ayah dan dirinya dinyatakan sembuh tangis itu tidak lagi ia lihat.
" Terimakasih Ya Allaah, Tara sungguh bahagia. Menemukan ayah Tara yang sangat Tara rindukan, bertemu dengan opa dan oma beserta keluarga besar dan juga kakek, nenek, serta nenek buyut. Sungguh ini adalah salah satu berkah dan kebahagiaan dalam hidup. Apalagi sebentar lagi Tara punta adik, Tara sungguh tidak sabar. Terimakasih sekali lagi Ya Allaah, Tara janji akan semakin rajin ibadah dan jadi anak yang menurut kepada ayah dan bunda."
Kehidupan yang menghampiri Kaluna tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh dirinya. Bertemu Yasa, memiliki Tara dan kini tengah mengandung anak kedua, sungguh hal baik yang berturut-turut ia alami.
Lika-liku kehidupan yang dialami, naik turun situasi hati yabg dialami kini sudah mulai berada di ambang ketenangan. Sebuah kalimat syukur diucapkan oleh Kaluna. Takdir yang diberikan kepadanya sungguh indah meski harus diawali dengan perjuangan dan jatuh bangun untuk menghadapinya.
...SELESAI...
Alhandulillaah selesai juga ya teman-teman semua. LUNAS, hehehe author tidak punya lagi hutang kepada pembaca sekalian.
Maaf ya teman-teman jika kurang memuaskan. Sebenarnya JMB ini awalnya tidak mau author lanjutkan. Karena sungguh JMB ini tidak mendapatkan apapun, bahkan promosi saja tidak. Retensi JMB yang hanya dibawah standar membuat author tidak mendapatkan reward apapun.
Jika ada yang bilang, aah elah nulis-nulis aja, rejeki sudah ada yang atur. Memang benar, tapi rejeki pun kita harus usahakan. Dan ini adalah salah satu usaha author.
Awalnya ini mau author selesaikan jauh hari, tapi melihat antusiasme teman-teman akhirnya author selesaikan meskipun tidak mendapat reward. Terimakasih teman-teman atas dukungan kalian semua.
Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi ya. Dan satu hal, kalau author buat karya baru mohon dibaca dari awal jangan ditabung, beri like setiap bab. Itu adalah dukungan yang luar biasa bagi author.
Sekarang satu-satunya harapan author adalah lomba. Hehehe, semoga ada kesempatan menang ya. Minta doanya ...
__ADS_1
Salam sayang
AUTHOR IAS