Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 86. Belum Menyerah


__ADS_3

Hari berganti, Oma Carolina sudah semakin sehat. Keputusan untuk memindahkan semua aset atas nama Tara pun sudah dilakukan. Sebelum usia Tara 20 tahun, Kaluna lah yang akan mengatur semuanya sebagai wali.


Carolina dibawa oleh Vanka kembali ke rumah mereka. Raffan jelas setuju, yang tadinya hanya ada dua orang saja di rumah sekarang ada 3 orang.


Berbeda dengan kondisi rumah Yasa, pagi itu Kaluna tengah merengek. Tumben sekali, Yasa sampai dibuat bingung dengan ulah sang istri. Kaluna meminta pergi ke perkebunan. Ia ingin makan nasi liwet buatan Zalfa, aneh bukan. Baru beberapa kali bertemu tiba-tiba pengen dimasakin.


" Tapi ini masih pagi, lagian kan kita nggak kenal deket sama Zalfa, sayang."


" Kan ada Zion mas, itung-itung nyomblangin Zion. Aku tahu Zion tuh suka sama Zalfa."


Yasa mengerutkan alisnya, sejak kapan istrinya itu ikut campur dengan urusan jodoh orang lain. Tapi pada akhirnya Yasa pasrah. Dia akan mengikuti kemauan sang istri.


Pria itu pun lantas menghubungi Zion dan mengutarakan maksud nya. Ia juga menghubungi Mbok Yem dan Mang Didi, mengatakan bahwa mereka akan menginap beberapa hari di vila. Beruntung Yasa memang belum kembali ke kampus jadi dia masih bisa melakukan banyak hal, seperti sekarang menuruti kemauan sang istri yang menurutnya aneh.


Di seberang sana Zion hanya bisa terbengong. Mulutnya menganga lebar. Bagaimana caranya dia mengatakan keinginan kakak iparnya itu kepada si gadis. Pertama dia tidak punya nomor ponsel Zalfa, yang kedua ini sungguh masih pagi. Rasanya tidak pantas sekali datang ke rumah Zalfa pagi-pagi untuk meminta tolong.


Ditengah kebingungan pemuda itu, gadis yang tengah dijadikan sasaran oleh Kaluna untuk membuatkan nasi liwet melintas di depan rumah Zion. Seeprti diberi sebuah kemudahan, Zion pun langsung berlari menemui Zalfa.


" Neng Za, bentar!" Panggil Zion kepada Zalfa.


" Eh kang, ada apa?" jawab Zalfa singkat. Ia harus segera ke pasar. Hari sabtu begini kegiatan mengajarnya libur.


" Gini, sebenarnya. Duh bingung juga sih." Zion merasa kebingungan menyampaikan keinginan Kaluna. Mana ada orang yang belum kenal dekat minta dibuatin makanan.


" Ada apa Kang?" tanya Zalfa, mengulang apa yang dia katalan tadi.

__ADS_1


" Sebenarnya aku mau minta tolong Za. Tadi Kak Yasa telpon, tiba-tiba Kal Kaluna pingin nasi liwet tapi dia minta kamu yang buatin. Naah kan aneh ya. Jauh-jauh dari kota minta kamu disini yang buatin."


Bukannya merasa heran, Zalfa malah tersenyum simpul dan mengangguk. Ia menyanggupi keinginan Kaluna yang disampaikan melalui Zion. Meskipun Zion sedikit heran mengapa Zalfa langsung mengiyakan tapi Zion bersyukur. Ia pun berinisiatif mengantarkan Zalfa ke pasar menggunakan mobil nya. Zalfa setuju dengan ide Zion tersebut.


Selama perjalanan, jantung Zion terus berdetak lebih cepat dari ukuran normal. Satu mobil bersama Zalfa rupanya membawa hal cukup mengejutkan. Telapak tangan Zion berkeringat, dan sungguh dia tidak berani untuk menoleh ke arah gadis itu.


" Aduuuh kok gini sih rasanya. Buseet kenapa bisa deg-degan gin sih. Dulu semobil sama Klara, doi pake baju kurang bahan aja aku biasa aja," batin Zion. Hatinya berkecamuk. Asli dia tidak sanggup berlama-lama berduaan dengan Zalfa.


" Neng Za?"


" Ya kang?"


" Udah punya calon belum?"


Zion terkekeh geli tapi satu sudut bibirnya terangkat. Tampaknya Zalfa masih beneran free. " Baiklah mom, dad, siapkan diri kalian untuk melamar."


πŸ€πŸ€πŸ€


Di kediaman Yasa, suami istri tersebut tampak bersiap. Jika Kaluna tidak perlu membawa baju maka berbeda dengan Yasa. Ia tidak memiliki stok baju banyak di sana, maka dari itu Kaluna membantu Yasa untuk merapikan beberapa pakaian yang akan dibawa ke Vila.


Sedangkan di studio dan galerinya Tara tidak hentinya menatap pesanan lukisan milik orang timur tengah. Dhiaurrahman Zahid Hamizan, itu lah nama orang yang memesan lukisan kepada Tara.


Tara kembali mencoba menelisik setiap sudut lukisan tersebut dan membandingkan dengan foto yang orang itu kirimkan kepadanya sebagai contoh.


" Aku yakin dia tidak asal request. Bentar, di foto kan nggak ada musafirnya hanya satu orang dengan satu unta. Tapi mengapa dia meminta untuk menggambarkan banyak musafir. Terlebih dia meminta untuk menggambarkan seseorang yang diikat dan ditarik dengan unta. Wait, ini nggak benar."

__ADS_1


Tara seperti menemukan sesuatu. Ia kemudian mengambil foto lukisannya dan mengirimkan kepada Mr. Sun. Dalam benak Tara mungkin saja ini sebuah kode. Sebelum mendapat jawaban dari Mr. Sun bocah itu kembali menelaah lukisan miliknya.


" Piramida itu kan di negara M, terus dia minta digambarkan padang pasir yang tidak terbatas, padahal semua tahu letak piramida mesir itu tidak betul-betul di tengah gurun. Lalu ada gambar orang diikat dan ditarik oleh unta. Astagfirullah jangan-jangan ini kode bahwa adanya sindikat perbudakan manusia."


Tara menjadi gusar. Ia hendak menghubungi Mr. Sun kembali tapi panggilan bundanya membuat bocah itu urung. Ia langsung menutupi kembali lukisan tersebut dengan kain lalu bergegas keluar. Tara tidak ingin membuat kedua irang tuanya menunggu dan curiga. Tanpa Tara tahu sebenarnya Yasa dan Kaluna sedang bersiap menginterogasi putra nya tersebut.


Mengetahui kesempurnaan lukisan Tara beberapa malam yang lalu membuat Yasa dan Kaluna sedikit khawatir mengenai apa yang dilakukan sang putra sebenarnya. Terlebih Tara seperti seorang introvert dan anti sosial. Terbukti dia sama sekali tidak mau sekolah dan lebih suka mengurung diri di studio lukis miliknya.


" Apa yang sedang Tara lakukan hmm?"


" Tidak ada yah, biasa melukis."


Tara menjawab pertanyaan ayahnya dengan begitu singkat, padat, dan jelas. Yasa dan Kaluna yang mendengar jawaban Tara hanya mendengus pelan. Sepertinya mereka harus bicara dalam kondisi tenang. Mungkin mereka harus bicara nanti malam saat di vila, itu lah yang merasuk di kepala Yasa.


" Baiklah boy mari kita berangkat. Sepertinya kita tidak jadi liburan jauh, bunda pengen ke vila aja."


" Oke yah, kemanapun bunda mau deh ikutin aja."


Semua terkekeh kecil. Kaluna mencium pipi putranya dan menggandeng sang putra menuju ke mobil. Mereka siap untuk menuju vila. Satu pwr satu hal baik menghampiri mereka. Baik Yasa maupun Kaluna merasa semuanya mulai berjalan dnegan tenang. Akan tetapi tidak dengan Tara, saat sebuah pesan masuk di ponselnya. Bukan pesan surel melainkan pesan di aplikasi chat.


" Hallo Raka Pittore. Long time no see. Eeh, kita belum pernah bertemu ya. Tapi tidak lama lagu kita akan bertemu. Tunggu kedatanganku, seperti yang ku katakan. Aku akan mengusik keluargamu sata kau tidak mau menuruti kemauanmu."


" Hanson O' Connel, pria itu belum menyerah juga."


TBC

__ADS_1


__ADS_2