Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 61. Ide Gila


__ADS_3

Sebuah helikopter mendarat di atas rumah sakit milik Jason. Kaluna tentu tidak akan pernah menyangka bahwa helikopter tersebut membawa suaminya untuk menemui dirinya dan sang putra. Yang semua orang tahu heli itu membawa pasien rumah sakit, karena selama ini itulah yang terjadi.


Setelah turun dari Helikopter, Yasa langsung berlari turun. Ia mencari ruang IGD setelah bertanya kepada seorang perawat yang ditemuinya. Bahkan perawat tersebut dengan senang hati mengantarkan Yasa.


Sepanjang ia berjalan menuju ruang IGD, dalam hati doa Yasa tidak pernahkah putus untuk sang putra. Jujur, Yasa juga sangat merasa ketakutan saat ini. Taraka Abyaz, putra yang baru saja ia temukan. Putra yang jadi permata hatinya dan menjadi prioritas utama dalam hidupnya itu sungguh Yasa tidak ingin kehilangan. Bahkan dia rela menukar apapun di hidupnya ini untuk sang putra.


" Ayah mohon nak, jangan terjadi apa-apa dengan mu. Ayah dan bunda pasti tidak akan sanggup."


Di depan ruang IGD Yasa melihat papa dan mama mertuanya yang tengah memutar tasbih. Ia juga melihat Kaluna yang tengah dipeluk oleh Brisia. Tampaknya Tara masih ada di dalam.


" Kal." Panggilan Yasa kepada sang istri membuat istrinya itu langsung bangkit dan langsung memeluk Yasa. Kaluna menangis di sana, mencurahkan semua rasa takut dan khawatirnya. Hati Yasa sungguh sakit saat melihat Kaluna menangis. Pria itu mencium pucuk kepala Kaluna dan mengusap pelan punggung sang istri untuk memberikan ketenangan.


" Tara mas."


" Iya sayang, mas tahu. Kita berdoa ya. Minta ke Allaah agar Tara tidak kenapa-napa."


Yasa membawa Kaluna untuk kembali duduk. Yasa lalu sejenak menghampiri Raffan dan Vanka untuk menyalami kedua mertuanya itu. Raffan sebenarnya ingin bertanya mengenai berita yang beredar, namun urung. Saat ini situasinya sungguh tidak tepat untuk membahas hal tersebut. Keadaan Tara adalah prioritas sekarang.


Tak lama kemudian Jason keluar dari ruang IGD. Semua yang menunggu Tara langsung berdiri dan menghampiri Jason termasuk Brisia. Malah Brisia adalah orang pertama yang menanyakan keadaan Tara.


" Dad, bagaimana Tara."


Jason terdiam sejenak, raut wajahnya sungguh datar membuat semua orang tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Dari dulu memang Jason tidak pernah memiliki ekspresi yang bisa dibaca oleh orang lain kecuali Arduino dan Silvya. Hanya kepada dua orang itu Jason akan berbicara dengan penuh ekspresi.


" Syukurlah tidak ada hak yang mengkhawatirkan. Tadi kami sekalian melakukan tes. Tidak ada hal buruk dalam tubuh Tara. Anak itu hanya lelah karena kurang tidur dan sepertinya banyak berpikir."

__ADS_1


Sebuah kalimat syukur keluar dari bibir semua orang. Tapi detik selanjutnya mereka saling pandang satu sama lain. Kurang tidur? Lelah? Banyak berpikir? Bagaimana bisa bocah berusia 5 tahun itu mengalami semua hal tersebut.


Lelah dari mana jika setiap hari dia berada di dalam vila. Lalu kurang tidur, Kaluna selalu memastikan bahwa bahwa Tara tidur tepat waktu. Bahkan setelah ibadah sholat isya Tara akan langsung menuju kamarnya untuk tidur. Dan yang terakhir banyak berpikir, bocah sekecil itu apa yang dia pikirkan.


Sungguh semua orang dibuat bingung dengan diagnosa dokter ayah dari Brisia tersebut.


" Haish, ya sudah. Intinya Tara tidak apa-apa. Saat ini dia sudah kuberi infus. Setelah infus habis bisa dibawa pulang. Tapi lebih baim menginap disini semalam saja agar bisa di cek kembali kondisinya."


" Baik dokter terima kasih banyak."


Jason melenggang pergi diikuti Brisia yang mengekor dibelakang sang daddy. Gadis itu tentu masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada Tara.


Di depan ruang IGD, Tara dibawa keluar menuju ruang rawat. Bocah itu masih memejamkan matanya. Kata salah seorang perawat Tara sudah siuman tapi saat ini ia sedang tidur. Padahal sebenarnya Tara tidak tidur. Bocah itu hanya pura-pura saja. Satu hal yang Tara hindari adalah serentetan pertanyaan yang akan meluncur dari bibir sang bunda. Tentu Tara tidak mau berkelit, nanti jatuhnya bohong tapi Tara juga tidak bisa menjelaskan apa yang dia lakukan.


Bocah itu merutuki dirinya dalam hati. Ia tahu semua ini adalah akibat dirinya sendiri yang kurang menjaga tubuh dan harus berkahir pingsan lalu membuat semua orang khawatir. Dalam hati, sungguh Tara meminta maaf kepada bunda, ayah, kakek dan neneknya. Ia yakin pasti bunda nya menangis. Satu hal yang sungguh tidak di suka tapi kali ini dia lah yang jadi penyebab nya.


" Maafin Tara ya bunda karena membuat bunda menangis lagi."


Sambil menunggu Tara bangun, padahal bocah itu hanya pura-pura, Raffan dan Vanka pergi keluar sebentar untuk ibadah sholat ashar dan mencari makanan. Nanti mereka akan bergantian untuk menjalankan kewajiban 4 rakaat tersebut.


Di dalam ruang rawat kini Kaluna menatap wajah sang suami dengan lekat. Meskipun Yasa sebisa mungkin bersikap biasa tapi Kaluna tahu saat ini suaminya itu tengah berpikir keras. Sungguh Kaluna merasa tidak kuasa melihat Yasa yang seperti itu. Terlebih semuanya ini adalah dimulai dari dirinya. Kaluna benar-benat merasa bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi.


" Mas, aku punya jalan keluar yang baik untuk permasalahan ini."


Yasa memicingkan satu alisnya saat mendengar ucapan Kaluna yang tiba-tiba itu. Yasa merasa apa yang akan dikatakan Kaluna pasti bukan ide yang bagus.

__ADS_1


" Apa itu?"


" Aku akan mengatakan kepada publik bahwa kamu tidka bersalah. Aku lah yang menggoda mu dan menjebak mu. Sehingga kamu berada dalam posisi ini."


" Jangan gila kamu Kal. Itu akan merusak reputasi mu. Semua orang akan menghinamu, semuanya akan mencemooh mu."


Yasa seketika langsung bangkit dari duduknya. Sungguh dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kaluna. Apa yang baru saja Kaluna ungkapkan sama saja menggali lubangnya sendiri. Yasa tentu tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa nanti Kaluna jika benar ia melakukan idenya tersebut.


Kaluna pun ikut berdiri lalu menggenggam tangan Yasa. Baginya apa yang terucap dari bibirnya adalah ide terbaik yang saat ini harus segera dilakukan. Kaluna tentu tidak ingin karir dan nama baim Yasa hancur seketika.


" Mas ini jalan terbaik untukmu."


" Terbaik untukku tapi terburuk untukmu. Ingat aku tidak akan pernah setuju dengan ide gila mu itu."


Kaluna mengambil nafasnya dalam-dalma dan membuangnya perlahan. Tampaknya pembicaraan ini tidak akan mudah. Dan pada akhirnya Kaluna memilih untuk dima dulu seakan-akan mengikuti apa yang suaminya mau.


Yasa lalu memeluk Kaluna. Ia sungguh tidka ingin Kaluna melajukan ide gilanya.


" Jangan lakuin itu ya. Aku akan memikirkan jalan keluarnya."


Kaluna mengangguk. Tapi tentu tidak dengan hatinya. Bagaimanapun ini harus segera diselesaikan. Ia tidak ingin semakin berlarut.


Maaf mas, sepertinya aku harus benar-benar melakukan ide gila itu. Aku tidka ingin kamu hancur. Semua berawal dariku maka aku akan bertanggung jawab.


TBC

__ADS_1


__ADS_2