Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
Part 11


__ADS_3

"Kenapa bisa begini"?tanya Vaela sambil mengobati wajah Jarel yang lebam.


Jarel membawa Vaela ke mansion Jarel dan sekarang mereka ada di ruang tamu. Para pelayan yang melihat itu merasa senang. Tidak pernah mereka melihat tuan mereka seekpresif itu dengan orang lain.


"Shhh, pelan sweet," rengek Jarel.


"Apakah sangat sakit, maaf aku akan pelan-pelan," ucap Vaela.


"Aku suka dengan wajah khawatirmu itu sweet, sangat menggemaskan," Jarel menyempatkan mencuri kecupan kecil di bibir Vaela.


Vaela yang kesal menekan luka di wajah Jarel sedikit kuat menggunakan alkohol.


"Astaga sweet, sakit ," rintih Jarel.


"Siapa suruh berkelahi," balas Vaela.


"Aku mendapatkan-nya dari Kaka ipar dan aku senang sweet dengan itu aku mendapat restunya," jelas Jarel.


"Siapa yang mau menikah denganmu," ucap Vaela pelan tapi karena pendengaran Jarel yang sedikit tajam Jarel sapat mendengar gumaman wanitanya.


"Tentu saja kamu sweet, ibu dari anak-anakku," Jarel mengelus perut datar Vaela lembut.


Vaela menyingkirkan tangan Jarel dia merasa sedikit geli.


"Aku tidak mau," tolak Vaela.


"Kau harus mau sweet, karena kemungkinan besar kamu akan hamil anakku," Jarel menatap datar Vaela.


"Aku akan mengugurkannya jika memang ada," santai Vaela yang membuat amarah Jarel memuncak.


Dengan kasar Jarel menarik tangan Vaela kasar dan membawanya ke kamarnya.


"Jarel pelan, shhh sa...kitt ," rintih Vaela. Vaela memang benar-benar merasa kesakitan. Gengaman Jarel ditangannya bukan main-main kuatnya.


Jarel yang sudah tidak dapat menahan amarahnya mendorong tubuh Vaela ke dinding dengan mencegkram bahu Vaela. Sedangkan Vaela hanya bisa meringis sakit akibat punggungnya yang sedikit sakit serta cengkraman di pundaknya yang cukup erat.


Belum sempat Vaela menetralkan keterkejutan-nya Jarel dengan kasar menciumnya seolah memberi hukuman atas kata-kata Vaela yang membuat Jarel emosi.


Jarel membenci hal yang diucapkan Vaela tadi. Teramat benci.


"Lepashh," ronta Vaela. Rasanya Vaela ingin menangis bahkan Jarel tidak memberinya waktu untuk bernafas.


Melihat Vaela yang sudah terengah-engah Jarel dengan terpaksa melepas ciumannya dan mengusap kasar bibir Vaela yang sudah bengkak itu.


Belum selesai Vaela bernnasa lega, Jarel lagi-lagi menariknya kasar ke arah kamar mandi pria itu.

__ADS_1


"Jarel kamu mau apa," teriak Vaela takut Jarel berbuat macam-macam lagi padanya. Vaela mencoba melepaskan cengkraman Jarel saat Jarel menariknya paksa ke arah wastafel.


"DIAM"! bentak Jarel kasar sembari Menggulung lengan bajunya ke atas.


"Jarel hiks kau mau apa," cicit Vaela. sungguh dia sangat ketakutan sekarang.


Jarel menarik Vaela agar lebih dekat dengannya. Vaela merasakan bibirnya dibasuh oleh Jarel dan dengan teganya Jarel mengosok bibir itu dengan kasar.


"Akh, shhh hiksss sakittt,"


"BERHENTILAH MENANGIS INI AKIBATNYA JIKA KAMU BERKATA KASAR DAN SEMBARANGAN."


"Jarel! hiks.." latah Vaela saat merasakan gosokan Jarel lebih kasar membuat Jarel tersadar jika dia sudah keterlaluan. Jarel mengentikan aksinya dan mendapati bibir Vaela semakin memerah dan membengkak.


"Sialan!" umpat Jarel sembari memukul dinding kamar mandi membuat Vaela terlonjak kaget menatap tangan Jarel yang terlihat berdarah. Vaela dengan segera menarik tangan Jarel mengabaikan rasa sakit di bibirnya.


"Jarel tanganmu berdarah, ayo ikut aku. aku akan mengobati nya," ucapan Vaela berhasil membuat Jarel semakin menyesal dengan apa yang telah dilakukan olehnya. Jarel hanya bisa menurut saat Vaela kembali manariknya ke ruang tamu tempat awal mereka tadi.


Jarel bisa menatap pergerakan Vaela yang dengan hati -hati membersihkan lukanya. Vaela yang membalut luka Jarel dengan kasa terkejut saat ia melihat tetesan air jatuh dari tangannya membuat Vaela mendongkak dan mendapati Jarel menangis.


Grep


"Maaf hiks.." cicit Jarel.


Vaela dengan lembutnya mengusap punggung Jarel membiarkan Jarel menangis dalam pelukan nya kali ini.


Beberapa saat kemudian ia merasakan pelukan nya melonggar serta isakan Jarel berganti dengan napas teratur ternyata pria itu sudah tertidur.


Dengan susah payah Vaela merangkul Jarel dan menjatuhkan pria itu dikasur kebesaran Jarel.


Jarel juga memakaikan selimut sebatas dada untuk Jarel. Vaela menatap Jarel demgan tatapan yang dalam hingga tak sadar tangannya terangkat untum mengelus rambut itu.


Vaela meruntuki ucapannya tadi sungguh dia bahakan tak berpikir sama sekali.Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Vaela dengan agak keras memukul mulutnya.


"Bodoh," lirih Vaela .


"Maaf," ucap Vaela sambil mengelus perut datarnya.


Sedangkan disisi lain Vega benar-benar akan dihukum oleh Clark.


Vaela ya g terlihat ketakutan sangat imut dimata Clark. Entahlah ekspresi itu benar-benar menggemaskan.


Clark berdiri dengan menyeringai didepan Vega dan Vega hanya bisa meneguk ludahnya kasar bagaiaman tidak yangannya diikat agar dia tidak bisa kabur sama sekali.

__ADS_1


Vega ingin berlari dari sini tapi dia tidak bisa.Mau kabur pun pasti Clark akan menangkapnya dan menambah hukumannya.


Mereka sekarang berdiri di kolam piranha milik Clark. Airnya hanya selutut saja bahkan Vega baru tau jika kekasihnya memiliki kolam piranha dan itu wajar karena setiap mereka bertemu mereka kebanyakan di rumah Vega.


"Kemari sayang," ucap Clark dengan nada rendahnya. Vega menggeleng keras bisa-bisanya Clark menyuruhnya mendekat ke arah piranha itu.


"Vega sayang," geram Clark.


"CEPAT KEMARI," bentak Clark dan karena takut dengan cepat Vega menghampiri Clark.


"Good girl," Clark mengelus rambut Vega lembut laku seketika menjambak ya kasar.


"Akhh Clark,"


"Sststt this your punishment," lirih Clark.


Clark sebenarnya tak ingin memperlakukan gadisnya dengan kasar namun gadisnya yang membuatnya seperti ini.


Clark melepaskan genggamannya pada rambut Vega lalu mencium puncak rambut gadisnya. Vega sudah gemetaran dia sangat takut.


Brug


Clark mendorong tubuh Vega kolam yang diisi oleh ratusan piranha dengan tersenyum miring.


"akhhhh Clarkkk aaaa tolong aku ," teriak Vega berteriak keras yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Clark. Clark malah tertawa geli melihat Vega yang ketakutan.


Ikan piranha itu sudah mendekati Vega membuat Vega menahan napasnya.


Vega dengan cepat menuju pinggir kolam namun Clark dengan wajah tidak berdosanya kembali mendorong gadisnya ke kolam tersbeut dan tak membiarkan gadisnya menyentuh ujung kolam.


"Hiksss kumohon hikss Clarkkk tolonghhhh," lolong Vega pilu dan Clark hanya diam melihat itu.


Vega tau bahwa ikan piranha tidak memakan manusia namun jika ada darah sedikitpun menguat ikan piranha akan langsung memangsanya.


Walau Clark memasukkannya tanpa luka tetap saja Vega takut. Teramat takut. Hell dia ada didalam kolam ikan piranha.


"Please forgiveme," lirih Vega sambil menyatukan kedua tangan-nya. Memohon agar Clark memaafkan-nya.


Clark mengangguk membuat Vega bernafas lega. Clark kemudian ikut masuk ke kolam dan mengangkat Vega ala bridal Style.


"Tapi ini belum berakhir sayang dan hukuman lain menantimu" bisik Clark dan mencengkram kuat pinggang gadisnya yang membuat Vega meringis sakit.


"Akhh," rintih Vega saat Clark mengigit lehernya


TBC

__ADS_1


__ADS_2