Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 8


__ADS_3

Vaela dan Vega berdiri disebuah rumah yang cukup mewah di newyork.


Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka sampai di newyork kota kelahiran Vaela.


"Apa ini rumah kakakmu"?Tanya Vega yang diangguki oleh Vaela.


Vaela berjalan terlebih dahulu yang diikuti oleh Vega. Penjaga disana cukup terkejut melihat ke arah Vaela. Sudah lama sekali Vaela tidak menginjakkan kakinya di rumah ini.


"Nona Vaela, silahkan masuk nona," ucap penjaga itu.


"Terimakasih, apa kakak ada didalam"? Tanya Vaela.


"Tuan muda selalu berada diruang kerjanya nona, tapi berhati-hatilah," ucap penjaga rumah kakanya.


Vaela hanya mengangguk, dia sudah tau jika kakanya tidak menyukainya entahlah Vaela sama sekali tidak tau alasannya.


Tapi Vaela tidak tau mau kemana hanya rumah kakanya tujuannya saat ini, sedangkan ayah dan ibunya pasti sedang menjalankan perjalanan bisnis.


Sama seperti dulu saat mereka kecil, dia dan kakanya hanya dirawat oleh pelayan dirumah. kedua orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan mereka dan hanya akan pulang sesekali kerumah.


Vaela menyusuri rumah tersebut, tidak ada yang berubah sama sekali. Diusia muda Kakanya sudah dapat membangun sebuah perusahaan properti di Newyork.


Vaela menuju ke ruangan kerja Kakanya.Vaela berdiri tepat diruangan tersebut. Dia ragu sungguh.


"Ada apa, ayo masuk," suruh Vega dan dengan berani dia mengetok pintu tersebut.


Vaela melotot melihat itu, dia takut kakanya akan marah. 5 menit menunggu namun tidak terjadi apa-apa.


Vega yang tidak suka menunggu dan tidak tau apa masalah Vaela yang berguru ragu hanya untuk masuk membuka pintu itu pelan."


"BERANINYA KAU MASUK KERUANGAN KU," bentak Devian marah.


Vega dan Vaela terlonjak kaget apalagi Vega dia sampai bersembunyi di belakang Vaela dan memegang ujung baju Vaela.


"Kak, maaf," cicit Vaela


Devian terpaku. Adik kecilnya ada dihadapannya sekarang. Dia ingin merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Devian sangat merindukan adik kecilnya.


Tapi Devian menahan itu dengan mengepalkan tangannya.


"Kenapa kau kemari," sinis Devian.


"Eum kak, aku bisa tidak tinggal sementara disini bersama temanku? Tanya Vaela pelan takut kakanya akan marah.


Devian menaikkan sebelah alisnya. Apa yang terjadi dengan adiknya ini. Tidak ada laporan mengenai Vaela akan datang kemari. Devian akan menghajar anak buahnya nanti.

__ADS_1


"Apa ada masalah"? tanya Devian dan kembali mengerjakan laporannya.


"Iya sedikit," balas Vaela kecil.


Devian kembali menoleh dah hanya mengangguk. Dalam hatinya dia merasa senang tapi juga khawatir yang mendominasi.


Apa yang terjadi dengan adik kecilnya itu, dia akan mencari taunya nanti.


***


"Lacak mereka ada dimana," perintah Jarel pada Aneska.


Masih ingat dengan Aneska,dia wanita yang diberi kesempatan Jarel untuk bekerja dengannya.


Aneska mengangguk paham, dengan cekatan Aneska mecari tau kemana kekasih bosnya itu. Terlihat dia yang sangat fokus memperhatikan layar komputer-nya dengan berbagai kode yang tertera.


"Mereka ada di New York tuan, sepertinya berada di salah satu mansion besar di New York," jelas Aneska.


Jarel yang mendengar itu tersenyum miring, Vaelanya tidak akan bisa kabur darinya karena Jarel akan mencari kemanapun perginya.


"Ayo kita jemput mereka," ajak Clark yang sudah tidak sabar memberi hukuman juga untuk gadisnya.


"Tidak," tegas Jarel.


"Apa maksudmu"? Tanya Clark Menggeram melupakan bahwa didepannya adalah bosnya namun di luar kantor kan mereka sahabat jadi terobos ajalah pikir Clark.


"Kau saja, aku akan menjemput gadisku," ucap Clark keras kepala.


"Terserah, tapi ingat pekerjaan mu oh iya sebentar lagi aku ada meeting, tolong siapkan," ucap Jarel tersenyum puas.


"Awas saja kau," setelah-nya Clark mengumpati Jarel dalam hatinya tapi Clark menyempatkan untuk mengirimkan pesan untuk gadisnya. Setelah meeting nanti dia akan menjemput gadisnya. Masa bodo dengan Jarel.


***


"Aaaa Vaela, aku harus bagaimana," teriak Vega keras.


Bug


Bantal itu tepat mengenai wajah Vega dan Vaela mendapatkan tatapan sinis dari Vega.


"Diamlah, kau sangat berisik, ini bukan rumahku jika kakak dengar nanti dia akan marah," peringat Vaela.


"Eum sorry, tapi apa yang harus kulakukan sepertinya Clark tahu aku ada dimana," jelas Vega aambil menunjukkan pesan dari Clark yang memperingati dirinya.


"Biarkan saja, aku yakin dia akan menjemput mu," ucap Vaela dengan enteng.

__ADS_1


"Ini karena mu, ah habislah aku,"lirih Vega.


Vaela tertawa melihat muka memelas sahabatnya. Memang sahabat yang sangat laknat. Vaela bahkan melupakan bahwa dia juga sama saja pasti akan dijemput oleh Jarel.


"Hukuman apa yang akan diberikannya nanti, aish apa aku kabur lagi saja," ucap Vega


"Kau akan kemana, pasti dia akan tau," kekeh Vaela.


"CK, kau selalu mengejekku Vaela, setidaknya kasih aku saran," gerutu Vega.


"Eum aku akan meminta tolong pada Kakak untuk tidak memperbolehkan Clark masuk nanti, jika benar Clark akan datang kesini."Jelas Vaela.


"Apa kau yakin,"balas Vega.


Vaela mengangguk yakin. " Tentu, lagipula Kak Devian tidak terlalu suka ada tamu yang datang. Dia itu benar-benar menyebalkan bukan,"ucap Vaela.


"Siapa yang menyebalkan hm,"


Vaela menegang dan menoleh ke belakang. Disana kakanya berdiri sambil bersandar di samping dinding pintu menatap ke arah mereka dengan muka datar.


"Eh kakak, sejak kapan kak Devian ada disana," ucap Vaela.


"Sejak temanmu itu berteriak tidak jelas," sindir Devian sambil melirik Vega yang tersenyum malu dan menunduk meminta maaf.


"Jadi siapa yang menyebalkan Hm"? tanya Devian lagi.


"Ya kakak," balas Vaela dengan wajah polos dan seketika dia meruntuki mulutnya yang keceplosan saat mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.


"Hm, bersiaplah kita akan ke central park mall, kalian pasti butuh refreshing," ajak Devian lalu berlalu pergi.


"Tumben sekali, biasanya dia tidak pernah seperti itu," lirih Vaela.


"Emang biasanya seperti apa"?tanya Vega.


"Dia bahkan acuh tak acuh, biasanya dia tidak pernah menegurku sama sekali dan saat aku menyapanya dia terkadang membentak ku," ucap Vaela sendu.


Vega mengusap bahu Vaela. " Bukankah tadi hal yang bagus, mungkin kakakmu sudah berubah dan ingin memperbaiki hubungan kalian," jelas Vega yang membuat Vaela tersenyum cerah.


"Kau benar juga, eum aku akan membuat Kak Devian perhatian lagi seperti dulu saat kami masih kecil," Vaela bersenandung kecil dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap yang diikuti oleh Vega.


Tanpa disadari oleh mereka berdua Devian tidak benar-benar pergi. Devian masih disana di dekat pintu mendengar ucapan adiknya.


Hatinya tersentil. Dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia sudah banyak melewatkan pertumbuhan dan perkembangan adik kecilnya.


"Maafkan kakak baby," lirih Devian.

__ADS_1


"Kaka berjanji akan berusaha menghapus perasaan kakak yang berlebihan ini, kuharap kasih sayang ku padamu menjadi seorang kakak pada umumnya," lanjut Devian sambil melangkah untuk bersiap juga.


TBC


__ADS_2