
"Aku mengantuk," Ucap Vaela.
"Kau mengantuk heum," Jarel melirik jam-nya dan masih jam 8 malam tumben sekali Vaela tidur cepat.
"Ya sudah, ayo tidur," ucap Jarel pada akhirnya.
Vaela mengangguk dan merebahkan tubuhnya disamping Jarel dengan menelungkupkan wajahnya.
Tak lupa Vaela menghirup dalam aroma pria tubuh pria itu, dia merindukan aroma tubuh tersebut.
"Ergh, geli sweet," racau Jarel saat Vaela semakin menduselkan kepalanya.
"Tolong elus perutku,"pinta Vaela.
"Oh ya ampun aku hampir lupa, maafkan Daddy baby," sesal Jarel lalu mengusap perut Vaela yang sedikit buncit.
"Sweet," panggil Jarel dengan sangat lembut bagaikan itu sangat jarang didengar oleh Vaela.
"Heum," dehem Vaela.
"Let's get married," ucap Jarel menatap dalam ke arah Vaela.
"Are you serious?" tanya Vaela.
"Tentu saja, kau pikir aku main-main saat mengucapkan jika aku ingin menjadikan mu pendamping hidupku hingga aku tak bernyawa nantinya," jelas Jarel.
"So, Will you marry me," ucap Jarel tegas.
"Really?"
Jarel mendecak pelan kenapa Vaela tak mempercayai ucapannya.
"Sungguh kau melamarku dalam keadaan seperti ini, sangat tidak romantis biasanya kan para pria memberi cincin atau bunga gitu di tempat yang spesial," Ucap Vaela.
Jarel terkekeh. "Bukankah menurut mu ini suasana yang cukup menarik dan spesial dari yang lainnya aku melamarmu didalam kamar dengan kau yang berada dalam dekapanku,"Jarel mengedipkan matanya.
"Bagaimana jika aku menolak," balas Vaela.
"Heum, seperti nya tidak boleh karena pilihannya hanya ada iya atau iya," Jarel mencuri kecupan dibibir Vaela singkat.
"Itu mah maunya kamu,"
Jarel merogoh kantung-nya dan mengeluarkan sebuah kalung berlian, kalung yang terlihat elegan.
__ADS_1
Jarel memasang-nya langsung keleher Vaela setelahnya melihat ekspresi Vaela yang imut saat terkejut menatap padanya.
"Cantik, kamu suka?" tanya Jarel.
"iya aku menyukainya, bukankah kalungnya semakin cantik saat aku yang memakainya?" ucap Vaela dengan pedenya.
"Baguslah jika kau suka, untuk cincinya nanti akan menyusul di jarimu yang akan sama dengan cincin dijariku," bisik Jarel.
"So?"ucap Jarel menanti jawaban dari Vaela.
"Yes," cicit Vaela.
Jarel melebarkan senyumnya akhirnya wanita itu akan jadi miliknya seutuhnya.
"Thank you sweet," Jarel mengecupi seluruh wajah Vaela.
Jarel semakin memeluk Vaela dengan erat seakan tak mau jika Vaelanya jauh darinya.
"Eugh perutku kau menekannya," Jarel terkesiap dan melonggarkan pelukannya.
"Sorry, apa sakit?" tanya Jarel merasa bersalah.
"Tidak, aku baik-baik saja, aku mengantuk,"
Jarel melihat pandangan Vaela yang mulai sayu dan akhirnya membaringkan Vaela disampingnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya sepertinya Jarel akan tidur sangat nyenyak hari ini.
"Berterimakasih lah padaku," Ucap Vaela tertawa kecil.
"Heum, good night sweet and baby," ucap Jarel mengelus perut Vaela lalu tak lupa mencium Vaelanya.
***
Pagi harinya Vaela bangun terlebih dahulu, dia melihat Jarel yang masih tertidur dengan tangan yang masih melingkar di pinggang-nya.
Tangannya bergerak menyentuh wajah Jarel.
"Kenapa aku baru menyadari jika kamu ini sangat tampan,"
Tangan Vaela kemudian berhenti di hidung Jarel yang mancung.
"Ugh kenapa hidungnya bagus sekali aku juga menginginkan-nya, nanti baby ikutin hidung Daddy aja ya," ucap Vaela berbicara sendiri sambil melihat perutnya.
Saat Vaela hendak menjauhkan tangannya, tangan Jarel terlebih dahulu menahan tangan Vaela agar tak menjauh dari wajahnya.
__ADS_1
Mata tajam itu perlahan terbuka.
cup
"Morning kiss," ucap Jarel dengan suara serak khas tidur.
"Aku memang tampan Sweet, kau baru menyadarinya hm? dan untuk hidungku ini juga milikumu semuanya milikmu. I'm yours," ucap Jarel.
"Yes, you are mine," Vaela mengecup bibir Jarel .
Jarel terkejut? tentu saja sangat terkejut hell ini pertama kalinya Vaela melakukan itu atas keinginan dirinya sendiri dan tanpa ada paksaan dari Jarel.
Jarel terdiam mematung, menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Vaela.
Melihat reaksi Jarel membuat Vaela semakin gencar ingin menggoda pria itu entahlah ini mungkin efek hormon dia hanya ingin melakukannya saja.
Cup
Lagi Vaela mengecup sekilas bibir Jarel.
"****, apa kau Vaela?" tanya Jarel tak percaya.
"Tidak, aku adalah calon istrimu sayang," balas Vaela terkekeh lagi melihat semburat merah dipipi Jarel. Sungguh Vaela ingin tertawa keras baru kali ini ia melihat seorang Jarel blushing.
"Coba ucapakan lagi ," pinta Jarel.
"Aku mau mandi," ucap Vaela beranjak dan tidak dibiarkan oleh Jarel.
"Ucapkan lagi," mohon Jarel.
"Ayo sweet, aku mau mendengarnya lagi."
"Sweet ," panggil Jarel saat Vaela berhasil melepaskan diri dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Jarel mengikuti Vaela dan membuka kamar mandi tersebut.
"Sepertinya mandi bersama akan menghemat waktu dan air sweet,"
"Tidak, kita masih tidak boleh kita belum menikah," bantah Vaela.
"Padahal kan kita sudah pernah melakukannya, aku bahkan sudah melihat semuanya," balas Jarel menatap ke arah bawah Vaela yang membuat Vaela melotot.
"Sayang, aku mandi lebih dahulu ya habis itu jamu nanti mau ya," ucap Vaela lembut.
__ADS_1
Jarel berjingkrak saat Vaela memangginya sayang, lalu mengangguk kayaknya anak kecil. "Iya sweet, apapun untukmu," ucap Jarel.
TBC