Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 38


__ADS_3

"Clark, boleh aku bekerja," pinta Vega saat melihat Clark fokus terhadap laptop miliknya.


"Tidak perlu, aku yang akan bekerja gaji ku lebih dari cukup untuk membiayai hidup kita." bantah Clark.


"Tapi aku ingin memiliki usaha, lagipula aku sudah minta modal dari dekat," ucap Vega.


Clark mengehentikan pekerjaannya. Beralih menatap Vega yang menatapnya penuh harap.


"Kau apa?"


"Ya aku sudah terlebih dahulu membicarakan ini pada Daddy," cicit Vega.


"Dengar, aku tau kau bosan dirumah terus tapi aku tak mau kau kelelahan Vega, bagaimana jika kita nanti memiliki seorang anak, kita sibuk akan pekerjaan kita masing-masing dan akhirnya anak kita akan terlantar dan kurang kasih sayang. Aku tak menginginkan hal itu Vega cukup aku saja yang mengalaminya tidak untuk anakku dan kamu kelak," tegas Clark.


"Kita kan belum menikah, itu nanti bisa dipikirkan. Ayolah," ucap Vega menggoyangkan tangan Clark.


"Ya sekarang tidak, kedepannya pasti," ucap Clark serius.


"Aku tahu, untuk sekarang Clark aku bisa menghandle nya. Aku berjanji tak akan kelelahan. Aku bosan tak melakukan apapun dirumah sementara jika aku ingin pergi keluar kau selalu membatasinya dan melarangku pergi tanpa pengawasan,"


"Maaf, aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu,"


Clark menghela nafas, dia harus mencoba mulai mengerti keinginan gadisnya ini. Lagipula ini bukan masalah besar nanti Clark akan membantu pekerjaan gadis itu agar tak kelelahan.


"Okey, kau boleh. So what do you want?" tanya Clark.


"Aku ingin melaunchingkan lipstik produk ku sendiri, kau harus datang di acara itu nanti. aku ingin memulai bisnis ku sendiri hingga aku dikenal oleh orang banyak," ucap Vega.


"Aku bangga padamu sayang. Itu baru gadisku. Jika ada masalah beri tahu padaku. Kau tau memulai bisnis tidak mudah sayang, kau akan jatuh bangun nantinya."


"Aku mengerti," ucap Vega.


***


"Pembohong," kesal Vaela.


Jarel diam pria itu malah memasangkan cardigan ke tubuh Vaela.


Jarel tau apa penyebab wanita-nya ini marah padanya. Itu karena dia tak menepati janjinya kemarin yang akan membawa Vaela jalan-jalan.


"Ayolah sweet , jangan marah! masih banyak waktu itu, kita akan memeriksa kandungan mu sekarang itu jauh lebih penting," ucap Jarel menjelaskan dengan nada selembut mungkin. Jarel memang mulai belajar mengontrol emosinya takut Vaela akan menangis karena hormon ibu hamil.

__ADS_1


"Setidaknya jangan janjikan padaku, kemarin padahal kan aku sudah menunggu," balas Vaela.


"Maaf sweet,"


Vaela akhirnya pasrah saja dia karena ini juga untuk kebaikan dirinya dan anaknya.


Vaela memang belum pernah memeriksa perkembangan kehamilan dirinya sejak terakhir hanya mengecek lewat tetspack saja.


Jarel merangkul Vaela saat sudah sampai di rumah sakit. Pria itu kini membawa wanita-nya keruangan dokter kandungan. Jarel sebelumnya memang sudah membuat janji dan mencarikan dokter perempuan yang akan menangani Vaela. Mana rela dia saat wanita nya akan disentuh pria lain selain dirinya.


"Pengantin baru ya," ucap dokter tersebut.


Vaela tersenyum tipis tak menjawab .


"Ya, cepat periksa istri ku, tidak usah banyak bertanya," ucap Jarel.


"Maaf dokter, dia memang seperti itu. Tolong maklumi ya," ucap Vaela merasa tidak enak dia memberikan tatapan tajamnya ke arah Jarel yang malah dibalas dengan flying kiss oleh lelaki itu."


"Silahkan berbaring nyonya," ucap dokter tersebut dan Vaela mengikuti arahan sang dokter.


Perut Vaela di USG. Jarel dengan seksama melihat.


"Apa itu anakku, kenapa sangat kecil Seperti kecebong," ucap Jarel.


"Begitu ya, " Jarel mengangguk mengerti tak sabar menanti anaknya. Dengan ini Vaela akan selamanya berada disisinya tak akan ada alasan Vaela untuk meninggalkan dirinya.


Huft


Helaan nafas terdengar dari Vaela. Masih jam 4 pagi dia terbangun dari tidurnya. Ada hal yang menganggu hatinya sekarang. Vaela menoleh pada tangan Jarel yang masih setia melingkar di pinggang-nya.


Vaela ingin sekali beranjak dan turun untuk meminum air hangat agar sedikit menjernihkan pikiran-nya tapi dia tak tega melihat Jarel yang masih tidur lelap. Takut tidur prianya akan terganggu.


Vaela akhirnya mencoba menekan keinginannya dan menutup mata kembali dengan harapan dia bisa kembali tidur dengan lelap.


Tapi nyatanya Vaela jadi tak bisa tidur kembali. Butuh 2-3 jam agar menunggu Jarel bangun karena biasanya pria itu akan bangun jam 6 atau jam 7 pagi.


Vaela akhirnya dengan sangat pelan menggeser tangan Jarel yang sedang melingkari perutnya.


Jarel yang memang sensitif dengan pergerakan atau suara langsung bangun saat itu juga .


"Eugh, sweet kau terbangun?" Jarel membuka perlahan matanya untuk mengumpulkan nyawanya.

__ADS_1


"Maaf, aku jadi membangunkan mu," sesak Vaela.


Jarel menarik Vaela agar lebih dekat padanya.


"Ada apa hm? kenapa hari ini bangun dengan cepat,"


"Tidak papa, aku hanya haus," balas Vaela.


Jarel tak percaya akan hal itu dia tau Vaela sedang berbohong sekarang.


"Aku tak suka ada yang kau sembunyikan sweet, katakan ada apa," ucap Jarel kini dengan nada datar.


Vaela yang tak dapat mengelak terpaksa harus memberitahu Jarel lagipula kemana lagi dia harus bercerita hanya ada Jarel yang bersamanya sekarang.


"Aku hanya sedikit gelisah memikirkan mom dan dad serta Devian. Itu saja," ucap Vaela.


"Kau merindukan mereka?" tanya Jarel.


"Tentu, tapi entah kenapa aku hanya gelisah saja aku merasa ada sesuatu yang terjadi . Pikiranku dari tadi hanya tertuju pada mereka, " jelas Vaela.


"Gimana reaksi dad ya saat tau aku tidak ada dikamar. Aku takut nanti mom kena amukan Daddy," lirih Vaela.


Jarel diam mendengarkan gadisnya mengeluarkan unek-uneknya sambil mengelus pelipis wanita itu.


"Begitu? Baiklah jangan dipikirkan aku akan menyuruh Jack untuk mengawasi mereka nanti. Jangan khawatir kau tau kan Daddy mu bagaimana dia pasti bisa mengatasinya."


"Iya, terimakasih," ucap Vaela.


Jarel mendengus saat Vaela berterimakasih padanya. Selalu seperti itu padahal kan sudah seharusnya Jarel melakukan hal itu.


"Aish, sudah kukatakan jangan sellau berterima kasih padaku sweet, sudah tugasku untuk selalu untukmu dan menjagamu," Ucap Jarel yang lama-lama kesal karena setiap kali melakukan sesuatu untuk Vaela wanitanya itu akan selalu mengucapakan terimakasih padanya.


"Apa yang salah dengan itu, daripada aku tidak tau terimakasih," balas Vaela.


Jarel menatap Vaela datar. "Terserah kau sajalah, aku masih mau tidur. Kau juga harus tidur sweet masih jam 4 pagi," tegas Jarel.


"Tidur," ucap suara berat Jarel yang dominan yang dapat membuatnya langsung menurut tanpa protes.


Lima belas menit sudah Vaela memejamkan mata dengan Jarel yang masih berada diposisi yang sama. Ia tak bisa tidur, seberapa pun berusaha nya Vaela tetap saja mata sayunya tak bisa diajak kompromi.


Vaela pikir dia akan terjaga sampai pagi, tapi saat merasakan elusan lembut di kepalanya, mata Vaela mulai memberat dan perlahan akhirnya terpejam. Jarel yang masih terjaga merasakan nafas Vaela yang mulai teratur pun menghentikan kegiatannya yang mengelus puncak kepala wanitanya itu.

__ADS_1


Jarel memajukan kepalanya melihat Vaela, setelah memastikan perempuan tersebut tidur, Jarelpun mengecupi pipi Vaela pelan, membaringkan dirinya kembali di samping Vaela seperti awal dan ikut tertidur


TBC


__ADS_2