Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 28


__ADS_3

Pagi ini Vaela bangun lebih awal karena dia akan menyiapkan makanan untuk keluarganya yang akan datang nanti.


Vaela mencoba untuk tidak khawatir karena dia tak akan menghadapinya sendiri seperti yang dikatakan oleh Jarel padanya.


Vaela melirik jam dan ternyata sudah jam 7 pagi pasti Jarel sebentar lagi akan bangun dan mencari-cari dirinya.


"Vaela," teriak Jarel dari kamar seperti dugaan Vaela.


"Aku ada di dapur," balas Vaela.


Terlihat Jarel dengan rambut berantakan datang menghampiri Vaela dan langsung memeluk wanita itu dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di punggung Vaela.


"Aku sudah pernah bilang, jangan beranjak dari tempat tidur jika aku belum bangun," dengus Jarel.


"Aku harus menyiapkan makanan Jarel, aku juga tak tega membangunkan mu Tarim kau tidur sangat pulas." balas Vaela.


"Hm, kali ini aku maafkan," ucap Jarel.


"Lepas dulu aku ingin memasak," decak Vaela karena dia sama sekali tak bisa bergerak sepuasnya


"Tidak mau," tolak Jarel yang makin membenamkan wajahnya.


"Hm, tak ada jatah nanti malam," ucap Vaela.


Jarel melotot dan langsung melepaskan pelukannya.


"Baiklah aku akan menunggu, jangan terlalu lelah tak baik untukmu dan baby aku akan menyuruh pelayan membantumu," ucap Jarel yang diangguki oleh Vaela.


"Aku mandi dulu," Jarel mencuri sebuah kecupan di pipi Vaela sebelum membersihkan dirinya.


***


Denting suara sendok saling berahut-sahutan. Tak ada ya g berbicara sama sekali. Semua fokus ke arah makanan mereka masing-masing.


Berbeda dengan Vaela yang sudah ketar-ketir sejak tadi. Aura diruangan ini sedikit mencekam dan terasa panas padahal Vaela sudah menyalakan AC.


Vaela sedikit melirik ke arah Mom dan daddynya yang diam begitu juga dengan ibunya.


Terlebih lagi tatapan Devian yang menusuk ke arahnya sedari tadi membuat Vaela meneguk ludahnya kasar.


Jarel yang memang sedari tadi memperhatikan Vaela menggenggam tangan Vaela di bawah meja memberikan kekuatan pada wanitanya.


Saat acara makan sudah selesai kini mereka semua berada di ruang keluarga dengan Jarel duduk disamping Vaela tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Hal itu tak luput dari penglihatan Devian dan kedua orang tua Vaela. Devian mengepalkan tangannya dia mencoba menahan emosinya walau rasanya dia sangat ingin menghajar Jarel saat ini juga. Devian pasti akan terkena imbasnya apalagi daddynya tak pernah main-main jika memberikan hukuman terhadapnya tanpa sepengetahuan dari Vaela dan mommy nya. Devian hanya tinggal menunggu waktu saja pasti saat pulang dari tempat ini dia akan mendapatkan Bogeman dari daddynya.

__ADS_1


"Jadi, apa benar Vaela hamil?" tanya kepala keluarga.


"I..iya," cicit Vaela.


"Ya benar, dia sedang mengandung anak ku," balas Jarel dengan santai namun berbeda dengan hatinya yang sedikit khawatir.


Jarel tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia merasa terintimidasi dengan tatapan yang diberikan oleh ayah Vaela.


Arsen mengangguk mengerti. Dia menoleh ke arah putrinya yang menunduk sambil melihat ke lantai.


"Kenapa melihat kebawah, kami tidak ada dibawah," suara dingin itu kembali menyapa pendengaran Vaela.


Vaela mendongkak dan melihat kearah depan dimana mereka memperhatikan Vaela.


"Sayang, berapa usianya?" tanya Michel pada Vaela sambil duduk disebelah kiri Vaela.


Michel memang tidak sekeras Arsen terhadap anak-anaknya. Michel akan membicarakan masalah dengan baik-baik tanpa memberi kekerasan pada anaknya. Itu lah yang disukai Vaela dari Michel walau mereka jarang bertemu karena Michel harus ikut bersama Arsen saat melakukan perjalanan bisnis.


"2 Minggu mom," ucap Vaela pelan.


"Kau harus menjaga kehamilan mu sayang,Di usia kehamilanmu yang sekarang itu masih rentan. Astaga aku tak yakin jika aku menjadi nenek," ucap Michel tersenyum.


"Ternyata kita sudah tua Arsen, aku tidak sabar melihat cucu kita," seru Michel lagi untuk mencairkan suasana yang sedang tegang.


"Hem, kau benar aku juga tidak menyangka akan memiliki cucu dalam waktu dekat. Sangat sulit dibayangkan,"balas Arsen.


"Karena Vaela hamil anakku, aku akan menikahinya bulan depan," jelas Jarel membuat suasana hening kembali.


Devian yang sedari tadi hanya diam menyimak, tatapannya kini kian menajam. Vaela membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar.


Jantung Vaela berdetak kencang memilih ujung jaket yang dipakai Jarel dengan jemarinya yang mulia berkeringat dingin.


Devian pasti akan memarahi dirinya. Devian berdiri dengan cepat membuat kedua orang tua Vaela menoleh ke arah Vaela terlebih Michel dia khawatir Devian akan lost control dan berakhir menyakiti putrinya.


Michel ingin menghentikan Devian namun sebelum dia melakukan itu pergerakannya dihentikan oleh sang suami. Arsen mentapnya tajam dan menahan tangannya dengan meremasnya sedikit kuat.


Vaela menelan ludahnya kasar melihat Devian yang menampilkan ekspresi marah, kecewa bercampur menjadi satu.


Tamatlah riwayatnya.


Vaela semakin mendekatkan dirinya kearah Jarel lalu menarik ujung leher jaket yang dipakai oleh Jarel hingga Jarel berdiri lebih tinggi darinya sedangkan Jarel hanya diam menunggu Devian mengatakan sesuatu.


Bughhhhh


Bughhhhh

__ADS_1


pyarrrr


Tanpa diduga, Devian memberikan Bogeman ke pada Jarel hingga membuat Jarel tersungkur.


Vaela dan Michel terkejut berbeda dengan Arsen yang tersenyum miring.


Melihat kakanya menghajar Jarel, Vaela mendekati Jarel lalu memeluk lengan Jarel.


"Jangan kak, jangan sakiti Jarel lagi," Isak tangis Vaela yang kini memeluk dan menopang kepala Jarel kepahanya sebab saat Devian memukul Jarel, Jarel terjatuh dan kepalanya langsung terbentur dengan guci menyebabakan guci itu pecah dan mengenai kepala Jarel hingga berdarah.


"Jangan sakiti?? Apa?!! Dia lelaki bodoh! Kaka menyuruhnya menjagamu dan dia gak bisa jaga kamu dan malah merusakmu bodoh!!"


"SEKARANG KAMU MINGGIR!!" Devian mendorong Vaela agar melepaskan Jarel.


"STOP DEVIAN," teriak Michel yang sudah tak tahan apalagi melihat kondisi Jarel sekarang.


"Michel," desis Arsen.


"Jangan kayak gini... kita bisa bicarakan baik-baik," lirih Michel menatap suaminya.


"Tidak ada yang dibicarakan baik-baik. Kamu diam saja tak usah ikut campur," ucap Arsen geram.


"Tidak ikut campur katamu!" bentak Michel.


"Kamu membentak ku, suamimu," desis Arsen.


"Ikut aku sekarang, Devian bawa Vaela pulang," ucap Arsen tak mau dibantah lalu menyeret Michel dengan kasar meninggalkan Devian, Jarel dan Vaela.


Seakan tak puas Devian menarik paksa Vaela dari tubuh Jarel lalu kembali memukul Jarel.


Bughhhhh


Bughhhhh


"Kaka!!! Udah ka!!! Ka Dev!" jerit Vaela yang tak dihiraukan oleh Devian.


Jarel terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Devian tak main-main dalam memukul dirinya bahkam Jarel tak diberi kesempatan untuk membalas Serangan dari Devian.


Setelah melihat Jarel yang sudah babak belur Devian menoleh ke arah Vaela lalu membawa Vaela secara paksa.


Vaela memberontak dan melihat kearah Jarel yang sudah lemas dan dibantu oleh para pelayan.


"Kak aku gak mau, Lepasshhh!" Vaela semakin memberontak.


"Diam," bentak Devian dan dengan kasar mendorong Vaela ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2