Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 22


__ADS_3

Siang ini selesai mengambil stroberi, Vaela berniat untuk mengunjungi Jarel ke kantor. Vaela naik taksi untuk menuju kekantor Jarel dengan membawa makan siang yang sempat dibuatnya tadi.


Vaela akhirnya sampai dan memasuki lift khusus CEO, banyak karyawan yang menyapanya karena Jarel sudah mengenalkan Vaela pada seluruh karyawannya.


Lift tersebut membawa Vaela ke lantai tempat Jarel bekerja.


Tanpa mengetuk pintu Vaela langsung masuk begitu saja hingga dia mendapat bentakan dari Jarel .


"Kenapa tidak mengetuk, Dimana sopan santun mu!" Marah Jarel tanpa melihat siapa yang mengetuk karena fokus tapi sedetik kemudian dia mengangkat kepalanya dia kaget siapa yang datang.


"Maaf," cicit Vaela takut karena sudah lama tak mendapat teriakan dari Jarel. Dengan langkah pelan dia menutup pintu kembali dan mengetoknya.


Jarel tersadar dengan cepat dia menghampiri Vaela dan meninggalkan berkasnya. "Bodoh sekali kau Jarel," desisnya.


Jarel membukakan pintu lalu menarik tangan Vaela dan membawanya dalam pelukannya.


"Maaf sweet, aku tak tau jika kamu yang datang," Jarel merasa bersalah karena membentak Vaela.


"Tak apa aku mengerti,"balas Vaela lalu memberi bekal yang dibawakan olehnya.


"Kau yang memasak? bukannya sudah kukatakan kau tak perlu melakukan itu bagaimana jika kau terluka," geram Jarel.


"Aku hanya ingin melakukannya, kenapa? apa karena kau tak suka masakan ku?" ucap Vaela sendu.


"Bukan begitu sweet, aku menyukai apa yang kau buat untukku tapi aku hanya tak mau kau terluka, lagipula apa gunanya aku mempekerjakan banyak pelayan. Kau tak perlu melakukan hal ini," jelas Jarel.


"Hanya memasak please aku tak akan melakukan pekerjaan rumah lainnya Hanya ini, boleh ya," Vaela menggoyangkan lengan Jarel.


"Jarel boleh ya," Vaela memasang wajah memelas ya lalu mengecup kedua pipi Jarel.


Jarel berusaha untuk menahan senyumnya tapi gagal.


"Aishh kenapa kau sangat imut aku jadi tak tega menolaknya. Baiklah hany memasak dan pastikan tak ada yang terluka. Mengerti!!" tegas Jarel.


Vaela mengangguk senang. "Terimakasih," ucap Vaela tulus.


"Baiklah, kamu sudah makan?"


"Sudah, aku juga udah minum susu sama vitaminnya," adu Vaela.


"Gadis pintar, sekarang temani aku makan," Jarel mengajak Vaela untuk duduk di kursi sofa yang berada diruangan Jarel.

__ADS_1


Jarel dengan lahap memakan makanan buatan Vaela. Dia menyukainya. Jarel memang lebih suka memakan masakan rumahan dia makan diluar hanya jika ingin dan saat ada pertemuan saja.


Vaela tersenyum melihat Jarel yang seperti nya menyukai masakannya. Vaela beralih ke luar dan memandang dari jendela kaca kantor Vaela.


Meskipun sudah berkali-kali kekantor Jarel mata Vaela tetap tidak bisa berhenti menatap kagum melihat gedung tinggi dan pemandangan dari kaca tersebut. Vaela memang sangat suka dengan pemandangan bangunan pencakar langit yang berbaris tak beraturan.


Jarel yang sudah selesai makan melihat Vaela melihat keluar, dia mengerti.


"Kita bisa membangun satu jika kau suka," ucap Jarel dengan enteng.


"Jangan gila, membangun gedung itu bukan hal yang murah," jawab Vaela.


"Ayolah sweet, uangku tidak akan habis hanya dengan membangun sebuah gedung untukmu," ucap Jarel.


Vaela memutar bola matanya malas mendengar ucapan Jarel. Sombong sekali pikir Vaela.


Merendah untuk meroket cibir Vaela dalam hatinya.


"Kau mau yang banyak kacanya agar kita bisa menikmati pemandangan luar sambil bercinta misalnya, atau-" Jarel mendekatkan mulutnya ke telinga Vaela sambil berbisik " atau kau mau yang kerap suara agar kita bisa berteriak sepuasnya?" tanya Jarel sambil emnghit cupit telinga Vaela.


Plak


"Dasar mesum, sepertinya otakmu perlu dicuci," ucap Vaela dengan nada ketus sedangkan Jarel tertawa kencang melihat ekspresi calon istrinya itu. Dia sangat suka menggoda Vaela menjadi hiburan tersendiri untuknya.


"Nggak ada yang lucu, tidak usah tertawa," sinis Vaela yang semakin menggemaskan di amarah Vaela.


"You look so sexy when you mad at me," ucap Jarel.


Vaela ingin menghajar pria didepannya ini, namun seseorang mengetok pintu dan ternya itu sekretaris Jarel.


"Ada apa?" tanya Jarel .


"Ini pak, ada yang harus bapak tandatangani," ucap sekretaris tersebut.


Jarel dengan cepat menandatangani berkasnya lalu sekretaris itunpamit dan sedikit membungkuk ke arah Vaela dan Jarel sambil tersenyum.


"Permisi pak, Bu," ucap nya sopan.


"Sekretaris mu wanita,? tanya Vaela.


"Ya seperti yang kau lihat sweet," balas Jarel.

__ADS_1


"Aku tak suka," ucap Vaela yang membuat Jarel menoleh ke arah Vaela.


"Mengapa sweet, dia tak melakukan apapun?" tanya Jarel bingung.


"Kenapa bukan pria saja," cicit Vaela.


"Ah, aku tau kamu cemburu ya," goda Jarel sambil menaik-turunkan alisnya.


"Kenapa, tidak boleh,"


"Tentunya sangat boleh sweet, itu artinya kau juga mencintaiku, aku senang cintaku tak bertepuk sebelah tangan," ucap Jarel.


Vaela berdehem peluang untuk menghilangkan rasa gugupnya saat Jarel menatapnya dengan lekat.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Vaela memalingkan wajahnya.


"Jangan mengalihkan wajahnya sweet, aku mau lihat ciptaan Tuhan yang indah ini," Jarel memegang lembut pipi Vaela dan mengelusnya.


"Tak usah khawatir, sekretaris ku sudah menikah sweet bahkan dia sudah memiliki anak," jelas Jarel.


"Mengapa kau sepertinya tau sangat banyak tentang sekretaris mu itu," ketus Vaela tak suka.


"Eih tentu saja aku tau sweet kan ada data pribadinya saat melamar,"


"Oh begitu ya," ucap Vaela.


Jarel mengangguk. "Ayo aku akan mengantarmu pulang," ucap Jarel.


"Aku aku disini saja,"


"Kau akan mengantuk nanti sweet, aku akan lama nanti," ucap Jarel.


"Tak apa, aku akan menunggumu lagipula kan di sini ada kamar aku akan tidur disana aku mengantuk," tawar Vaela


"Ya baiklah terserah padamu saja," Jarel mengantar Vaela ke kamar di ruangan kantornya. Jarel memang sengaja membuat itu. Dulu saat tak ada Vaela dia sangat jarang pulang dan tidur di kantor.


"Sleep tight sweet," Jarel mengecup kening Vaela dan menyelimuti Vaela.


"Aku bekerja dulu," ucap Jarel.


TBC

__ADS_1


__ADS_2