Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 13


__ADS_3

"Apa? Bagaimana bisa"!! teriak Jarel sambil menghempaskan kertas-kertas itu didepan semua karyawannya.


Bagiamana Jarel tidak marah saat perusahaannya sedang dalam masalah.


Data buku keuangan perusahaannya yang tidak sesuai selama beberapa bulan dan dia baru tau sekarang. Padahal pendapatan perusahaan mereka stabil namun sepertinya ada melakukan penggelapan dana yang cukup besar hingga membuatnya rugi besar dan belum lagi dia gagal mendapatkan tender besar.


Jarel berdiri sambil memukul meja rapat dengan keras. Pandangannya menusuk ke arah orang-orang yang ada di ruangan meeting sekarang.


"pasti ada penghianat disini" desis Jarel menatap pada para karyawannya yang menatap takut padanya.


"Keluar sekarang, meeting hari ini selesai," tegas Jarel.


Jarel kembali duduk ditemani Clark yang masih sibuk dengan berkasnya.


"Cari orang itu," Ucap Jarel yang diangguki oleh Clark.


"Kurasa ini ulahnya lagi, dia selalu saja mencari masalah, " gerutu Clark.


"Heum, rupanya dia inigin bermain-main dengaku."


"Argh, padahal aku ingin bersenang-senang dengan Vaela tapi pekerjaan ku benar-benar sangat banyak. Ck," decak Jarel menggeram kesal.


"Itu resikomu sebagai bos,.sudahlah aku ingin pulang, ini sudah waktunya jam kantor pulang dan aku akan mengajak gadisku berkencan ," ucap Clark mengejek Jarel .


"Siapa yang memperbolehkan mu, kau lembur hari ini," tegas Jarel.


Clark mendengus dia ingin memaki Jarel saat ini. Tapi dia masih membutuhkan pekerjaannya karena gaji di tempat sahabatnya ini lumayan besar.


Gagal sudah rencananya untuk mengajak gadisnya melihat sunset lagi padahal kemarin dia sudah berjanji. Clark harap Vega tidak akan marah padanya.


***


Ditempat lain Vaela terlihat sangat uring-uringan di kamar apartemennya. Hari ini Jarel sama sekali tidak datang ke apartemennya atau bahkan mengirim pesan singkat untuknya, biasanya laki-laki itu tak pernah absen untuk datang dan mengirim pesan padanya.


Vaela bahkan tidak bisa fokus sesekali dia menatap Handphonenya berharap ada notif dari pria yang ditunggu-nya. Rasanya ada yang hilang saat tak mendapatkan ocehan dari Jarel.


"Huft," Vaela menghembuskan napasnya kasar.


Vaela berdiri dan memegang handphonenya. Apa dia saja yang menghubungi pria itu. Vaela sedikit khawatir tak biasanya Jarel seperti ini dia selalu menghubungi Vaela bahkan saat hal-hal kecil terjadi pada Jarel.


Pernah sekali Jarel menelponnya dengan suara yang panik membuat Vaela bergegas ke mansion pria itu dan ternyata Jarel hanya kehilangan satu kaos kakinya yang ternyata ada dibawah tempat tidur pria itu sendiri.


Vaela terkikik geli mengingat hal itu. Vaela mengigit bibirnya dan dengan keberaniannya Vaela menghubungi pria itu.


Vaela mendecak kesal saat telponnya tak dijawab oleh Jarel. Sampai ke panggilan ke 5 juga tidak diangkat-nya.


"Apa aku ada salah padanya,"


Vaela menggeleng seharusnya dia senang bukan jika Jarel sudah tak mengganggunya lagi tapi sebagian hati Vaela tidak rela jika benar Jarel akan melepaskannya nanti.


Vaela menyentuh perutnya dan mengelusnya pelan. Bagaimana jika dia akan hamil dan bagaimana jika anaknya lahir tanpa seorang ayah. Apa Jarel termasuk pria brengsek dia berjanji akan menikahi Vaela tapi lihatlah sampai sekarang bahkan Jarel tak mengikat nya dalam ikatan pernikahan.


"Cih, dia pasti hanya ingin enaknya saja . Bodoh kau Vaela bodoh kenapa kau harus mempercayai perkataannya."


Vaela kembali mengelus perutnya. Jika nanti Jarel benar-benar tak akan bertanggung jawab maka dia yang akan membesarkan anaknya nanti. Vaela kemungkinan besar akan hamil karena saat Jarel melakukannya Vaela sedang di masa suburnya.


Akhirnya Vaela menghubungi Vega untuk menemani dirinya ke mall daripada pusing memikirkan Jarel. Vaela membutuhkan refreshing untuk menyegarkan pikirannya kembali.


Vaela menuju rumah Vega dan terlihat gadis itu bahkan belum bersiap-siap sama sekali. Vega malah asik menonton sambil memakan cemilan nya. Vaela kesal pasalnya dia sudah mengabari Vega sedari tadi.


"CK kenapa belum bersiap," marah Vaela.


"Kenapa kau semarah itu," bingung Vega. Pasalnya sudah biasa dia akan bersiap saat Vaela datang kerumahnya .


"CK, sudahlah kau sama saja dengan Jarel membuatku kesal saja," sungut Vaela.


Vega mengedikkan bahunya acuh." Tunggu sebentar aku hanya akan ganti baju,"ucap Vega.


"Jangan lama," sinis Vaela.


"Kau sedang pms ya, dari tadi sensi Mulu,"


"Bukan urusanmu, cepatlah aku sudah lapar kita makan dulu baru ke mall," ucap Vaela yang tak mau dibantah.


"Yayayaa, dasar harimau betina," ejek Vega dan langsung berlari ke kamar mandi takut terkena amukan Vaela.

__ADS_1


Vaela mendesis kesal enak saja dia dipanggil harimau betina. Setelah kepergian Vega Vaela berpikir, Vega ada benarnya juga mengapa dia jadi sensi seperti ini padahal dia sedang tidak datang bulan.


Vaela menegang. Apa mungkin dia hamil.


Huek...huek...huek


"Kenapa kepalaku pusing sekali," keluh Vaela


"Apa aku benar-benar hamil,"


Vaela menelan air ludahnya kasar. Bagiamana jika dia benar-benar hamil, jujur saja Vaela belum siap rasanya.


Daripada menduga-duga Vaela akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar membeli tespack.


"Vega," panggil Vaela namun tidak ada sahutan.


Vaela pergi kekamar dan melihat kamar yang ditempati oleh Vega berantakan.


"CK, kau bereskan itu Vega! astaga ada apa denganmu"? tanya Vaela terkejut melihat Vega yang matanya agak sedikit menghitam dengan rambut yang acak-acakan.


"Apa kau tidak tidur semalam"


"Hm, Clark mengingkari janjinya kemarin dia bilang akan mengajakku melihat sunset dan aku menagihnya kemarin." Vega menghembuskan napasnya kasar kemudian melanjutkan ceritanya.


"Aku menelponnya dan dia malah membentak ku dan mengatakan janjinya kemarin bukanlah hal yang penting," lirih Vega.


Vega mengingat kejadian kemarin saat dia menelpon Clark. Saat itu dia sudah berpakaian rapi dan hanya tinggal menunggu jemputan Clark.


Dengan penuh semangat Vega menelpon pria itu. Vega sudah sangat tidak sabar untuk pergi melihat sunset lagi bersama dengan prianya.


"Ada apa hah!! sudah kubilang jangan menggangguku,"


Vega tersentak kaget, bukan Salam manis yang dia dapatkan tetapi bentakan kasar dari pria itu.


"Ini aku, maaf jika aku menggagumu," lirih Vega.


"Vega, apa itu kau, ah maaf sayang aku tidak melihat siapa yang menelpon kupikir bawahanku," ringis Clark .


"Hm tak apa. Eum kita jadi pergi kan," Vega kembali bersemangat.


"Ah itu aku tidak bisa,lain kali saja oke," tawar Clark.


Diseberang sana Clark memijit kepalanya pelan, sungguh dia ingin tapi tidak bisa pekerjaan nya benar-benar banyak belum lagi masalah di perusahaan Jarel dan Clark bahkan tak punya waktu untuk istirahat.


"Aku sedang bekerja sayang mengertilah, itu bukan hal yang penting untuk sekarang," tegas Clark.


"Lalu jika kau banyak pekerjaan kenapa menjanjikan-nya padaku, Kau menyebalkan ," dengus Vega.


"Aku tidak mau tau kita harus pergi kesana Clark," pinta Vega.


"Aku bilang aku tidak bisa Vega!!! bentak Clark lagi.


Tut


Setelahnya panggilan itu terputus, Vega menatap nanar ponselnya dan mengehmlaskan ponselnya asal.


Vaela yang mendengar cerita Vega mengangguk mengerti. Mungkin Clark dan Jarel memang benar-benar sibuk apalagi mereka meninggalkan pekerjaan mereka saat menjemputnya dengan Vega. Pasti pekerjaan para pria itu sangat banyak.


"Yasudah, kau makan dulu lalu bereskan ini, aku ingin keluar,"


"Tenaglah mungkin Clark memang benar-benar sedang banyak pekerjaan," ucap Vaela.


"Kau mau kemana,"


"Aku ada keperluan sebentar," balas Vaela.


"Eum bawakan martabak ya," cengir Vega yang diangguki oleh Vaela.


"Aku pergi," pamit Vaela.


Diperjalanan Vaela sesekali dia memegang perutnya dan mengelusnya. Vaela tersenyum hangat. Apapun hasilnya nanti dia harus menerimanya.


Tak...tak...tak


Bunyi sepatu mengusik pendengaran Vaela. Dia menoleh kebelakang namun tidak ada siapa- siapa sama sekali.

__ADS_1


Mengapa jalan ini terasa sepi biasanya jalan ini tidak seperti ini. batin Vaela sedikit takut dan mempercepat langkah kakinya.


Vaela memang sengaja mengambil jalan pintas karena dia ingin menikmati udara sore sambil berjalan kaki.


Vaela menyesali keputusannya sekarang. Tempat ini sepi Vaela merasakan langkah kaki tersebut juga ikut bertambah cepat.


Vaela semakin ketakutan dan meraih saku jaketnya dan mengambil ponselnya. Dia menekan ponselmu dan mencoba menghubungi Vaela namun sama sekali tidak diangkat.


Vaela akhirnya menghubungi Jarel. Nama itu langsung terlintas di pikirannya. Berkali-kali Vaela menghubungi pria itu namun tidak diangkat juga.


Bug


Vaela terjatuh dan Handphone miliknya terlempar. Vaela meringis lutut dan dengkulnya terluka untung saja perutnya tidak apa-apa.


Vaela hendak meraih handphone-nya namun Handphone miliknya sudah terlebih dulu diinjak.


Vaela menoleh dan dan melihat seorang pria yang tersenyum manis padanya.


"Hai manis, apa kau tersesat"? tanya pria itu dengan seringai kecil di sudut bibirnya. Vaela bisa melihat itu.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," Vaela lalu bangkit dan berniat untuk mengambil ponselnya namun pria yang tidak dikenalnya lebih dulu mengambilnya.


"Jangan terburu-buru, bagaimana jika kita berbincang-bincang lebih dahulu eum," ucap pria itu.


"Kembalikan," desis Vaela.


"Wow, calm down girl," pria itu terkekeh dan sedetik kemudian dia mengulurkan tangannya.


"Namaku Rafka, namamu"? Rafka menaikkan alisnya.


Vaela hanya menatap tangan itu dan tidak membalas ucapan pria itu.


Rafka menurunkan tangannya dan tersenyum hangat.


"Eum baiklah jika kamu tidak ingin memberitahu aku sudah tau. Namamu pasti Vaela."


Vaela terkejut dan wajah terkejut itu tidak lepas dari pandangan Rafka dia terkekeh kecil.


"Baiklah karena aku tidak punya waktu banyak, sebelumnya aku minta maaf," ucap Rafka dengan muka serius dan wajah datar. Tidak ada lagi candaan disana.


Rafka perlahan mendekat sedangkan Vaela yang melihat itu ikut mundur karena takut.


Vaela berbalik dan langsung berlari kencang dia menoleh kebelakang dan mempercepat larinya sambil teriak minta tolong.


"Argh," Rafka menarik tangan Vaela dan berhasil menuburk dada bidang Rafka.


"Ternyata kau cukup liat Vaela," ucap Rafka.


"Sekali lagi maafkan aku, menurut lah maka aku akan membantumu," sendu pria itu menatapnya.


Dengan tidak tega Rafka menyuntikkan cairan di leher Vaela hingga Vaela terjatuh diperlukannya.


"Ternya kamu ya, wanita yang berhasil meluluhkan hati seorang Jarel,"


Rafka tersenyum dan menata rambut Vaela yang berantakan dan membawa Vaela ke mobilnya.


Dengan sangat hati-hati Rafka membaringkan Vaela di kursi belakang taku jika Vaela kembali terluka.


Rafka melihat luka di lutut dan dengkul Vaela dan mengusapnya pelan.


"Pasti sangat sakit, maafkan aku," lirih Rafka dan melajukan mobilnya ke markas milik Agnes sahabatnya.


Diperjalanan berulang kali ponsel milik Vaela berdering namun Rafka mengabaikannya.


Tapi handphone nya tidak berhenti berdering membuat Rafka kesal dan menepikan mobilnya.


"CK siapa yang menghubungi Vaela hingga berpuluh kali seperti ini ****,"


Rafka menggeledah saku celananya dan dia melihat siapa yang menghubungi Vaela.


"Ya tentu saja pria itu," ucap Rafka melihat banyak panggilan dari Jarel.


Rafka menonaktifkan ponsel Vaela lalu membuangnya.


"Huh! maaf sekali lagi Vaela, aku harus melakukan ini jika tidak aku akan ketauan, aku akan memberikanmu ponsel yang lebih mahal nanti," ucap Rafka berbicara sendiri sambil menatap Vaela dari kaca mobil miliknya.

__ADS_1


"Huft, mau mengingatkan adikku yang sudah tiada," lirih Rafka.


TBC


__ADS_2