Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 32


__ADS_3

Tak tak tak


Suara sepatu pantofel berbunyi di sekitar bandara diikuti beberapa bodyguard yang menjaga dibelakang.


Langkahnya semakin dicepatkan tak kala sebentar lagi dia akan menemui wanitanya. Dia sudah sangat merindukan wanita itu, biasanya dia akan tidur sambil memeluk wanitanya dan berbicara terlebih dahulu pada bayi yang masih berada dalam perut wanitanya.


Terlihat jelas wajahnya yang masih meninggalkan bekas pukulan yang sangat kentara terlebih disudut bibirnya yang terlihat membiru.


"Sudah menyuruh Clark menghandle seluruh pekerjaan ku bukan? " tanyanya.


"Sudah tuan," balas Jack pada Jarel.


Jarel mengangguk mengerti dan masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan oleh bodyguard nya untuknya.


Tak beberapa lama menunggu Jarel sudah sampai dirumah Vaela. Dia melihat ke arah rumah itu cukup besar tapi tak sebesar mansionnya.


Jarel bergegas dan mengetuk pintu dan Jarel seketika tersenyum lebar tak memedulikan sudut bibirnya yang masih perih.


"Sweet," lirih Jarel lalu merengkuh wanita itu dalam pelukannya.


"Ahk perutku," sela Vaela saat Jarel memeluknya begitu erat hingga menekan drinya seakan takut Vaela akan pergi darinya.


"Maafkan aku sweet, apa sakit heum," wajah Jarel terlihat khawatir. Jarel duduk dan mengelus perut Vaela.


"I Miss you baby. Do you Miss me?" Jarel mengecupi perut Vaela yang terhalang baju.


"Kau hanya merindukan baby?" tanya Vaela.


Jarel terkekeh pelan saat melihat wajah wanita itu yang cemberut. "Astaga, bisa-bisanya cemburu pada anakmu sendiri. Tentu saja aku sangat merindukanmu sweet. "


"Heum, kau semakin jelek saja," ucap Vaela menyentuh luka diwajah Jarel.


"Apa sakit?" tanyanya pada pria itu.


"Tidak sama sekali, ini bukan apa-apa," sahut Jarel.

__ADS_1


"Akhh," desis Jarel saat Vaela menekan kuat luka nya yang masih membiru.


"Siapa ya tadi yang mengatakan jika itu tidak sakit," sindir Vaela.


"Tapi tak perlu menekannya seperti itu juga sweet," balas Jarel agak kesal. untung saja cinta jika tidak sudah kupatahkan tangannya. batin Jarel.


"Vaela! berbicara dengan siapa?" tanya Devian yang datang menghampiri mereka.


Jarel menoleh dan mendapati jika itu Devian. Jarel mentapnya datar dia ingin sekali membalas lelaki itu yang sudah membuatnya babak belur.


"Oh itu kau, tak usah memandangku dengan tatapan seperti itu." ucap Devian.


Vaela melihat Jarel dan saat Vaela melihat kearahnya Jarel memasang senyum terbaiknya.


"Aku ingin to the point saja, aku ingin menjemput wanitaku."


"wanitaku. pfft menggelikan saat mendengarnya dari mulut sialanmu itu," sinis Devian.


"Dan siapa yang mengijinkan mu kemari aku tak akan membiarkanmu membawa adikku," ucap Devian lagi.


"Aku tidak membutuhkan ijinmu, kau bisa saja membawanya kabur. "Wajah Jarel semakindatar menatap Devian persetan jika dia akan menjadi Kaka iparnya.


"Kau sangat tidak sopan, Masih sama seperti dulu. Seharusnya kau harus bersikap bijak agar mendapatkan restu dariku. "sahut Devian.


Jarel ingi membalas namun tidak jadi saat sebuah mobil datang. Vaela membeku di tempatnya.


"Jarel kau pulang saja sekarang, cepatlah," desak Vaela.


"Kau mengusirku, aku sudah jauh-jauh datang kesini sweet."


Vaela menggigit bibirnya saat daddy nya sudah pulang dan menatap datar kearah mereka. Pandangannya semakin menajam kearah Jarel.


Langkah kaki pria paruh baya itu smekain copat hingga dia sudah berada dihadapan Jarel yang hanya memandangnya dengan santai.


"Lama tak berjumpa Daddy," sapanya.

__ADS_1


Bugh


"Dad," pekik Vaela lalu mendekat ke arah Jarel untuk melihat keadaan pria itu. Sudut bibirnya semakin parah sekarang dan kini mengeluarkan darah segar.


Arsen menahan tangan Vaela lalu menoleh pada istrinya. "Bawa Vaela kekamar ya dan jangan biarkan dia keluarkan. Sekarang!!" Arsen menatap istrinya menuntut.


Michel mengangguk pasrah. "Ayo sayang," ajak Michel pada putrinya sedangkan Vaela menggeleng dan memberontak.


"Dev, bantu mommy mu," titah Arsen.


"Dad kita bisa bicarakan baik-baik tak perlu seperti ini. Bagaimana pun juga Jarel adalah ayah dari anak Vaela." Jelas Devian.


"Aku tahu. Tapi, Dia sudah kembali." Arsen menjeda ucapannya dan seakan mengerti Devian terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan lalu tanpa kata dia ikut membawa paksa Vaela ke dalam kamarnya.


Jarel mengernyit heran. Dia, dia siapa yang datang.


"Pergilah dari sini, jangan pernah menemui putriku lagi. "


Jarel menahan tangan pria Arsen. "Aku tak akan pergi tanpa Vaela dan anakku" desis Jarel.


"Kau tak perlu menghawatirkan Vaela dan bayimu, akan kupastikan dia tak kekurangan kasih sayang. Jadi, lupakan saja antara kau dan Vaela anggap saja kalian tak pernah bertemu."


"Maaf pak tua, tapi aku tak mau." Jarel masuk menerobos masuk kedalam rumah Vaela.


Arsen menggeram. Dia mengikuti Jarel dan kini tangannya kembali menghantam punggung Jarel lalu memukul tengkuknya membuat Jarel terjatuh karena tak siap dengan serangan Arsen.


Jarel merintih dan saat akan bangkit tangannya diinjak oleh Arsen dengan keras.


Bugh


Arsen menyeret Jarel lalu melempar Jarel dengan kasar dari rumahnya.


"Jangan pernah kembali kesini," Ucap Arsen penuh penekanan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2