Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 9


__ADS_3

Devian menatap datar kedua orang dihadapannya yang menatap angkuh padanya.


Kedua orang itu jauh-jauh kekantornya dan mengajaknya berdebat.


"Jemput saja jika mereka mau, bukan aku yang membawa mereka. Mereka yang datang padaku," jelas Devian.


"Aku akan menyeret Vega jika dia menolak pulang bersamaku,"desis Clark.


"Terserah, wanita itu bukan urusanku, yang kupedulikan hanya adik kecilku. Dan kau," tunjuk Devian Pada Jarel yang sedari tadi hanya diam.


"Aku tidak akan membiarkanmu membawanya," tegas Devian.


"Aku tidak butuh persetujuan darimu," cuek Jarel dan mengambil rokoknya.


"Dan apa katamu adik kecil," Jarel tertawa keras


"Kau menganggap dirinya adik bahkan kau menelantarkannya, apa kau memperdulikan-nya selama ini dan bagaimana dia hidup"? tanya Jarel sinis.


Devian terdiam, biar saja Jarel berpikir begitu tentangnya, nyatanya dia selalu mengawasi adik kecilnya dari jauh.


"Kenapa diam, aku benar bukan,"


"Terserah apa katamu, kau pasti telah menyakiti adikku. Jika dia benar-benar suka padamu dia tidak akan kabur darimu," Sindir Devian.


"Pergi dari kantorku," Dingin Devian.


Clark menggeram dia menuju kursi kebesaran Devian dan menarik baju pria itu keras hingga Devian terjengkang.


Jarel menatap hal itu sambil tetap menghirup rokoknya. Devian sangat keras kepala pikirnya benar-benar sama dengan wanitanya.


Jarel tersenyum tipis membayangkan gadisnya. " Aku akan menemukanmu sebentar lagi Sweet, kau tidak akan bisa kabur dariku," seringai Jarel sambil memikirkan hukuman apa yang tepat untuk wanitanya nanti.


"Katakan kau membawa mereka kemana," marah Clark. Sungguh kesabarannya sudah benar-benar habis. Saat dia dan Jarel pergi ke mansion Devian gadisnya tidak ada disana sama sekali namun barang gadisnya masih ada dimansion itu.


"Cari saja sendiri," Ucap Devian.


Bug


Satu pukulan mendarat di pipi Pria itu hingga darah keluar dari sudut bibir itu. Devian mengusap sudut bibirnya kasar.

__ADS_1


"Astaga Clark, jangan terlalu kasar pada kakak iparku. Kau mau kupecat," ucap Jarel sambil mendekat ke arah Devian.


"Kau tidak apa kakak ipar"?tanya Jarel sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Devian untuk menenangkan emosi pria itu.


Dengan kasar Devian menghempaskan tangan Jarel dan membersihkan jasnya yang sudah dipegang oleh Jarel.


"Aku tidak aka merestuimu dengan adik kecilku," tolak Devian mentah-mentah.


"Tentu kau baru menyetujuinya kakak ipar, karena aku sudah membuatkan keponakan untukmu," Jarel tersenyum miring saat melihat Devian kembali emosi.


"Apa maksudmu bajingan," bentak Devian dengan wajah memerah.


"Ouh kau tak mendengar ucapan ku Kaka ipar, padahal aku cukup jelas mengatakannya," Jarel mendekat ke arah Devian. " Aku sudah meniduri adik kecilmu kakak ipar dan aku akan menjadi ayah dan kau akan menjadi paman," bisik Jarel tepat ditelinga Devian.


Emosi Devian semakin memuncak, urat- urat lehernya sampai terlihat. Devian menatap Jarel yang tersenyum tanpa dosa.


Bug


Bug


Bug


Devian dengan emosinya memukul Jarel membambi buta. Clark ya g melihat itu akan segera menghentikan namun kode dari Jarel membuatnya berhenti.


Devian bahkan tidak melawan sama sekali, bukan karena dia tidak bisa. Dia sangat bisa untuk menghajar balik Devian namun dia tidak melakukannya.


Jarel ingin Devian mengeluarkan semua emosinya padanya. Anggap saja ini sebagai hukuman saat dia menyentuh Vaela sebelum mereka menikah. Tapi ingatlah bahwa Jarel sama sekali tidak pernah menyesali perbuatannya.


Devian menatap datar ada Jarel yang sudah babak belur. Wajah tampannya dipenuhi lebam yang sebagian sudah membiru.


Dengan susah payah Jarel bangkit dan dengan sigap Clark merangkul Jarel yang oleng.


"Kau sudah puas Kakak ipar. Aku akan tetap menikah dengan Vaela bahkan jika kau tidak menyetujui nya sama sekali." tegas Jarel.


Devian mendesah pelan. Apa ya g harus dilakukan olehnya. Memisahkan Vaela dengan laki-laki brengsek ini. Tentu saja Devian tidak akan melakukannya.


Dia dan Vaela sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Devian sudah tau rasanya. Devian tidak ingin calon keponakanya merasakannya juga.


Meski benci fakta ini, Devian benar- benar tidak bisa menolak jika memang sudah seperti ini kejadiannya. Dengan begini dia juga akan lebih mudah menghapus rasa cintanya pada adiknya dan mengubah rasa itu hanya sebatas adik kakak saja.

__ADS_1


"Jangan sampai melukai adikku kembali, atau aku akan membawanya sejauh mungkin dan tak akan kubiarkan kau bertemu dengannya," tegas Devian.


Jarel mengangguk kecil, dia senang bisa mendapat restu dari Kaka wanitanya tinggal dari kedua orang tua Vaela. Jarel bisa mendapatkan itu dengan mudah karena kedua orang tua Vaelanya sangat gila bisnis dia bisa menanamkan sahamnya di perusahaan milik calon mertuanya nanti.


"Tentu saja, jangan khawatir-kan hal itu, Vaela sekarang menjadi tanggung jawabku," ucap Jarel dengan penuh keyakinan.


Devian melihat itu. Jarel terlihat sangat bersungguh-sungguh . Devian mengangguk dan mengajak kedua orang itu untuk ke rumahnya.


"Dimana mereka"? Tanya Clark tidak sabaran. Sungguh dia sudah benar-benar merindukan gadisnya.


Selama seminggu ini dia benar-benar uring-uringan. Untuk menyelesaikan pekerjaannya saja Clark tidak fokus sama sekali karena pikirannya hanya tertuju pada Vega.


"Tenanglah, mereka sedang girls time nanti juga pulang," jelas Devian sambil mengobati lukanya sendiri.


Devian memberikan kotak obat pada Jarel namun Jarel menolaknya.


"Ada apa"?


"Aku akan menunggu Vaelaku pulang dan hanya dia yang akan mengobati ku," ucap Jarel.


"Cih, aku yakin pasti dia akan infil denganmu, wajahmu sudah babak belur dan kau semakin jelek," ejek Clark.


"Diamlah, kau iri bukan huh liat saja nanti Vaela pasti akan khawatir padaku," ucap Jarel sambil tersenyum sendiri.


Devian menggeleng kecil melihat itu. Dia akan tetap mengawasi pria dihadapannya ini Samapi dia benar-benar yakin jika adiknya akan bahagian bersama Jarel. Devian harus memastikannya.


Clark menatap sahabatnya sekaligus bosnya itu. Pasti Jarel sudah gila pikir Clark. Clark bahkan lupa bagaimana dirinya sendiri padahal mereka sama saja.


"CK kenapa mereka sangat lama. aku sudah terlalu lama menunggu" gerutu Clark padahal belum ada 15 menit mereka ada di rumah Devian.


"Berisik," ketus Devian Dan Jarel yang membuat Clark mendengus.


"cih," decih Clark lagi.


"Mereka tak akan hilang," ucap Devian.


"Bagaimana bisa kau bilang begitu hah! lihat mereka bisa kabur dari kami, ayo cepat lah kenapa kalian santai sekali dan malah berdiam diri disini," oceh Clark Yang membuat keduanya pusing.


"Pergi sana," usir Jarel mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Maaf, anda ini siapa?" ucap Clark.


TBC


__ADS_2