Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 33


__ADS_3

Jarel mengusap bibirnya kasar. Emosinya kini memuncak. Dia tak akan pulang dengan tangan kosong. Jarel akan membawa Vaela bersamanya dan menikahinya segera bahkan tanpa restu keluarga wanitanya sekalipun.


"Tuan anda tidak papa?"tanya Jake.


"Heum, kita kembali sekarang nanti malam aku akan kembali dan membawa milikku bersamaku," ucap Jarel sambil kembali kembali kemobil. Jarel mengembangkan senyumnya saat tak sengaja melihat Vaela dari kaca jendela gadis itu sedang melihat kearahnya.


"Tunggu aku sweet, i Will back," saat itu juga mobil yang dinaiki Jarel kini mulai menjauh dari perumahan Vaela.


"Mom," ucap Vaela tidak percaya.


"Maaf sayang, mom tidak bisa melakukan apa-apa. Bersiaplah nanti malam dan jangan lupa berdandan dengan cantik heum."ucap Michel.


"Untuk apa," ucap Vaela sedikit keras.


Michel tersenyum lembut menyapa putri-nya. "Kau sangat mengkhwatirkan jika anakmu lahir tanpa seroang ayah bukan? Malam ini kita akan membicarakan-nya. Sudah ada pria yang lebih bertanggung jawab daripada Jarel bahkan dia menerima saat kau dalam keadaan hamil anak orang lain." Ucap Michel menjelaskan.


Vaela tertawa mendengarnya. "Apa? Menjodohkan ku? Apa kalian gila! Aku tidak mau menikah dengan pria yang bahkan tak kukenali sama sekali. Kalian tidak berhak mengambil keputusan seperti ini tanpa sepengetahuan ku." ucap Vaela penuh amarah. Wajahnya Kini memerah menandakan dia kesal, kecewa bercampur menjadi satu.


"Maaf, tapi mom pastikan kau akan bahagia dan tentunya anakmu akan punya ayah," ucap Michel lalu meninggalkan Vaela di kamarnya dan tak lupa mengunci Vaela di dalam sana.


"Aku benci saat aku tak bisa melakukan apa - apa," Devian mengepalkan tangannya.


Michel yang baru keluar dari kamar Vaela dikejutkan dengan keberadaan Devian di pintu kamar.


Michel kemudian mengehela nafas pelan."Tak ada ya g bisa kita lakukan sekarang. Mom hanya bisa berharap dia bisa bahagia bersama orang itu,"


Devian menoleh ke arah pintu kamar Vaela. Menggumamkan kalimat maaf berkali-kali dalam hatinya karena tak dapat menepati janjinya pada adik nya.


***


Malam telah tiba disinilah Vaela sekarang. Keluarganya mengurung dirinya didalam kamar.Vaela meratapi nasibnya yang akan menikah dengan pria yang tak dikenalnya.


Entah apa yang ada dipikiran keluarganya terlebih Devian. Biasanya pria itu akan mencari seluk beluk pria yang dekat dengannya.


"Aku tidak ingin menikah dengannya," lirih Vaela karena Vaela sudah jatuh dalam pesona Jarel.

__ADS_1


Vaela menatap makanan yang terletak di nakas. Michel yang membawakannya tadi namun belum disentuh sedikitpun oleh Vaela.


Dug


Vaela menahan napas saat mendengar bunyi dari luar balkon kamarnya. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya. Dengan keberaniannya Vaela berjalan perlahan mendekati balkon dan membuka gorden namun tak ada siapapun.


Vaela membuka pintu balkon dan saat itu juga dia terpekik kaget saat tangannya ditarik dan menghantam tubuh seseorang.


"Sttt, ini aku sweet,"


Vaela mendongkak dan terkejut saat Jarel berada dihadapannya. "Jarel," pekik nya yang sangat senang dan membalas pelukan Jarel tak kalah erat.


Vaela menangis di bahu Jarel membuat Jarel gelagapan.


"Hei, kenapa hm? jangan menangis sweet aku. tak bisa melihatmu seperti ini," Jarel melepaskan pelukannya dan menggeram saat melihat mata Vaela yang membengkak berarti wanitanya sudah lama menangis.


Jarel mengusap lembut air mata Vaela dan mengecup mata yang membengkak itu.


"Katakan padaku! siapa? siapa yang membuatmu seperti ini," geram Jarel.


"Kau lama sekali," lirih Vaela.


Jarel merasa bersalah, kenapa tidak dari dulu saja dia membawa wanitanya kabur, tapi Jarel melakukan itu karena menghormati keluarga Vaela dengan baik-baik meminta restu . Jarel tak menyangka dia akan ditolak mentah-mentah oleh keluarga wanitanya.


"Maaf sweet, Kaki ini kau akan selalu bersamaku. Kau mau pergi denganku bukan?"


Vaela mengangguk antusias. "Bawa aku bersamamu Jarel, aku tak mau disini. Bisa kita pergi sekarang."


Jarel terkekeh geli. " Kau begitu bersemangat sweet, apa kau mau meninggalkan keluargamu. Apa kau serius?


"Aku.. Aku serius. Mereka menyebalkan meski begitu aku tetap menyayangi mereka karena mereka adalah keluargaku."


Jarel mengangguk. "Baiklah kita pergi sekarang."


Jarel memerintahkan anak buahnya agar membatunya dengan Vaela.

__ADS_1


Vaela menghela napas lega saat dia berhasil keluar dari rumahnya. Vaela menatap rumahnya dari dalam mobil. Maafkan aku mom.batin Vaela.


Sedangkan Jarel terlihat sangat asik dengan perutnya. Mengelus dan mengecupi perut Vaela dengan tidak bosan nya.


"Daddy merindukan mu baby, kau tak merindukan Daddy hm,"


Bunyi dari Sura perut Vaela tersengat saat mendengar ucapan Vaela.


"Ehh, mau lapar ya," ucap Jarel saat mendengar bunyi dari perut Vaela.


""Iya, aku belum makan dari siang," cicit Vaela.


Jarel yang mendengarnya menegakkan tubuhnya dan menatap telak kearah Vaela.


"Kenapa tidak makan, apa mereka tak menerima makan!" desis Jarel.


"Bukan begitu, aku hanya tidak bernafsu makan saat tak ada dirimu biasanya kan aku makan beramamu dan makanan buatan mu.," lirih Vaela.


"Pantas saja kau agak kurus, aku tak suka itu sweet, kasian baby juga lapar disana,"


"Jika aku gemuk apa kau masih menyukai Ku?" tanya Vaela.


"Pertanyaan macam apa itu, kau sedang mengandung anak kita jadi itu hal yang sangat wajar. Bagaimana mungkin aku tidak menyukai ibu dari anak-anakku," ucap Jarel.


"Aku sangat mencintaimu Vaela. Sangat," Ucap Jarel.


"Aku juga mencintaimu," ucap Vaela pelan.


"Apa, kau bilang apa tadi. Aku tidak mendengarnya sweet. "


"Tidak ada pengulangan," bantah Vaela.


"Hah baiklah, Jack percepat mobilnya ada yang sedang kelaparan disini," titah Jarel namun tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Vaela.


TBC

__ADS_1


__ADS_2