Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 15


__ADS_3

Dorrr


Pisau ditangan Agnes jatuh begitu saja dan tembakan itu mengenai tangannya.


Clark tepat mengenai tangan Agnes dan dengan sigap polisi ikut membantu dan mengamankan Agnes dan anak buahnya serta Rafka juga.


Clark menoleh ke arah Jarel yang sudah tergugu, menangis melihat keadaan wanitanya. Dia mera bersalah dan tak berguna bahkan dia tak dapat menyelamatkan wanitanya dan membiarkan dirinya terluka.


Clark bergegas melepaskan Jarel begitu juga dengan Vega yang sudah histeris melihat keadaan Vaela.


Vega dengan telaten membuka borgol Vaela sambil menangis." Vaela maafkan aku hikss, maaf.." tangis Vega pecah.


"Sudahlah, jangan menangis aku tak apa," lirih Vaela sambil menyentuh perutnya taku terjadi sesuatu dengan bayinya.


Jarel yang sudah lepas dari borgol memberi Bogeman mentah pada Clark.


"Kenapa kau lama sekali sialan," desis Jarel lalu berlari ke arah Vega dan mengambil alih tubuh Vaela dari Vega.


Jarel meringis. " ini pasti sangat sakit, maafkan aku sweet. kumohon bertahanlah sebentar hm," ucap Jarel sambil mengusap lembut pipi wanitanya. Jarel mendesis akan dia Pastikan semua yang menyakiti wanitanya akan dia beri balasan yang setimpal.


Jarel dengan tergesa-gesa menggendong Vaela ala bridal Style dan memasukkannya pada mobil dan membawa Vaela ke rumah sakit diikuti oleh Vega, Clark dan juga Aneska dan Jack.


Clark menoleh ke arah Vega yang sedari tadi menangis tanpa henti sambil menutup mulutnya.


Clark menghentikan mobilnya dan hal tersebut mengundang tatapan tajam dari Vega.


"Kenapa berhenti, cepat jalankan mobilnya Clark," desis Vega yang sudah dipenuhi rasa khawatir.


"Hey tenanglah sayang , Vaela pasti akan baik-baik saja," ucap Jarel sambil membawa Vega ke pelukannya.


"Hiks ini salahku Clark, aku membiarkannya pergi sendiri tadi harusnya aku menemaninya," tangis Vega semakin pecah.


"Susah jangan menyalahkan dirimu sayang, ini bukan salahmu siapa yang tau kejadiannya seperti ini hm," Clark mengusap lembut mata Vega .


Vega tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari Clark. " Aku masih marah padamu," ucap Vega sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Clark terkekeh pelan. " Maaf hm, aku akan mengajakmu melihat sunset lagi tenang saja kau mau kunbelikan apa hm," tawar Clark membujuk Vega.


Vega tersenyum dan Clark merasa senyuman Vega kali ini sangat aneh. Harusnya dia tidak mengatakan hal itu tadi Sudahlah habis sudah uang di rekeningnya nanti.

__ADS_1


"Benarkah? eum oke," Vega menyetujuinya. Setelah Vaela sembuh nanti dia akan mengajak Vaela berfoya-foya dan tentunya menggunakan uang Clark.


Clark tersenyum pasrah, dia sudah tau pasti wanita itu sudah menyusun rencana menghabiskan uangnya tapi tidak apa-apa asal Vega senang dan hal itu membuat Clark akan bekerja lebih keras agar hasilnya tidak kekurangan dan bahagia nantinya.


"Baiklah kita akan menyusul ke rumah sakit, tapi aku tidak mau melihat air matamu.Jangan menangis lagi atau kita tidak jadi disana ," tegas Clark.


Vega mengangguk dan mengusap air matanya. Clark tersenyum melihat itu. Seperti biasa dia akan menggenggam tangan Vega selama perjalanan dengan satu tangan menyetir.


Disisi lain Clark berlarian di lorong rumah sakit sambil memanggil dokter.


"Cepat, wanitaku kesakitan dan berikan kamar VVIP sekarang," tegas Jarel yang dengan cepat dilakukan para suster.


"Mohon maaf pak tolong tunggu diluar," ucap dokter tersebut.


"Kenapa kau yang memeriksa wanitaku, Carikan dokter perempuan," protes Jarel dia tidak rela lelaki lain menyentuh Vaelanya.


"Tuan, nona sedang sekarat itu bukan hal penting sekarang keselamatan nona lebih penting tuan," Ucap Aneska yang sedari tadi menyaksikan perdebatan tuannya.


Jarel menatap tajam Aneska dan dengan cepat Jack menyembunyikan Aneska dibalik punggungnya.


"Itu benar tuan, sudah tak ada waktu mencari dokter lain bisa saja Nona Vaela semakin kesakitan," ucap Jack.


Jarel tidak bisa duduk tenang sekarang. Sepatu pantofel mahalnya berbunyi di ruang tunggu.


Jarel bolak balik berjalan tidak memperdulikan dirinya yang juga terluka.


"Aish kenapa lama sekali," dengus Jarel.


Sedangkan Aneska dan Jack hanya saling bertatapan. Pikiran mereka sama menganggap jika tuannya sedikit berlebihan. Bahkan dokter belum ada 5 menit di sana.


Jarel kembali duduk dan menggoyangkan kakinya dan tak berhenti melihat ke arah pintu berharap dia mendapatkan kabar baik dan Vaelanya baik-baik saja.


Jarel kembali dan berjalan bolak-balik sambil merapatkan doa pada Tuhan untuk kesehatan Vaela.


Setelah beberapa waktu menuggu akhirnya dokter keluar dan bertepatan dengan Vega dan Clark yang baru datang.


"Bagiamana keadaanya, dia baik-baik saja bukan, apa ada luka yang serius, apa dia harus menginapa hah bagaimana keadaannya kenapa diam saja,"bentak Jarel.


Clark menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya. "Bagaimana dia akan berbicara jika kau tidak berhenti menyerocos," kekeh Clark.

__ADS_1


"Diamlah, aku sama sekali tidak berbicara padamu," kesal Jarel.


"Keadaan nya baik -baik saja serta kandungan juga cukup kuat hingga bisa bertahan hanya saja lukanya membutuhkan waktu untuk menghilang, akan saya berikan obat agar tidak membekas nantinya," jelas dokter tersebut.


"Kandungan," cicit Jarel.


"Apa tuan tidak tau jika istrinya sedang hamil?" tanya dokter tersebut bingung.


"Vaela hamil," Vega melongo sambil membuka mulutnya.


Clark yang melihat itu tersenyum miring dan mengecup cepat bibir Vega. Hanya kecupan tidak lebih.


Vega yang tersadar memukul dada Clark dan malah tangan nya yang sakit akibat kerasnya dada Clark.


Clark kembali tertawa kecil ada-ada saja gadisnya ini.


Clark mendekatkan dirinya ke arah Vega hingga Vega dapat merasakan napas Clark di pipinya.


"Kau mau juga, aku bisa membuatnya untukmu," bisik Clark tepat ditelinga Vega sambil menyentuh perut rata Vega.


Vega kembali memukul lengan pria itu, "lakukan saja dengan kambing sana," kesal Vega.


"Tapi kau yang akan menjadi istriku sayang dan aku hanya kamu yang mengandung benihku," jelas Clark menggoda.


"Diamalah Clark, jangan berbicara sembarangan," ucap Vega yang malu terlihat dari pipinya yang merona.


"Apa kalian sudah selesai berdrama, sangat berisik," jengkel Jarel.


"Apa saya boleh masuk," ucap Jarel dan dokter tersebut mengangguk singkat.


Jarel dengan hati yang berbunga-bunga masuk kedalam kamar Vaela. Ini yang diinginkan olehnya. Akhirnya dia mempunyai Jarel junior dia sangat senang.


Jarel sudah membayangkan dia dan Vaela akan merawat anaknya nanti dan dia akan memberikan seluruh hidupnya hanya untuk Vaela dan anak-anaknya kelak.


Clark sudah benar-benar tidak sabar untuk membawa Vaela ke jenjang yang serius. Membuat wanita itu jadi istrinya belahan jiwanya dan orang yang akan menemaninya menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini.


Sungguh Jarel sudah tidak sabar.


TBC

__ADS_1


__ADS_2