
Hubungan Vaela dan Jarel berjalan lancar dan baik akhir-akhir ini. Seperti saat ini misalnya.Tingkat keposesifan Jarel juga semakin meningkat. Jarel bahkan tak membiarkan wanitanya kekantin perusahaannya hanya karena banyak lelaki disana.
"Ayolah Jarel, aku janji aku tak akan macam-macam,"
"Tak usah kesana, biar aku yang memesannya sweet, kau makan disini," tegas Jarel.
"Padahal aku ingin sekali saja makan di kantin perusahaan mu," ucap Vaela cemberut.
"Lain kali saja,"
Hari ini Vaela memang ikut ke kantor karena Jarel yang memaksanya. Jarel berucap tak bisa fokus jika meninggalkan dirinya dirumah padahal banyak pelayan dirumah.
"Kita akan pulang sekarang, kita makan dirumah pekerjaanku juga tak terllau banyak hari ini," ucap Jarel .
***
Sampai dirumah mereka berdua langsung menuju ke dapur dan Vaela mencuci tangannya terlebih dahulu yang diikuti oleh Jarel.
"Mengapa semuanya sayur?" Vaela mendengus ngeri melihat nampan yang berisi sayuran hijau, tomat , dan segala macamnya.
"Ini demi kesehatan baby kita, dan juga untuk kesehatan dirimu sweet," Jarel menyumpalkan sayuran itu kedalam mulut Vaela.
"Aku tidak bisa," Vaela berkata jujur karena tiba-tiba saja rasa mual menyerang lagi namun Vaela menahannya nya karena ini demi baby nya agar tak kekurangan nutrisi.
Jarel memberikan segelas air dan Vaela menghabiskannya dalam sekali teguk.
"What do you want to eat?" Tanya Jarel pada akhirnya.
"Apa boleh aku makan selain sayuran ini?"
"Hm boleh," Jarel mengiyakan."Tapi setelah kau menghabiskan semua sayuran, susu dan juga vitaminmu," Jarel tersenyum manis.
"Aku akan buatkan susumu sweet," ucap Jarel.
"Tapi aku mau..." Vaela berpikir sambil menggit bibir bawahnya lalu tersenyum lebar pada Jarel, membuat pipinya memerah indah. " Aku mau makan daging asap boleh," pinta Vaela.
Jarel menggeleng. " Terlalu banyak makan daging kurang baik untuk ibu hamil muda,"
"Boleh ya," rengek Vaela. Dia benar-benar merindukan masakan Jarel.
"Baby mau merasakan masakan daddy nya," bujuk Vaela.
"Kamu atau baby hm? tanya Jarel tersenyum geli.
"Tentu saja baby," ucap Vaela mengelus perutnya.
__ADS_1
Jarel tertawa keras, Vaela sangat lucu saat menginginkan sesuatu karena akan bersikap manja padanya.
"Ya baiklah, jadi baby-nya yang lapar ya," sindir Jarel yang dijawab anggukan semangat oleh Vaela.
"Habiskan dulu sayurannya sweet" ucap Jarel.
"Tapi setelah itu buatkan kami daging ya?"
"Katakan makanan yang lain selain daging sweet," tawar Jarel.
"Sop daging?"
Jarel tertawa pelan. " itu juga daging sweet."
"Padahal kan aku sudah bilang baby-nya yang mau," gerutu Vaela sambil menyumpal sayuran ke dalam mulutnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Vaela sambil mengunyah.
"After you,"
"Makanlah bersama," ucap Vaela lalu menyuapkan bayam ke dalam mulut Jarel, Irina harus mencari cara agar dirinya tak perlu menghabiskan sayuran itu sendiri. Semoga Jarel tak sadar akan hal itu.
"Sekarang saatnya bermain," bisik Jarel pelan.
"Bermain apa?"
"Aku sudah tidak dapat menahannya lagi sweet, kita sudah lama tak melakukan itu," erang Jarel menggoda.
"T-tapi bukankah kata dokter kalau hamil tidak ---"
"Bisa jika pelan-pelan," jelas Jarel dan akhirnya mereka kembali melakukan itu dengan Vaela yang pasrah dan Jarel yang menggebu-gebu.
"Ugh lepas Jarel," ucap Vaela saat pria itu memeluknya dengan erat setelah percintaan hebat mereka tadi.
Jarel menolak dan malah makin mengeratkan pelukannya di bawah selimut.
"Bagaimana aku bisa tidur jika melepasnya hm?"
"Bagaimana jika aku tak berada disampingnya, kau harus tetap tidur dengan baik," ucap Vaela.
Jarel memasang wajah tak sukanya saat mendengar kata-kata Vaela. "Kenapa kau berbicara seperti itu? kamu akan tetap bersamaku dan juga baby tak akan kubiarkan kau pergi" ucap Jarel dengan datar.
Vaela memejamkan matanya sementara Jarel mengusap pundak dan mencium kepalanya penuh kasih sayang.
"Jarel.."
__ADS_1
"Ya sweet?" Balas Jarel tanpa mengehtinkan elusannya.
"Ka Dev menelpon," ucap Vaela.
"Kapan? kenapa tak memberitahuku," desak Jarel.
"Heum tadi, saat kau dikantor, mereka akan datang besok," cicit Vaela.
Jarel mengangguk mengerti. "Tak apa aku bersamamu, aku yang akan menghadapi mereka besok sweet,"
"aku juga harus mempersiapkan wajah tampanku, kuharap kau tak meninggalkan ku saat aku babak belur," ringis Jarel.
"Itu yang aku khawatirkan Jarel, Ka Devian jika usah marah sangat menyeramkan aku takut," cicit Vaela.
"Kau bisa bersembunyi di belakang ku nanti,tak mungkin dia menyakiti adiknya bukan," jelas Jarel.
"Bagaimana jika Mom and dad tak merestui hubungan kita," ucap Vaela takut.
"Kita bisa kawin lari. It's so simple sweet," balas Jarel santai.
"Aku bisa dikeluarkan dari kartu keluarga jika begitu," dengus Vaela.
"Itu bagus, kita bisa membuat kartu keluarga baru dengan namaku,namamu dan anak kita didalamnya," jawab Jarel.
"Aku sedang serius Jarel, jangan bercanda," kesal Vaela.
"Jika mereka berniat memisahkan mundairku tentu saja aku tak akan membiarkannya sweet. Aku sudah sejauh ini untuk mendapatkan mudan aku harus menyerah oh tentu saja tak bisa,"
Jarel beralih ke wajah Vaela mengusapnya dengan lembut.
"Akan kulakukan cara apapun agar kamu tetap disisiku sweet, karena itu jangan menyerah, tolong jangan tinggalkan aku sweet, aku tak punya siapa-siapa selain dirimu. Keluargaku hanya kamu," ucap Jarel.
"Aku..."
"Berjanjilah tetap disiku, hanya bersamaku," ucap Jarel.
"Aku berjanji," balas Vaela yang membuat Jarel bernapas lega.
"Kita hadapi besok bersama, aku yakin mereka akan merestui kita, lihat saja besok,"
"Semoga saja," balas Vaela memejamkan matanya.
"Sweet dream sweet, l love you," Jarel mengecup kening Vaela.
"I love you more," balas Vaela yang membuat Jarel tersenyum kemudian makin membawa Vaela ke dalam dekapannya menunggu hari esok.
__ADS_1
TBC