
Pagi ini Jarel harus meninggalkan Vaela pagi-pagi sekali karena dia ada meeting mendadak dan dia tak boleh melewatkannya kali ini.
Jarel harus mendatangi meeting itu secepatnya karena sebenarnya dia sudah telat karena Vaela yang merengek padanya untuk ditemani. Jarel juga sebenarnya ingin seperti itu tapi ini benar-benar penting.
Bukannya Jarel lebih mementingkan pekerjaan daripada Vaela,hanya saja meeting kali ini akan membuat perusahaannya semakin maju. Dan tentu saja Jarel tak akan meninggalkan Vaela sendiri di rumah karena dia sudah meminta Aneska agar menemani wanitanya.
"Aku hanya sebentar sweet, saat meetingnya selesai aku akan langsung pulang ," bujuk Jarel.
"Jadi kau lebih mementingkan pekerjaanmu dariku ya," marah Vaela.
"Bukan seperti itu sweet, aku benar-benar tak boleh melewatkan kesempatan ini, kau tau ini juga buat masa depan kita dan baby-nya nanti. Aku harus bekerja keras agar kalian tak kekurangan sweet," Jelas Jarel selembut mungkin.
Lidah Vaela kelu, dia merasa menjadi orang yang egois. Tapi dia hanya ingin Jarel istirahat sejenak karena Jarel benar-benar tak tidur semalam.
saat dia bangun pemandangan pertama yang dia lihat adalah Jarel yang sibuk dengan berkasnya dengan mata yang memerah dan sedikit bengkak mungkin untuk persiapan meetingnya hari ini.
"Maafkan aku, aku hanya khawatir melihstmu akhir-akhir ini. Tolong jaga kesehatanmu," ucap Vaela.
"Tenanglah sweet aku tau, saat aku memenangkan tender nanti kita akan berlibur okey," ucap Jarel.
Vaela mengangguk antusias. Memang dia sangat ingin keluar karena Jarel benar-benar tak mengijinkan nya pergi sendri bahakan keluar gerbang saja Jarel akan marah jika tak izin pada Jarel.
Jarel melakukan itu karena tak ingin kejadian saat Vaela diculik dan diluar pengawasannya. Jarel tak mau hal itu terulang lagi.
"Eum aku ingin ke rumah Clark saja, boleh tidak? Vega kan tinggal disana sekarang," tawar Vaela.
"Ayolah sweet, aku tak sempat mengantarmu sekarang," Jarel mengecek jam tangan-nya.
"Begini saja, aku akan menelpon Vega agar kemari," ucap Jarel dan Vaela hanya mengangguk tak mau mengajak Jarel ribut lagi.
"yasudah aku pergi bekerja dulu, kamu baik-baik dirumah dan jangan nakal, jangan lupa minum susumu dan vitaminmu," peringat Jarel mengecup kening Vaela dan perut Vaela.
Setelah berpamitan Jarel dengan sedikit terburu-buru naik kemobilnya dan langsung mengendarainya.
Saat Vaela ingin berbalik dia mendengar suara panggilan dan ternyata itu Aneska yang datang bersama Jack.
"Nyonya," sapa Aneska pada Vaela.
"Oh kalian, kenapa disini? Apa tidak kekantor?" tanya Vaela.
"Em, tuan menyuruh saya untuk menemani nona," jelas Aneska.
"Saya kesini untuk mengantar Aneska nona, kalo begitu saya pamit," ucap Jack sambil sedikit melirik ke arah Aneska yang tak mau menatap-nya.
Vaela mengangguk singkat.
"Ayo, "ajak Vaela.
"Ah iya jangan memanggilku nyoya, kita ini masih seumuran tau, aku seperti sudah tua saja," ucap Vaela.
"Maaf Nyo..em maksudnya Vaela," balas Aneska tak enak.
__ADS_1
"Tak perlu sungkan, kita berteman sekarang okey," Vaela.
Aneska tersenyum senang akhirnya dia punya teman. Di kantor milik Jarel semua pegawai disana tak suka padanya karena dia dekat dengan Jack.
Dulu saat bekerja dengan bos lamanya dia juga tak punya teman karena dia hanya disuruh untuk memata-matai gerak-gerik Jarel dan mengambil data-data perusahaan Jarel.
Aneska sangat bersyukur bisa bertemu dengan bos seperti Jarel karena telah mau membantu dirinya dengan memberi pekerjaan. Aneska sudah berpikir akan tinggal di jalanan untung saja Jarel berbaik hati.
"Sambil menunggu Vega datang, temani aku mengambil buah stroberi dibelakang ya," ajak Vaela.
Aneska kagum dengan taman itu, terdapat banyak bunga Peony yang berwarna-warni disana dan disebelahnya adalah buah stroberi.
"Wah Peony pink ini sangat cantik," Aneska memegang satu bunga Peony tersebut.
"Benar bukan, sangat cantik Jarel yang membuatnya untukku entah darimana dia tau aku suka Peony," senyum Vaela mengembang.
"Boleh aku memetik beberapa," minta Aneska pada Vaela.
"Tentu, ambil saja semaumu, aku kesana dulu," Vaela beranjak ke kebun stroberi dengan membawa keranjang kecilnya."
Vega mengangguk antusias dia akan menanam bunga Peony tersebut di taman belakang rumahnya juga.
Sementara Aneska yang sibuk dengan bunga Peony berbeda dengan Vaela yang menamakan buah stroberi saat sudah dipetiknya bahakan keranjangnya belum terisi karena dia asik makan.
"Enak sekali," Vaela kembali memilih stroberi yang besar dan kali ini dia memasukkannya ke dalam keranjang.
"Wah Vaela, kau jahat sekali tak mengajakku," teriak Vega yang sudah datang dan sedikit berlari menghampirinya.
"Sanyang jangan lari," teriak Clark darisana namun tak dipedulikan oleh Vega.
Wajahnya terkena tanah dan menempel. Clark yang sudah panik langsung berlari dengan cepat sementara Vaela hanya tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya.
"Yak, berhenti tertawa bantu aku Vaela, aishh kita bukan teman lagi kita end," kesal Vega.
"Tidak, lihat sana wajah menyeramkan kekasihmu, habislah kau aku pergi dulu," Vaela dengan teganya beranjak dan melanjutkan acara memetik buah stroberinya.
Vega menoleh kebelakang dan melihat Clark yang berlari ke arahnya dengan wajah yang menyeramkan. Vaela benar habislah dia sekarang.
"Apa yang kau lakukan hah!! aku sudah katakan tak usah berlari, cerobohh. "Desis Clark lalu membantu Vega berdiri.
Clark mengusap wajah Vega, membersihkan tanah yang terdapat di wajahnya. Clark memutar badan Vega melihat apakah ada luka di tubuh gadisnya.
"Dimana? Apa ada yang luka? apa sakit? Jawab Vega," geram Clark yang mencoba menahan emosinya.
"Tak apa, hanya sedikit sakit dilututku,"cicit Vega.
"Jangan marah," lirih Vega.
"Kemari," Clark mengangkat Vega ala bridal style dan meinta pada pelayan Jarel untuk membawakan padanya kotak P3K.
Clark menyingkap celana yang dipakai oleh Vega dan lutut gadisnya membiru.
__ADS_1
"Sakit"?Tanya Clark dengan nada dingin.
"Tidak,"
Clark tersenyum miring mendengar jawaban Vega dengan sengaja dia menekan kuat luka dilutut Vega.
"Akhh sakit," rintih Vega.
"Tadi katanya tidak sakit," sindir Clark sedangkan Vega hanya diam.
Clark mengobati luka Vega dengan hati-hati dan membalutnya menggunakan perban.
Sesduah itu Clark mengambil Ipad-nya dan memeriksa pekerjaannya tak memperdulikan Vega lagi.
"Clark," panggil Vega pelan.
Vega semakin mendekatkan dirinya ke arah Clark.
"Clark,"panggil Vega lagi yang sama sekali tak dihiraukan oleh Clark. Pria itu malah terlihat fokus pada pekerjaannya.
"CK, Clark kau mendengarkan tidak,"Vega sudah mulai kesal.
"Clark,"rengek Vega.
Clark meletakkan ipadnya dan mengangkat sebelah kakinya serta bersedekah dada.
"Tau kesalahan mu,"tekan Clark.
"Iya maaf," cicit Vega.
"Apa?" tanya Vega.
"Aku tak mematuhi perintah mu,"
"Lalu," ucap Clark lagi.
"Aku nakal dan tak berhati-hati,"lanjut Vega menunduk. Aura dominan Clark sangat terasa sekarang bahkan Vega tak berani menatap wajah datar Clark.
"Ya, kau memang gadis nakal, angkat kepalamu. Apa wajahku ada dibawah?" tegas Clark.
Pelan-pelan Vega mengangkat wajahnya dan tatapan bertemu dengan mata tajam Clark.
"Tidak ada keluar rumah selama 2 Minggu ini," ucap Clark yang membuat Vega menatap horor kepada Clark.
Sebelum sempat protes Clark sudah menyela terlebih dahulu.
"Aku tak menerima tanggapan apapun karena kau sedang tak meminta pendapat mu," Clark beralih pada ipadnya kembali.
"Kesana, bukannya kau bilang rindu dengan Vaela, ucap Clark .
"Menyebalkan," ucap Vega lalu pergi dan melangkah dengan pelan.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap Clark. Dia terus menatap punggung Vega yang semakin jauh sambil tersenyum tipis.
TBC