Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 19


__ADS_3

"Clark!"


Clark menoleh ke arah gadisnya yang baru memasuki kamarnya. "Sini."


Clark menepuk sisi kosong disampingnya.


Clark memang membawa Vega ke rumahnya tentu saja dia tidak akan membiarkan Vega tinggal sendirian dan itu sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua Vega.


Orang tua Vega percaya jika Clark akan menjaga putri mereka makanya tanpa pikir panjang mereka setuju saja lagipula sebentar lagi mereka akan ke jenjang yang lebih serius.


Vega menghampiri Clark dan menjatuhkan tubuhnya di sisi Clark yang menatapnya.


"Itu apa?"


Clark menatap Vega sejenak. " Grafik administrasi kantor," jawabnya.


Vega mengangguk saja. Toh ia tak paham. Ia hanya tau itu grafik naik turun, baca dan fungsinya mana tahu dirinya.


Vega mengeluarkan sesuatu di kantong miliknya. "Itu apa sayang?"


"Coklat, kamu mau gak," tawar Vega.


Clark menggeleng. "Enggak,buat kamu aja tapi jangan memakan banyak-banyak," tegas Jarel.


"Kenapa?" ucap Vega lesu padahal Clark yang lebih tau tentang dirinya yang sangat menyukai coklat.


"Nanti kamu sakit gigi," ucap Clark. Clark kembali fokus pada layar laptopnya.


"Gak bakal. Abis ini kan sikat gigi," sangkal Vega seraya membuka coklatnya.


Clark mendengus. " Apapun yang berlebihan itu tidak baik," tukasnya.


Vega mencebikkan bibirnya. " Iya-iya."


Mereka diam. Mereka sibuk pada kegiatan masing-masing. Hingga 30 menit kemudian Clark menutup laptopnya. lelaki itu melirik Vega ya g berbaring disebelahnya.


Clark menyingkirkan laptopnya ke atas balas. Ia lantas membenarkan posisi tidur Vega agar lebih nyaman. Setelah dirasa nyaman, Clark turun dari tempat tidur untuk ke lantai bawah mengambil minum karena haus.


***


Jarel berdiri di balkon kamar Vega. Dia memandang lurus kedepan sepertinya akan hujan. Sekilas dia melirik gerbang utama rumah.


Dia berhasil membawa wanitanya masuk kedalam kehidupannya. Ah, ia jadi ingat masa-masa saat ia bertemu dengan Vaela. Pertemuan yang singkat mampu membuat dia sangat tertarik hingga melakukan cara kotor untuk mendapatkan wanita itu.


Segila itu dirinya. Eh, bukankah dirinya memang gila? Memaksa Vaela untuk menjadi kekasihnya.


Clark tersenyum miring. Kini cara kotornya membuahkan hasil,bukan? pujaan hati menjadi miliknya seorang. Seutuhnya.


Jarel menutup gorden lalu turun ke kamar bawah untuk melihat Vaela. Namun bukannya mendapat Vaela disana dia hanya melihat kamar mereka kosong.


Jarel mendesah Vaela suka sekali membuatnya khawatir. Dia memanggil Vaela hingga terdengar sahutan dari luar.


Vaela disana duduk di kursi taman yang disediakan oleh Jarel.


"Kenapa disini Hem," Jarel mendudukkan dirinya tepat disamping Vaela.


"Hanya ingin,"


"Udara sangat dingin sweet tak baik untukmu sebentar lagi akan hujan," ucap Jarel tanpa persetujuan lalu menggedong Vaela ke kamar dan menindurkannya dengan lembut.


Jarel menyelimuti Vaela dan imut masuk dalam selimut itu.


"Tidurlah, aku akan mendekapmu sepanjang malam, jangan pikirkan hal itu besok akan baik-baik saja."


Vaela memejamkan matanya tali dia tidak bisa tidur . 30 menit sudah berlalu dan dia menoleh ke arah Jarel yang sudah tertidur lelap dengan lengannya yang melingkari perut Vaela.


Vaela jadi tidak enak jika ingin bangun dia takut membangunkan Jarel . Akhir-akhir ini Jarel memang tidur lebih awal karena mengurus pekerjaan nya belum lagi mengurus Vaela.


Vaela menatap atap kamarnya lama. Dia tidak tahan entah kenapa dia ingin makan eskrim sekarang padahal ini sudah malam tentu saja Jarel tak akan menginjinkannya.


"Aku mau eksrim," gumam Vaela.


Vaela berusaha untuk menahan. Dia memejamkan matanya kembali namun tidak bisa. Saat dia memejamkan mata bayang-bayang eskrim berputar di kepalanya.


Vaela membalikkan badannya kesamping dengan hati-hati lalu sedetik kemudian membalikkan badannya.

__ADS_1


Jarel melenguh sepertinya tidur pria itu terganggu. Jarel menoleh dengan menyipit dan matanya tepat menatap pada Vaela yang merasa bersalah.


"Apa aku membangunkanmu?" Maaf," lirih Vaela pelan.


"Kenapa sweet, kau tak bisa tidur apa kau masih memikirkan masalah itu?"


"Eum tidak, aku eumm aku ingin eskrim," cengir Vaela.


"Boleh ya, Jarel tolong belikan untukku ini keinginan baby," mohon Vaela.


Jarel menatap datar Vaela. Apa katanya tadi. Eskrim?


Malam-malam begini ingin makan eskrim tentu saja Jarel akan menolak permintaan wanita itu mentah-mentah.


"Tidak, sudah malam," marah Jarel.


"Jarel, aku ingin aku bahkan tak bisa tidur aku selalu membayangkan eskrim," Pinta Vaela.


Jarel tetap menggelengkan kepalanya. "Bagaimana jika donat aja. Kau mau donat?" tawar Jarel.


"Aku dan baby tak mau donat , maunya eskrim Jarel," rengek Vaela.


"Tidur," tegas Jarel yang sudah kesal.Dia tidak akan memenuhi permintaan wanitanya kali ini. Ini demi kesehatan Vaela juga.


"Jarel," Vaela menekan jari telunjuknya pada lengan Jarel berulang kali.


"Besok saja Hem," ucap Jarel.


"Aku maunya sekarang," kekeh Vaela.


"Tidak ada, besok akan aku belikan tidak sekarang," tegas Jarel lalu membalikkan badannya dan tak memperdulikan rengekan Vaela .


Vaela akhirnya lelah dan pasrah saja menunggu hari esok.


"Baby tahan ya, besok kita akan makan banyak eskrim," ucap Vaela mengelus perutnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.


Jarel tersenyum kecil mendengar celotehan Vaela pada anak mereka. Jarel kembali membalikkan badannya dan merengkuh Vaela dalam pelukan hangatnya.


Hari ini Vaela cukup lega karena keluarganya tak jadi datang karena ada kendala sedikit mungkin Minggu depan .


Vaela kadang berpikir apa mereka malu memiliki anak sepertinya dirinya. Vaela mulai overthinking dan juga kakaknya Devian tak menghubunginya sama sekali.


Kini Vaela dan Jarel sedang menonton televisi. Mata Vaela fokus pada televisi, tapi tidak dengan pikirannya. Wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil mengelus perutnya.


"Tidak boleh lagi hamil banyak-banyak mikir."Tegur Jarel yang sudah merasakan aura aneh dari Vaela.


Vaela menghela nafas pelan. Ada yang ingin ia katakan, tapi Vaela tak berani mengatakannya.


"Bilang aja, Mau apa kamu?" Vaela menoleh dan menatap Jarel horor, kenapa pula laki-laki itu tau.


"Mau apa? aku tau pasti yang aneh-aneh kan?" tebak Jarel.


Vaela menyandarkan kepalanya di bahu Jarel. "Ga aneh sih. Aku, emm, mau eskrim?" lagipula semalam kamu udah janji," cicit Vaela di akhir kalimat.


Setelah itu hening, Adrian fokus pada tayangan di televisi. Tangannya sibuk memainkan jari-jari Vaela.


Vaela sudah berpikir jika Jarel tidak akan memperbolehkan, makanya dari tadi dia ragu mengatakan apa yang dia mau.


"Nanti ke supermarket,beli apa yang kamu mau." kata Jarel setelah itu membawa tangan Vaela untuk dikecupnya.


"Beneran?" tanya Vaela heboh dengan wajah yang berseri-seri.


Jarel mengangguk dan memperhatikan Vaela yang tersenyum lebar.


"Cium dulu dong" Jarel menujuk pipinya yang tentu saja dituruti oleh Vaela karena terlalu senang akhirnya Jarel menginjinkannya memakan eskrim yang dari semalam sangat didinginkan oleh-nya.


Sesuai dengan janjinya sore ini Jarel benar-benar membeli eskrim untuk Vaela. Dia juga tidak tega melihat wajah memelas Vaela saat meminta dibelikan eksrim olehnya.


"Udah malam Vaela, sudahi makan eskrimmu," tegas Jarel yang melihat Vaela memakan eskrim lagi padahal tadi sore Vaela sudah makan banyak.


Vaela yang sedang asik memakan eskrim akhirnya berhenti memasukkan sendok ke dalam mulutnya dan menatap nanar eskrim itu padahal dia masih ingin.


Kali ini Jarel tak mau luluh dia mengamhil eskrim dari tangan Vaela lalu menutupnya dan beralih menyimpannya ke dalam kulkas kembali.


Vaela hanya diam melihat langkah Jarel yang membawa eskrimmnya. Masih ada rasa tidak rela hinggap di hatinya.

__ADS_1


Terlihat Jarel membawa minum dan memberikan air itu padanya.


"Nih,minum."


Setelah minum, Jarel mengajak Vaela untuk tidur kemudian Jarel menarik selimut untuk Vaela.


"Kamu tidak tidur,"? tanya Vaela ya g melihat Jarel masih berdiri.


Jarel menggeleng. "Tidak, kalian duluan aku masih ada pekerjaan sweet," Jarel mengecup pucuk kepala Vaela.


"Tidurlah," ucap Jarel .


Kemudian Jarel beralih pada anaknya, ia menyingkap sedikit piama Vaela dan mencium perut Vaela.


"Baik-baik ya, Daddy mau kerja dulu,"bisik Jarel dengan senyum kecilnya kemudian kembali membenarkan piama wanitanya.


Sudah hampir 3 jam Jarel menatapi laptopnya, bahkan kopi yang ia buat tadi sudah habis. Dan sekarang ia merasa lapar. Meninggalkan laptopnya yang masih menyala Jarel turun de gan gelas kopi bekas dirinya tadi.


Setibanya di dapur, Jarel menyempatkan diri mencuci gelasnya. Jarel sebenarnya agak malas masak malam ini tidak mungkin juga ia membangunkan pelayan jam di jam tidur seperti ini.


Jarel melihat ada mie isntan dia mngernyit bingung setaunya Vaela tak membeli mie instan tadi. Jarel mengedikkan bahunya mungkin punya pelayan.


Jarel akhirnya memutuskan untuk memasak mie tersebut . Saat Jarel mau memakai celemek dia merasakan tangan mungil melingkari perutnya. Dari aromanya sja Jarel sudah tau itu siapa.


"Ada apa sweet, kenapa belum tidur," Jarel membalikkan badannya dan beralih melingkari perut Vaela dengan lengan kekarnya.


"Aku tadi terbangun, tapi belum melihatmu padahal sudah malam sekali," ucap Vaela."


"Yasudah, kau tidurlah kembali aku akan menyusul,"


"Biarkan aku yang memasaknya untukmu," Vaela mengambil mie instan nya.


Jarel menggeleng. "Aku bisa sendiri sweet, kamu balik kekamar sekarang, ibu hamil gak baik begadang."


Vaela menolak, "Kamu pasti udah cape kerja dan aku tidur kalau kamu juga ikut tidur."


Jarel hanya bisa pasrah memang benar sebenarnya dia sangat lelah akhir-akhir ini dia harus bisa membagi waktu kerja juga waktu untuk Vaela tentu saja dia lebih banyak meluangkan waktu untuk Vaela tapi begini resikonya dia akan begadang dan menyelesaikan pekerjaannya saat Vaela sudah tidur karena masih banyak yang menumpuk.


Jarel memutuskan untuk dudu di pantai sambil menunggu mienya masak.


"Selamat makan," Vaela datang dengan semangkuk mie dengan tambahan telur didalamnya.


Jarel tersenyum kecil,mendekatkan mangkuk tersebut kearahnya dan mulai memakannya.


Sementara Vaela wanita itu malah sibuk memandang Jarel sambil bertopang dagu .


Beberapa menit kemudian, Jarel selesai makan, ia juga telah membersihkan bekas piringnya makan.


"Ayo," ajak Jarel sambil merentangkan tangannya dan tanpa ragu Vaela menuburuk dada Jarel dan Jarel menggedong Vaela kekamar mereka.


"Aku gak akan tidur, jika kamu belum tidur juga," ucap Vaela yang melihat Jarel ingin kembali beranjak.


"Why, aku masih ada sedikit pekerjaan lagi sweet," ucap Jarel.


Vaela tetap menggeleng. Bukan tanpa alasan Vaela melarang pria itu begadang dia hanya tidak ingin Jarel sakit.


"Kau selalu menyuruhku memerhatikan kesehatan ku padahal kau sama sekali tidak memperhatikan kesehatan mu juga," kesal Vaela.


"Baiklah, sekarang wanitaku marah hm, kau khawatir padaku ya," goda Jarel.


Pada akhirnya Jarel tetap beranjak dan terlihat fokus pada laptopnya dan Jarel sedikit melirik ke arah Vaela yang sudah memasang wajah tak enak dipandang.


Jarel tersenyum kecil. Wanitanya benar-benar kesal padanya.


"Jangan memasang wajah seperti itu sweet, aku hanya ingin mematikan laptopku,"


"Oh, begitu ya," Vaela dengan cepaterubah raut wajahnya dan menyengir.


"Maaf," Vaela salah paham, dia kira Jarel akan tetap melanjutkan pekerjaannya.


Jarel menghampiri Vaela dan ikut masuk kedalam selimut. Dia memeluk Vaela seperti biasanya. Dia tidak bisa tidur jika tak ada Vaela disampingnya.


Jarel juga tak suka jika Vaela bangun lebih awal darinya karena dia ingin melihat Vaela saat dia membuka matanya dan hal itu telah dia katakan pada Vaela dan Vaela yang tak ingin berdebat karena masalah kecil hanya menurut saja toh permintaan Jarel tidak berat untuk dialkukan oleh-nya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2