Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 14


__ADS_3

Huft...


Jarel menghembuskan napasnya kasar lalu berdiri sembari meregangkan seluruh badannya. Jarel akhirnya menghembuskan napas lega, masalah di perusahaannya sudah selesai.


Jarel merindukan wanitanya, Hari ini dia sama sekali tidak mendengar suara Vaela dan tidak mengunjungi Vaela seperti biasanya.


Dengan semangat empat lima Vaela mencari ponselnya untuk menghubungi wanitanya. Dahinya mengernyit saat tak menemukan ponselnya dan sedetik kemudian Jarel menepuk dahinya. Ponselnya ternyata tergeletak di kursi sofa di ruangannya.


Jarel meraih Ponselnya dan dia cukup terkejut saat Vaela menghubunginya. Jarel berusaha berpikir positif bahwa Vaela menghubungniya sebanyak ini karena sangat merindukannya. Namun ternyata rasa khawatir lebih besar dalam dirinya. Jarel mengubungi Vaela namun tak juga dijawab oleh wanitanya. Jantungnya berdetak kencang perasaannya kalut dan cemas.


Jarel tergesa-gesa memakasi jas kantornya dan melesat pergi ke apartemen Vaela dan memastikan Vaelanya baik-baik saja. Didalam mobil tak henti-hentinya Jarel merapalkan doa agar Vaela tidak apa-apa.


"Vaela! Vaelaaa!" teriak Jarel sambil menggedor pintu namun tak kunjung dibuka. Hal itu membuat cemas Jarel kemana wanitanya pergi .


"Vaela," panggilnya lagi sambil menggedor dengan keras pintu itu dan akhirnya pintu apartemen wanitanya terbuka membuatnya senang namun senyumannya langsung hilang saat tau siapa yang ada dihadapannya.


"Ada apa Jarel," ucap Vega.


Jarel tidak menjawab dan malah menyelonong masuk ke dalam dan mencari wanitanya. Jarel mengelilingi apartemen Vaela namun orang dicarinya tidak ada disana.


"Vaela sedang keluar," jelas Vega yang melihat Jarel kalut mencari Vaela.


"Sore-sore begini, kemana? dan kenapa kau membiarkannya hah!! ini sudah mau malam," geram Jarel.


"Aku tidak tau dia ada keperluan tadi," cicit Vega takut melihat tatapan tajam Jarel yang melayang padanya.


"CK, sahabat macam apa kau, kau bahkan tak tau kemana sahabatmu pergi," desis Jarel.


"Padahal kau juga sama tidak tau kemana wanitanya pergi," sindir Vega.


Jarel melotot. " ****, cepat hubungi dia, dia benar-benar tidak menjawab panggilan ku,"


Vega mengangguk mengerti. "Astaga, Vaela menelponku berkali-kali ada apa dengannya," Vega jadi khawatir.


"Dia juga menelponmu dan kau mengabaikannya, BAGAIMANA JIKA DIA KENAPA-NAPA," Bentak Jarel padahal dia juga tidak mengangkat telpon Vaela.


Vega tersentak " Maaf, aku tidak tau aku tidak memgang ponsel tadi," jelas Vega merasa bersalah.


"Sudahlah daripada berdebat kita harus mencari Vaela sekarang."


"Kau telpon Clark dan suruh dia agar meminta Aneska melacak wanitaku," ucap Jarel.


Dengan tergesa Vega menelpon Clark dan pergi kerumah Clark untuk membantunya mencari Vaela. Persetan dengan pertengkaran mereka kemarin.


Disi lain Jarel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tak perduli akan keselamatan dirinya sendiri. Pikirannya hanya ada pada Vaela wanitanya.


"Arghhhh!!" Jarel berteriak keras didalam mobil dan mencengkram erat setir mobil tersebut.


Jarel dengan emosi yang menggebu Jarel menghubungi Anseka dan Jack.


"Diana wanitaku, apa kau sudah berhasil melacaknya hah!!! bentak Jarel.


"Maaf tuan, sebentar lagi ," Ucap Aneska takut-takut sambil dengan cepat menjalankan program untuk melacak kekasih bosnya di PC miliknya.


Jack yang ada disana mengelus bahu wanita itu. Jack tau bahwa Aneska sangat takut terlihat dari jemarinya yang gemetaran.


"Titik merah-nya ada disana , cukup jauh dari sini tuan, sepertinya nona dibawa ke sebuah rumah di tengah hutan," jelas Aneska.


"Hm, kerja bagus. Apa Jack ada disana,"? berikan padanya!!"


Aneska dengan cepat memberikan ponselnya pada Jarel takut pria itu kembali memarahinya.


"Kau Jack persiapkan semua bodyguard yang ada dan segera telepon polisi dan cepat menyusul kesana mengerti!!" Tegas Jarel menggeram dan langsung mematikan ponselnya dan melemparkannya secara asal.

__ADS_1


"Tunggu aku sweet, aku akan datang dan menyelematkan mu," lirih Jarel.


***


Vaela membuka matanya dan melihat sekeliling ini dimana pikir Vaela.


Vaela kian takut saat tangannya diborgol beserta kakinya juga. Vaela berusaha bergerak dan mencari pintu keluar namun anagat susah dilakukannya. Tempat itu berguru remang-remang akibat minim pencahayaan.


Ceklek


"Kau sudah bangun," ucap seorang wanita diikuti oleh seorang pria dibelakang-nya.


Vaela melotot tidak percaya. Pria yang tadi mengikutinya berada disana. Vaela semakin takut apalagi dia sedang mengandung, Vaela hanya takut terjadi sesuatu pada janinnya.


"Apa mau kalian, Aku tidak punya urusan dengan kalian dan aku bahkan tak mengenal kalian," Ucap Vaela sambil meringis karena sini dan lututnya masih sakit namun sudah terdapat perban yang melekat rapi disana dan entah siapa yang membalut lukanya Vaela tidak tau.


"Apa katamu! Tidak ada urusan hm, Kau tau kesalahan mu hah! kesalahan mu adalah karena dekat dengan Jarel," ucap Agnes sambil berjalan dengan cepat dan menarik rambut Vaela kasar.


Rafka meringis dan kemudian menghela nafas dan berniat menghentikan Agnes.


Agnes yang menyadari Rafka yang ingin mendekat membuka suara." Jangan menghalangiku Raf, kenapa kau sangat tidak ingin wanita ini kusakiti dari tadi kau sangat khawatir," ejek Agnes dan kembali mengencangkan cengkaraman tangannya pada rambut Vaela.


Vaela meringis. " shh, lepashh sakitt," rintih Vaela dan kemddian Vaela dengan sisa tenaganya menendang perut Agnes kencang hingga tubuh Agnes ambruk.


"Agnes emosi bukan kepalang.


Plak Plak


kedua pipi Vaela kini memerah dan sudut bibir Vaela terlihat mengeluarkan sedikit darah. Agnes tersenyum puas melihat hal itu.


"Agnes cukup!! ini bukan rencana kita. Dia tak ada urusannya dengan masalah ini," ucap Rafka penuh penekanan.


"Dia pantas mendapatkan-nya Raf, akan kubuat mereka berdua menderita terutama Jarel. Akan aku buat dia merasakan bagaimana sakitnya saat kehilangan orang yang dicintainya. sakit Rafka hiks," tangis Agnes pecah saat mengingat kejadian yang membuatnya down.


Rafka tidak pernah melakukan kekerasan dengan wanita, karena dia memiliki adik dulunya dan sekarang adiknya sudah pergi jauh darinya sangat jauh. Adiknya juga pasti akan sedih jika dia bersikap kasar pada wanita.


"Tidak bisa Raf, orang yang dekat dengan Jarel juga harus hancur," desis Aneska menatap tajam ke arah Vaela.


Rafka menghela napas berat dan mulai medekat ke arah Vaela.


Vaela memberikan tatapan nyalang pada pria itu.


Rafka meraih wajah Vaela dan mencengkram wajah itu pelan takut Vaela mengalihkan wajahnya kesamping.


"Dengarkan aku, jika kau diam dan tenang akan kupastikan kau akan aman," ucap Rafka.


"Jangan menyentuh wanitaku," desis Jarel.


Vaela melihat itu, tubuh pria itu penuh dengan keringat dan wajah pria itu agak babak belur karena menghabisi penjaga dirumah ini sendirian.


"Kau memukulnya," desis Jarel melihat wanitanya terluka.


"Beraninya kau menyakitinya!


Dengan emosi yang sudah di ujung batas, Jarel mencengkram baju Jarel dan memukul Pria Tiu dengan membabi buta.


Rafka terjatuh dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Pukulan Jarel tak main-main terhadapnya.


Jarel mengambil sebuah kursi dan melemparkan pada Rafka .


"Jarell!! hentikan hiks Jarelll," teriak Vaela takut melihat kemarahan Jarel. Mata pria itu benar-benar terlihat tajam dan memerah serta urat-urat disekitar leher Jarel terlihat menonjol.


Jarel tak mendengarkan teriakan Vaela. Dia harus menghabisi pria ini terlebih dahulu.

__ADS_1


Vaela perlahan mengesot pelan. Dia cukup kesusahan akibat borgol yang melekat pada kakinya.


Vaela sampai pada Jarel. Vaela menyentuh Kaki Jarel dan menyapa pria itu dengan sendu.


"Jarel, kumohon hentikan. Aku tak mau kau menjadi pembunuh," lirih Vaela.


Jarel menoleh dan segera mensejajarkan tubuhnya dengan Vaela.


"Shhh, ini pasti sakit," lirih Jarel menyetuh bibir Vaela dan mengusap pelan luka itu padahal wajah Jarel lebih parah dengan luka di pelipisnya juga.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Kau yang terluka," ucap Vaela .


"Maaf, Maaf sweet aku terlambat sampai kau terluka seperti ini, ini salahku tak bisa menjagamu. Maafkan aku sweet ," Jarel menitikkan air matanya.


Vaela menggelengkan kepalanya. Ini bukan salah Jarel.


"Tidak ini bukan salahmu. Terimakasih sudah datang," balas Vaela dan ingin menghapus air mata pria itu lupa jika tangannya diborgol.


"Apa kau bisa membukanya. ini sakit," rintih Vaela.


"Astaga Sweet, " Jarel meruntuki kebodohannya yang belum melepas borgolnya.


"Dimana kuncinya?" Jarel menoleh pada Rafka yang sudah tak sadarkan diri.


"Kau mencari ini," Aneska tiba -tiba datang bersama 18 anak buahnya 2 kali lebih banyak dari yang dilawan Jarel tadi.


Jarel terdiam saat dia melihat jika Aneska adalah dalang dibalik semua ini. Jarel cukup lama menatap wanita itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Kaget. Apa kau pikir aku semudah itu untuk mati! " Cih, kau bahkan menggunakan cara kotor untuk menyerangku," sinis Aneska.


Vaela mengernyit tidak mengerti. Dia hanya diam menyimak apa yang terjadi sebenarnya.


"Sekarang terima akibatnya Jarel. Akan kuperlihatkan padamu saat orang tersanyangmu akan dibunuh didepan matamu sendiri," Agnes tertawa terbahak setelah mengatakan itu.


Agnes mengode anak buahnya. Mereka mengangguk mengerti dan langsung menyeret Jarel menjauh dari Vaela.


"Apa yang kau lakukan, wanita sialan," teriak Jarel saat beberapa orang memegangnya dan sekarang dia sudah terduduk dengan borgol yang melekat indah pada kaki dan tangannya dan diikat dengan tali yang cukup kuat membuatnya bahkan tidak bisa bergerak sama sekali serta lakban di mulutnya.


"Nah lebih baik seperti ini, kau sangat berisik Jarel padahal dulu kau bahkan jarang berbicara. Ya wanita ini cukup mengubahmu ya. Aku cukup terkejut saat kau mati-mati datang kesini hanya untuk wanita ini,"


"Kau pasti sangat mencintainya ya," lanjut Agnes dan. meminta pisau lipat dari anak buahnya dan mendekat ke arah Vaela.


"Kau, lakban juga mulut wanita ini," suruh Agnes ya g dengan cepat dilakukan oleh anak buahnya.


"Nah kita mulai dari mana yah," Agnes memutar pisau lipatnya kemudian menekan pisau itu di pipi Vaela.


Vaela menggeliat kasar . Dia ingin meirntih namun tak bisa. Ini sangat sakit.


Srek


Agnes kembali menggores lengan Vaela. Hingga kini lengan gadis itu sudah banyak mengeluarkan darah dan kembali menggores kedua pipi Vaela.


Jarel menggeram dan menggeliat dan berusaha melepaskan diri namun tak bisa. Dia terluka saat wanitanya diperlakukan seperti itu. Bodoh, Jarel merasa lemah tak bisa menyelamatkan wanitanya.


Agnes membuka lakban di mulut Vaela dengan amat kasar.


"arghhh," teriak Vaela kesakitan . Bibirnya kembali berdarah dan kali ini lebih banyak belum. lagi dengan perih di kedua pipi dan lengannya.


Jarel yang sudah tak tahan dengan pemandangan didepannya memalingkan wajahnya. Dia tak kuat melihat Vaela. Air matanya kembali menetes kali ini sangat deras. Jarel terisak di sana .


Jarel akan memberi pelajaran pada anak buahnya nanti karena sangat lama datang ketempat ini dan tentu saja pada wanita gila dan anak buah Agnes nanti. Akan Jarel pastikan Agnes mendapatkan balasan dan membuat wanita itu menderita.


TBC

__ADS_1


__ADS_2