Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 17


__ADS_3

Jarel dengan perasaan senang membawa Vaela ke rumah yang sudah dibeli olehnya rumahnya cukup besar untuk ditempati oleh mereka. Vaela sudah diperbolehkan pulang serta hanya menyisakan luka-luka yang tidak akan membekas nantinya karena Jarel membayar mahal hanya untuk membeli obat untuk Vaela.


Dibantu dengan Clark dan juga serta Vega mereka berberes rumah tersebut. Jarel sangat antusias terlihat dari wajahnya yang selalu tersenyum.


Berbanding terbalik dengan Vaela yang cemberut dengan memajukan bibirnya kedepan. Vega tertawa geli melihat hal itu.


Saat hendak berjalan Jarel dengan cepat menggedong dirinya tak memperbolehkan Vaela berjalan sendiri. Jarel lalu mendudukkan Vaela di kursi sofa.


"Aish Jarel, ayolah aku tidak sedang lumpuh berhentilah menggendong ku seperti anak bayi apalagi nanti. Kau mau memakaikanku kursi roda." sentak Vaela.


"Saran yang bagus sweet, aku akan membelinya nanti," balas Jarel .


Vaela ternganga, sungguh ajaib tingkah Jarel. Terlihat Jarel yang sibuk membereskan barang-barangnya. Vaela tanpa sadar tersenyum.


Jarel terlihat berbeda sekarang, pria itu menjadi hangat tak seperti dulu yang selalu tempramental.


"Bagaimana jika melakukan berbeque besok malam pasti sangat menyenangkan," usul Vega.


"Heum ide bagus sayang ,sekalian untuk merayakan rumah baru Jarel." balas Clark yang duduk disebelah Vega. Sedari tadi dia tidak membiarkan Vega jauh darinya.


"Tidak, Vaela baru saja pulang dari rumah sakit," tolak Jarel tanpa pikir panjang.


"Oh iya juga," Vega nampak merasa bersalah.


"Aku sudah tidak apa-apa Jarel," Ucap Vaela.


"Tidak sweet, tidak bisa kau baru saja sembuh lagipula masih banyak waktu tidak harus besok atau sekarang bukan. " Vaela yang mendengar itu memandang sendu ke arah Jarel padahal dia sangat ingin.


"Jangan menatapku seperti itu," Jarel tidak mau luluh dengan tatapan memohon Vaela kepadanya.


"Tenang saja Vaela, lain kali kan bisa iya kan," ucap Vega yang diangguki oleh Jarel.


"Baiklah," pasrah Vaela.


"Kalian pulang saja, Vaela harus istirahat," ucap Jarel.


"Kau mengusir kami," sinis Clark.


"Jika sudah tau kenapa bertanya, kalian menganggu waktu kami berduaan," kesal Jarel.

__ADS_1


"Dasar tidak tahu terimakasih, ayo sayang" kesal Clark lalu membawa Vega untuk pulang.


Vega melambai Pada Vaela untuk pamit yang dibalas antusias oleh Vega.


"Datang lagi besok ya," ucap Vaela.


Vaela menoleh pada Jarel yang disadari oleh Jarel.


"Ada apa sweet, kau butuh sesuatu?" tanya Jarel lembut.


"Eum aku ingin mandi rasanya sangat gerah dan tubuhku bau asam," pinta Vaela.


"Tidak sweet, kamu masih belum bisa untuk mandi lukamu masih belum sembuh. Dilap saja oke aku akan membantumu," Jarel dengan cepat menggedong Vaela ke kamar mereka tak mau mendengarkan protesan dari mulut Vaela.


Jarel membaringkan Vaela di kasur king size lalu beranjak dan membuka kancing baju teratas miliknya dia juga merasa gerah.


"Kenapa kau membuka bajumu," gugup Vaela.


"Kenapa," ucap Jarel lalu Menggulung lengan bajunya.


"Tidak ada," ucap Vaela memalingkan wajahnya karena dada Jarel terlihat err seksi.


Jarel tersenyum miring. "Kau gugup," Jarel membawa Vaela padanya lalu mendorong Vaela pelan ke ranjang dan menindihnya.


"Menyingkir dari tubuhku, kau berat," keluh Vaela.


Jarel terkekeh geli dan sebelum beranjak dia menyempatkan untuk memberi kecupan pada Vaela.


"Lepaskan bajumu sweet," ucap Jarel.


"Aku tidak mau, kenapa pikiranmu sangat mesum," kesal Vaela.


"Aku atau dirimu yang berpikiran mesum sweet, aku hanya ingin mengelap tubuhmu. Apa yang kau pikirkan hm," kekeh Jarel.


"Oh," Vaela sangat malu dia kira Jarel akan menyentuh-nya.


Vaela membuka bajunya dan menyisakan tank topnya. Jarel dengan hati-hati mengelap badan Vaela serta lengannya.


"Nah sudah selesai, kau bisa berbaring sekarang aku akan menyiapkan makanan untukmu," Jarel kembali memakaikan Vaela baju. Vaela merasa diperlakukan seperti bayi sekarang tali dia menyukainya.

__ADS_1


Jarel mengecup kening Vaela lalu berpindah ke arah perut Vaela.


"Tunggu sebentar ya baby, kamu juga pasti lapar ya," Jarel mengusap-usap perut Vaela lembut.


Vaela hanya menatap dalam diam perlakuan Jarel. Dia hanya berharap mereka akan baik-baik saja kedepannya dan membesarkan anaknya kelak dengan baik.


"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Vaela.


Jarel mengalihkan pandangannya dari perut Vaela . "Kau meragukan diriku, rasakaan nanti hasilnya sweet," Jarel akhirnya bergegas turun ke dapur untuk membuatkan makanan.


Sambil menunggu Jarel Vaela memainkan sebentar Handphone tapi itu tidak berlangsung lama karena penasaran dengan Jarel yang sedang memasak.


Perlahan Vaela turun dari ranjang dan mengikuti Jarel ke bawah. Vaela bisa melihat Jarel yang telaten memasak dengan celemek yang menggantung indah di lehernya.


Jarel awalnya tidak menyadari keberadaan Vaela tapi dia sadar seperti ada yang memperhatikan dirinya dan dengan cepat dia menoleh ke belakang dan benar saja Vaela disana melihatnya dan mneyengir seperti tidak merasa bersalah.


Jarel langsung mematikan kompornya dan berjalan kearah Vaela. Pandangannya tak selembut tadi ada kemarahan disana Vaela dapat melihatnya.


"Kenapa turun," Jarel berucap dengan nada datar.


"Eum aku hanya ingin melihatmu," cicit Vaela.


Jarel menghela nafas. "Tidak baik jika kau sering naik turun tangga sepertinya untuk sementara kita tidur dilantai 1 saja,"


"Kemari, kau duduk dimeja makan saja," Jarel menggedong Vaela.


"Aku bisa sendiri Jarel ayolah," ucap Vaela. Dia merasa sangat merepotkan Jarel jika Jarel harus menggedong dirinya saat ingin berjalan.


"Aku tau, aku hanya ingin, nanti kau kan semakin berat," ucap Jarel sangat pelan namun telinga Vaela yang mendadak tajam.


"Apa katamu, aku berat ," marah Vaela


"Hey, jangan marah bukan sekarang tapi nanti," kikik Jarel.


Vaela yang mendengar hal itu ingin marah tapi bukannya marah Vaela malah meneteskan air matanya dan menangis.


"Hiks jadi kau nanti tidak akan menyukaiku lagi ya saat aku gemuk, kau pasti akan mencari wanita lain kan hiks dasar pria jahat ,"


Jarel gelagapan dan menenangkan Vaela. " Sweet tidak seperti itu, mau bagaimana pun kau nantinya hanya kau yang aku mau tak ada wanita lain sweet. Lagipula kau begini karena mengandung anak kita,"

__ADS_1


"Tenanglah, aku tidak akan meninggalkan mu sendiri because you are mine," lanjut Jarel mengusap bahu Vaela yang masih bergetar.


TBC


__ADS_2