Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 34


__ADS_3

Michel bangun lebih pagi hari ini karena mempersiapkan pertemuan putrinya dengan calon suaminya nanti.


Wanita paruh baya itu menghampiri kamar Vaela dan membuka kamar putrinya.


Betapa terkejutnya dirinya saat tak mendapati Vaela dalam kamarnya padahal kemarin malam dia sudah mengunci pintu kamar Vaela dari luar.


Michel melihat makanan Vaela yang sama sekali tak disentuh oleh Vaela sedikit pun membuat Michel cukup khawatir. Apa putrinya sedang melakukan aksi mogok makan.


"Vaela," panggil Michel.


Mungkin dia sedang di kamar mandi. batin Michel.


Michel mengetok pintu kamar mandi.


"Sayang, apa kau ada didalam?"


Lama menunggu dan tak mendapat jawaban. Michel akhirnya membuka pintu dan ternyata Vaela tak ada didalam sana.


Michel melihat pintu balkon kamar Vaela yang terbuka. Sedikit berlari Michel kesana dan terdapat tangga dibawah.


Michel cemas dia dengan tergesa-gesa turun dan menghampiri Arsen yang sedang asik membaca sebuah berkas dengan secangkir kopi yang dibuatnya tadi.


"Arsen," ucap Michel panik.


"Ada apa? kenapa wajahmu begitu panik sayang," Arsen meletakkan berkasnya.


"Vaela tidak ada dalam kamarnya. Bagaimana in. Aku khawatir dengannya. Dia sedang hamil dan makanan yang kubuat semalam bahkan tak dimakannya sama sekali." Mata Michel terlihat berkaca-kaca.


"Dia kabur lewat balkon kamarnya. Bagaimana bisa kita melupakan hal itu, seharusnya aku membawanya di kamar bawah kemarin,"


Arsen terdiam. "sttt, tenanglah sayang. Putri kita pasti baik-baik saja. Sepertinya aku tau siapa yang membawanya," ucap Arsen datar.


"Siapa?"

__ADS_1


"Yang jelas Vaela akan aman bersama-nya. Jarel pasti menjaganya," balas Arsen.


Michel terkejut mendengarnya. "Kau tau Jarel yang membawanya? dan kau membiarkan nya? tanya Michel.


"Heum, itu lebih baik dari pada Max aku tak yakin dengannya. Dia pria yang sangat tempramental."


"Lalu bagaimana dengan perjanjian itu,"lirih Michel.


"Entahlah, kita harus menghadapinya mau tak mau yang penting Vaela aman sekarang. " ucap Arsen.


"Aku pikir kau akan membiarkan Vaela menikah dengan Max. Aku bahkan tak bisa melakukan apapun saat keputusan mu saat itu yang sangat tegas." ucap Michel.


"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku menjrumuskan putriku sendiri. Untuk Jarel aku hanya ingin menguji pria itu. Apa dia bersungguh-sungguh dengan Vaela atau hanya mempermainkan Putri kita. Tak kusangka dia seberani itu untuk membawa Vaela pergi bersama nya bahkan setelah aku dan Devian membuatnya babak belur." ucap Arsen.


"Syukurlah jika begitu. Kau membuatku takut, sikapmu begitu dingin kemarin".


Arsen terkekeh. "Aku tak sabar menunggu cucuku,"


"Tapi kita harus menyelesaikan masalah dengan Max terlebih dahulu. Max bukan orang yang sembarangan. Pria itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku akan menghubungi Devian,"


***


Devian memandang pria dihadapannya dengan tatapan penuh permusuhan sedangkan pria yang bernama lengkap Max Aderson duduk dengan santai sambil mengangkat kakinya.


"Jadi dimana calon istriku," ucapnya menekankan kata istri.


"Dia tak ada disini," balas Arsen.


"Begitu ya, lalu kemana dia pergi. Apa kau berniat memintaku untuk menjemputnya sendiri," Max tersenyum tipis.


"Kau tau jika putriku sedang hamil. Apa kau masih mau menerimanya? Menerima anak yang bukan darah dagingmu." Ucap Arsen.


"Sudah berapa kali kau menanyakan itu! Jadi kau pikir aku datang kemari hanya untuk bermain-main. Aku ingatkan kau soal perjanjian itu Tuan Arsen yang terhormat. Jangan berani melanggar janji mu terhadapku," desis Max tidak terima.

__ADS_1


Michel meremas tangan Arsen dia sedikit gemetar takut terjadi sesuatu terhadap Arsen.


Sedangkan Arsen menatap Michel lembut dengan tatapan menenangkan.


"Baiklah, aku akan mencarinya sendiri. Jangan salahkan aku jika aku tak membiarkan dia bertemu kalian lagi dan sepertinya memberikan dia sedikit pelajaran karena kaki nakalnya yang berniat kabur dariku dan tentu saja kalian yang pasti ikut serta membantunya."


"Tidak, Kau tak boleh menyakiti putriku," marah Michel.


"Nyonya, kau tak punya hak lagi akan Vaela karena dia sudah menjadi milikku sekarang,"


"Coba saja jika kau bisa mencarinya," ucap Devian yang sedari tadi diam.


"Kau menantangku? lihat saja nanti." Max tersenyum miring.


"Dan yah karena kalian membuat kedatangan ku kemari sia-sia tentu saja harus ada ganjaran dalam hal itu bukan dan kalian berhianat padaku," Max memberi kode kepada anak buahnya untuk menangkap Devian dan Michel.


"Sialan, jangan menyentuh istriku," bentak Arsen.


"Kuberi kau kesempatan Arsen, bawakan Vaela padaku maka akan kukembalikan istri dan anakmu," Max berjalan angkuh.


Sedangkan Michel sudah berteriak histeris saat dua orang berbadan besar menyeretnya paksa. Dia menoleh dengan air mata yang berjatuhan ke arah Arsen yang sedang melakukan perlawanan terhadap beberapa anak buah Max yang menahannya.


Bugh


Bugh


Dengan sekuat tenaga yang dia bisa Arsen mencoba melawan mereka namun karena usianya yang lebih tua terlebih lagi lawannya ada 5 orang. Arsen tak bisa menanganinya sendiri.


Saat Arsen jatuh karena pukulan telak di perutnya anak buah Max meninggal kan Arsen sendirian di rumah itu.


Arsen menggeram apalagi saat melihat istrinya yang ditarik dengan kasar dan air mata di pipinya bahkan Arsen sama seai tak pernah berlaku kasar pada istrinya.


"Awas kau Max ,aku akan membalas atas semua yang kau lakukan ini," geram Arsen.

__ADS_1


TBC


__ADS_2