Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 18


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Kandungan Vaela sudah menginjak 1 bulan sekarang. Tak terasa dia sudah 2 Minggu tinggal di rumah Jarel.


Vaela saat ini sedang dilanda gelisah karena keluarganya akan datang kesini. Bagaimana tanggapan kedua orangtuanya nanti dan bagaimana dengan kakaknya. Pasti mereka akan sangat kecewa.


Entah darimana Jarel mengenal orang tuanya hingga tadi pagi sebelum bekerja Jarel memberitahu padanya jika orang tuanya akan datang besok.


Jarel memang bekerja saat kehamilan Vaela tapi dia tidak benar-benar melepaskan Vaela dari pengawasannya karena menambahkan keamanan serta banyak pelayan yang telah disediakan oleh Jarel. Jarel juga biasanya akan lebih cepat pulang dan mengerjakan pekerjaannya di rumah demi menemani Vaela.


Seperti saat ini jam 4 sore pria itu sudah ada dirumah. Bukannya mendapat sambutan seperti biasanya Jarel malah tidak melihat Vaela. Jarel dilanda rasa khawatir tentunya karena biasanya sebelum dia pulang Vaela sudah duduk di sofa menunggu dirinya dan akan menghampirinya saat tiba didepan pintu rumah mereka.


"Vaela,"


"Sweet," panggil Jarel namun tak mendengar jawaban.


"Dimana Vaela?" tanya Jarel pada pelayan .


"Nyonya Vaela belum keluar dari tadi dari kamar tuan bahkan nyonya tadi hanya makan sedikit," lapor pelayan itu.


"Tidak keluar," gumam Jarel yang mendadak takut terjadi sesuatu pada Vaela.


Apa wanitanya jauh atau bagaimana karena sesungguhnya Jarel sangat khwatir karena terkadang Vaela sangat ceroboh.


Dengan langkah besar Jarel pergi menuju kamar mereka dan dengan tak sabaran membuka pintu.


Jarel mendapati Vaela yang sedikit pucat, wajahnya terlihat ketakutan dan gelisah serta mengigit jarinnya.


Jarel berjalan pelan menghampiri Vaela yang duduk dipinggir kasur dan menangkap jari Vaela.


"Ada apa," ucap Jarel lembut .


Vaela tidak menjawab dan malah memeluk Jarel dengan tubuh yang bergetar .


"Aku takut," cicit Vaela pelan.

__ADS_1


"Ada aku Sweet, katakan kenapa Hem," Jarel melepaskan pelukan mereka.


Vaela menatap Jarel kemudian berpindah ke arah perutnya dan mengelusnya pelan.


Jarel bingung dengan kelakuan Vaela sekarang entahlah dia tidak mengerti.


"Bagiamana jika Mom dan Dad serta kak Devian marah dan tak menerima ku dan bayi ini. Mereka pasti akan kecewa Jarel dan aku takut hiks mereka membuang ku ," tangis Vaela pecah saat itu juga.


Jarel menganggukam kepalanya tanda mengerti ini rupanya yang sedang dikawatirkan oleh Vaela.


Jarel sudah siap untuk menanggung resiko akan dihajar oleh Devian karena Devian sudah memperingati dirinya dulu.


Tapi Jarel tak perduli selagi Vaela ada disisinya maka tak ada yang akan dikhawatirkan olehnya. Dia akan melindungi Vaela sebisanya dan tak akan membiarkan wanita itu pergi darinya. Jika keluarga wanitanya berniat memisahkan mereka maka dengan cara apapun Jarel tidak akan pernah membiarkannya.


Sama seperti kejadian 1 bulan yang lalu saat Vaelanya diculik. Jarel benar-benar memberikan pelajaran pada Agnes, Rafka serta anak buahnya tanpa ampun. Jarel membebaskan mereka dari penjara dan membawa mereka ke penjara pribadi miliknya tempat orang yang juga berkhianat padanya.


Setiap hari mereka hanya diberi 1 kali makan dan 10 cambukan. Jarel akan melakukan itu sampai mereka memohon untuk mati.


"Vaela, tak apa tenanglah, aku tak akan membiarkannya terjadi," ucap Jarel.


"sttss," Jarel menutup mulut Vaela dengan jari telunjuknya.


"Jangan memikirkan apapun, aku yang akan memikirkan hal itu. Pikirkan kesehatanmu dan juga bayi kita," jelas Jarel.


"Nah apa kau sudah makan hm,"


Vaela mengangguk lesu.


"Sudah minum vitamin dan susunya?" tanya Jarel lagi dan Vaela diam.


Jarel tau jawabannya wanita itu tidak meminumnya. " Aku memaafkan mu kali ini tapi tidak lain kali," tegas Jarel.


"Sekarang kamu harus makan lagi, kudengar kau hanya makan sedikit kasihan anak kita pasti masih lapar," lanjut Jarel.


Vaela mengikut saja karena memang benar sekarang dia lapar tadi dia hanya tidak nafsu karena memikirkan masalah keluarganya yang akan datang. Vaela berharap besok akan berjalan baik-baik saja walaupun dia sedikit tidak yakin.

__ADS_1


"Jangan memikirkan hal itu lagi, aku tak mengijinkan mu memikirkan hal itu," kata Jarel.


"Memangnya siapa kau berani melarangnya," tantang Vaela.


"Aku calon suamimu," Balas Jarel.


"Aku sudah memikirkan hal ini sweet, besok aku akan meminta restu untuk menikahi mu jika disetujui ataupun tidak aku tak akan peduli nantinya. Kita akan menikah 1 bulan lagi karena kau sudah menyiapkan semuanya bersama dengan pernikahan Clark dan Vega." ucap Jarel panjang lebar.


"Benarkah, dengan Vega juga," ucap Vaela yang tertarik.


"Tentu, aku dan Clark sudah mengurus semuanya sweet,"


"Wah, pasti sangat menyenangkan," Vaela terkikik saat membayangkan dia dan Vega akan melangsungkan pernikahan secara bersamaan dan ditempat yang sama.


Namun sedetik kemudian senyuman di wajah Vaela dia masih memikirkan apa yang akan dilakukan keluarganya padanya.


"Sudah kubilang kau tak boleh memikirkan hal itu," Jarel menyadari Vaela masih gelisah terlihat dari raut wajahnya yang berbeda.


Vaela mengangguk singkat tapi dalam hatinya dia terus memikirkan hal itu yang benar-benar menganggu pikirannya. Bagaimana dia bisa tenang.


"Apa kau menginginkan sesuatu sweet, eum bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar," ucap Jarel ingin mengembalikan mood wanitanya.


"Bolehkah," binar bahagia terdapat di mata Vaela.


"Tentu, hanya sebentar," ingat Jarel.


"Let's go," teriak Vaela sangat bersemangat dan menarik-narik baju Vaela seperti anak kecil.


Jarel tersenyum gemas melihat wanitanya dan dengan jahil dia mengigit pipi Vaela.


"Shh sakitt," Vaela memukul lengan Jarel cukup kuat.


"hahaha," Jarel malah tertawa dan lagi-lagi dia mengigit pipi sebelah Vaela lalu beralri terlebih dahulu sebelum mendapat pukulan dari Vaela lagi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2