
Clark tersenyum mengingat kenangan dirinya bersama Vega dulu. Dimana dia menemukan gadisnya yang Sampai sekarang masih berada disisinya.
Clark beralih ke arah Vega yang masih kelimpungan mencari kaca tersebut.
"Dimana terakhir kali kau meletakkannya, biasanya kau selalu membawa kaca sayang, coba ingatlah," pinta Clark.
"Aish, kalo aku ingat aku tak akan mencari seperti ini Clark," kesal Vega.
Clark pasrah dia akhirnya harus ikut mencari kaca tersebut . Clark ikut membuat kamar itu menjadi berantakan.
"Maaf bi," ungkapnya pada Bi Agni yang masih ada disana dan ikut mencari.
"Tidak papa tuan, ini memang pekerjaan saya," balas bi Agni.
Mendengar hal itu Vega menoleh dan meruntuki dirinya yang menambah pekerjaan bi Agni.
"Nanti aku bakal bantu beresin bi," ucap Vega merasa bersalah.
"Tidak usah non, saya bisa sendiri, " tolak bi Agni halus.
"Tidak bi, biarkan Vega membantu bibi, dia yang harus bertanggung jawab akan hal ini benar begitu sayang," ucap Clark.
"Iya," cicit Vega.
"Dapat," seru Clark yang membuat Vega langsung menghampiri Clark.
"Mana, mana Clark," heboh Vega.
"Tangkap saja kalau kau bisa," Clark mengangkat tangannya tinggi agar tidak terjangkau oleh Vega karena dia jauh lebih tinggi dari Vega tentu saja Vega tak akan berhasil mencapainya. Clark ingin menjahili gadisnya.
"Clark," kesal Vega dengan kaki yang berjinjit dan Clark malah makin ikut berjinjit membaut dia semakin tak bisa mengambil kaca itu.
Vega yang kesal menggembungkan pipinya dan menghentakkan kakinya kesal.
Clark tersenyum geli. "Eits mau kemana sayang, bereskan ini dulu," tegas Clark.
"Kacanya," adu Vega.
"Ini, begitu saja ngambek," sindir Clark yang tak dihiraukan oleh Vega karena terlalu fokus pada kacanya. Vega sampai mencium kaca itu dan memeluknya.
"Aku sangat itu dengan kaca itu, rasanya aku memecahkan-nya," lirih Clark.
"Tak akan kubiarkan welee," cibir Vega.
"huh baiklah, sepertinya kau tak bisa imut sweet karena kau harus membereskan kekacauan yang sudah kau buat lain kali saja oke," ucap Clark.
__ADS_1
"Tidak, aku mau ikut," kekeh Vega.
"No, lain kali oke," Tanpa menunggu persetujuan dari Vega Clark mencium kening gadis itu dan berlalu pergi dan melambaikan tangannya lalu berlari dengan cepat untuk menghindari protesan dari Vega.
"Kenapa Clark sepertinya tak mau aku ikut," lirih Vega.
"Mungkin tuan ada urusan pekerjaan nona," ucap bi Agni memenangkan.
"Pekerjaan apanya, dia tidak bekerja hari ini bibi juga liat pakaian yang dipakainya tadi apa dia menemui perempuan lagi, entah Samapi kapan aku harus berpura-pura menerima dan bertahan seperti ini bi,"
"Tidak nona, nona hanya percaya saja pada tuan Clark, saya sudah lama bekerja di tempat ini nona tuan pasti ada alasan untuk itu apalagi untuk orang yang disayang oleh tuan," ucap Bi Agni.
"Ya dia menyuruhku percaya juga, aku sedang mencobanya Bi, tapi aku tak tau apa bisa bertahan lama saat aku lelah aku akan mundur," lirih Vega.
"Ah maaf bi, sebaiknya kita bereskan salah akau mau nonton Drakor setelah ini , bibi temani aku nonton ya," Vega kembali bersemangat namun bi Agni tau jika itu hanya senyuman palsu saja.
***
"Ayo cepat Jarel," desak Vaela yang melihat Jarel yang sudah bersiap malah kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Astaga sweet ini masih pagi, nanti saja ya aku masih mengantuk," pinta Clark.
"Yasudah aku pergi sendiri saja," ujar Vaela yang membuat Jarel langsung melompat dari kasur dan segera mencari kunci mobil.
"Oke kita pergi sekarang," finish Jarel .
"Lama bagaimana sweet, padahal baru seminggu kemarin kalian bertemu," ucap Vaela.
"Bagaimana jika kamu tak bertemu aku selama seminggu?" tanya Vaela.
"Pertanyaan macam apa itu, aku tentu saja tak akan membiarkannya," ucap Jarel yakin.
"Kenapa?"
"Kenapa? karena kau milikku sweet," tegas Jarel.
"Heum," gumam Vaela dengan pipi yang bersemu merah.
Jarel yang gemas langsung menggigit pipi Vaela yang membuat sanga empunya meringis.
"Akh apa yang kau lakukan," dengus Vaela.
"Kau sangat imut jika wajahmu memerah sweet ,aku sangat suka saat wajahmu bersemu karena diriku," ungkap Jarel tanpa mengalihkan pandangannya dari Vaela.
"Cih, sudahlah kita pergi saja," ucap Vaela mengelak.
__ADS_1
"Let's go," ucap Jarel mengandeng Vaela.
"Heum kita berhenti didepan ya, aku mau beli oleh-oleh buat Vega," ucap Vaela yang diangguki oleh Jarel.
setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirn mereka sampai di kediaman Clark.
satpam yang sudah tau jika itu Jarel dan Vaela dengan sigap membuka pintu gerbang.
Vaela menekan bel dengan Jarel dibelakangnya yang membawa martabak yang tadi mereka beli.
Vega membuka pintu dengan mata bengkak seperti habis menangis terlihat dari mata Vega yang memerah.
"Ada apa denganmu Vega, kau bik-baik saja ? Apa Clark menyakitimu? Apa yang dilakukan olehnya? katakan padaku,"cecrocos Vaela.
"Astaga, tanyakan satu-satu," dengus Vega.
"Lalu ada apa, kenapa tak memberitahu ku?" tanya Vaela tak sabaran.
"Kalian masuk saja dulu," ajak Vega.
Vaela mengernyit melihat bi Agni juga ikut menangis.
"Apa kalian ada acara menangis berjamaah," ucap Jarel.
"Tidak, kami hanya sedang menonton film dan sialnya filmnya sad ending akhhh," Vaela kembali menangis.
"Huft, kukira ada sesuatu yang terjadi ternyata hanya film. kau membuatku takut saja," dengus Vaela lalu duduk di kursi sofa diikuti oleh Jarelalu meletakkan martabak yang mereka bawa.
"Woahhh, kebetulan sekali pas nonton begini ada makanan. Aahh kau pengertian sekali Vaela kaulah sahabat terbaik aku," Vega yang memang anaknya suka makanan tanpa malu langsung menyantap martabak itu.
"Ayo bi dimakan," tawar Vega.
"Kupikir kau akan menghabiskannya sendiri," ucap Vaela.
"Aku tak serakus itu," bantah Vega.
"Emm apa tak ada air hujan," ucap Jarel.
"Ada, tunggu saja hujannya turun," jawab Vega dengan polosnya.
"Kau tuan rumyyang tak baik, bintang satu untukmu," ucap Vaela.
"Aku tau, kalau haus ambil saja didapir, ayolah jangan seperti orang lain kalian juga sudah biasa kan, jangan mengganggu acara makan kami," balas Vega.
"Jangan salahkan aku jika menghabiskan isi kulkas mu," ucap Vaela.
__ADS_1
TBC