Jarel Wants Me

Jarel Wants Me
part 16


__ADS_3

Perasaan haru senang dan sedih bercampur aduk dirasakan oleh Jarel sekarang.


Tak henti-hentinya dia mengucap syukur sambil memandang wajah Vaela yang tidur dengan tenang. Dibawanya tangan Vaela ke dalam genggamannya.


Bahkan luka Jarel sama sekali tidak diobati dan dia tidak perduli. Rasa sakitnya menghilang begitu saja saat mengetahui kabar gembira tadi.


Jarel mengecupi seluruh wajah Vaela dimulai dari kening, mata, hidung hingga terakhir di bibirnya dengan ********** sebentar.


Jarel mengusap lembut tangan tersebut memandangnya penuh cinta. Diruangan ini hanya ada mereka berdua. Clark dan Vega serta Jack dan Aneska sudah kembali duluan.


"eughh," lenguh Vaela yang terbangun dari tidurnya yang membuat Jarel tersentak dan tersenyum bahagia.


"Sweet kau mau apa hm, apa masih sakit yang mana sweet," ucap Jarel sambil menyentuh pipi Vaela lembut.


"Aku haus," cicit Vaela dengan nada lemah dan dengan sigap Jarel memberikan air hangat untuk Vaela dan dengan telaten memberikan nya pada Vaela .


Jarel mengusap bibir Vaela lalu menatap mata Vaela dalam lalu mengecup bibir itu kembali.


Mata Vaela mengerjap polos dan hal itu sangat imut di mata Jarel. Dengan gemas Jarel meraih tangan Vaela dan mengecupi kelima jari Vaela."


"Ada apa denganmu," heran Vaela dan melepaskan tangannya dari genggaman Jarel namun sama sekali tidak bisa akibat tubuhnya yang lemah dan kekuatan Jarel yang lebih darinya .


"Terimakasih,"lirih Jarel sambil meneteskan air matanya. Jarel sangat menyukai anak kecil dia selalu bermimpi untuk mempunyai keluarga yang bahagia dan lengkap tidak seperti keluarganya yang hancur. Dia benar-benar kesepian dan gak ada teman yang bisa diajak untuk bercerita.


Vaela semakin dibuat bingung oleh sikap Jarel. Vaela menyentuh luka di sudut bibir Jarel dan pipinya cukup parah karena belum diobati dan luka itu terlihat membiru sekarang.


"Kenapa belum diobati?" tanya Vaela.


"Karena aku mau kamu yang mengobatinya," senyum Jarel mengembang.


"Apa kau bodoh, itu akan infeksi nanti," marah Vaela.


Jarel menghembuskan napas lega. " sepertinya kondisimu cukup membaik sweet kau Sampai masih bisa marah padaku."


"Liat sayang mommy marah pada Daddy," bisik Jarel ke perut Vaela.


Vaela menegang dan Jarel merasakannya. Vaela menangis dan Jarel terdiam. Dia takut jika Vaela tidak menerima bayi itu. Jarel semakin dibuat takut saat melihat Vaela semakin menangis histeris.


"Sweet,"lirih Jarel semakin takut jantungnya berdetak tidak karuan. Bagiamana dengan anaknya nanti apa akan sama dengannya yang tidak memiliki kasih sayang. Tidak, tidak boleh Jarel tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.


"Sweet,"

__ADS_1


"Jarel, bagaimana keadaannya hiks apa baik-baik saja aku hampir membuatnya celaka," Tangis Vaela semakin pecah dan memeluk perutnya sambil menggumamkan kata maaf pada anaknya.


"Kau sudah tau," cicit Jarel yang diangguki oleh Vaela.


"Kenapa tak memberitahuku sweet," Ucap Jarel.


"Kemaren aku baru menyadarinya, perutku selalu mual dan pusing dan aku keluar untuk mengeceknya tapi hiks aku hiks dibawa ke tempat itu , aku sudah berusaha menghubungi mu tapi kau mengabaikan ku" jelas Vaela.


Jarel hanya diam. Dia ingin mendengar segala unek-unek Vaela. Dia senang jika Vaela mau terbuka dengannya.


"Kau bahkan tidak datang ketempatku, padahal biasanya kau selalu datang, mengirim pesan singkat lu sama sekali tidak padahal aku sudah menunggu," Vaela menunduk entah angin apa yang membuatnya bercerita tapi dia tidak perduli dia hanya ingin ada yang mendengar nya .


"Jadi kau menungguku ya," goda Jarel yang membuat Vaela malu.


"Maafkan aku, aku sedang banyak pekerjaan saat itu. Maaf sweet," Jarel membawa Vaela kedalam pelukannya dan dibalas oleh Vaela. Tentu saja Jarel senang bukan main biasanya Vaela mana pernah membalas pelukannya.Boro-boro membalas yang ada Vaela malah memberontak.


"Saat kau diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kau akan tinggal bersamaku aku tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkanmu aku tak Mau kejadian ini terulang padamu dan juga Jarel junior," ucap Jarel dan melepas pelukannya.


"Mana bisa begitu, aku tidak mau," bantah Vaela.


"Aku sama sekali tidak meminta persetujuan mu sweet," balas Jarel.


"Tapi kita hanya orang asing, tidak baik jika tinggal bersama tanpa adanya hubungan," bantah Vaela lagi.


"Lagipula tidak baik untukmu sweet, bukannya aku tidak ingin cepat-cepat untuk menikahimu dan menjadikanmu milikku seutuhnya,"


"Lalu kenapa?" tanya Vaela jujur saja dia tidak ingin digantung. Dia tidak ingin anaknya tak punya ayah nanti dan pasti akan banyak orang mengolok-olok dirinya.


"Kondisimu tidak memungkinkan sweet, aku ingin pernikahan kita berksesan ini sekali dalam seumur hidup nanti kau akan kelelahan karena aku ingin acaranya sangat meriah," jelas


Jarel.


"Ah begitu ya," Vaela mengerjap tapi sedetik kemudian dia menggeleng.


"Tapi nanti aku akan semakin gemuk saat melahirkan mana bisa langsung secepat itu turunya," cicit Vaela.


"Kenapa menghawatirkan hal itu sweet, tidak ada masalah dengan hal itu," ucap Jarel.


"Sudahlah kau sama sekali tidak mengerti, kau pergi saja karena aku mau tidur sekarang."kesal Vaela.


Vaela membalikkan tubuhnya membelakangi Jarel. Vaela menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah selamat istirahat sweet. Have a nice dream," ucap Jarel lalu keluar dari ruangan Vaela untuk menghubungi seseorang.


Vaela semakin kesal karena Jarel meninggalkan dirinya. Seharusnya laki-laki itu membujuknya .


Vaela meraih handphone-nya lalu menghubungi Vega untuk datang.


"Aish aku lapar," gerutu Vaela.


"Dasar pria tidak peka," lanjut Vaela.


"Siapa pria yang tidak peka itu sweet," Jarel tiba-tiba datang dengan makanan ditentengannya.


"Oh, apa itu untukku," Vaela sangat bersemangat.


"Siapa bilang," elak Jarel.


"Lalu untuk apa kau kemari," desis Vaela.


Jarel tertawa. "Astaga hormon ibu hamil benar-benar cukup memusingkan ya,"


"Apa katamu," marah Vaela yang lucu di mata Jarel.


"Sudah dulu acara marahanya sweet, kau harus makan agar kau bisa mara-marah lagi nanti," ejek Jarel.


Vaela mendengus. "Kau membawa apa?" aku benar-benar lapar," adu Vaela.


"Heum, aku membawamu bubur ayam aku tau makanan rumah sakit tidak enak jadi aku membawakan mu ini," Jarel menaruh buburnya kedalam mangkok.


"Sama saja, sama-sama bubur,"


"Beda sweet, ini lebih enak aku yakin kau akan ketagihan karena aku membelinya dari langganan ku. Benar-benar enak." Ucap Jarel.


"Aku tidak menyangka kau juga makan-makanan seperti ini," ucap Vaela sambil menerima suapan dari Jarel.


"Kenapa tidak?" kadang makanan di pinggir jalan cukup enak. Apa salahnya untuk mencoba," ucap Jarel dengan telaten menyuapi Vaela.


"eum cukup, aku kenyang," ucap Vaela.


"Ini minum dulu," Jarel menyodorkan segelas air putih.


"Aish lukamu belum diobati juga, biar aku saja. Kemari," ucap Vaela.

__ADS_1


Jarel mengangguk semangat memang itu yang dia inginkan sedari tadi.


TBC


__ADS_2