
"Clark maafkan aku," ucap Vega sambil mencegah Clark yang akan memasuki kamar miliknya.
Clark menatap datar gadisnya. Dia menghiraukan Vega dan tetap masuk ke dalam dan dengan kasar dia menutup pintunya sampai membuat Vega terjengkit kaget.
Vega menatap sendu pintu didepannya. Vega akui ini memang salahnya. Dia hanya tidak ingin menggangu pekerjaan Clark dan lagi dia membutuhkan liburan yabg pasti Clark tidak akan menginjinkannya sama sekali jika tidak bersama dengan pria itu.
Lagi pula mana Vega tau bos Clark adalah Jarel yang akan membayar semua kebutuhan liburannya bersama dengan Vaela.
Vega menghela napas lelah, dia ingin beristirahat dan akan meminta maaf pada Clark esok hari.
Sedangkan di kamar Vaela dan Jarel, keduanya terlihat beradu pandangan dengan Jarel yang menatap marah pada Vaela.
Bagaimana tidak Jarel menemukan obat pada tas milik Vaela saat akan membereskan tas milik wanitanya.
"sweet, ini obat apa hm," desis Jarel yang tidak dijawab oleh Vaela. Vaela diam menunduk dia sedikit takut dengan amarah Jarel. Sudah Vaela bilang bukan Jarel dengan kemarahannya sangat menyeramkan.
"Kenapa diam saja hah!!! Jawab!" bentak Jarel dengan keras.
Jarel sudah dikuasai oleh amarah dengan kasar dia mencengkram dagu Vaela dan menatap telak pada wanita-nya.
"Lepaskan aku, shh sakitt," rintih Vaela berusaha keras melepaskan cengkaram di dagunya. Dengan sebelah tangannya dengan keras Vaela menampar pria itu.
Plak
Jarel semakin dikuasai oleh amarah sekarang.
Brakk
Jarel menghempaskan barang-barang yang ada dalam kamar hotel itu. Nafasnya memburu terlihat dari dadanya yang turun-naik. Bahkan amarahnya belum turun sepenuhnya.
"Kenapa kau meminum obat pencegah kehamilan itu hah! Kau mencegah Calon anakku tumbuh begitu!! Teriak Jarel.
Vaela diam menunduk seraya menutup telinga-nya dia takut.
Sesaat dia melihat Jarel. Pria itu menatapnya tajam dan mendekat kearahnya. Dengan refleks Vaela juga ikut memundurkan dirinya sampai Jarel berhasil menyentuh bahunya.
Jarel menunduk dengan menyatukan kedua kening mereka. Jarel menangkap pipi Vaela.
"Kenapa Vaela. Apa begitu sulit bagimu menerima ku. Aku hanya memintamu untuk menurut dan aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di hidupku. Aku sangat mencintaimu Vaela," ungkap Jarel lirih.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau mencintaiku. Kita hanya melakukan one night stand dan bahkan kita belum lama saling kenal, ah tidak aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang mu begitu juga denganmu," balas Vaela.
Jarel yang mendengar itu mengeraskan rahangnya. " One night stand katamu! Itu bukan hanya sekedar one night stand Vaela. Itu tandanya kau adalah milikku." tegas Jarel.
"Tapi aku tidak mau, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. aku tidak ingin bermain-main Jarel."
"Kamu pikir hanya dirimu yang menginginkan itu, aku juga Vaela. Aku sangat menginginkan hal itu dan akan kubuat kau menjadi milikku dengan cara apa pun itu," Jarel tersenyum miring.
Dengan tiba-tiba Jarel Mengangkat Vaela ke tempat tidur. Jarel mengusap lembut perut Vaela yang tengah memberontak sekarang.
"Diamlah," desis Jarel lalu mencengkram kedua tangan Vaela.
Jarel mengambil obat penyubur kandungan di sakunya. Sebenarnya obat pencegah kehamilan yang diminum oleh Vega tidak akan ada artinya karena susu yang diberikannya setiap hari untuk gadis itu sudah dicampur dengan obat penyubur yang kuat.
Jarel mencengkram pipi Vaela hingga mulut wanitanya terbuka dia dengan paksa memasukkan obat itu dan membungkam bibir itu dengan bibirnya agar Vega tidak bisa mengeluarkan pil yang diberikannya.
Dengan tergesa-gesa Jarel membuka pakaian mereka. Sedangkan Vaela yang sudah berusaha memberontak keras namun tenaga Jarel lebih kuat darinya.
Pada akhirnya mereka melakukan itu. Lagi.
Jarel tersenyum puas dia tau ini salah tapi Vaela harus jadi miliknya. Dia akan segera menikahi wanita di dekapannya ini.
Pagi harinya Vaela terbangun sendirian karena Jarel pagi-pagi buta sudah pergi dan Vaela tidak tau pria itu pergi kemana. Vaela tersenyum miris dia terlihat seperti seorang wanita murahan sekarang yang ditinggal begitu saja oleh pelanggan-nya setelah puas.
"Aku harus pergi dari sini," gumam Vaela.
Dengan langkah pelan Vaela menuju lemari dan mengemas barang-barangnya serta membawa uang Jarel bersamanya. Kebetulan pria itu memiliki banyak uang kes disana dan Vaela mengambil itu semua serta Kartu kredit yang pernah diberikan oleh Jarel untuk-nya.
Vaela membersihkan tubuhnya dan menuju kamar Vega.
"Apa kau mau ikut"? Tanya Vaela pada Vega yang menguap. Sepertinya gadis itu baru bangun terlihat rambutnya yang berantakan.
Vega menoleh dan melihat Vaela yang membawa kopernya.
"Kau mau kemana"? Tanya Vega.
"Aku akan pergi, aku tidak mau bersama pria itu. Jika kau masih ingin disini yasudah," ucap Vaela sambil menggeret kopernya.
"Tunggu dulu, bukankah kalian baik-baik saja tadi"? tanya Vega.
__ADS_1
"Aku tidak sempat menjelaskannya padamu, cepatlah aku tidak punya waktu banyak sebelum dia kembali," ucap Vaela.
Mau tidak mau Vega harus ikut. Bagaimana mungkin dia membiarkan sahabatnya pergi entah kemana. Jalan Vaela juga terlihat tertatih-tatih dan Vaela tentu tau itu karena apa. Vega sudah dewasa dan mengerti hal yang berbau seperti ini.
"Tunggu sebentar, aku akan cepat," Ucap Vega langsung bergegas membereskan barang-barangnya.
Masalah Clark dia akan urus nanti. Dia harus menemani sahabatnya terlebih dahulu. Vega. tidak akan meninggalkan Vaela. Vega akan mendukung apapun keputusan yang diambil oleh sahabatnya. Dia hanya perlu mendukung dan terus berada di samping Vaela.
Vega banyak berhutang pada Vaela. Saat semua orang dulu mencacinya dan menganggap nya pambunuh serta saat dia dibuly habis-habisan, hanya Vaelalah yang ada bersama-nya.
Keluarga, bahkan keluarganya pun sama sekali tidak membantu-nya. Mereka malah mengasingkan Vega dan menganggap Vega aib.
Vaela jugalah yang membuat dirinya dan keluarganya kembali berbaikan. Vaela benar-benar membantunya di saat titik terendah Vega. Sekarang, dia yang harus bersama Vaela dan tidak akan meninggalkannya bahkan Vega rela meninggalkan kekasihnya Clark.
"Ayo," ajak Vaela."
"Kuharap keputusanmu benar Vaela, kau tau Jarel pasti tidak akan membiarkannya dan habislah aku jika Clark tau," ucap Vega.
"Masih tidak jauh Vega, kamu bisa kembali dan aku bisa pergi sendiri," kekeh Vaela.
"Dasar keras kepala," tukas Vega.
"Aku sangat yakin tidak lama kita pergi mereka pasti akan menemukan Kita. aku yakin itu," ucap Vega.
"Tenanglah, aku akan ketempat kakakku dan kita aman disana, sekalian beri pelajaran pada Clark," Vaela mempercepat jalannya yang diikuti oleh Vega.
"Kamu mempunyai kakak, kenapa aku baru tau," bingung Vega.
Vaela dan Vega memasuki taksi yang sudah dipesan oleh Vaela tanpa disadari ada orang yang mengawasi gerak-gerik mereka.
Pria itu mendesis seraya menatap tajam taksi yang membawa gadisnya.
"Mereka tidak akan bisa pergi jauh," smirk Jarel.
Jarel ikut menatap ke arah taksi yang membawa Vaelanya.
Rupanya wanita itu ingin bermain-main dengannya. Begitu juga dengan Clark dia Menggeram, dia juga tidak akan membiarkan gadisnya pergi.
"Tunggu hukkuman mu sayang," desis Clark
__ADS_1
"Kali ini aku tidak akan memberikan mu ampun," Ucap Clark.
TBC