
"Tiara kamu buatkan sarapan buat Satria, kalau mau kopi, teh atau susu kamu buatkan." ucap Bunda Lidia.
"Iya Bund." ucap Tiara.
"Suami kamu mana? dia masih tidur?" tanya Bunda Lidia.
"Sudah bangun Bund, tapi ada di kamar." jawab Tiara.
"Kita sarapan sama - sama, atau mau sarapan di kamar? biasanya kan pengantin baru, selalu ingin di kamar terus seharian." ucap Bunda Lidia.
"Bunda bicara apa sih?" ucap Tiara dengan wajah datar.
"Kan semalam pasti itu tuh." sindir Bunda Lidia.
"Ih.. apaan sih Bund, sudah ah mau sarapan saja di kamar. Disini di ledekin terus sama Bunda, nanti bisa - bisa kita tidak sarapan." ucap Tiara sambil membawa nampan berisi nasi goreng dan dua gelas air putih.
Bunda Lidia hanya tersenyum geli, dan Pak. Agus datang untuk sarapan pagi. Bunda Lidia masih terkirim geli, sehingga membuat Pak Agus menatapnya.
"Kenapa Bund?" tanya Pak Agus.
"Nggak kenapa - napa Yah, Bunda hanya ingat kita dulu waktu masih pengantin baru." jawab Bunda Lidia.
"Bunda ingat apanya?" tanya Pak Agus.
"Ada deh." jawab Bunda Lidia tersenyum.
***
"Kak, sarapan dulu." ucap Tiara.
"Loh kok di bawa ke kamar, kita sarapan sama Ayah dan Bunda saja di sana." ucap Satria.
"Nggak kak, kita nanti malah di ledekin terus sama Bunda." ucap Tiara.
"Di ledekin apa?"
"Ada pokoknya." ucap Tiara langsung makan.
"Dek, boleh kakak bicara sesuatu?" tanya Satria.
"Mau bicara apa kak?"tanya kembali Tiara.
" Dek, kamu mau ikut sama kakak? dan tinggalkan pekerjaan kamu." jawab Satria.
Tiara diam, dan meletakkan sendok nya di atas piring. Sedangkan Satria tetap menatap Tiara, yang sejak tadi tidak menatap ke arah Satria.
"Kalau kamu tidak mau ya tidak apa - apa, kamu tidak mau berhenti juga tidak apa - apa. Itu hanya saya ingin kamu fokus ke suami, fokus jadi ibu rumah tangga. Tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa - apa, saya juga tidak memaksa." ucap Satria.
"Saya akan patuh pada suami, kalau suami meminta saya berhenti, saya akan berhenti." ucap Tiara, dan membuat Satria tersenyum.
"Tapi kamu tidak terpaksa kan?" tanya Satria.
__ADS_1
"Tidak kak." jawab Tiara sambil tersenyum.
***
"Kami sebagai orang tua, tidak bisa komentar apa - apa, kami menyerahkan keputusannya itu apa kata Tiara." ucap Pak Agus.
"Benar Satria, kalau Tiara mau ya kami membolehkan, kalau tidak mau yasudah berarti Satria harus bolak balik ke kesini." ucap Bunda Lidia.
"Saya mau Bunda Ayah, saya putuskan untuk berhenti menjadi guru TK." ucap Tiara.
"Kamu serius nak? kamu sudah pikiran matang - matang." ucap Bunda Lidia.
"Sudah Bunda." ucap Tiara.
"Satria, Ayah sama Bunda sekarang sudah menyerahkan pada kamu. Tiara sudah tanggung jawab kamu, tolong jangan sakiti dia." ucap Pak Agus.
"Saya akan menjaga Tiara, dengan cinta saya akan melindungi dan teriak mendekap nya. Saya tidak akan membuatnya menangis, saya akan membuatnya selalu tersenyum." ucap Satria.
****
Satria dan Tiara sudah sampai di rumah kontrakan yang di tempati Satria, Tiara masuk kedalam rumah yang tertata rapih.
"Dek, maaf ya kita mengontrak dulu. Nanti kalau kakak uangnya sudah ada, kita beli rumah." ucap Satria.
"Iya Kak." ucap Tiara.
Tiara membuka kopernya, dia pun menata pakaian di dalam lemari. Satria lantas membantu menata pakaian milik Tiara.
"Nggak apa - apa, biar kakak bantu." ucap Satria yang masih terus membantu menyusun pakaian Tiara.
"Jangan kak, soalnya saya mau menyusun pakaian dalam." ucap Tiara sambil melirik ke arah koper.
Satria tersenyum, lantas menjauhkan tangannya, dan menjauh dari lemari. Satria lantas lebih memilih mengambil ponselnya, dan duduk di atas tempat tidur.
"Kak, di kulkas ada apa saja?" tanya Tiara.
"Di kulkas ada mie rebus sama telor saja dek, memangnya kenapa?" Jawab Satria kembali bertanya.
"Nggak ada sayuran lain, atau daging gitu?"tanya kembali Tiara.
" Nggak ada dek, memangnya kenapa?" ucap Satria.
"Besok saya harus masakin buat kakak." ucap Tiara.
"Kita ke pasar saja, dekat kok. Disini kalau sore ada pasar sayuran, daging, ikan lengkap. Jalan kaki juga deket, paling 10 menit." ucap Satria.
"Boleh, nanti kita belanja ya."
***
Satria dan Tiara belanja sayuran, ikan, daging dan kebutuhan dapur lainnya. Satria membantu membawakan barang belanjaan istrinya, dan terakhir Tiara membeli aneka jajanan pasar.
__ADS_1
"Masih ada lagi dek?" tanya Satria.
"Sudah cukup kak, ini bisa sampai satu minggu ke depan." jawab Tiara.
"Yaudah kita pulang yuk." ajak Satria.
"Yuk kak, kita cepat - cepat olah itu ikan sama daging biar nggak bau."
Keduanya berjalan beriringan, melewati berbagai pertokoan. Karena tempat mereka tinggal, di pusat kota sehingga ramai dan semuanya serba ada.
"Disini enak dek, mau kuliner sampai malam juga ada. Nggak takut kelaparan, kalau kita malas ngapa - ngapain." ucap Satria.
"Kakak pintar cari tempat tinggal." ucap Tiara.
"Ya kan dekat sama tempat Dinas kakak dek, nggak jauh. Atau kamu ingin kita beli rumah disini saja dek? kita cari dekat - dekat sini. Kemarin ada sih yang mau jual rumah, kita lihat dulu juga boleh."
"Nanti lagi kak, katanya uangnya belum cukup. Kita malu tanyanya saja, tapi nggak beli."
"Ya nggak apa - apa dek, kan namanya orang tanya."
****
Tiara membersihkan ikan dan daging Ayam yang di belinya di pasar, sedangkan Satria mencuci semua sayuran hingga bersih lantas di masukan ke dalam kulkas.
"Nanti malam masak apa dek?" tanya Satria.
"Kakak mau di masakin apa?" tanya kembali Tiara.
"Masak itu saja dek, tumis buncis sama goreng tempe, kayaknya enak di makan masih panas gitu, apalagi nasinya hangat."jawab Satria.
"Boleh, nanti setelah selesai bersihin ikan sama daging Ayam kak, awwwww. " ucap Tiara sambil merasakan sakit tertusuk sirip ikan.
"Kenapa Dek?" tanya Satria panik sambil mendekat.
"Jarinya tertusuk sirip ikan kak." jawab Tiara sambil menunjukkan jari telunjuknya yang berdarah.
Satria lantas segera membersihkan luka di jari telunjuk Tiara, dan lantas memasangkan plester di jari telunjuk Tiara.
"Sudah nggak sakit kan?" ucap Satria.
"Makasih kak." ucap Tiara dengan menarik jari telunjuknya yang masih di pegang oleh Satria.
Satria menahannya, saat Tiara ingin menarik tangannya. Satria lantas mengecup jari telunjuk Tiara dan turun ke punggung tangannya.
"Kak." ucap Tiara.
"Kakak akan menunggu kamu, sampai kamu siap." ucap Satria lantas kembali ke arah kulkas melanjutkan pekerjaan yang tadi.
Tiara memegang jari telunjuk yang di beri plester oleh Satria, ada detak jantung yang semakin berdebar sangat kencang, yang Tiara rasakan.
.
__ADS_1
.