Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Tak Sadar


__ADS_3

Tiara diam duduk sendiri di dalam kamar, sahabatnya Inara masuk mendekati dan duduk di sampingnya.


"Saya mau pamit, apa kamu mau ikut?" ucap Inara.


"Kita biasa menghabiskan waktu bersama, kalau kamu seperti ini, saya juga sedih." ucap Inara kembali.


Tiara hanya diam, sambil terus menatap photo Almarhum suaminya. Tangan Inara mengusap punggung Tiara, yang kini sedang tersebut sendiri.


"Tampan." ucap Tiara sambil tersenyum.


"Iya, dia tampan. Anak kamu, kalau lahir laki - laki pasti tampan seperti Ayahnya." ucap Inara.


Tiara mengusap perutnya, yang kehamilannya masuk usia 2 bulan, lalu tersenyum namun kedua matanya mengeluarkan air mata.


"Dia, hiks.. hiks.. hiks.. dia tidak akan bisa lihat Ayahnya." ucap Tiara terisak.


Satria Esa mengintip dari balik pintu, rasanya sakit mendengar ucapan, yang keluar dari mulut Tiara.


"Dia jahat, telah merebut Ayahnya dari anak saya yang di kandung, hiks... hiks... dia jahat."


"Kak Satria Esa tidak pernah jahat, ini sudah jalan hidup kamu seperti ini. Semua tidak ingin seperti ini, tapi ini sudah jalan takdir suami kamu. Allah lebih sayang sama dia, dan kak Satria Esa tidak pernah ingin kehilangan seperti ini.Kamu jangan menyalahkan dia terus, dia tidak salah." ucap Inara.


"Kalau dia tidak menyuruh suami saya, sekarang saya masih bisa tertawa."


"Cukup, kamu jangan salahkan dia."


"Kamu membela dia! apa kamu suka sama dia?" ucap Tiara, yang membuat Inara diam.


"kamu itu sahabat saya, kamu kan tahu gimana saya itu."


Tiara kembali tersenyum, dan kedua matanya kembali menatap photo suaminya. Inara tidak bisa berkata-kata lagi, lantas Inara beranjak bangun.


***


"Tante Om, Tiara seperti dulu lagi. Kejiwaannya terganggu kembali, Kak Esa dulu Tiara seperti itu, saat tahu kakak meninggal dunia, sekarang dia seperti ini lagi. Saya kasihan dia sedang hamil, takut mempengaruhi janinnya." ucap Inara.


"Yah, kita bawa pulang saja Tiara. Kalau dia seperti ini, disini sendirian saya takut akan terjadi sesuatu."ucap Bunda Lidia.


" Benar Bund, kita bawa pulang saja."ucap Pak Agus.


"Kami akan bawa dia, saat anaknya lahir, biar kami yang merawatnya." ucap Pak Agus.


"Baiklah, mau bagaimana lagi." ucap Pak Aji.


"Saya janji, akan mengembalikan Tiara yang dulu." ucap Satria Esa.


"Kata - kata itu, kata itu mirip sekali yang pernah di ucapkan Almarhum." ucap Pak Agus.


****


"Kamu buat sarapan kopi untuk siapa?" tanya Ibu Retno.


"Kak Ade, tuh sedang duduk sambil lihat tv." jawab Tiara berjalan ke arah ruang keluarga.


Tiara berbicara sendiri, seolah ada orang yang di ajaknya bicara. Tiara tersenyum dan tertawa sambil mengusap perutnya, Bunda Lidia datang memperhatikan apa yang telah terjadi.


"Ya Allah Tiara." ucap Bunda Lidia.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" ucap Ibu Retno.


"Saya tidak tahu, harus bagaimana lagi.Hanya satu, membawa dia pergi dari rumah ini." ucap Bunda Lidia.


Bunda Lidia dan Ibu Retno datang menghampiri Tiara, dan duduk di seberangnya. Tiara lantas tersenyum bahagia seolah, sedang memeluk seseorang.


"Kak Ade sudah kembali, dia nggak meninggal dunia." ucap Tiara terlihat bahagia.


"Sayang, nanti siang kita pulang ya." ajak Bunda Lidia.


"Bunda itu bagaimana, rumah saya disini, dan suami saya ada disini. Kalau saya pulang, siapa yang mengurus suami saya. Benar kan kak? bilang dong, jangan senyum saja." ucap Tiara.


"Ade tidak ada Tiara, disini hanya ada kita bertiga." ucap Ibu Retno.


"Kata siapa? suami saya ada di sebelah saya." ucap Tiara marah.


****


Pak Aji, Pak Agus, Bunda Lidia, Ibu Retno dan Satria Esa sedang menatap Tiara, yang dari tadi hanya berbicara sendiri, bahkan melayani apa yang terlontar dari mulutnya.


"Apa kita masukkan saja ke rumah sakit jiwa?" usul Pak Agus.


"Benar itu, lebih baik seperti itu. Saya takut terjadi sesuatu, pada cucu kita." ucap Pak Aji.


"Bagaimana Yah?" ucap Bunda Lidia.


"Paksa bawa dia, kita rayu."


"Biar saya yang awasi dia di rumah ini, saya sudah berjanji akan melindungi Tiara dan calon bayinya, bahkan saya akan melindungi dia selamanya." ucap Satria Esa.


"Tapi kamu kan dinas nak, kalau Tiara kenapa - napa tetap saja kamu tidak tahu." ucap Ibu Retno.


"Dek." panggil Satri Esa.


Tiara menoleh ke arah Satria Esa, dengan wajah cemberut dan membuang muka.


"Kamu kenapa begitu? " tanya Satria Esa.


"Lihat kak, itu orang yang buat kakak celaka." jawab Tiara, seolah sambil berinteraksi dengan orang di sebelahnya.


"Maafkan kakak dek, kakak tidak maksud seperti itu."


"Iya Saya maafkan, tapi kalau sampai saya kehilangan orang yang saya cintai lagi, saya tidak akan memaafkan."


"Iya dek, kakak minta maaf. Ehm dek, boleh kan kalau kakak tinggal disini?" ucapnya.


"Kak, saudara kembar kamu ingin tinggal disini? gimana apa boleh?" ucap Tiara.


"Oh gitu ya!" udak Tiara kembali.


"Apa katanya?" tanya Satria Ade.


"Katanya, boleh tapi jangan ganggu kita." jawab Tiara.


"Ya tenang saja." ucap Satria Esa.


****

__ADS_1


"Aman! saya akan ikuti alur dia bagaimana." ucap Satria Esa.


"Kamu yakin! dia tidak apa - apa?" ucap Pak Aji.


"Yakin Yah, saya tahu Tiara." ucap Satria Esa.


"Om sama Tante menyerahkan semuanya sama kamu, kalau ada sesuatu cepat katakan." ucap Pak Agus.


"Siap Om, saya akan memberi tahu kondisi Tiara setiap hari." ucap Satria Esa.


"Jujur, Ibu itu lega tidak lega hati ini. Ada rasa khawatir yang begitu besar, Ibu tidak akan bisa tidur tenang." ucap Ibu Retno.


"Sama, saya juga sebagai Bundanya memikirkan seperti itu." ucap Bunda Lidia.


****


Satria Esa membawakan sebuah piring berisi makanan, sambil tangan satunya membawa segelas susu hangat.


"Makan ya, kasihan si dedek belum makan." ucap Satria Esa.


"Ah.. baik banget, saya memang lapar. Ini sedang menunggu kak Ade, saya makan ya kak." ucap Tiara.


"Iya, makanlah." ucap Satria Esa, dengan tersenyum melihat Tiara makan dengan sangat lahap.


"Kamu belum makan apa - apa ya?"


"Sudah tuh lihat piringnya belum di cuci."


Satria Esa beranjak bangun, melihat di wastafel hanya ada piring bersih yang tergeletak begitu saja, bahkan di meja makan tertata layaknya ada lauk pauk, namun semuanya kosong.


Satria Esa memutuskan untuk, mematikan gas dengan mencabut regulatornya. Tiara tersenyum, sambil membawa piring kotor.


"Di meja, saya buat masakan ada gurame bakar, udang asam manis, kerang hijau. Hari ini saya masak seafood."


"Wow enak ya. "


"Iya dong, enak banget. Tadi malam minta di masakan seafood, tapi sekarang sudah sore kenapa belum pulang." ucap Tiara sedih.


"Kamu tunggu saja, mungkin sebentar lagi pulang."


"Iya kak, saya akan tunggu."


****


"Ke depannya, kamu akan menikahinya?" tanya Alam.


"Entahlah, tapi saya sudah berjanji akan melindungi dia." jawab Satria Esa.


"Apa kamu yakin, merawat dia yang bukan apa - apa nya kamu? dalam kondisi yang sangat lama, kamu tidak mungkin untuk disini terus. Kalian harus menikah, bagaimana tanggapan orang yang satu sehat yang satu dalam kondisi tidak sehat."ucap Alam.


" Saya akan pikirkan itu, dia memang terlihat sangat sehat, tapi faktanya kejiwaan dia tidak sehat."


"Buktikan apa yang kamu janjikan itu, jangan asal di mulut. Kalau memang kamu sayang sama dia, bagaimana juga kalian pernah menjalin hubungan. " ucap Alam.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2