Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Makan Angin


__ADS_3

"Itu rumah sebelah, setelah di tinggal meninggal suaminya gila ya! " ucap salah satu tetangga yang sedang membicarakan Tiara.


"Benar kasihan, masih muda lagi. Dan sedang hamil, pantas gila masih anget - anget nya." ucap Ibu satu nya lagi.


"Nah yang laki siapa? yang pakai seragam Tentara! bukannya itu bukan suaminya."


"Itu saudara iparnya, karena tidak mau pulang ke rumah orang tuanya, dia halusinasi kalau suaminya datang lagi." ucap Ibu RT.


"Lah seharusnya ada satu orang tua, ini kan satunya orang waras satunya orang tidak waras gimana sih konsepnya." celetuk Ibu satu nya lagi.


"Karena sibuk semua, dan hanya dia yang dekat disini. Ya mungkin kalau sudah melahirkan, nanti akan dinikahi." ucap Ibu RT.


"Ya semoga saja, biar tidak zina."


"Ya kalau mereka berbuat sesuatu, tinggal nikahkan saja apa susahnya."


"Saya akan menikahi dia, kalau anak nya sudah lahir." ucap Satria Esa tiba - tiba datang.


Seketika semua terdiam, dan dengan santai Satria Esa memilih aneka macam sayuran dan ikan.


"Saya akan menikah dengan dia, dan saya tidak akan melakukan zina." ucap Satria Esa.


"Kita kan mana tahu." celetuk Ibu yang ada disebelah Satria Esa.


"Terserah Ibu mau bilang apa, tapi tolong didepan dia, jangan bilang gila atau suaminya meninggal dunia."


"Memangnya kenapa?"


"Dia berhalusinasi kalau ada suaminya, dan saya tetap di anggap orang lain."


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit? disini jadi merepotkan."


"Saya tadi sudah bilang, yang di mata dia ada suaminya. Bang tolong hitung total belanjaan saya."


"Baik Pak. "


Setelah selesai membayar, Satria Esa masuk kedalam rumah dan langsung memasukkan bahan makanan kedalam lemari es.


"Kak makan dulu, sebelum kalian berangkat." ajak Tiara.


Satria tersenyum, dan berpura-pura melakukan sarapan pagi. Padahal kenyataannya, hanya ada piring, sendok dan gelas kosong.


"Kamu buat nasi goreng enak ya!" ucap Satria Esa.


"Ini bukan nasi goreng kak, apa tidak lihat jelas kalau ini tuh roti bakar dengan selai kacang."ucap Tiara.


" Bercanda dek, ya kan De saya bercanda." ucap Satria Esa pura - pura berbicara dengan orang yang di depannya, padahal hanya ada sebuah kursi kosong.


"Kakak sih, bercandanya kurang asik."


Satria Esa tersenyum, lantas segera bangun membuatkan susu ibu hamil, untuk Tiara. Satria Esa memberikan susu tersebut pada Tiara.


"Minum!" ucap Satria dengan menaruh satu gelas susu di depannya.

__ADS_1


"Kak, ini susu." tunjuk Tiara dengan gelas kosong.


"Ini saya buatkan, hargai saya buatkan untuk kamu." ucap Satria Esa.


"Lihat kak, saudara kembar kamu baik sekali. Kakak jangan cemburu ya, ini hanya segelas susu." ucap Tiara langsung meminum sampai habis.


"Nanti siang, kakak kirimkan makanan, ada kurir yang akan datang Kesini. Nanti kamu makan ya, jangan tidak di makan."


"Iya kak, makasih ya."


"Sama - sama."


***


Tiara membuka lemari pakaiannya, melihat seragam dan pakaian lain milik suaminya yang masih tersusun rapih. Bahkan Tiara segera berlari ke arah rak sepatu melihat sepatu yang masih ada tertata rapih di atasnya.


"Kenapa semuanya masih ada!" ucap Tiara.


Tiara lantas berlari ke arah garasi, mobil dan motor masih tetap ada. Tiara lantas berlari mengambil ponsel miliknya, dan mencoba menghubungi suaminya namun hanya terdengar bunyi suara telepon, yang begitu sangat dekat.


Tiara tidak mematikan ponselnya, dan terus mencari suara ponsel milik Almarhum. Tiara membuka laci, dan ponsel milik suaminya masih ada.


"Kenapa semuanya tertinggal, kenapa Kak Ade tidak membawanya. Ada apa ini? lantas Kak Ade pakai apa, pakai yang mana! saya harus menyusul ke sana. Pasti ada yang tidak beres, pasti ini." ucap Tiara dengan segera mengambil kunci motor matic nya.


****


"Esa, kamu cepat ke ruangan Dirga. Tiara sedang berdebat dengan Dirga, dia tidak tahu ceritanya, Tiara mengamuk kalau suaminya sudah meninggal dunia." ucap Alam.


"Tiara." ucap Satria Esa.


"Kamu jangan asal bicara, mana suami saya? istrinya mau ketemu, malah di bilang meninggal dunia. Ini kan ruangan suami saya, disini dia duduk. Dan kursinya kosong, dimana dia sekarang?" bentak Tiara.


"Dek!" panggil Satria Esa.


"Bang." ucap Dirga, dan Satria Esa memberikan kode agar diam tidak bicara.


"Nah ini suami saya, Kak kemana saja? kenapa ponsel tidak di bawa, mobil, motor masih ada, seragam sepatu masih ada, saya memiliki rasa khawatir." ucap Tiara, yang menganggap Satria Esa itu adalah suaminya.


"Maaf dek, Kakak pakai kendaraan milik Esa."


"Kenapa sih? mereka pada bilang kakak meninggal dunia, padahal kakak sehat walafiat."


"Sekarang pulang, tunggu kakak di rumah."


"Iya, kalau begitu saya pulang." ucap Tiara lantas keluar dari ruangan Dirga.


"Sekali lagi dengar kamu bicara seperti tadi, kamu berurusan dengan saya." ancam Satria Ade.


"Maafkan saya Bang, maaf saya tidak tahu."


Satria Esa lantas berlari mengejar Tiara, yang sudah berada di area parkir dan lantas naik ke atas motor maticnya.


"Kamu nanti langsung pulang dek." ucap Satria Esa dengan rasa khawatir.

__ADS_1


"Ya kak, tenang saja."


Satria Esa menatap Tiara kembali pulang, Alam mendekat dan menepuk pundak temannya.


"Dia sekarang anggap kamu suaminya, lantas besok kalau sadar bagaimana?" ucap Alam.


"Saya harus bisa mencegah terjadinya sesuatu." ucap Satria Esa.


****


Satria Esa pulang, seperti biasa di atas meja makan tersusun piring kosong. Tiara pun tengah sibuk, memasak dengan wajan kosong, bak seperti anak - anak main masak - masakan.


"Masak apa?" tanya Satria Esa.


"Ini sedang buat kolak, kolak nangka." jawab Tiara.


"Beli dimana?" tanya Satria Esa.


"Tadi ada yang lewat, coba deh enak." jawab Tiara sambil mengarahkan sendok ke arah mulut Satria Esa, lantas Satria Esa berpura-pura mencicipi nya.


"Manis ya enak."


"Kita makan ya, mumpung masih panas."


"Ya Allah Tiara, kalau tidak ada saya, siapa yang akan kasih makan kamu, untuk gizi anak kamu, kamu hanya bisa, hidup dalam halusinasi." ucap Satria Esa dalam hati.


****


Satria Esa memasak untuk makan keduanya, dan saat memasak Tiara tidak memakan nasi bungkus yang di belikannya, hanya di taruh begitu saja.


"Dek, kamu tidak makan?" tanya Satria Esa.


"Saya tidak suka." jawab Tiara.


"Maaf ya, kakak kira suka."


"Kakak sedang apa?"


"Masak dek, buat makan kita."


"Itu di meja makan ada lauk banyak, apa tidak suka makan masakan saya?"


"Bukan begitu dek, sayang ini sayuran kamu tidak memasaknya."


"Hargai kak, istri masak capek - capek, malah kakak masak lagi, nanti mau buat siapa? yang ada nanti di buang."


Satria Esa menaruh pisau begitu saja, dan berjalan mendekati Tiara dan berdiri di depannya.


"Dek, kalau kamu seperti ini terus. Bagaimana dengan gizi anak yang sedang dikandung kamu. Apa kamu, akan terus makan angin. Kamu lihat, itu piring dan yang ada diatas meja semuanya kosong. Kamu sadar ngga? demi anak kita, orang gila di luar sana juga, masih ingat makan, masih tahu lauk enak. Tidak seperti kamu, angin yang kamu makan. Sadar dek, sadar kamu jangan terus begini." ucap Satria Esa.


"Kakak bilang saya gila! kenapa kakak tega, bilang saya gila."


"Bu - bukan begitu maksudnya, de - dengarkan kakak dulu."

__ADS_1


.


.


__ADS_2