
"Dokter, tolong dokter..! teriak suster, saat melihat Tiara memegang sebuah pisau.
dokter, dan para perawat lari saat mendengar kericuhan yang terjadi. Terlihat Tiara memegang sebuah pisau, yang mengarahkan pada perutnya.
" Kenapa bisa dia bawa pisau?" ucap dokter Yasmin.
"Saya tidak tahu, sepertinya dia mengambil dari dapur umum rumah sakit." ucap suster.
"Jangan mendekat!" ucap Tiara.
"Jangan mendekat, kalau mendekat saya akan tusuk." ucap Tiara dengan mata yang melotot.
"Tolong Tiara, kamu lepas pisaunya." ucap dokter Yasmin.
"Tidak! saya tidak mau dia hidup. Saya tidak mau, orang akan mengatakan kalau ibunya gila."
"Tolong Tiara, lepas."
Security rumah sakit, dan beberapa perawat berusaha mengambil pisau yang ada di tangan Tiara, namun tidak berhasil.
"Jangan mendekat, kalau mendekat pisau ini akan saya arahkan ke perut."
"Tolong Tiara, kasihan anak kamu dalam kandungan, dia tidak tahu apa - apa, kamu buang ya pisaunya."
Satria Esa berlari memasuki rumah sakit, saat mendapatkan kabar bahwa Tiara mengamuk dan mencoba mencelakai dirinya sendiri.
"Tiara! " ucap Satria Esa.
"Pak, mba Tiara." ucap dokter Yasmin.
"Kenapa tidak di rebut saja?" ucap Satria Esa kesal.
"Maaf Pak, kami tidak mau ambil resiko dan posisi mba Tiara, yang di sudut membuat susah ruang gerak kita."
"Jangan mendekat!" ucap Tiara.
"Dek, turunkan pisaunya. Nanti melukai kamu." ucap Satria Esa.
Tangan dokter Yasmin memberikan suntikan, berisi obat bius. Satria Esa perlahan mendekat dengan jalan pelan tapi pasti.
"Jangan mendekat kak! kalau mendekat, saya akan arahkan pisau ini."ucap Tiara mengancam.
" Dek, jangan. Ada anak kamu, ada keponakan kakak. Tolong, jangan ya."
"Percuma anak ini lahir, dia akan di buli kalau ibunya gila."
"Kata siapa ibunya gila, ibu nya tidak gila, yang mengatakan itu, mereka yang gila."
"Biar dia ikut sama Ayahnya, dari pada di dunia."
"Tolong jangan ya, kakak sayang Adek, kakak sayang sama anak adek. Tolong kemari kan pisaunya. Tolong ya lepas."
Tiara masih mengarahkan pisaunya ke perut, Satria Esa perlahan semakin mendekat. Tangan Satria Esa meraih pisau yang ada di tangan Tiara.
__ADS_1
Pisau pun berhasil lepas, dan Satria Esa melemparkan begitu saja, lantas memeluk tubuh Tiara.
"Kamu jangan takut, jangan merasakan sendiri. Ada kakak yang selalu ada buat kamu, anak kamu, anak kakak juga."
"Saya takut kak, takut di bully."
"Tidak sayang, tidak akan ada yang berani membully dia." ucap Satria Esa, lantas mengarahkan jarum suntik, ke lengan Tiara. Hanya dalam hitungan detik, Tiara tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa Tiara masuk kamarnya, kakinya kita rantai, agar dia tidak lari." perintah dokter Yasmin.
"Maafkan saya Pak, kalau kami harus melakukan ini."ucap dokter Yasmin.
" Ya dok, tidak apa - apa."
Satria Esa hanya bisa menatap Tiara, yang semakin hari tidak ada perubahan. Satria Esa hanya terus berdoa, agar Tiara cepat sembuh.
****
"Kalau lahir, nanti biar ibu yang rawat. Jangan sampai Tiara, yang merawat bayinya." ucap Ibu Retno.
"Saya yang akan merawatnya, biar dia bersama saya." ucap Satria Esa.
"Kamu akan rawat dia?" ucap Ibu Retno.
"Benar Bu, saya akan rawat dia. Bagaimana juga, saya ini calon suaminya." ucap Satria Esa.
"Esa, apa kamu yakin akan menikahi wanita seperti Tiara? apa kamu tidak ada wanita lain? bukan Ayah sama Ibu tidak setuju, kondisi dia gila Esa." ucap Pak Aji.
"Saya mencintai dia, saya menyayangi dia."
"Urus saja bayinya, jangan nikahi dia." ucap Pak Aji.
"Kemarin katanya kalian setuju, tapi kenapa sekarang tidak setuju." ucap Satria Esa.
"Kondisi Tiara Esa, lihat kondisinya. Kamu mau, seumur hidup menghabiskan waktu untuk orang gila. Masih banyak wanita yang waras, mau sama kamu."
****
"Anak Tiara, biar saya yang mengurus. Karena saya neneknya, dan saya tidak memiliki kesibukan." ucap Ibu Retno.
"Dia juga cucu kami, Tiara anak kami. Biarkan dia bersama kami, agar merasa dekat sama ibunya." ucap Bunda Lidia.
"Tidak, dia harus bersama saya." ucap Ibu Retno.
"Tapi saya sudah berniat, akan saya asuh."
"Tidak, tidak bisa."
"Stop! kalian stop merebutkan hal asuh, Tiara belum melahirkan, kita sama - sama mengasuhnya nanti. Satu bulan sama Bunda, satu bulan sama Ibu. Itu akan adil, dan tolong jangan hanya memperhatikan calon anaknya saja, tapi perhatikan Tiara juga." ucap Satria Esa.
"Kamu jadi kan, menikah dengan Tiara?" tanya Bunda Lidia.
"Saya tidak setuju." ucap Ibu Retno.
__ADS_1
"Maafkan kami, mungkin Esa lebih baik menikah dengan wanita lain." ucap Pak Aji.
"Apa karena anak kami gila?" ucap Bunda Lidia sedih.
"Tidak, saya akan tetap menikah dengan Tiara. Saya mencintainya, Tiara adalah cinta pertama dan sejati saya." ucap Satria Esa.
"Kamu itu, walau dia Ipar kamu. Lihat kondisi dia, gila yang membahayakan." ucap Ibu Retno.
"Cukup!" bentak Pak Agus.
"Walau gila, dia anak kami. Dan kami tidak, terima kalau anak saya dibeginikan. Bagaimana juga, Tiara pernah menjadi menantu idaman kalian. Dan sekarang, kalian seolah tidak mau menerima karena kondisi anak saya, kalian tidak mau menerimanya lagi, baik tidak apa - apa, tapi anaknya kalian tidak boleh mengasuhnya." ucap Pak Agus.
"Tidak bisa begini, kami juta kakek neneknya." ucap Pak Aji.
"Tidak, kamu tidak akan mengijinkan." ucap Pak Agus.
"Tidak bisa." ucap Pak Aji.
"Stop! kalian ini bisanya bertengkar. Apa ini cara kalian, mengatasi masalah." bentak Satria Esa.
"Saya akan tetap menikah dengan dia, dan anak Tiara biar saya yang asuh." ucap Satria Esa.
****
"Ayah tidak terima Bund, sama yang di ucapkan oleh orang tua Esa." ucap Pak Agus.
"Ayah cari pengobatan yang ampuh, biar anak kita itu sembuh." ucap Bunda Lidia.
"Cari kemana bund, kita pindahkan ke rumah sakit lain juga sama. Tiara memang sudah parah, emosinya tidak bisa di tahan, dan akan berubah - ubah." ucap Pak Agus.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kenapa anak kita begini Yah." ucap Bunda Lidia terisak.
"Kita hanya bisa berdoa dan usaha bund, agar anak kita sembuh." ucap Pak Aji.
****
Satria Esa membelai wajah Tiara yang sedang tertidur, wajah tetap cantik natural. Di kecup punggung tangannya, sehingga membuat Tiara bangun.
"Kakak!" ucap Tiara dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kamu nyenyak banget sayang tidurnya, kamu mimpi apa?" tanya Satria Esa.
"Saya bermimpi, melihat Kak Ade sedang berdiri. Dia tersenyum, sambil melambaikan tangan. Saya ikut berlari mengejarnya, berlari di padang pasir yang sangat luas, bahkan terik matahari begitu sangat terasa." ucap Tiara mengingat mimpinya.
"Dia bilang apa?" tanya Satria Esa.
"Dia tidak bilang apa - apa, hanya terus berlari. Dan saat itu, Kak Esa datang. Tapi dengan wajah yang dulu, bukan wajah yang sekarang. Kakak membawa saya kembali, saat itu Kak Ade menoleh terlihat raut wajahnya yang sedih. Saya pergi, dengan bergandengan tangan bersama Kak Esa, saat menoleh kebelakang, Kak Ade telah pergi. Tidak tahu dia kemana, disitu saya menangis kak." ucap Tiara.
"Seandainya kamu memilih, kamu akan pilih siapa?" tanya Satria Esa.
"Saya akan memilih Kak Satria Ade." jawab Tiara.
__ADS_1
.
.