Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Lebih Baik Mundur


__ADS_3

Tiara mengobati luka di punggung Satria, luka yang dirinya buat. Satria nampak menahan perih, saat Tiara mengoles lukanya.


"Sudah kak." ucap Tiara lantas pergi.


"Terima kasih." ucap Satria.


"Iya." ucap Singkat Tiara.


Tiara tak banyak bicara, dirinya langsung masuk ke kamar sebelah, dengan pelan menutup rapat pintu kamarnya. Dan Satria hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ya Allah, maafkan segala kesalahan hambamu ini." ucap Satria.


Didalam kamar, Tiara mencoba untuk memejamkan kedua matanya, dari sudut matanya keluar tetesan bening air mata.


"Mungkinkah pernikahan ini akan berakhir sampai sini ya Allah, saya merasa berdosa telah menjadi pemisah mereka." ucap Tiara dalam hati.


***


Satria bangun dari tidurnya, dengan segera keluar dari kamarnya. Tampak sepi tidak ada suara Tiara, atau kegiatannya. Hanya melihat di atas meja, sudah tersedia sarapan pagi. Satria menatap secarik kertas, di atas meja makan.


Saya pergi, maaf tidak pamit.


Satria lantas membuang kertas tesebut sembarang, dan lanjut berjalan ke arah kamar mandi.


Tiara menatap makam Satria Esa, sebuah buket bunga Tiara taruh di atas makan, rasa sedih yang masih belum bisa melepas sepenuhnya.


"Kak, disaat seperti ini. Saya ingin bertemu kakak, hanya kakak pria yang tulus mencintai saya, hanya kakak milik saya. Sungguh sangat berdosanya saya kak, bila harus menjadi orang ketiga. Kenapa kepergian kakak, menjadikan saya harus terjebak dalam masalah seperti ini."


Tiara meneteskan air matanya, lantas memeluk nisan Satria Esa. Tangis nya semakin kencang, hingga membuat sesak di dada.


"Hiks... hiks... saya rindu sama kakak, hiks.. hiks.. "


"Tiara."


Tiara menoleh ke belakang, Ibu Retno sudah berdiri di belakangnya. Tiara segera bangun, dan mengusap air matanya.


"Ibu." ucap Tiara mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Satria mana Tiara?" tanya Ibu Retno.


"Kak Satria tidak ikut, saya sendirian." jawab Tiara.


"Sama ibu juga sendirian, Ibu kangen sama Esa." ucap Ibu Retno sambil menaruh bunga di atas pusara.


"Esa sudah tenang disana, hanya lewat mimpi dia datang setiap malam. Ibu merasakan pelukannya yang begitu sangat nyata, tapi saat bangun Ibu tidak melihat dia."


"Kita wanita yang sama merindukan Kak Esa, pria yang selalu ceria, tidak pernah mengeluh sekarang sudah nggak ada." ucap Tiara.


"Apa kamu setiap hari masih merasakan kangen? walau Ade itu sekarang pendamping kamu?"

__ADS_1


"Maafkan saya Bu, disaat seperti ini. Saya merindukan sosok kekasih saya yang pertama." ucap Tiara.


****


Ibu Retno dan Tiara berada di rumah lama, Ibu Retno memegang photo Satria Esa, Ibu yang merasakan sedih kehilangan anak lelakinya, yang hanya bisa menatap lewat photo.


"Esa pernah bilang, Bu saya punya kekasih. Dia cantik, nanti akan saya kenalkan sama Ibu dan Ayah. Saya sangat mencintainya, Ibu sama Ayah terima ya. Itu yang terakhir saat dia telepon ibu, dua hari sebelum dia meninggal dunia. Tapi saat malam itu, Esa chat Ibu. Bu tolong jaga Tiara, seandainya saya tidak bisa lagi di sampingnya.Ibu tidak berpikir kalau itu, adalah pertanda dia pergi untuk selamanya." ucap Ibu Retno terisak.


"Bu, saya ingin tanya." ucap Tiara.


"Tanya apa?"ucap Ibu Retno.


" Kenapa Ibu sama Ayah tega memisahkan Nunik dan Kak Satria? padahal mereka itu saling mencintai." ucap Tiara.


"Maafkan kami nak, kami hanya ingin menjalankan pesan dari Esa."


"Bu, mereka itu saling mencintai. Kalau seperti ini, saya merasakan sangat bersalah. Memisahkan dua insan yang saling mencintai. Ibu kan tahu, bagaimana Kak Satria menyayangi Nunik, dan pantas Nunik kecewa dan sakit hati. Saya rela bu, untuk mundur." ucap Tiara.


"Jangan nak, Ibu tidak mau kamu mundur. Ibu ingin tetap kamu menjadi menantu kami. Ibu ingin, kamu ada selalu di antara kami. Hanya kamu, kenangan dari Esa."


"Bu, bukan begini caranya. Ini salah, mengorbankan satu orang. Coba kalau itu di posisi ibu, bagaimana perasaannya? sakit bu, kecewa bu."


"Ibu tahu, tapi kamu berbeda dengan Nunik nak, ibu rasa kamu cocok dengan Satria."


"Tidak bu, saya bukan pasangan untuk kak Satria." ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya.


****


"Iya, dia minta cerai. Tapi saya tidak mau, dia ingin saya kembali sama Nunik." ucap Satria.


"Memangnya, bisa seperti ini bagaimana?"


"Dia tahu semua, tentang saya dan Nunik di masa lalu."


"Rumit." ucap Alam.


"Entahlah, saat dengan Tiara lama - lama rasa saya sama Nunik hilang, malah lebih takut kehilangan Tiara dari pada Nunik." ucap Satria.


"Berarti kamu lebih nyaman dengan Tiara, kamu bisa seperti itu pasti ada sesuatu."


"Entahlah saya bingung."ucap Satria.


"Bang, Anggota yang baru pindah itu sudah datang." ucap Adi.


"Pindahan?"ucap Alam.


" Oh yang baru itu ya?" ucap Satria.


"Iya benar, wajahnya nggak asing, dia kan sering wara wiri di sosmed kadang photo nya di jadikan model Abdi negara, followers nya juga banyak. Saya kira bukan dia yang pindah kesini." ucap Adi.

__ADS_1


Anggota yang baru datang, tampangnya tidak membuat Satria asing. Pria itu dengan gagah berjalan ke arah Satria, Alam dan Adi.


"Selamat siang." sapanya sambil memberi hormat.


"Siang." balas ketiganya.


"Perkenalkan nama saya Firza Naga Arista, panggil Firza." ucap Firza.


"Ini sih selebgram Abdi Negara." ucap Alam.


"Biasa saja, nggak tahu mereka kenapa jadikan saya selebgram, sampai followersnya banyak, udah centang biru lagi." ucap Firza.


"Saya tidak paham soal begituan." ucap Satria.


"Semoga kita bisa menjadi partner yang bisa bekerja sama, mohon di bantu." ucap Firza.


"Santai jangan resmi begini, kita ini orangnya asik. " ucap Alam.


****


"Dek, Kakak kira kamu belum pulang." ucap Satria.


"Maaf kak, kalau pagi - pagi saya sudah pergi." ucap Tiara.


"Iya nggak apa - apa." ucap Satria berjalan ke kamar dengan melepaskan seragamnya.


"Kak." panggil Tiara.


"Iya ada apa dek?" ucap. Satria.


"Saya minta cerai saja."


Satria tetap santai sambil melepaskan seragamnya, dan berganti kaos dengan celaka pendek. Satria berjalan melewati Tiara, lantas Tiara mengikuti langkah kaki Satria.


"Kalau kakak tidak mau, saya yang akan gugat kakak." ucap Tiara.


"Apa tidak ada pilihan lain, hanya karena masalah masa lalu."


"Saya ingin kakak kembali dengan Nunik, saya akan bantu menyatukan kalian lagi."


"Siapa yang menyuruh kamu? Nunik memaksa kamu?"


"Tidak kak, Nunik tidak memaksa saya. Ini saya pribadi kak. Saya tidak mau, menjadi orang yang berdosa seumur hidup."


"Saya kira, pulang ke rumah. Keadaan yang panas, akan mendingin. Tapi kenyataannya, tetap seperti ini.Apa belum cukup kamu menghukum saya dengan mencambuk, apa kamu ingin selesaikan pernikahan kita hari ini juga? baru kemarin kita mencoba melupakan masa lalu, tapi sekarang kamu ingin mengakhirinya." ucap Satria.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2