
Tiara terus menangis, dan Bunda Lidia serta Pak Aji terus menasehati Tiara, agar ikhlas melepaskan Satria Ade.
"Ikhlas nak, kamu harus ikhlas. Allah lebih sayang suami kamu, kamu pasti kuat hidup tanpa suami kamu." ucap Bunda Lidia.
"Benar nak, kamu harus ikhlas." ucap Pak Aji.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Kak, hiks.. hiks.. maafkan salah Tiara, hiks.. hiks.. maafkan kesalahan Tiara kak, hiks.. hiks... maafkan kak...! Saya ikhlas kak, saya ikhlas kakak pergi sekarang, hiks.. hiks.. saya ikhlas kak! "
Tiara mengecup kening Satria Ade, lalu pipinya, dan punggung tangannya. Tiara lantas memeluk tubuh suaminya, dan lantas berbisik.
"Saya ikhlas, kakak pergi duluan. Terima kasih, kisah yang pernah terukir , terima kasih semua yang pernah kakak berikan. Tunggu saya disana kak, selamat jalan."
Tiiiiiiiiitttt
"Inalilahi wainnailaihi rojiun." ucap semua yang ada di dalam kamar.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Kakak...!! " teriak Tiara, lantas terkulai lemas dan tidak sadarkan diri.
Ibu Retno memeluk tubuh Pak Aji, keduanya telah kehilangan satu putranya. Satria Esa, lantas menarik selimut sampai ke atas kepala. Namun sebelum di tutup, Satria Esa mengecup kening saudara kembarnya.
"Selamat jalan." ucap Satria Esa.
Jenazah Satria Ade, sedang di persiapkan pulang dan Satria Esa mengurus administrasinya.
Tiara yang setengah sadar, terus menangis di dalam pelukan Bunda Lidia. Tiara yang hampir, pingsan kembali bila mengingat suaminya yang telah tiada.
"Hiks.. hiks.. Kakak!" isak Tiara.
****
Para pelayat telah berdatangan, bahkan teman - temannya pun datang melayat. Inara berhambur memeluk tubuh Tiara, yang tampak begitu lemas.
"Yang kuat, yang tabah." ucap Inara.
Tiara hanya diam, tidak berkata apa - apa. Orang yang mengucapkan bela sungkawa pun, Tiara tidak memperdulikan, karena suasana hatinya yang sedang berduka.
"Bu, saya turut berduka cita." ucap teman Almarhum.
"Terima kasih, maaf ya. Tiaranya masih syok." ucap Bunda Lidia.
Tiara menatap tajam ke arah Satria Esa, yang sedang menerima tamu. Tiara lantas bangun, dan berjalan ke arah Satria Esa.
"Tiara kamu mau kemana?" tanya Inara.
Tiara mengambil sebuah gunting, yang tergeletak di meja, yang habis di gunakan untuk memotong benang, untuk karangan buah.
Jleb
Awwww
__ADS_1
Jleb
Aaaaarrrrrggghhhhh
"Tiara!" teriak Pak Aji, Pak Agus saat melihat Tiara yang menusuk lengan Satria Esa berkali-kali.
Semua berhamburan pulang, bahkan semuanya berteriak, Satria Esa merasakan sangat sakit, namun dirinya tetap berusaha untuk menahan sakit.
"Tiara apa yang kamu lakukan?" ucap Satria Esa sambil memegang lengan yang terluka.
Plaaakk
"Kurang ajar kamu! dalam berduka kamu buat keributan, bahkan jenazah suami kamu, masih belum di makamkan." ucap Ibu Retno.
"Maafkan anak Kami Bu, maafkan anak kami Esa." ucap Pak Agus.
Tiara hanya diam, seperti tidak ada perasaan bersalah, bahkan kembali pingsan. Dan dengan segera Pak Agus mengangkat tubuh Tiara, untuk di bawa ke kamarnya.
****
"Jangan pedulikan saya, lebih baik sekarang cepat di makamkan. Kasihan, almarhum." ucap Satria Esa.
"Kamu nanti menyusul ya, Ayah tunggu disana." ucap Pak Aji.
"Iya Ayah." ucap Satria Esa.
Sedangkan Tiara berada di dalam kamar, hanya bisa diam dengan tatapan mata yang kosong.
"Bunda takut Yah, takut Tiara yang dulu. Apalagi sekarang, dia sedang hamil." ucap Bunda Lidia.
"Yasudah, Ayah ke pemakaman dulu. Jaga dia, jangan buat malu keluarga." ucap Pak Aji.
Saat keluar dari kamar, Satria Esa tampak berdiri di depan kamar Tiara. Pak Agus langsung meminta, Satria Esa untuk menjauh.
"Dia kalau melihat kamu, ingin rasanya melukai. Kamu harus menghindar dari dia." ucap Pak Agus.
"Iya Pak."
****
"Bund, suami saya!" ucap Tiara.
"suami kamu, sudah di makamkan." ucap Bunda Lidia.
"Saya harus kesana Bund."
"Nggak! kamu kalau kesana, akan membuat onar lagi. Bunda tidak mau, di buat malu sama kamu, lebih baik kamu disini, kalau mau nanti saja, kalau sudah tidak ada pelayat." ucap Bunda Lidia.
"Tapi Bund, saya ini istrinya!" ucap Tiara.
"Bunda tahu, tapi kamu itu telah melukai Esa! kamu itu seperti orang tidak waras, Bunda sama Ayah malu melihat kelakuan kamu. Masih untung kamu tidak di laporkan polisi, kalau di laporkan kamu bisa di penjara."
Tiara hanya diam, tidak merasakan rasa bersalah, dan hanya menatap photo suaminya. Dengan gagah, berseragam seakan menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kak, kamu kok menatap tajam ke arah saya. Hihihi... kak, saya kangen hiks.. hiks.." ucap Tiara.
"Ya Allah Tiara." ucap Bunda Lidia.
****
"Selamat jalan nak, tunggu kami disana. Suatu saat, kita akan berkumpul lagi." ucap Ibu Retno.
"Semoga tempat terindah untuk kamu nak, dilapangkan dan di terangkan kuburnya, Doa Ayah dan Ibu, akan tetap selalu ada untuk kamu." ucap Pak Aji.
"Ade, makasih ya. Sudah menjadi sahabat dan saudara yang paling baik, kamu sekarang sudah bahagia disana. Saya janji, akan menjaga istri kamu, saya janji akan melindungi istri dan anak kamu. Kamu jangan khawatir disana, saya akan menjadi payung untuk mereka." ucap Satria Esa.
****
"Kedua mertua dan orang tua Tiara, melihat kondisi Tiara yang terus mengajak photo suaminya.
" Lebih baik, kita bawa pulang. Disini dia akan sama siapa? bagaimana juga, Tiara anak kami, tanggung jawab kami." ucap Pak Agus.
"Lebih baik begitu." ucap Ibu Retno.
Satria Esa berjalan mendekat, namun di cegah tangan oleh Pak Aji. Tapi Satria Esa tetap melangkah mendekat.
"Tiara!" panggil Satria Esa.
Tiara tetap diam, malah berbicara yang tidak jelas. Satria Esa duduk di sebelah Tiara, bahkan duduk sangat dekat.
"Kamu kenapa tidak mengajak ngobrol kakak, atau orang tua kita?" ucap Satria Esa, Tiara langsung menoleh, dan menatap tajam ke arah Satria Esa.
"Siapa kamu?" tanya Tiara, yang benar - benar tidak mengingat.
"Kamu suami saya ya?" ucap Tiara kembali.
Satria Esa tersenyum, saat mengetahui Tiara telah berubah menjadi gila. Satria Esa hanya berusaha tenang, saat jemari Tiara membelai pipi Satria Esa.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Kamu bukan suami sya." ucap Tiara, yang tiba - tiba.
"Saya memang bukan suami kamu, tapi saya Kan menjaga kamu." ucap Satria Esa.
****
Tiara memeluk pusara suaminya, isakan tangisnya tidak bisa di bendung oleh yang melihatnya.
"Kak, saya kangen. Kenapa kakak pergi, kita baru saja memulai hidup di rumah baru, tapi kakak sudah pergi selama - lamanya. Kak, saya akan selalu cinta sama kakak, selalu sayang sama kakak. Tunggu saya, tunggu saya disana." ucap Tiara.
"Rumah peristirahatan terakhir Ade, akan selalu sejuk dengan doa yang kita kirimkan. Rasa cinta yang begitu besar, banyak orang juga, yang akan mendoakan." ucap Bunda Lidia
.
.
.
__ADS_1