
Tiara diam menatap pria yang mengaku Satria Esa, kedua matanya berkaca - kaca, saat pria yang di depannya mengaku pria masa lalu yang di nyatakan meninggal dunia.
"Kamu mau buat lelucon apa, kamu pikir saya akan percaya. Tidak mudah kamu bohongi saya, karena saya itu bukan orang yang gampang di bohongi. Mana ada orang yang sudah meninggal dunia hidup lagi, mana ada yang jelas di dalam kubur itu dia. Orang tua dan saudara kembarnya, tahu kalau itu adalah Satria Esa. Dan lihat wajahnya saja berbeda, jelas kamu itu ingin menipu saya, lebih baik sekarang kamu pergi, sebelum saya teriak." ucap Tiara.
"Saya berani bersumpah di atas Al - Quran, kalau saya itu adalah Satria Esa yang telah di operasi wajahnya. Demi Allah saya itu Satria Esa bukan Firza, saya kembali untuk kamu. Saya hanya ingin kamu tahu, kalau saya masih hidup dek."
"Jangan panggil saya adek, kamu itu pura - pura menjadi Satria Esa. Sekali saya tidak percaya, tetap tidak percaya."
"Baik kalau tidak percaya, tapi saya tidak bohong."
"Pergi kamu, jangan ganggu saya lagi."
"Katakan, kalau kamu masih mencintai dia? kamu masih mencintai Satria Esa kan, katakan Davina. Saya hanya ingin tahu saja, kalau kamu masih mencintai saya."
"Maaf, silahkan kamu pergi."
"Saya pergi, saya akan terus menyakinkan kamu kalau saya itu Satria Esa."
****
Tiara langsung menghubungi Inara sahabatnya, namun teleponnya tidak di angkat. Tiara tidak mengulang panggilan teleponnya lagi, namun tidak di angkat juga.
"Kamu kemana Inara? ah.. lupa, dia pasti sedang mengajar."ucap Tiara.
Telepon Tiara berdering, Inara menghubunginya. Tiara lantas menerima telepon dari Inara.
" Inara." ucap Tiara.
"Iya ada apa? saya tadi baru selesai senam sama anak - anal."ucap Inara dari seberang.
__ADS_1
" Saya itu sedang di kerjain sama teman Kak Satria. Coba dia itu sudah meneror saya, bahkan mengaku sebagai Kak Satria Esa bahkan tahu jembatan Merah, tahu tanggal jadian. Coba apa kamu percaya? bahkan wajahnya saja berbeda, dia mau menipu dengan cara yang tidak profesional." ucap Tiara.
"Apa dia sudah menceritakan semuanya?" tanya Inara dari seberang.
"Iya dia mengatakan , kalau dia itu di operasi wajahnya, karena rusak. Dia bisa bertahan sampai sekarang itu, karena saya. Dan dia tanya, kalau saya itu masih cinta tidak. Kamu percaya dengan pria gila itu? maksudnya apa coba berani melakukan itu."
"Sebenarnya, pria itu juga datang pada saya. Dia mengatakan kalau dia itu Satria Esa, dia pun tahu nama saya, saat kita bertemu di jembatan Merah." ucap Inara menjelaskan.
"Apa! maksud kamu, dia itu benar Kak Satria?" ucap Tiara kaget.
"Saya awalnya tidak percaya, tapi di lihat dari gelagatnya memang dia tidak bohong. Hanya wajahnya saja, yang menjadi berubah."
Tiara terasa lemas tiba - tiba, ponsel yang masih tersambung terjatuh, bahkan terdengar suara Inara yang memanggilnya.
"Nggak mungkin, nggak mungkin Kak Satria masih hidup." ucap Tiara bagai tersambar petir.
****
"Alhamdulillah, terima kasih pak. Semoga bapak betah bersama Ibu, kalau begitu saya serahkan kuncinya." ucap Pak Broto.
"Saya transfer uangnya sekarang Pak, boleh minta nomer rekeningnya?" ucap Satria.
"Boleh, ini nomernya." tunjuk Pak Broto.
"Saya sudah transfer Pak, ini buktinya." tunjuk Satria.
"Ya Pak, makasih sudah masuk."
Satria bahagia, akhirnya bisa membeli rumah untuk tinggal bersama Tiara. Satria lantas bergegas pulang, untuk memberikan kabar, bahwa rumahnya sudah menjadi milik bersama.
__ADS_1
****
Satria Esa melihat dari jauh Ibu Retno, yang sedang mengobrol dengan tetangganya. Satria Esa kedua matanya berkaca - kaca, ada rasa ingin memeluk Ibu nya, namun karena kondisi dirinya yang menjadi orang lain.
"Ibu, saya ingin memeluk Ibu tapi apa daya, saya telah menjadi orang lain. Saya akan pelan - pelan, mengatakan kalau saya masih hidup." ucap Satria Esa.
Satria lantas memutar tubuhnya, dan pergi menaiki mobil. Ibu Retno tanpa sengaja menoleh ke arah mobil, yang di kemudikan oleh Satria Esa.
"Itu mobil, yang di dalamnya seperti memperhatikan saya." ucap Ibu Retno.
****
"Sayang, akhirnya rumah itu jadi milik kita." ucap Satria.
Tiara tersenyum dan langsung memeluk tubuh Satria, suaminya tidak menyadari kalau istrinya sedang di landa kegalauan.
"Kamu senang kan? kita akhirnya bisa beli rumah sendiri." ucap Satria.
"Senang kak, sangat senang." ucap Davina.
"Kita besok bersihkan rumah, biar kita cepat langsung pindah."
"Iya Kak, saya sudah tidak sabar ingin segera pindah dari rumah ini."
"Besok harus cepat bergerak, agar rumah cepat di tempati." ucap Satria.
.
.
__ADS_1