Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Tidak Ada Yang Percaya


__ADS_3

Tiara masuk kedalam rumah yang akan di tempati nya, Tiara dan dan Satria memeriksa setiap sudut ruangan dan ada yang harus harus di cat ulang.


"Kak, kamar ini cat ulang lagi ya, ganti warna." ucap Tiara.


"Ok, mau warna apa?" tanya Satria sambil merangkul pundak Tiara.


"Warna yang kalem, enak di pandang. Terus ruangannya di padu dengan wallpaper, biar terlihat elegan." jawab Tiara.


"Siap nyonya."


"Ehm.. Kak, nanti di bagian halaman belakang, kasih lampu - lampu yang bergelantungan itu, kayaknya lucu deh kayak spot di cafe - cafe gitu. " ucap Tiara memberikan usul.


"Ok, nanti kakak pasang sesuai permintaan kamu."


Tiara memeluk pinggang Satria, sebuah kecupan mendarat di bibir Tiara, yang di berikan oleh suaminya.


"Semoga kita tinggal di rumah baru, awal sebuah hubungan kita, awal baru kita membina rumah tangga, semuanya diawali dengan kertas kosong."ucap Satria.


" Semoga rumah tangga kita sakinah, Mawadah dan Warohmah." ucap Tiara.


"Amin."


****


Satria duduk menjauh dari saudara kembarnya, hanya mereka berdua yang tahu. Sedangkan Alam dan lainnya, belum tahu cerita sebenarnya.


Satria lebih memilih duduk sendiri, dari pada bergabung dengan Satria Esa yang sedang duduk bersama Anggota lain.


"Sat, sendirian aja kamu. Sini duduk sama kita, nanti kesurupan loh." ucap Husen.


"Makasih Bang, saya lagi ingin sendiri." ucap Satria.


"Nanti sore, kita tanding Volly." ucap Husen.


"Aduh Bang, maaf saya lagi punya orang yang sedang renovasi rumah."


"Rumah kontrakan kamu renovasi, rugi lah mending rumah sendiri."


"Alhamdulillah Bang, ini rumah sendiri."


"Alhamdulillah, kamu kapan pindah?" tanya Alam.


"Insya Allah kalau sudah selesai." jawab Satria.


Satria Esa melirik ke arah Satria Ade, kedua saudara kembar itu saling beradu pandang. Satria lantas bangun dari duduknya, dan di ikuti oleh Satria Esa.


"De." panggil Satria Esa.


"Ada apa?" tanya Satria.


"Kita tes DNA, kalau kamu masih tidak percaya."jawab Satria Esa.


" Kamu pikir, saya mau gitu. Dan kamu pikir, orang tua saya itu percaya. Lagian kalau memang benar kamu itu saudara kembar saya, fakta tidak akan pernah saya kasih tahu pada Tiara kalau kamu itu masih hidup, saya tidak akan membiarkan Tiara kembali sama kamu." ucap Satria .


"Tiara sudah tahu." ucap Satria Esa.

__ADS_1


"Apa! kamu sudah bertemu dengan Tiara?"


"Iya saya katakan semuanya, tapi dia tidak percaya, tapi saya akan terus berusaha agar dia percaya kalau saya masih hidup."


"Silahkan, tapi tidak akan merubah apapun, karena kami terikat oleh suatu pernikahan."


****


"Loh Kak, katanya langsung ke rumah baru kok pulang kesini?" ucap Tiara membantu melepaskan seragam yang di pakai Satria.


"Kakak ingin pulang kesini dulu." ucap Satria.


"Mau langsung makan?" ucap Tiara menawarkan.


"Nggak dek, kakak sedang tidak selera makan."


"Kakak sakit?" tanya Tiara khawatir, lantas memegang kening Satria yang tidak terasa demam.


"Tidak demam, tapi kelihatan wajahnya di tekuk begitu."ucap Tiara kembali.


"Apa pria yang mengganggu kamu itu masih?" tanya Satria.


Tiara diam, dan menundukkan kepalanya. Satria mengangkat dagu Tiara, hingga mereka saling bertatap mata.


"Kalau dia macam - macam, akan kakak beri dia pelajaran."


"Tidak kak, dia tidak melakukan itu lagi."


"Syukurlah."


"Kak, saya buatkan es teh manis ya, biar seger."


****


Ibu Retno berjalan sendiri dari warung, langkah kakinya terhenti saat merasakan ada yang mengikutinya. Ibu Retno menoleh, saat melihat kebelakang ada seorang pria yang berdiri tak jauh darinya.


Ibu Retno melanjutkan langkah kakinya, dan menoleh ke belakang lagi, pria itu tetap mengikuti hingga akhirnya berlari dan segera masuk kedalam rumah, lantas menguncinya.


"Siapa dia?" ucap Ubi Retno, mengintip dari balik gorden, pria tersebut masih tetap berdiri di depan rumahnya.


"Jangan - jangan orang jahat." ucap Ibu Retno kembali mengintip.


"Kalau benar orang jahat, berati sudah tidak aman." ucap Ibu Retno dengan jantung berdebar sangat kencang.


"Saya harus hubungi Satria."


Ibu Retno lantas mencoba menghubungi Satria, dengan tangan yang gemetar berusaha untuk bicara tenang.


"A - Assalamu'alaikum." ucap Ibu Retno memberikan salam.


"Walaikumsalam, ibu." ucap Satria.


"Nak, tolong ibu."


"Tolong apa bu?"

__ADS_1


"Ayah kamu kan sedang keluar kota, ibu ada yang mengikuti seperti orang jahat."


"Orang jahat gimana Bu?"


"Ibu juga tidak tahu, pria itu masih ada di depan rumah. Ibu takut nak, sudah Ayah kamu sedang di luar kota lagi."


"Ibu tenang, sekarang ibu photo dari dalam, wajahnya seperti apa?"


"Ya nak, nanti ibu photo."


Sedangkan di tempat lain, Satria menunggu photo kiriman dari Ibu nya, lantas sebuah pesan masuk, dan Satria membuka file gambar yang di terimanya.


Satria menghembuskan nafas dengan kasar, saat melihat photo yang di kirim oleh Ibunya, dan Satria kembali menghubungi ibunya.


"Bu."


"Kamu kenal siapa dia?"


"Saya tidak kenal, tapi saya tahu dia. Ibu tenang ya dia hanya orang gila yang mengaku - ngaku ,jangan takut. Kalau perlu ibu jangan keluar kalau dia ketuk pintu, Ibu kunci rapat - rapat." ucap Satria.


"Ya nak, makasih ya."


"Ya ibu tenang ya, sekarang ibu tutup semua pintu dan jendela."


"Ya nak, kalau gitu Ibu mau mengunci semua."


"Ya bu."


Satria lantas mencoba menghubungi Satria Esa, namun di urungkan. Satria memukul tembok, hingga tangannya memerah.


"Kapan dia sampai, tadi saya masih ketemu sama dia. Kalau benar itu Esa, lantas Tiara pergi meninggalkan saya, tidak itu tidak boleh terjadi. Walau kamu masih hidup, kamu tidak akan bisa mendapatkan Tiara.


****


Satria Esa berada di jembatan Merah bersama Inara, sambil melihat derasnya air sungai.


" Semua tidak percaya kalau saya masih hidup, semuanya telah berubah hanya karena wajah ini. Kenapa saya tidak mati saja saat itu, kenapa saya harus di berikan kesempatan kedua dengan wajah yang berbeda." ucap Satria Esa.


"Jalan satu - satunya, hanya tes DNA kak. Itu yang akan membuat mereka percaya, kakak harus lakukan itu. " ucap Inara.


"Tapi, bagaimana caranya, saya tidak bisa menyakinkan mereka, bahkan Tiara pun. Dan Ade, tidak akan mengatakan kalau saya masih hidup, karena takut Tiara akan berpaling dari dia."


"Masalah Tiara sudah saya jelaskan, tapi dia tidak percaya kak, memang karena wajah."


"Saya hanya ingin,Tiara tahu kalau saya masih hidup."


"Doa Tiara terkabul kak, dia ingin kakak masih hidup, saat doa dia terkabul, ada kisah berbeda. Kakak yang sabar ya, kakak pelan - pelan untuk mengatakan sebenarnya."


"Terima kasih, sudah mau dengar curhatan saya."


"Sama - sama kak, hanya saran jangan berharap Tiara untuk kembali, karena Tiara sudah ada yang punya. Kakak harus ikhlas, menerima kenyataan."


"Iya, makasih sarannya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2