Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Harus Ikhlas


__ADS_3

"Ayah! " ucap Satria Esa.


"Bagaimana ceritanya?" tanya Pak Aji.


"Saat itu akan ke bengkel, untuk mengganti Karburator motor, memang saat itu motor masih aman, sebelum berangkat sama Tiara di larang. Tapi dia memaksa, lalu saat di perempatan jalan, gas naik dengan sendirinya, ada truk dari arah kanan langsung menabrak Ade." ucap Satria Ade menjelaskan.


"Bagaimana dia, saat bagun kakinya di amputasi, Ayah sudah tidak sanggup membayangkan ini." ucap Pak Aji.


"Benar kata Tiara, ini salah saya." ucap Satria Esa.


"Tidak nak, ini bukan salah kamu."


Sedangkan di dalam kamar, Tiara terus memeluk tubuh Satria Ade. Tiara terus menangis, dan terus berusaha membangunkan suaminya.


"Kak, bangun kak." ucap Tiara.


"Bangun kak, jangan tidur terus." ucap Tiara kembali.


"Nak, kamu dari tadi belum makan dan minum. Kasihan anak kamu didalam perut, kamu istirahat pulang, biar Bunda sama Ibu mertua kamu menjaga disini." ucap Bunda Lidia.


"Tidak bund, saya akan tetap disini sampai Kak Ade bangun."


"Kalau ada sesuatu, nanti kami kabari."


"Tidak Bund, saya akan tetap disini."


Ibu Retno terisak, lantas Bunda Lidia menghampiri besannya. Dan mengusap lengan Ibu Retno, yang semakin terisak menangis.


"Saya takut, seperti kejadian Esa. Malah takut pergi, meninggalkan kami semua, hiks.. hiks.. hiks.. " ucap Ibu Retno terisak.


"Ade kuat, dia akan bangun."


"Kalau bangun, dia pasti kaget, karena hilang satu kakinya, hiks.. hiks... "


Bunda Lidia memeluk tubuh Ibu Retno, tubuh Satria Ade yang masih terbaring lemah, dan belum menunjukkan tanda - tanda kesadaran.


***


"Tiara! " panggil Satria Esa, saat melihat Tiara berjalan di koridor rumah sakit.


"Tiara! " panggil kembali Satria Esa.


"Tiara tunggu!" ucap Satria Esa memanggil kembali dengan menarik lengannya.


"Apa sih! " bentak Tiara.


"Kamu jangan diamkan saya seperti ini, saya itu tidak bermaksud membuat suami kamu meninggal dunia. Saya tidak bermaksud ini sengaja, ini kecelakaan." ucap Satria Esa.


"Kak! istri mana yang tidak sakit, saat tahu suaminya kecelakaan parah, karena demi motor sialan milik kakak, kalau kakak tidak ingat itu motor, mungkin sekarang saya sedang bahagia dengan dia."


"Tapi itu kan keinginannya Ade, bukan saya yang memaksa. Kamu kan tahu sendiri ceritanya, siapa yang salah dan siapa yang benar."


"Maksudnya, kakak saya benar, dan suami saya yang salah? gitu maksudnya!"


"Seandainya, saya bisa minta. Saya rela, menggantikan Ade yang sedang terbaring di sana. Agar kamu puas, dan tidak menyalahkan saya."


"Silahkan minta, semoga di kabulkan." ucap Tiara lalu melanjutkan langkahnya.


Satria Esa hanya bisa menghela nafas panjang, sambil menatap Tiara, yang terus berjalan hingga tak terlihat.

__ADS_1


***


Kedua mata Satria Ade membuka, Ibu Retno langsung mendekati putra nya yang telah siuman.


"Esa." ucap Satria Ade pelan.


"Esa, ada di luar." ucap Ibu Retno.


Tiara membuka pintu, melihat suaminya telah siuman. Dan langsung mendekat, Tiara berhambur memeluk tubuh suaminya.


"Alhamdulillah ya Allah, kak kamu telah sadar." ucap Tiara.


"Esa." ucap Satria Ade.


"Kak, ini saya Tiara." ucap Tiara.


Satria Ade, menatap ke arah Tiara. Suaminya tersenyum, namun berubah saat seperti merasakan sesuatu yang hilang, saat merasakan kaki kanannya tidak ada.


"Yank." ucap Satria Ade menangis.


"Iya kak, iya! " ucap Tiara.


Ibu Retno memanggil Satria Esa, saudara kembarnya datang mendekat. Satria Ade tersebut namun disertai menangis.


"Esa!"


"Iya De, kaki saya kenapa?" ucap pelan dan terbata.


"Saya mau menggantikan kaki kamu, kalau bisa hari ini saya serahkan kaki buat kamu." ucap Satria Esa.


"Motor kamu bagaimana?"


"Ini kecelakaan, bukan salah kamu."


Satria Esa menahan tangis, dengan memegang erat tangan saudara kembarnya.Satria Ade melirik ke arah istrinya lantas tersenyum.


"Yank, jangan sedih ya."


"Gimana tidak sedih, melihat kakak seperti ini. Hati saya sakit kak, melihat suami terbaring lemah."ucap Tiara


"Kamu jelek, kalau menangis."


Hiks..hiks.. hiks..


"Kakak! "


Ibu Retno terisak, Pak Aji datang dan langsung tersenyum saat melihat putranya tersenyum.


"Alhamdulillah nak." ucap Pak Aji.


"Ayah." ucap Satria Ade.


Satria Ade terus tersenyum, dengan wajahnya yang pucat pasi. Tiara dan Ibu Retno semakin terisak, saat Satria Ade hanya menatap ke atas.


"Kak! hiks.. hiks.. tolong jangan tidur lagi." ucap Tiara.


Satria Ade, tetap menatap kosong semuanya pun menangis. Air mata pun keluar, dari sudut kedua mata Satria Ade.


"Kak! hiks.. hiks.. "

__ADS_1


"De, jangan diam begitu De. Jangan buat kami takut." ucap Satria Esa.


"Kalau kamu sakit, bilang De! " ucap Satria Esa lagi.


"Nak, maafkan Ayah sama ibu. Kalau belum bisa membahagiakan kamu, maafkan Ayah sama ibu ya." ucap Pak Aji.


Hiks.. hiks. .


"De, maafkan Ibu nak, maafkan Ibu." ucap Ibu Retno sambil memeluk tubuh Pak Aji.


Tangan Satria Ade bergerak perlahan ke atas, Tiara lantas meraihnya, namun pasangan mata suaminya telah kosong.


tangan kirinya pun bergerak, Satria Esa meraihnya. Satria Ade menggenggam erat tangan keduanya, mulutnya seakan ingin mengucapkan sesuatu.


"Kak, ini Kak Ade mau bilang apa?" ucap Tiara.


Satria Esa lantas menekan tombol darurat, dan dokter pun datang bersama suster. Dokter memeriksa kondisi Satria Esa.


"Dokter, baru tadi tiba - tiba seperti ini."ucap Satria Esa.


" Berdoa saja Pak Bu, pasien ini sudah tidak ingat siapa - siapa. Bacakan doa, tuntun dia." ucap dokter.


"Ya Allah Ade, hiks.. hiks.. hiks..!" Ibu Retno menjerit.


Tiara semakin menangis, genggaman tangan suaminya semakin melemah, begitu pada Satria Esa. Matanya perlahan menutup, namun masih ada nafas, tapi terlihat lambat.


"Hiks.. hiks.. Kak... jangan pergi kak, hiks.. hiks.. jangan tinggalkan saya kak..!"


****


Hampir pagi, Satria Ade tertidur dan tidak lagi ada gerakan tubuhnya, Ibu Retno, Pak Aji dan Satria Esa terus mengaji. Bunda Lidia dan Pak Agus pun sama, tidak dengan Tiara, yang meminta suaminya terus untuk bangun.


"Kak, bangun." ucap Tiara.


Dokter memeriksa kondisi Satria Ade, denyut nadi yang sudah melemah, bahkan cairan infus pun sudah tidak masuk.


"Mba, harus Ikhlas ya! kasihan dengan bapak." ucap Suster.


"Ibu jangan menangis terus, ibu harus doakan bapak, biar lancar segala - galanya. Jangan sampai, menjadi beban Bapak Bu. Ibu harus ikhlas, harus menerima semuanya." ucap dokter.


"Kak, bangun kak. Baru semalam, kakak sempat ucap saya itu jelek menangis, sekarang kakak belum juga membuka mata lagi. Apa karena saya jelek, bila terus menangis. Hiks.. hiks.. ini semuanya karena kakak." ucap Tiara.


"Pak Aji, Ibu Retno Ikhlas ya." ucap Pak Agus.


"Iya, kami ikhlas. Bila Allah lebih sayang Ade, kamu ikhlas." ucap Pak Aji sambil terisak.


Satria Esa berjalan ke arah saudara kembarnya, yang terbaring. Satria Esa mengecup kening saudara kembarnya.


"Bila ada yang mengganjal, coba tunjukkan apa? kami siap memenuhinya. Ada beban apa, sampai kamu merasakan berat. Kami ikhlas kalau memang ini jalan terbaik kamu, mungkin perjalanan kamu sampai disini. Saya janji, akan menjaga Ayah dan Ibu, saya janji akan menjaga Tiara. " ucap Satria Esa.


Tiba - tiba, Satria Ade seperti menarik nafas panjang. Tiara lantas mendekatkan wajahnya, berharap kedua mata suaminya membuka.


"Dek, kamu harus iklhas ya, lepas suami kamu. Jangan kamu buat dia berat, untuk melepaskan kamu." ucap Satria Esa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2