Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Bukan Untuk Kembali


__ADS_3

Satria menunggu Tiara yang belum juga pulang, sudah hampir isya Satria menunggu di rumah. Baru saja melirik ke arah jam, Tiara pun pulang.


"Assalamu'alaikum kak." sapa Tiara mengucapkan salam.


"Walaikumsalam." balas Satria datar.


"Kak, maaf ya baru pulang. Tadi shalat maghrib di rumah Ibu RT, mau pulang tanggung pada lanjut ngobrol." ucap Tiara dengan memeluk manja.


"Besok pagi - pagi sekali kita ke rumah Ayah Bunda, kamu bawa pakaian yang banyak, karena kakak akan pergi."


Tiara melepaskan pelukannya, lantas menatap suaminya yang masih menatap lurus ke depan.


"Kok mendadak?"


"Iya, ini perintah! kamu siapkan semuanya, karena akan lama disana." ucap Satria beranjak bangun dari duduknya.


"Berapa hari kak?"


"Tidak tahu."


Tiara beranjak bangun dari duduknya, dan masuk kedalam kamar. Satria memejamkan kedua matanya, tangan nya mengepal.


"Maafkan kakak dek, ini keputusan yang berat." ucap Satria dalam hati.


****


Tiara menaruh pakaian ke dalam koper, hampir setengah lemari di masukkan kedalam koper, Satria melihat dari pintu masuk kamar.


"Dek." panggil Satria, dan membuat Tiara menghentikan kegiatannya.


"Iya kak." ucap Tiara.


Satria tiba - tiba memeluk tubuh Tiara, istrinya bingung saat suaminya tiba - tiba memeluk tubuhnya.


"Maafkan kakak."


"Kakak kenapa minta maaf? kakak tidak punya salah."


"Kalau suatu hari, kita tidak bersama lagi, lupakan kalau kita pernah bersama."


Tiara langsung melepaskan pelukannya, dengan menatap tajam ke arah suaminya. Terlihat wajah sedih, dengan mata berkaca - kaca.


"Kakak itu ngomong apa sih? aneh banget hari ini. Jangan sekali bilang seperti itu, saya tidak suka." ucap Tiara melanjutkan memasukkan pakaiannya.


Satria keluar dari kamar, untuk menjauh dari Tiara dengan memutuskan pergi menggunakan motornya.


Tiara segera membuka gorden kamarnya sedikit, melihat suaminya pergi dengan menggunakan motor.

__ADS_1


"Kak Satria mau kemana?" ucap Tiara.


***


Buuugghhhh


Buuuggghhh


"Satria stop, Satria stop." ucap Alam berusaha menjauhkan Satria dari Satria Esa.


"Kamu datang, kamu datang ingin merebut Tiara dari saya. Kamu tahu saya itu sangat mencintai dia, kenapa kamu rusak hah..!" bentak Satria.


"Firza, apa yang di katakan Satria itu benar?" tanya Alam dengan memegang kedua lengan Satria.


"Kalian memang saling mencintai, saya mengalah. Saya kembalikan dia untuk kamu, kalau kalian memang ingin bersama lagi."


"De, kamu dengar penjelasan saya dulu. Jangan langsung mengatakan hal, yang tidak benar." ucap Satria Esa.


"Alam, kamu harus tahu. Dia itu saudara kembar saya, dia itu masih hidup dengan menggunakan wajah Firza. Dia bukan Firza asli, dia Satria Esa." ucap Satria.


"Kamu bicara apa sih? saudara kembar kamu bukannya sudah meninggal dunia?" ucap Alam.


"Saya Esa, Tentara yang dinyatakan meninggal dunia saat kecelakaan, mobil masuk jurang. Makam itu bukan saya, tapi teman saya. Di kesempatan kedua ini, saya bangun dengan menjadi orang lain, tapi jati diri saya tetap Satria Esa." ucap Satria Esa.


"Kenapa bisa selama 5 tahun, kamu menjadi Firza dan memainkan kebohongan di depan banyak orang, kenapa saat Tiara telah menjadi istri saudara kembar kamu, baru datang sekarang." ucap Alam.


"Panjang untuk di ceritakan." ucap Satria Esa.


"Kami tidak melakukan apa - apa, hanya mengobrol di taman. Dan memang saat itu kami Shalat maghrib di masjid, tidak ada hal yang aneh - aneh."


"Yang jelas, saya kecewa dan sakit hati."


****


"Kak, tadi malam pulang jam berapa?" tanya Tiara saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Satria Ade hanya diam, dan Tiara lantas lebih memilih diam tidak bertanya lagi. Mobil pun di kendarai sangat kencang, hingga rasa takut menabrak di rasakan Tiara.


"Kak, kenapa sih? kalau punya masalah bilang, jangan emosi di pendam terus." ucap Tiara sedikit membentak.


Mobil berhenti mendadak hingga Tiara keningnya terbentur dashboard, bahkan hingga memerah. Satria memukul setir mobil berkali-kali, hingga membuat Tiara kaget.


Aaarrrrggghhh


Teriak Satria, Tiara sedikit takut melihat untuk pertama kali, suaminya marah di depannya. Satria lantas menoleh ke arah Tiara dengan tatapan tajam.


"Kenapa kamu bohongin kakak dek? kenapa kamu tidak jujur, kalau Firza itu Satria Esa!" bentak Satria.

__ADS_1


"Kak, sa - saya tidak maksud begitu. Tolong dengarkan penjelasan saya kak, kami tidak seperti yang kakak pikir." ucap Tiara.


"kalau kamu memang masih sayang, bilang sama kakak. Dengan kedua mata, melihat kalian pelukan, melihat kalian pegangan tangan, bahkan dia mencium kening kamu, dan kamu diam saja. Kamu masih cinta kan?ini yang kamu harapkan, dia kembali. Doa kamu terkabul, sekarang dia datang dengan penampilan yang berbeda, ternyata kamu diam - diam juga mencari tahu tentang dia. Karena kamu masih ada rasa kan? jawab...!"


"Kakak juga tahu, kenapa tidak cerita sama saya, atau sama Ayah dan Ibu. Kenapa kakak pura - pura tidak tahu, kakak takut kan? takut saya kembali sama dia.Kakak juga salah, jangan hanya menyalahkan saya terus."


"Kalau kamu tahu, seharusnya kamu cerita.Bukannya pergi pulang dengan membawa cerita bohong, dengan alasan ikut arisan. Saya sabar dari kemarin, saya pun berusaha menerima kenyataan kalau memang jodoh kita sampai disini, saya sadar kita itu saling jatuh cinta, karena terpaksa."


"Dia kembali hanya ingin memberitahu kalau itu Kak Esa, bukan untuk kembali memiliki saya kak. Memang dia bertahan untuk saya, tapi saat tahu saya ini sudah jadi istri kakak, dia sadar, tidak mungkin merebut milik saudara kembarnya." ucap Tiara.


"Jujur, kamu masih sayang kan sama dia?" tanya Satria.


"Jawab! " bentak Satria.


"Iya, saya masih sayang. Cinta pertama memang tidak bisa di lupakan, tapi itu masa lalu yang sudah saya kubur dalam - dalam."jawab Tiara.


" Tapi dia sekarang kembali, ada rasa penyesalan kan? rasa menyesal karena di pertemukan kembali di saat kamu sudah jadi milik saya. Katakan! apa itu benar?"


"Tidak ada kata menyesal, yang ada sedih."


"Saya harus melepaskan kamu, saya akan kembalikan kamu pada dia. Dari pada saya di bohongi seperti kemarin, lebih baik kita berpisah."


"Kak, kamu bicara apa kak? jangan asal ucap! jangan sampai kakak menyesal di kemudian hari, saya itu cinta sama kakak."


"Saya tahu, kamu itu lebih besar cinta sama dia, menerima saya hanya keterpaksaan, kita saja baru belajar saling mencintai, dari cara kalian pelukan, dia mencium kamu. Kalau kamu mengerti, wanita yang sudah bersuami tidak melakukan itu di depan umum, mata kepala saya melihat sendiri."


"Terus, kenapa kakak diam saja? kenapa kakak tidak menegur saat tahu, istrinya sedang pelukan sama pria lain, kenapa kak? jawab! " bentak Tiara.


"Saat itu, mulut seakan terkunci, hati sakit, ingin berteriak tapi tidak bisa. Tubuh istri sendiri di peluk pria lain, rasanya sakit. Apalagi itu mantan, mantan yang membuat kamu tidak bisa lupa. "


"Lantas, saat saya tahu kakak pernah tidur dengan Nunik, apa itu saya tidak sakit? saya anggap itu masa lalu, karena kita hidup buat ke depan, bukan hidup kembali ke belakang. Saya salah, saya minta maaf. Pelukan kami, pelukan bahagia, bukan pelukan nafsu. Lantas bukannya kakak bahagia, melihat saudara kembarnya masih hidup, ini malah kakak bagai musuh."


"Bagai musuh, karena dia masa lalu kamu."


"Stop untuk selalu katakan masa lalu, saya capek dengar masa lalu."


"Baik, saya kembalikan pada orang tua kamu, karena kita akan di ingat oleh masa lalu."


"Ok, kalau mau kakak begitu. Barangkali kakak ingin kembali pada Nunik silahkan, dia juga sudah pernah tidur sama kakak."


"Kamu kok pasrah begitu, apa karena ada niat mau kembali sama Esa?"


"Kak, saya ini perempuan. Sudah beristri, mana ada pikiran seperti itu, memangnya kakak, yang selalu langsung ambil keputusan. Buktinya, kakak tinggalkan Nunik kan?"


"Saya tinggalkan dia demi kamu Tiara! kita tidak cocok, sekarang masa lalu kamu sudah kembali, kamu pilih dia atau saya?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2