Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Musibah


__ADS_3

Tiara membawa goreng pisang, dan dua kopi hitam lantas menaruhnya, di atas meja. Kedua saudara kembar itu, sedang membetulkan motor, di hari libur.


"Ada goreng pisang, dicoba dulu mumpung masih panas sama kopinya." ucap Tiara.


"Makasih ya." ucap Satria Esa sambil meminum kopi.


"Dek, kakak minta. Tapi suapin ya! " ucap Satria Ade.


Tiara menyuapi pisang goreng, dan membantu meminum kopi. Karena tangan Satria Ade, hitam dan kotor.


"Gimana Enak?" tanya Tiara.


"Enak sayang." jawab Satria Ade.


Sedangkan Satria Esa, terus memperhatikan motornya, pura - pura tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan.


"Esa, itu mesin karburator nya di ganti, biar enak lagi."


"Jam segini toko masih buka ya?" tanya Satria Esa.


"Masih, tapi ini masih bisa di bawa jalan. Biar saya saja nanti yang bawa kesana, kalau bongkar sendiri, banyak alat yang nggak ada."Jawab Satria Ade.


"Jalan nya enak nggak?"


"Ya di buat enak saja, masih bisa jalan."


"Kak, lebih baik tukang bengkelnya saja kesini, dari pada bawa motor itu. Kalau nggak di tarik, dari pada kecelakaan." ucap Tiara.


"Nggak ini sudah jalan, dan mau di coba sampai ke bengkel motor. Hanya di perempatan depan." ucap Satria Ade.


"Tapi jalan juga pasti tersendat-sendat." ucap Satria Esa.


"Ya gitu, tapi masih layak di kendarai." ucap Satria Ade.


"Yaudah sama saya saja, barang kali mogok." ucap Satria Esa.


Satria Ade menaiki motor milik Satria Esa, yang akan di perbaiki, agar kembali seperti baru. Sedangkan Satria Esa menaiki motor milik saudara kembarnya.


"Kenapa tidak di tarik saja sih? takut blong gimana?" ucap Tiara.


"Nggak dek, tenang saja." ucap Suaminya.


"Kak Esa, lebih baik itu motor jangan di bawa, kakak beli saja dan bawa contohnya. Dari pada celaka gimana, motor itu sudah lama tidak di pakai, terus ada masalah." ucap Tiara.


"De, kata istri kamu benar." ucap Satria Esa.


"Aman tenang saja." ucap Satria Ade.


Mesin motor pun dinyalakan, Satria Ade pergi dengan motor tersebut. Lantas Satria Esa pun pergi menyusul. Motor berjalan sedang, dan Satria Esa pun jalan, namun saat sedang mengendarai motor tiba - tiba gas motor tinggi, dan membuat Satria Ade kaget.


"De, kenapa di gas De?" teriak Satria Esa.


"Nggak tahu, memang penyakitnya kan di karburatornya, ini sepertinya nyangkut sampai gas nya tinggi sendiri." teriak Satria Ade.


"Awas Ade...!!" teriak Satria Esa.


Braaaakkk


saat di perempatan jalan, tak sengaja Satria Ade, menabrak truk yang melintas, motonya terjatuh masuk ke bawah truk, hingga terseret, karena truk berkecepatan cepat.


"Ade..!! " Teriak Satria Esa, segera turun dari atas motor.

__ADS_1


Satria Ade tergeletak menelungkup, dengan darah keluar dari kepalanya, tepat di dekat ban mobil, dengan kaki terlindas.


"De..!! "


"Tolong...!" teriak Satria Esa.


Semua warga yang melihat, segera memberikan pertolongan. Berusaha mencoba mengeluarkan tubuh Satria Ade dari bawah mobil truk.


Satria Esa gemetar, saat melihat tubuh saudara kembarnya bersimbah darah bahkan dirinya merasakan trauma saat kecelakaan, masuk kedalam jurang.


"Mas, Mas saudara atau teman? Mas harus ikut ke rumah sakit." ucap salah satu warga.


Aaaaaaaaa


Teriak Satria Esa, dengan menutup kedua telinganya, dan hanya menatap kosong seolah rasa takut yang menimpa dirinya.


"Tolongin, sepertinya dia syok." ucap salah satu warna yang berada dekat, di depan Satria Esa.


"Kita cari ponsel, untuk hubungi keluarganya."


"Biar polisi saja, kita harus segera bawa ke rumah sakit."


****


"Ya Pak ada apa?" tanya Tiara, saat kedua polisi datang.


"Maaf bu, Apa benar ini rumah Pak Satria Ade?" tanya kembali Polisi.


"Benar Pak, kenapa dengan suami saya?" jawab Tiara kembali bertanya.


"Kami hanya ingin, memberikan informasi kalau suami ibu mengalami kecelakaan." jawab seorang Polisi bernama Teguh.


"Ibu Baik - baik saja kan?"


****


Tiara berlari, dan terlihat Satria Esa sedang duduk bersama satu orang Polisi. Satria Esa berdiri, dengan kedua matanya yang berkaca - kaca.


Plaaaakkk


Tiara tiba - tiba menampar pipi Satria Esa, dengan tatapan mata yang tajam, Tiara menampar kembali pipi Satria Esa.


"Gara - gara motor sialan milik kamu, kalau kamu tidak minta motor itu, suami saya tidak seperti ini. Saya bilang, untuk tidak pakai motor itu, saya bilang suruh kamu saja yang beli alat yang harus diganti. Kalau kamu mau, suaminya masih sejati walafiat." bentak Tiara.


"Maafkan Kakak dek, dari awal juga kakak yang meminta, tapi dia tidak mau."


"Kamu paksa! jangan diam saja. Dan sekarang seperti ini, kamu bisa apa!" teriak Tiara.


"Bu sabar ya! ucap seorang Polisi.


" Suami ibu sedang ditangani." ucap Polisi lagi.


Dokter keluar dari ruang operasi, dan Tiara segera mendekati dokter, dengan raut wajahnya yang serius.


"Bagaimana kondisi suami saya?" tanya Tiara.


"Kami butuh banyak darah, golongan darah A. Dan kaki suami ibu, parah tulang, menjadi dua. Dan harus di amputasi."


Tiara semakin terisak, tubuhnya merosot ke bawah, Satria Esa segera memegang tubuh Tiara, namun menyingkirkan tangan Satria Esa.


Hiks.. hiks..

__ADS_1


"Ya Allah, cobaan apa lagi!" teriak Tiara.


"Kita harus segera dapatkan donor darah." ucap dokter.


"Saya golongan darah A, ambil darah saya saja." ucap Satria Esa.


"Baik, Bapak segera di cek dulu ya."


"Baik dok, Tiara saya akan bertanggung jawab, mendonorkan darah saya, untuk suami kamu."


****


Tubuh Satria Ade, masih terbaring di atas tempat tidur, ruang operasi. dokter dan suster sibuk, menangani Satria Ade yang kondisinya semakin menurun.


"Dok detak jantung semakin melemah, dan darah masih tetap keluar banyak." ucap salah satu perawat.


"Sumbat, agar tidak banyak keluar." perintah dokter.


Sedangkan di luar, Satria Ade terus berdoa dalam hatinya, sudah 3 jam lebih saudara kembar nya belum juga keluar.


"Ya Allah selamatkan saudara kembar saya, dia itu calon ayah, dia belum merasakan bahagianya menggendong bayi mungilnya." ucap Satria Esa dalam hatinya.


Ibu Retno, Pak Aji dan kedua orang tua Tiara pun datang. Tiara langsung memeluk tubuh Bundanya.


Hiks.. hiks..


"Bunda Kak Satria Bunda, hiks.. hiks.. " isak Tiara.


Pintu kamar operasi di buka, brankar yang membawa Satria Ade, yang di dorong oleh dua orang perawat berjalan ke arah kamar rawat, yang sudah di sediakan.


"Ya Allah itu Ade kenapa bisa begitu?" tanya Ibu Retno dengan terisak.


"Maafkan Esa Bu, ini salah Esa." jawab Satria Esa.


"Ya Allah Ade, hiks.. hiks.. "


****


"Kalau pasien sadar, tolong pelan - pelan untuk memberitahu kalau kaki mananya, di amputasi." ucap suster.


"Apa sus? amputasi!" ucap Pak Aji kaget.


"Benar Pak, karena ini bisa membuat pasien syok." ucap suster.


"Ya Allah Ade, hiks.. hiks.. " isak Ibu Retno.


Tiara menatap tajam ke arah Satria Esa, seolah menyalahkan saudara kembarnya. Satria Esa yang paham, segera pergi menjauh dan keluar dari kamar.


"Saya tidak akan maafkan dia! " ucap Tiara sambil menunjuk ke arah Satria Esa.


"Tiara, kamu tidak boleh begitu. Ini kecelakaan nak, Esa tidak salah." ucap Bunda Lidia.


"Kalau bukan karena motor sialan milik dia, suami saya masih sehat walafiat, semuanya karena Esa!" ucap Tiara.


"Tiara! cukup kamu salahkan anak saya. Ini semua kecelakaan."bentak Ibu Retno.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2