
"Anak - anak, ini gambar apa?" tunjuk Tiara pada siswa siswi murid Taman kanak-kanak.
"Macam." ucap mereka serentak.
"Kalau yang ada belalainya apa?" tanya Tiara.
"Gajah." jawab mereka lagi.
"Kalau yang lehernya panjang apa anak - anak?"
"Jerapah Bu."
"Pintar, sekarang kalian menggambar hewan. Gambarnya bebas ya, mau hewan apa saja. Boleh burung, boleh ikan apa saja. Yang penting hewan."
"Ibu boleh tidak gambar tuan crab?" tanya salah satu, murid laki - laki.
"Ada tahu? tuan crab itu hewan apa?" tanya kembali Tiara.
"Hayo ada yang tahu tidak, hewan apa?" ucap Tiara.
"Kepiting." ucap salah satu murid perempuan.
"Iya pintar, kepiting."
"Ibu Spongebob juga hewan laut ya?" ucap salah satu, murid laki - laki lainnya.
"Eh bukan, itu spon atau busa. Bukan hewan laut ya, awas Spongebob itu spon atau busa." ucap Tiara.
"Tapi kenapa berteman dengan hewan laut bu? terus bisa bicara." celetuk murid perempuan.
"Itu hanya ada di cerita atau film ya nak, sekarang mulai gambarnya." ucap Tiara.
Tiara memperhatikan satu persatu anak muridnya, yang sedang menggambar. Kadang membantu, kadang ada saja ulah anak - anak yang berebut pensil warna, atau memanggilnya untuk membantu menghapus gambar yang salah.
"Bu Tiara, ada paket." ucap Anah, salah satu guru Tk kelas B, yang kebetulan sedang mengajar di luar kelas.
"Paket dari siapa?" tanya Tiara.
"Nggak tahu, kurir nya ada di depan pintu gerbang." jawab Anah.
"Anak - anak, jangan ribut ya. Kerjakan yang rapih, kalau sudah selesai taruh di meja ibu." ucap Tiara.
"Iya Ibu." ucap mereka.
Tiara berjalan ke arah kurir tersebut, dan saat sampai Tiara melihat Alam, yang mengantarkan titipan dari Satria.
"Kak Alam, ini kan bukan tanggal 16 februari." ucap Tiara.
"Makannya saya kasih kamu kesini, saya kebetulan, mau ada urusan di sini." ucap Alam.
__ADS_1
"Dia bawakan apa lagi kak?" tanya Tiara.
"Dia bawakan kamu entah lah." jawab Alam.
"Sebenarnya, dia tugas di mana sih? kalau Kak Alam, sering datang kesini. Kenapa dia tidak bisa, padahal saya itu ingin orangnya. Kita sebentar lagi akan menikah, apa nanti saat menikah dia tidak datang lagi, dan hanya lewat telepon."
"Saya tidak bisa menjelaskan, karena saya hanya di suruh untuk memberikan ini sama kamu."
"Sekali lagi saya ucapkan makasih, maaf merepotkan."
"Iya tidak apa - apa."
****
Tiara memutuskan untuk ke rumah Satria, perjalanan selama 2 jam, Tiara tempuh dengan menggunakan motornya.
Sepulang mengajar, Tiara ingin mendatangi rumah Satria. Ada rasa yang ingin di ungkapan, rasa yang sudah tidak bisa lagi di tahan.
Tiara sampai di rumah Satria, rumah terlihat sepi pintu dan jendela tertutup. Tiara mencoba mengetuk pintu rumah itu, namun tidak ada yang membukanya.
"Mba cari keluarga Pak Aji ya?" tanya seorang warga yang melintas.
"Iya Bu, mereka ada nggak ya?" tanya Tiara kembali.
"Sepertinya rumah ini mau di jual mba, soalnya kemarin di tawarkan ke orang - orang. Di jual murah, saya juga tidak tahu kenapa di jual." jawabnya.
"Makasih Bu."
"Assalamu'alaikum nak." ucap Ibu Retno dari seberang.
"Walaikumsalam, ibu saya di rumah ibu. Katanya pindah, ibu pindah kemana? Tiara kok tidak di kasih tahu, Tiara sekarang ingin bertemu sama ibu." ucap Tiara.
"Maaf nak, kami pindah ke luar kota. Kami beli rumah disini, maafkan Ibu. Nanti ibu kirim alamatnya, sekarang kamu pulang ya."
"Iya bu, saya tunggu alamat barunya." ucap Tiara.
Tak lama sebuah pesan masuk, tertulis sebuah alamat rumah, yang berada di kota T, yang jauh dari kota Z. Tiara memutuskan untuk pergi kesana, walau hari sudah memasuki waktu Ashar.
****
"Ayah, Tiara mana ya? kok belum juga pulang." ucap Bunda Lidia panik.
"Mungkin main bund, Bunda tunggu saja." ucap Pak Agus.
"Tapi tidak pernah dia tidak kasih kabar begini."
"Coba hubungi ponselnya."
Bunda Lidia mencoba menghubungi Tiara, namun Tiara tidak mengangkat teleponnya. Hingga Bunda Lidia mencoba menghubunginya lagi.
__ADS_1
"Tidak di angkat Ayah." ucap Bunda Lidia.
****
Tiara telah sampai, di alamat rumah yang di beritahu oleh calon ibu mertuanya. Tiara pun langsung berjalan masuk, ke halaman rumah yang begitu luas.
Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum." ucap Tiara.
"Walaikumsalam." balas dari dalam.
Ceklek
"Tiara!! kamu datang kesini? ini kan jauh." ucap Ibu Retno kaget.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Ibu, Ayah , Wahyu entah saya kangen saja sama keluarga kalian." ucap Tiara.
"Masuk nak, orang tua kamu sudah tahu kesini?" tanya Ibu Retno.
"Tidak Bu, saya hanya ingin mengeluarkan unek - unek saya." ucap Tiara sambil terisak.
"Unek - unek apa?" tanya Ibu Retno.
"Saya itu rindu sama Kak Satria, 5 tahun berharap orangnya yang datang tapi hanya barang yang datang. Saya tidak butuh itu Bu, walau kita sering komunikasi, saya ingin bertemu orangnya." jawab Tiara.
"Kamu sabar ya, tunggu saat Satria bisa bertemu kamu." ucap Ibu Retno.
"Ada apa Bu dengan Kak Satria? apa ada yang di sembunyikan?"
"Tidak ada nak, tidak ada yang di sembunyikan."
"Lantas, kalau tidak ada kenapa? saya itu menjalani hubungan seperti di permainkan, dan saya merasakan kalau saya ini, menjalani hubungan bukan sama Kak Satria yang saya kenal. Seperti hambar saja, jujur Bu saya capek."
"Maafkan Satria ya nak, maafkan anak Ibu sama Ayah. Tapi pernikahan kalian tetap sesuai rencana, namanya juga hubungan jarak jauh, ya begini. Ini itu suatu ujian buat kamu, harus kuat, harus bisa nahan emosi."
"Sabar Bu, saya sabar. Sabar menahan rindu, sabar mendengar janji - janji manis dia. Sekarang masih ada di kota , yang pernah bilang ke saya atau dimana entah. Tidak pernah mau mengatakan pada saya. Disitu saya mulai tidak nyaman, dan disitu saya mulai merasakan ganjal. Lima tahun, saya itu merasakan seperti ini." ucap Tiara.
"Lantas, kamu mau gimana dengan hubungan yang kamu jalani?"
"Saya ingin tahu, keluar dari mulut dia. Mau bagaimana ke depannya, mau lanjut atau tidak. Itu saja, saya capek Bu harus di PHP sama dia."
"Satria tidak PHP, hanya waktunya saja dia tidak bisa bertemu sama kamu.Dari lewat telepon juga, dia sudah berusaha setiap hari menghubungi kamu."
"Saya ingin bertemu dengan orangnya Bu, kalau dia sempat pulang ke rumah orang tuanya. Kenapa sama saya tidak sempat Bu, itu yang membuat saya mengganjal di hati. Apa Kak Satria punya wanita lain disana, saya kan tidak tahu." ucap Tiara.
"Tidak, Satria tidak memiliki wanita lain." ucap Ibu Retno.
.
__ADS_1
.