
Tiara masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, sedangkan Satria mengunci pagar rumahnya. Satria pun lantas masuk kedalam rumah, dan mengunci pintu rumahnya.
"Kak, mau tidur dimana?" tanya Tiara.
"Tidur dimana saja." jawab Satria dengan membuka jaketnya.
"Tidur di kamar ini saja." ucap Tiara.
"Memang boleh?" tanya Satria.
"Boleh lah kak, kan ini kamar kakak." jawab Tiara.
Satria tersenyum, lantas masuk kedalam kamar bersama. Satria langsung membaringkan tubuhnya, sedangkan Tiara membuka ikatan rambutnya.
"Dek, kalau kamu bete di rumah nggak ada kakak. Kamu boleh main, kamu harus kenal sama tetangga sekitar." ucap Satria.
"Iya Kak, saya juga belum kenal mereka." ucap Tiara sambil naik ke atas tempat tidur.
"Dek, kamu tahu kan kita ini sudah menikah. Apa kita akan seperti ini terus? pernikahan kita datar - datar saja."
"Kakak maunya gimana?" ucap Tiara sambil menoleh ke arah Satria.
"Kalau kita, pacaran dulu gimana? saling mengenal lagi." ucap Satria.
Tiara hanya diam, sedangkan Satria menunggu jawaban dari Tiara. Lantas Tiara memutar kesamping, menghadap ke arah Satria.
"Kita pacaran." ucap Tiara sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Satria pun mengulurkan jari kelingkingnya juga, dan menautkan pada kelingking Tiara. Keduanya saling tersenyum, dan Satria menautkan keningnya pada kening Tiara.
"Kita pacaran setelah menikah." ucap Satria.
"Iya, kita mengenal dulu satu sama lain." ucap Tiara.
****
"Kak, sarapan dulu. Nanti keburu dingin loh, atau saya bawakan saja sarapan di sana?" ucap Tiara.
"Makan disini saja dek, nanti kalau disana nggak enak. Dingin lagi, enak di rumah."ucap Satria.
" Kayak jauh saja, hanya 5 menit ke tempat dinas." celetuk Tiara.
"Kakak mau makan sama kamu, kalau boleh suapin ya." ucap Satria sambil menaik turunkan alis nya.
"Ih.. manja banget, yaudah nanti tak ambilkan sarapannya." ucap Tiara sambil menuangkan nasi ke atas piring.
"Dek, kalau kakak naik piket nggak apa - apa kan kalau nanti tidur sendirian?"
"Nggak apa - apa kak, nggak akan takut." ucap Tiara sambil menyuapi Satria.
"Duduk sini." ucap Satria sambil menepuk pahanya.
Tiara lantas duduk di paha Satria, sedangkan tangan Satria memegang pinggang Tiara. Tangan Satria yang ada di pinggangnya, tidak membuat Tiara risih dan tetap menyuapi Satria.
"Makan lagi kak, biar nggak pingsan." ucap Tiara sambil menyuapi Satria.
"Sembarangan pingsan, ya nggak lah." ucap Satria sambil mengunyah.
***
__ADS_1
"Hati - hati kak." ucap Tiara.
Satria mengecup kening Tiara, dan Tiara mencium punggung tangan suaminya. Satria pun berangkat, dengan mengendarai motornya.
"Pagi bu." sapa Tiara saat ada ibu - ibu sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
"Pagi juga mba." ucap salah satu ibu - ibu.
"Eh kok beda ya, sama yang kemarin." ucap salah satu ibu - ibu.
"Iya ya, padahal itu perempuan sering menginap disini. Kadang lakinya kagak ada, itu perempuan di situ aja." ucap Ibu satunya lagi.
Tiara mendengar percakapan ibu - ibu tersebut, lantas masuk kedalam rumah. Tiara menutup rapat pintu rumahnya, dan berjalan ke arah dapur untuk melanjutkan pekerjaan rumah.
***
"Jadi Tiara sudah menerima kamu?" tanya Alam.
"Iya tadi malam, kita putuskan untuk pacaran dan lebih mengenal lagi." jawab Satria.
"Alhamdulillah kalau begitu, berarti dia sedikit demi sedikit menerima takdir." ucap Alam.
"Semoga pernikahan kami bisa awet Alam, sesuai janji saya untuk melanjutkan perjuangan Esa."
****
Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." balas Tiara, sambil berjalan ke arah pintu depan.
"Ibu - ibu, maaf ada apa ya?" ucap Tiara ramah.
"Mba, kenalkan saya. Nama saya Ibu Firda, Ibu RT disini." ucap nya sambil bersalaman
"Tiara." balas Tiara sambil bersalaman.
"Saya Nola." ucap Ibu satunya lagi sambil bersalaman.
"Tiara."
"Saya Lufi." ucap Ibu satunya lagi.
"Tiara." ucap Tiara.
"Mari masuk Ibu - ibu." ajak Tiara.
"Kami juga mendengar kalau Mas Satria itu menikah, kebetulan rumah ini milik saya." ucap Ibu Firda.
"Oh punya Ibu, maaf saya itu belum sempat berkenalan. Suami saya juga semalam bicara begitu, eh Ibu - ibu sudah datang kesini duluan." ucap Tiara.
"Nggak apa - apa, santai saja." ucap Ibu Nola.
"Kalau begitu, saya buatkan minuman dulu." ucap Tiara.
"Jangan nggak usah, kami hanya ingin bersilahturahmi dan memastikan saja." ucap Ibu Firda.
"Memastikan apa ya bu?" tanya Tiara penasaran.
__ADS_1
"Maaf ya mba, kalau kami lancang. Kami kira, Mas Satria itu nikahnya sama Mba Nunik. Eh ternyata bukan, makannya kami kesini. Soalnya kami juga sama mba Nunik itu sudah akrab." ucap Ibu Lufi.
"Bukanya suami saya baru, tinggal disini?" ucap Tiara.
"Rumah ini sudah di kontrak lama, sejak mba Nunik kerja di bank cabang sini. Waktu itu Mas Satria tugasnya jauh, paling sebulan sekali, aslinya Mas Satria yang kontrakin ini rumah, giliran Mas Satria pindah kesini eh Mba Nunik juga di pindahkan ke Bank cabang kota lain." ucap Ibu Firda menjelaskan.
"Namanya juga jodoh bu, kita tidak ada yang tahu. Pacaran lama, tapi akhirnya nikah sama yang lain. Ya begitulah kami, sama - sama pacaran lama, malah mereka yang menjaga jodoh orang." ucap Tiara dengan santai.
"Mba Tiara yang betah - betah ya, semoga pernikahan nya selalu Samawa dan cepat di berikan momongan." ucap Ibu Nola.
"Amin."
***
"Assalamu'alaikum." ucap Satria memberikan salam.
"Walaikumsalam." balas Tiara, dengan mencium punggung tangan Satria.
"Dek, masak apa?" tanya Satria sambil melepaskan seragamnya.
"Masak sayur asem, tempe goreng, ikan asin sama sambal." jawab Tiara dengan wajah datar.
"Enak dong, suapin lagi dong Yank." ucap Satria.
"Iya." ucap Tiara.
"Dek, ATM nanti kamu yang pegang ya. Kakak nanti minta seperlunya saja sama kamu, kalau kakak habis baru nanti minta." ucap Satria.
"Kakak punya tabungan lain?" tanya Tiara.
"Tidak ada Dek, tidak punya lagi." jawab Satria.
"Apa kakak, pernah mengeluarkan uang untuk seseorang selain saya?"
"Ya kalau itu sih pernah, kan sama Nunik dulu Kakak yang jamin."
"Bukanya, dia juga kerja ya?"
"Iya, tapi kan Kakak sama dia memang sudah dekat banget terus niat nikah."
"Apa hubungan kakak seperti layaknya suami istri?" ucap Tiara.
"Kamu bicara apa sih?" ucap Satria.
Tiara meletakkan piring di atas meja makan, pantas duduk di depan suaminya yang masih menatap bingung.
"Berapa kali kakak melakukan dengan dia?" ucap Tiara.
"Kakak nggak mengerti deh, kamu bicara apa. Kakak lapar, kamu suapin."ucap Satria.
" Saya hanya ingin tanya, kalau memang iya nggak apa - apa, karena kita menikah saja terpaksa."
"Dek, kakak nggak mengerti. Kamu bicara apa? kalau ngomong itu yang jelas maksudnya apa, jangan bikin kakak tambah bingung." ucap Satria.
.
.
.
__ADS_1