
"Kamu bisa nggak, sopan dikit bicara sama orang? kamu itu di kenal banyak orang, tapi tingkah laku kamu itu kayak hewan." ucap Satria.
"Oh iya, berarti kalau saya seperti hewan, kamu juga tidak jauh seperti setan." ucap Firza.
"Saya itu baru kenal kamu disini, dan saya tidak memiliki masalah dengan kamu."ucap Satria menarik kerah seragam Firza.
" Sebenarnya apa mau kamu?" tanya Satria.
Firza menurunkan tangan Satria, dan membalas menarik kerah seragam Satria, dengan mata yang melotot tajam.
"Kamu lihat kedua mata ini, kamu lihat baik - baik. Kamu perhatikan gaya tubuh ini, kamu perhatikan baik-baik." ucap Firza.
Satria menatap kedua mata Firza, mata berwarna cokelat. Satria kembali menurunkan tangan Firza, dari kerah seragamnya.
"Ada apa dengan mata warna cokelat? saya tidak paham." ucap Satria.
"Kamu tidak mengenali saya?" tanya Firza.
"Tidak, saya tidak kenal kamu. Apa kamu orang yang pernah saya sakiti, atau orang yang saya kenal tapi saya lupa?" ucap Satria.
"Kecelakaan itu merubah semuanya." ucap Firza.
Satria menoleh dan menatap ke arah Firza, kedua nya saling bertatapan. Satria menatap Firza dari ujung rambut, hingga untung kaki.
"Saya makin tidak mengerti, lama - lama saya bisa gila meladeni pria seperti kamu." ucap Satria pergi meninggalkan Firza.
"De, saya Esa." ucap Firza sehingga membuat Satria menoleh.
Hahahahhaha...
Satria tertawa saat mendengar ucapan Firza, sehingga membuat perut Satria sakit karena tertawa.
"Kamu bilang apa? kamu bilang Esa! bicara sama anak kecil, kamu pikir lucu."
"Saya Esa De, yang di nyatakan meninggal dunia 6 tahun yang lalu. Saya Satria Esa Ade Tama, yang kecelakaan masuk jurang."
"Siapa yang bayar kamu? katakan pada orang yang menyuruh kamu, mau penjara atau mau pukulan telak."
"Saya itu Esa, wajah saya di operasi plastik, dan kita kembar tapi memiliki mata yang berbeda saya itu cokelat."
"Sudahlah, jangan ngaco. Saya masih sabar dengan kamu, sekali lagi kamu berulah dan mengganggu istri saya, urusannya nyawa." ucap Satria lantas pergi meninggalkan Firza.
***
__ADS_1
"Kak Firza." ucap Inara.
"Kamu panggil saya Satria atau Esa, saya itu bukan Firza. " ucap nya langsung masuk ke dalam rumah Inara.
"Ade tidak percaya kalau saya ini adalah kembarannya, saya harus katakan bagaimana lagi, Ade saja tidak percaya apalagi Tiara."
"Kak, jujur ya saya juga ini antara percaya tidak percaya. Buktinya kuburannya ada, bukti seragam yang di pakai sama jenazahnya juga ada. Jadi ya jelas, kakak ini bohong. Saya sih, ikuti alur kakak saja."
"Saya itu kecelakaan, dengan wajah 100 persen rusak. Mobil masuk jurang, dan semua meninggal dunia. Saat kejadian malam hari, hanya ada dia yang saat itu melihat mobil kami masuk ke jurang.
Dia turun, dan menemukan saya masih hidup. Disaat seperti itu, dokter gila itu menukar nama saya dengan nama teman saya, dan barang - barang milik almarhum dia bakar. Dia operasi wajah saya, seperti wajah anaknya. Anaknya bernama Firza, kamu pasti tahu kan selebgram Abdi negara itu, di ketahui kan sakit, di bawa ke luar negeri. Meninggal dunia disana, tapi dokter gila itu tidak mau menerima kenyataan kalau anaknya meninggal dunia, dia tidak melaporkan meninggalnya Firza dan di makamkan di luar negeri, tiga hari tepat meninggal anaknya dia menemukan saya. Dari situ awal cerita di mulai, saya sadar siapa saya tapi dia mengancam akan membunuh saya, dan saya berharap masih bisa bersama Tiara, tapi kenyataannya Tiara menikah dengan Ade." ucapnya.
"Tiara sangat mencintai kakak, dia sempat tidak mau menerima kenyataan. Dan saudara kembar kakak, terpaksa mengikuti sandiwara orang tua kakak, untuk berpura-pura jadi kakak. Padahal saat itu, Kak Satria tidak mencintai Tiara, hanya Nunik yang dia sayang. Tapi berjalannya waktu mereka saling mencintai, dan Tiara menerima takdir."
"Saya berusaha bertahan, demi Tiara. Saya selama 5 tahun berpikir bagaimana saya bisa lepas dari nama Firza, tahun kemarin dokter itu meninggal dunia, disini saya memulai untuk kembali menjadi Satria Esa, saya berusaha meminta pindah di kesatuan yang sama dengan Satria Ade, ingin lewat dia saya perlahan kalau saya masih hidup. Tapi ternyata saat tahu, dia menikah dengan Tiara."
"Terus saya harus bantu apa? Tiara juga pasti tidak akan percaya, jangankan Tiara saya juga tidak."
"Saya hanya ingin mengatakan kalau saya masih hidup."
"Tapi dia sudah jadi istri saudara kembar kakak, dan orang tua kakak juga pasti tidak percaya."
"Tolong bantu saya, hanya kamu yang saya bisa andalkan."
****
"Nggak melamun kok, sedang lihat bulan saja yang tertutup awan mendung." jawab Satria dengan mengecup bibir Tiara.
"Masalah rumah gimana?" tanya Tiara sambil memainkan dagu Satria.
"Kakak lupa, besok ya." jawab Satria.
"Jangan sampai nanti keburu di ambil orang, saya suka loh kak sama rumahnya."
"Iya, tenang saja. Kalau ada yang mau beli, kakak akan kasih harga tinggi."
"Cukup uangnya?"
"Ya cukuplah masa tidak cukup."
"Kak, mau pijat plus - plus nggak?"
"Aduh iya nih, tubuh kakak merasa capek sekali. Pijat dong, full body."
__ADS_1
"Boleh, tapi main cantik ya."
"Ok sayang."
****
Satria Esa menatap rumah yang di tinggali Tiara dan Satria Ade, rasa sedih dan hati menangis yang kini dirasakan nya. Satria Esa, lantas pergi dari depan rumah mereka, sebelum pergi Satria Esa menoleh kembali ke rumah tersebut.
"Tiara, kamu bahagia dengan dia. Sedangkan saya, bertahan demi kamu."
****
"Dek, kakak berangkat dinas dulu ya." ucap Satria pamit.
"Hati - hati." ucap Tiara dengan mencium punggung tangan Satria.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Tiara lanjut menyiram tanaman setelah Satria pergi, menyiram berbagai tanaman bunga. Satria Esa datang menemui Tiara, yang belum sadar kalau di belakangnya ada seseorang.
"Tiara." panggilnya.
Tiara menoleh, dan terkejut saat melihat pria yang membuat merasa hidupnya tidak nyaman kini ada di depannya.
"Mau apa kamu? saya akan teriak." ucap Tiara.
"Saya hanya ingin lihat kamu, walau satu menit." ucapnya.
"Pergi kamu, saya akan laporkan kamu pada suami saya, dan saya akan laporkan pada atasan kamu."
"Tiara, apa kamu sudah melupakan cinta pertama kamu? apa kamu tidak ingin sebuah keajaiban itu datang. Bukannya kamu itu, dulu ingin saya hidup lagi."
"Kamu gila ya, seharusnya Tentara seperti kamu itu, sudah di non aktifkan. Bukan berkeliaran, mengganggu istri orang."
"Saya Satria, pacar kamu yang dinyatakan meninggal dunia. Jembatan Merah menjadi saksi bisu cinta kita, 16 februari kita jadian, dan tanggal 16 februari itu hari spesial buat kita."
.
.
.
__ADS_1