
Kak, sudah matang nih. Kita makan malam, katanya mau di buatkan Tumis Buncis sama Goreng Tempe." ucap Tiara.
Satria datang melihat di atas meja makan, sudah tersedia lauk yang dirinya minta. Tiara mengambilkan makan malam untuk Satria, dengan lauk yang di minta.
"Terima kasih." ucap Satria.
"Sama - sama."ucap Tiara sambil tersenyum.
" Ehm... ini enak banget, kamu pintar masak juga." puji Satria.
"Masa kak? saya itu jarang masak di rumah. Malah yang sering masak itu Bunda loh, saya tinggal makan." ucap Tiara.
"Benar loh, sumpah enak."
Tiara tersenyum sambil makan, saat Satria terus memuji masakan buatannya, hingga Satria meminta tambah.
***
"Biar kak, saya saja yang cuci piringnya, kakak kalau mau santai, tinggal santai saja. Ini pekerjaan saya, jadi saya yang akan kerjakan." ucap Tiara meminta Satria untuk tidak membantunya.
"Nggak apa - apa, biar meringankan pekerjaan kamu." ucap Satria.
"Jangan kak, biar saja."
"Yasudah kalau kamu memaksa gitu, kakak mau santai di teras depan rumah." ucap Satria sambil melangkah kan kakinya.
Tiara mencuci piring bekas makan malam keduanya, lanjut setelah mencuci piring Tiara mengelap meja makan.
Sudah 30 menit Satria duduk di teras depan rumah, tidak melihat Tiara menyusulnya duduk di depan. Satria melongok kan kepalanya, melihat Tiara sedang menyapu lantai. Lantas Satria berdiri, dan berjalan masuk.
"Dek, kamu kok bersih - bersih terus. Sudah dong, ini kak sudah malam. Lanjut besok, sekarang taruh sapunya." ucap Satria.
"Tidak apa - apa kak, saya lihatnya nggak enak saja kalau lantai kotor, terus lihat makasih, sofa berdebu."
"Iya, tapi ada besok pagi. Sekarang waktunya santai, kamu Kakak nikahi itu bukan untuk menjadi pembantu rumah tangga."
"Nggak apa - apa kak, saya dari pada bete."
Satria lantas mengambil sapu di tangan Tiara, dan melempar sapu tersebut. Satria menatap tajam ke arah istrinya, sedangkan Tiara hanya diam.
"Kamu bilang bete, kamu nggak kerasa tingga disini?" ucap Satria.
"Bu - bukan gitu kak, saya hanya ingin cari kegiatan saja." ucap Tiara menjelaskan.
"Kamu kan bisa nonton TV, main handphone, kalau kamu tidak mau mengobrol dengan saya. Jangan terus melakukan pekerjaan rumah tangga, Kakak tidak suka dek, kamu tidak ada diem nya."
"Maafkan saya kak."
"Apa kamu belum terbiasa?"
"Maafkan saya kak, saya canggung."
Satria tersenyum lantas memegang kedua tangan Tiara, yang terus menundukkan kepalanya.
"Kenapa canggung?"
"Karena kakak bukan cinta pertama saya." ucap Tiara, Satria kembali melepaskan tangan yang memegang tangannya.
__ADS_1
"Waktu kemarin - kemarin kan, kamu biasa saja. Sekarang kamu kok bilangnya begitu, tiba - tiba canggung."
"Kan kemarin itu saya belum tahu ceritanya, dan saat sudah tahu, kita kan nggak bertemu setiap hari. Sekarang kita satu atap, saya canggung."
"Kamu harus terbiasa, karena kita seperti ini tidak sehari dua hari, tapi selamanya."
"Apa kakak sudah mulai ada rasa?" tanya Tiara dengan mengangkat wajahnya.
"Sudah, kalau kamu?" jawab Satria kembali bertanya.
"Saya, saya... " ucap Tiara terpotong.
"Jangan di jawab lagi, kakak sudah tahu jawaban kamu dek." ucap Satria pergi meninggalkan Tiara yang masih berdiri tidak bergerak.
"Saya masih belum ada rasa." ucap Tiara, membuat Satria menghentikan langkahnya, lantas melanjutkan kembali langkah kakinya.
Tiara menoleh ke belakang, terlihat Satria masuk kedalam kamar satunya lagi, lantas menutup pintu kamar dengan rapat.
"Maafkan saya kak." ucap Tiara.
****
Di dalam kamar, Tiara masih tetap terjaga. Dirinya tidak bisa tidur, Tiara pun duduk di atas tempat tidur, melihat jam sudah pukul 12 malam.
"Kok nggak bisa tidur ya, padahal sudah jam 12 malam."ucap Tiara.
Tiara lantas bangun dan keluar dari kamarnya, melihat kamar sebelah yang di tempati Satria, tertutup rapat. Tiara pun akhirnya memutuskan untuk menyalakan televisi, dan mengambil cemilan yang ada di dalam kulkas.
Tiara fokus melihat tayangan acara TV, namun fokusnya teralih karena mendengar suara pintu kamar terbuka.
" Mau keluar, cari makan. Kakak nggak bisa tidur, kamu kenapa belum tidur?" jawab Satria kembali bertanya.
"Saya nggak bisa tidur kak." ucap Tiara.
"Oh."ucap Satria melanjutkan langkah kakinya.
Tiara menatap Satria hingga pintu depan terbuka, tiba - tiba Tiara meneteskan air mata dengan lanjut memakan cemilan yang ada di toples nya.
Hiks.. hiks.. hiks..
Tiara menangis sambil memakan cemilan, hingga tak sadar Satria berdiri di belakangnya. Satria memeluk Tiara dari belakang, Tiara pun kaget dan langsung mengusap air matanya.
"Kakak! " ucap Tiara.
"Maafkan kakak ya, kalau kakak menyakiti kamu." ucap Satria.
"Nggak kak, kakak tidak salah."
"Tapi kamu kenapa menangis?"
"Mata saya perih kak, jadi saya nangis."
Satria tersenyum dengan mengecup pucuk kepala Tiara, dan beralih duduk di sampingnya. Satria mengusap kedua mata Tiara, yang terkena air mata.
"Kamu nggak bisa tidur kenapa?" tanya Satria dengan jarak dekat antara wajah keduanya.
"Saya tidak tahu kak, kalau kakak sendiri?" jawab Tiara kembali bertanya.
__ADS_1
"Sama kakak juga tidak tahu, kamu kalau tidak bisa tidur begini ya?"
"Iya, suka ngemil." ucap Tiara tersenyum.
Satria membelai pipi kanan Tiara, lantas jemarinya mengusap lembut bibir Tiara. Satria terus menatap Tiara, hingga Tiara salah tingkah.
"Mau jalan - jalan malam nggak?" ucap Satria.
"Jam segini mau jalan kemana kak? orang semuanya pada tidur." ucap Tiara.
"Kota ini tidak tidur, banyak wisata kuliner malam sehingga banyak tempat kita kunjungi."
"Kakak lapar?" tanya Tiara, dan membuat Satria tersenyum.
****
Tiara dan Satria berboncengan motor, mengelilingi kota. Dinginnya angin malam, membuat Tiara memeluk tubuh Satria dari belakang walau sudah terbalut jaket.
"Mau makan apa?" ucap Satria.
"Apa ya kak, bingung." ucap Tiara.
"Kita makan sate kikil gimana?"
"Boleh."
Motor pun berhenti di penjual sate kikil, terlihat pembeli yang mengantri. Satria pun ikut mengantri sedangkan Tiara memilih untuk duduk lesehan.
"Dek, kamu mau minum apa? mau yang hangat atau yang dingin?" tanya Satria.
"Boleh yang hangat kak, soalnya dingin." jawab Tiara.
Satria memesan teh hangat, dan sepiring kacang rebus. Sambil menunggu pesanan, keduanya makan kacang rebus.
"Kakak sering kesini?" tanya Satria.
"Sering, kadang sama Alam atau teman." jawab Satria.
"Sama pacar?"
"Nggak pernah." ucap Satria dengan mengupas kulit kacang.
"Kalau kita sering begini, nanti gemuk kak."
"Biarin saja, kan berarti tandanya kita bahagia."
"Bukan bahagia lagi, tapi sangat bahagia."ucap Tiara.
Pesanan pun datang, dua porsi sate kikil dan irisan ketupat berbalut sambel kacang, kedua nya menikmati makan malam bersama di sisi jalan raya.
" Enak kan?" tanya Satria.
"Enak kak." jawab Tiara.
.
.
__ADS_1